Menjadi Ibu Tiri

Menjadi Ibu Tiri
Fitting baju pengantin


__ADS_3

" Apa ini ? " tanya nathan heran karena mendapat selembar amplop dari asisten pribadinya , siapa lagi kalau bukan pria bernama Erik .


" Buka saja " ucap Erik acuh yang masih memeriksa beberapa dokumen penting di tangannya .


Nathan sedikit mengerutkan keningnya dan membuka isi dari amplop kecil tersebut .


" Surat pengajuan cuti libur ?" tanya Nathan menatap ke arah Erik berada .


" Ya " balas Erik singkat . Yang masih fokus menatap dokumen di tangannya .


" Kenapa ?" pertanyaan nathan mengalihkan perhatian Erik yang kini berubah menjadi menatap dirinya .


" Aku diminta mengajak calon istriku untuk jalan - jalan kepulau pribadi milik kakekku " jawab nathan dan kembali beralih menatap dokumen di tangannya .


" Oh...." ucap nathan dan beralih menatap ke arah laptop mewahnya . Pria itu sepertinya belum sadar akan berita yang disampaikan oleh erik kepada dirinya .


1 detik


2 detik


" Apa......!!!! " tanpa sengaja nathan berteriak keras karena sepertinya ucapan erik baru saja masuk kedalam telinga dan tersambung ke inti otak pria tampan tersebut . Sehingga membuat kedua telinga Erik sedikit berdengung dibuatnya .


" Calon istri ? calon istri siapa yang kau maksud ? Apa papamu akan menikah lagi ? tanya nathan panjang lebar memastikan kebenaran berita tersebut .


" Sembarangan , tentu saja calon istriku . Mana mau papaku menikah lagi , dirinya sudah terlanjur cinta mati dengan ibu kandungku " balas Erik yang kini mulai fokus bercerita dengan nathan .


" Bagaimana bisa kau memiliki calon istri , bukankah kau itu ..??? " ucap nathan refleks mengarahkan pandangannya kebawah lebih tepatnya ke arah Ular belut milik erik yang kini terlihat masih tertidur pulas di balik celana erik kenakan .


Erik yang mengetahui arah pikiran nathan , langsung saja dengan refleks melempar kepala pria itu dengan sebuah pulpen yang sedang ia gunakan saat ini .


" Akhkkk....dasar pegawai kurang ajar " umpat Nathan sambil menggosok dahinya yang sedikit sakit akibat terkena ujung pulpen .


" Kau yang atasan gila , berani sekali kau menatap burung keperkasaan ku dengan tatapan mencurigakan seperti itu " ucap Erik membalas umpatan Nathan .


" Maafkan aku ...aku hanya termakan oleh kabar burung di luaran sana " nathan terlihat tertawa kecil di hadapan Erik yang membuat pria itu menjadi semakin jengkel melihatnya .


" Sialan....!!! Aku masih normal bastard " balas erik tak terima .


" Coba kau ceritakan padaku bagaimana kau bisa mengenal gadis itu " tanya nathan yang kini dengan nada yang lebih serius lagi .


" Nanti saja....saat kita semua kumpul di cafe xx . Saat ini kita harus menghadiri rapat penting dahulu , yang akan dimulai 10 menit lagi " jelas Erik yang membuat raut wajah nathan berubah menjadi kecewa .


" Huuu....dasar pelit " ejek nathan .


Erik yang melihat sikap kekanakan dari atasannya itu hanya bisa mengendikkan kedua bahunya sambil menggelengkan kepala dan berlalu pergi dari dalam kantor atasannya itu dan lebih memilih pergi keruang rapat . Dan tentunya di iikuti oleh sang bos yang sudah berubah dalam mode wajah yang cold dan serius bagai kulkas berjalan khas milliknya .


******

__ADS_1


Jenny terlihat sedang mencoba gaun pengantin yang akan dia gunakan dalam pernikahannya bersama Dion yang akan diselenggarakan beberapa minggu lagi .


" Kak Dion , coba lihat . Ini bagus sekali bukan " ucap Jenny tersenyum Lebar ke arah cermin yang kini ada di depannya .


" Hmmm..." sahut Dion acuh tak acuh . Laki - laki itu masih fokus terhadap laptop yang kini berada di pangkuannya .


" Ck...dasar laki - laki triplek menyebalkan " umpat Jenny yang masih setia menatap bayangannya di dalam cermin . Gadis itu merasa begitu terpukau dengan gaun yang sudah dirancangnya sendiri .


Sebenarnya gaun yang dikenakannya itu merupakan gaun yang sudah ia rancang sendiri dari saat dirinya masih duduk di bangku SMA . Jenny berniat akan memakai gaun pengantin itu pada saat pernikahannya dengan sang mantan kekasih yang bernama Dito .


Namun sayang , semua itu kini hanyalah tinggal sebuah kenangan saja . Pria yang dikira jenny akan menikahi dan menemaninya di hari tuanya itu telah dengan kurang ajarnya melakukan perselingkuhan di belakang dirinya , bahkan yang lebih parahnya lagi pria brengsek itu malah menikah dengan sahabat baiknya sendiri .


Sungguh ingin rasanya membuat Jenny membom bardir kedua umat yang tak tahu diri itu hingga hancur berkeping keping dari muka bumi ini .


Sedangkan Dion yang sedang duduk dikursi tunggu hanya bisa menutupi bagian bawahnya yang tiba - tiba saja berdiri tegak akibat dirinya tanpa sengaja melihat lekukan tubuh Jenny yang begitu sempurna sedang menggunakan gaun pengantin di hadapannya .


