
Jenny melirik pria yang kini sedang ada disampingnya dalam keadaan menyetirkan mobil sport mewahnya .
Canggung
Itulah gambaran situasi suasana dalam mobil yang di masuki oleh mereka berdua .
Setelah kejadian yang mereka alami , lebih tepatnya Jenny alami . Membuat situasi yang awalnya sudah tidak enak kini malah berubah menjadi akward seketika .
Jenny tampak diam membisu , dengan sesekali melirik pria yang semenit yang lalu telah membuat wajah dan seluruh tubuhnya memanas .
Gadis itu tampak menggeleng - gelengkan kepalanya untuk mengusir ingatan yang sangat menurutnya memalukan itu di dalam pikirannya .
Bukannya menghilang , ingatan itu malah menjadi semakin jelas berputar di dalam kepala kecil milik gadis itu . Sehingga membuat Jenny menjadi frustasi seketika .
*****
Beberapa menit yang lalu di Butik tempat Jenny melakukan fitting gaun pengantin .
" Kak Dion a- apa yang kakak lakukan ?" tanya Jenny dengan suara terbata .
Gadis itu begitu gugup karena saat ini tiba - tiba saja dia melihat calon suaminya sedang melakukan tindakan yang begitu intim terhadap dirinya .
" Diamlah " bisik Dion tepat di samping telinga Jenny .
Pria itu tampak sedang asyik dengan aktivitasnya yang menciumi seluruh punggung milik calon istrinya itu .
" Kakak...ah..." lenguh Jenny tanpa sadar . Tubuhnya terasa seperti terkena sebuah sengatan listrik tegangan rendah karena perlakuan Dion padanya .
Dion masih tetap menelurusi seluruh bahu hingga punggung putih nan mulus milik Jenny .
Sepertinya pria muda itu sudah tak bisa lagi menjernihkan pikirannya karena sudah dirasuki oleh gelora hasrat muda yang sedari tadi coba ditahannya .
Dion membalikkan tubuh mungil milik Jenny , dan tanpa aba - aba pria itu langsung saja ******* bibir jenny yang sedari tadi tampak begitu menggoda untuk segera di telusuri .
Jenny yang juga sama sedang tenggelam dalam kabut gairah miliknya , hanya mengikuti pergerakan dari Dion .
Dia tampak begitu menikmati pergerakan pria itu yang kini sudah mulai nackal menggenggam dan meremas dua gundukan sintal yang menggantung di depan dada milik Jenny .
Sehingga dengan refleks dirinya meremas kasar rambut hitam kebiruan milik Dion .
Suara decapan karena ciuman mereka yang tampak bergelora memenuhi ruangan ganti tersebut .
__ADS_1
Namun ketika Dion ingin lanjut ke tahap selanjutnya , tiba - tiba saja gerakannya terhenti karena mendengar sebuah suara yang seakan menyadarkan mereka berdua untuk kembali mengingatkan dimana tempat mereka berada saat ini .
" Nona Jenny , apa anda di dalam ? "
Jenny yang sudah kembali ke alam sadarnya langsung saja berubah panik , dirinya kini sungguh takut ketahuan jika dirinya telah berbuat mesum di dalam ruang ganti milik butik tersebut .
Mau di taruh dimana mukanya , jika tersebar kabar absurd seperti itu mengenai dirinya .
Ya....walaupun ia berbuat mesum dengan calon suaminya sendiri . Akan tetapi tetap saja itu hal yang salah karena mereka berdua telah berani memakai tempat umum untuk menyalurkan hasrat muda mereka .
" Tenanglah " bisik Dion tepat di telinga Jenny .
" Ya...aku di dalam " teriak Jenny sembari mengatur kegugupan serta ketegangan di dalam dirinya .
" Apa anda butuh bantuan dalam membuka gaun tersebut Nona ? " tanya penjaga butik .
" Tidak , terima kasih . Saya sudah bisa membukanya sendiri " jawab Jenny dengan sedikit berteriak agar mudah didengar oleh sang pemilik butik tersebut .
" Baiklah kalau begitu nona , saya tunggu di depan ya "
" Iya , silahkan "
Dengan wajah dingin dan arrogantnya , pria itu berjalan santai ke arah sofa yang semula telah ia duduki , seolah - olah jika sesaat yang lalu tidak terjadi apa - apa pada dirinya .
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Dion sangatlah malu setengah mati saat ini , ingin sekali rasanya ia memukul wajahnya sendiri sembari membenturkan kepalanya yang sejenak telah konslet karena dengan beraninya dia telah menyentuh serta mencumbui adik dari musuh bebuyutannya .
Mau ditaruh dimana mukanya saat ini di depan calon sang istri . Sungguh Dion tak habis pikir , bagaimana bisa dirinya melakukan hal vulgar seperti itu terhadap anak kecil seperti jenny .
Bahkan gadis itu bukanlah merupakan selera seorang Dion .
Padahal di luaran sana banyak sekali gadis cantik serta bertubuh seksi melebihi dari yang jenny miliki berusaha bersusah payah menggoda dirinya .
Namun sayang , semua itu di tolak oleh Dion karena memang badan beserta benda pusaka nya tidak terlalu bereaksi terhadap para perempuan tersebut .
Namun apa ini sekarang .
Bagaimana tubuh seperti anak kecil tersebut bisa membangkitkan gairah seorang Dion , yang notabene sangat susah untuk dibangkitkan .
Apa dia sudah gila . Sepertinya nanti Dion harus segera pergi memeriksakan tubuhnya kedokter agar bisa langsung ditangani , siapa tahu di dalam tubuh pria itu terdapat penyakit yang menyebabkan dirinya berubah menjadi gila dan seliar itu terhadap seorang wanita .
******
__ADS_1
" Kita akan pergi kemana sekarang ? " Tanya jenny berusaha menghilangkan kecanggungan dan kesunyian di dalam mobil yang ia tumpangi saat ini .
" Kita ke hotel " ucap Dion santai yang tanpa sadar jawabannya telah membuat jenny melotot ke arahnya karena pikirannya yang sudah travelling kemana - mana .
Dion yang merasakan tatapan Jenny pun langsung meluruskan ucapan yang membuat Jenny salah paham tersebut .
" Ehem...maksudku ke hotel tempat kita akan melangsungkan acara pernikahan . Kita diminta mama untuk mensurvei tempat tersebut , siapa tahu ada hal yang tidak kau suka disana sehingga kita bisa dengan segera mengubahnya " jelas Dion mencoba meluruskan kesalahpahaman yang saat ini dipikirkan oleh gadis yang duduk disampingnya tersebut .
Jenny terlihat bernafas lega mendengar ucapan dari pria yang akan menjadi suaminya itu . Sungguh walaupun dirinya sudah lama melakukam hubungan pacaran dengan mantan pacarnya terdahulu , namun Jenny belum pernah sekalipun melakukan hal di luar batas kewajaran sebagai mana mestinya orang berpacaran .
Baru Dion lah pria pertama yang berani dan kurang ajarnya melakukan hubungan yang terlewat intim dengan dirinya . Sehingga membuat Jenny begitu merasa kikuk dan sedikit takut di buatnya , ya walau sejujurnya dia juga tampak ikut menikmatinya . Namun tetap saja rasa takut dan perasaan merasa bersalah lah yang lebih mendominasi dirinya dari pada rasa nikmat yang sesaat dia rasakan .
" Tapi kalau kau ingin melakukan hal yang lain denganku di hotel juga tidak masalah , aku akan dengan senang hati menemanimu " goda Dion dengan sebuah senyum smirk nya . Sehingga membuat Jenny langsung berubah menjadi melotot kembali ke arahnya .
Ingin sekali rasanya jenny menimpuk wajah pria tampan itu dengan sepatu kates miliknya saat ini juga .
" Dasar play boy kagak laku " gumam Jenny kecil namun masih di dengar oleh Dion .
" Kau bilang apa tadi ? "
" Tidak apa - apa " elak Jenny yang kini lebih memilih menatap jalanan dari pada wajah menjengkelkan Dion .
" Kau menyebutkan bahwa aku playboy tidak laku " ucap Dion kesal .
" Iya ..lalu kenapa ? Memang kakak tidak laku , buktinya kakak tidak pernah punya pacar dari dulu sampai sekarang " tatap Jenny meremehkan ke arah Dion .
Dan itu adalah fakta yang harus di terima Dion . Karena dulu saking fokusnya mengejar Nana jadi dirinya tak ada hasrat lagi dengan wanita lain . Apalagi mengajak mereka pacaran , sungguh itu merupakan suatu hal yang mustahil bagi Dion .
Oleh sebab itu , Dion pernah dikenai rumor sebagai penyuka sesama jenis di luaran sana .
" Apa mungkin kabar itu benar , bahwa kakak adalah seorang gay? " tanya jenny tanpa memfilter ucapannya .
" Kalau begitu mari kita buktikan saja , apa kabar itu benar atau tidak " ucap Dion dengan senyuman iblisnya .
" Apa yang kakak ingin lakukan ?" tanya Jenny panik .
" Tentu saja membuktikan kabar berita itu , dengan kau jadi bahan percobaannya "
" Tidak ...kakak jangan gila ...hmmppp..."
BERSAMBUNG
__ADS_1