" Oh shitt " umpat Dion dalam hati .


Laki - laki itu lebih memilih berpura - pura untuk tidak memperdulikan keberadaan sang calon istri . Dion masih fokus untuk menutupi benda pusakanya dengan menggunakan laptop di tangannya , bisa malu laki - laki itu jika ketahuan oleh Jenny bahwa burung beo miliknya sedang berdiri tegak hanya karena menatap tubuh gadis itu . Bisa - bisa umpatan gadis itu menjadi bertambah banyak , dengan memanggil Dion dengan sebutan lelaki mesum .


Tidak


Dion tidak ingin semua itu terjadi .


Dirinya tidak begitu mengerti mengapa burung kebanggaannya bisa tiba - tiba saja berdiri ketika melihat gadis kecil itu . Apa ada yang salah dengan dirinya ? Sepertinya Dion harus segera memeriksakan burung kebanggaannya itu ke dokter sebelum terjadi sesuatu aneh lagi yang akan menyusul menyerangnya .


" Ya ampun jenny kau begitu cantik dan anggun sekali . Lihatlah tubuhmu itu begitu bagus dan seksi , sangat berbeda jauh dari si lampir Clarissa itu " ucap Jenny memuji dirinya sendiri di depan cermin . Sebelum sebuah suara bariton menghentikan kesenangan yang di miliki oleh gadis muda tersebut .


" Sampai kapan kau akan berbicara seperti orang gila di depan cermin " ucap Dion yang kini menatap jenny dengan tajam sambil tangan bersedekap di depan dada bidang miliknya . Sungguh gaya duduk laki - laki itu khas seperti pria sombong dan arrogant tapi berkuasa seperti di novel - novel yang biasa jenny baca .


Sehingga membuat gadis muda itu berdecak kesal serta menggerutu memasuki area ganti .


" Dasar laki - laki kaku , gak bisa lihat orang senang dikit aja langsung ngomel - ngomel kayak mobil tronton ....Aku jadi bingung kenapa Anna bisa kuat memiliki kakak sepertinya " gerutu jenny sembari melepaskan gaun yang kini ia pakai .


Tek


" eh....ini kenapa ya..kok gk bisa turun " tanya Jenny pada dirinya sendiri , karena tiba - tiba saja resleting pada belakang gaunnya tak bisa diturunkan akibat tersangkut sesuatu .


Setelah beberapa lama mencoba


" Aduh capek " ucap Jenny yang menyerah dalam membuka gaun pengantin tersebut .


" Tante vita mana ya " tanya Jenny kepada dirinya sendiri dengan menyembulkan kepalanya diantara pembatas ruang ganti yang hanya terhalang sebuah tirai berwarna maroon .


" Tante vita...tan ..." Teriak jenie memanggil manggil nama orang yang memang sedang bertugas menjaga butik sekaligus pemilik butik tersebut .


Tante vita memang hari ini menjaga butiknya seorang diri , karena asisten yang biasa berjaga sedang cuti melahirkan dan tante vita belum menemukan pengganti yang tepat untuk menggantikan posisi asistennya tersebut . Maklum tante vita termasuk orang yang perfeksionis jadi wanita itu agak pilih - pilih dalam mencari rekan kerja untuk mendampingi dirinya .

__ADS_1


" Apa yang terjadi ? " Suara bariton yang Jenny kenal terdengar sedang berdiri di luar kamar ganti yang saat ini gadis itu masukki .


" Bisa kau tolong panggilkan tante vita kesini ? " tanya Jenny kepada Dion .


" Tante vita sedang izin ke toilet " jawab Dion singkat .


" Oh ...." jawaban jenny terdengar tak kalah singkat dari jawaban Dion .


" Ada apa ? " tanya Dion ulang .


" Tidak ada apa - apa " jawab Jenny sedikit berbohong .


" Kau yakin " tanya Dion tak percaya .


" Hemm " jawab Jenny singkat .


" Kalau begitu aku tunggu kau di sofa "


" Tunggu !!! " Jenny menghentikan pergerakan Dion .


" Apa ?"


" Hmm..bisakah kakak bantu aku untuk membuka gaun pengantin ini ? " ucap Jenny sedikit ragu dengan posisi menyembulkan sedikit kepalanya keluar .


" Baiklah " jawan Dion dan langsung ikut masuk kedalam ruang ganti yang kini di gunakan oleh Jenny .


Glek


Dion sempat menelan ludahnya secara kasar ketika melihat punggung Jenny yang mulus


" Oh **** ...!!! Umpat dion dalam hati . Karena burungnya yang tadi sudah sempat tertidur , kini terlihat bangun lagi ketika melihat calon istri kecilnya di hadapannya .


" Kak Dion...kakak kenapa ? " tanya Jenny sedikit heran ketika melihat bayangan pria itu di dalam cermin yang hanya diam tanpa pergerakan sedikitpun pada gaunnya .


" Tidak apa - apa " jawab Dion singkat dan mulai bergerak membantu menurunkan resleting pada gaun yang Jenny kenakan .


Srettt


Resleting yang tadi sempat menyangkut pun kini sudah bisa turun , sehingga Gaun pengantin yang Jenny pakai sudah bisa dirinya buka kembali .


" Terima kasih kak Di ...." ucapan Jenny menggantung karena tiba - tiba saja ada sebuah benda kenyal mendarat di atas bahu miliknya yang sedikit terekspos .


Deg


Mata jenny seketika membola ketika melihat perlakuan Dion pada dirinya di balik cermin .


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2