
" Tuan apa anda tidak akan pulang " tanya alex sang sekretaris kepercayaan Nathan .
Nathan melirik jam kecil yang tergeletak diatas mejanya yang menunjukkan sudah pukul sembilan malam .
" Kau turunlah duluan , sebentar lagi aku akan menyusul "
" Baik tuan "
Nathan menyandarkan tubuhnya sejenak pada kursi kebesarannya . Hembusan nafas berat terdengar keluar dari mulut Nathan .
" Aku benar - benar sangat merindukanmu " gumam Nathan sambil membayangkan wajah Nana yang seperti berputar putar dalam pikirannya .
*****
Malam ini Nathan memang sengaja meminta alex untuk mengantarkannya pulang karena merasa kurang mood dalam menyetir .
Sambil menyetir ternyata Alex secara diam diam memperhatikan atasannya dari balik spion . Banyak pertanyaan sebenarnya muncul dalam benaknya , namun enggan dia tanyakan ke pada Nathan . Dia masih waras untuk tak menanyakan hal itu pada singa yang sedang mengamuk .Bisa - bisa dia juga kena semburan Naga seperti karyawan lainnya di kantor .
" Alex "
suara bariton Nathan membuyarkan lamunan Alex
" Ya tuan "
" Bisakah kau membantuku untuk menculik istriku "
Ckiiiiittttttttt
Alex tak sengaja menginjak rem mobil karena saking terkejut mendengar permintaan Nathan .
" Apa kau sudah gila " Bentak Nathan kesal .
" Ma..maaf tuan , saya tak sengaja "
" Tadi tuan bilang apa " tanya Alex ingin memperjelas ucapan Nathan tadi .
__ADS_1
" Sudahlah lupakan saja "
" Sekali lagi saya minta maaf tuan " ucap Alex yang tak dijawab oleh Nathan .
Alex kemudian melajukan kembali mobilnya yang sempat berhenti .
****
Setengah jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di mansion Nathan .
" Saya pamit pulang tuan " ucap Alex yang hanya diangguki Nathan .
Setelah kepergian alex , Nathan pun terlihat berjalan gontai melangkah masuk menuju kamarnya . Dia tampak begitu malas untuk memasuki kamar karena ia tahu pasti Nana tak ada didalam kamarnya karena telah dikuasai oleh anaknya Nino .
Dengan Nafas yang berat Nathan meraih gagang pintu dan membukanya .
Terlihat ruangan gelap yang sepi tak berpenghuni membuat Nathan di selimuti rasa kekecewaan kembali .
Dengan langkah malas Nathan memilih masuk ke dalam bathroom untuk membersihkan dirinya dahulu sebelum tidur seorang diri diatas ranjangnya .
Setelah ia keluar dari bathroom tiba tiba saja ada sepasang tangan memeluk dirinya dari belakang .
" Apa kau merindukanku ? " terdengar suara wanita yang tidak asing di telinga Nathan .
Nathan diam tak bergeming tanpa mau membalas ucapan ataupun pelukan Nana . ia masih merasa kesal dengan sikap Nana yang lebih mementingkan Nino anaknya dari pada dirinya .
" Dasar bocah jadi jadian . Masih ngambek ternyata , kita lihat saja sampai kapan kau akan bertahan " gumam Nana dengan senyuman misteriusnya .
" Apa kau benar benar tak mau memaafkanku suamiku " ucap Nana bergelayut manja sambil mengeluarkan Puppy eyesnya .
Nathan masih setia dengan sikap diamnya , bahkan saay ini ia memalingkan wajahnya tak mau menatap Nana yang sudah berada di depannya .
" Ternyata tak berhasil.... baiklah hanya ini yang bisa aku lakukan . Kita singkirkan dulu mengenai harga diri , yang penting aku harus berhasil membujuk bayi besar ini " Nana menutup matanya sejenak dan menarik Nafas dalam dalam .
Dengan perlahan Nana menyentuh dada bidang milik Nathan yang terlihat begitu kekar di hadapannya .
__ADS_1
Dengan gaya yang begitu menggoda Nana mulai meraba dada bidang itu , yang sudah ia anggap sebagai tempat favoritnya .
" Apa benar seperti ini " guman Nana .
Jujur saja ini adalah kali pertama Nana melakukan hal seagresif ini kepada pria .
Setelah puas dengan dada bidang suaminya , kini Nana beralih menuju leher putih milik Nathan .
" Lihatlah leher ini , kenapa ia bisa memiliki leher putih seperti ini . Leherku saja tak seputih mulus begini . Dan aroma nya...hmmm ...kenapa nikmat sekali "
Tanpa sadar Nana mulai terhanyut dalam permainannya sendiri .
Nana meny esap leher Nathan bagaikan seekor vampir yang sedang kehausan darah hingga membuat Nathan sedikit melenguh dibuatnya .
" Kena kau "
Nana menyunggingkan sedikit senyuman ketika mendengar lenguhan Nathan .
Tangan Nana kini sudah mulai tak bisa dikondisikan lagi . Pikirannya sudah mulai tak jernih lagi karena ga irah yang sudah mulai merasuki tubuhnya . Entah sejak kapan posisi tangan Nana sudah berada di senjata pamungkas milik Nathan yang sudah nampak berdiri tegak siap masuk ke dalam sarungnya .
" Akhhhh....."
...Bersambung...
...Jangan lupa tinggalkan jejak buat Author yaa 😍...
...Like...
...Comment...
...Vote...
Dan jangan lupa juga dengan tombol ❤ favoritnya
...Agar membuat karya author lebih berkembang dan agar author lebih semangat lagi buat cerita halunya 🙊🙈🙈🙉😽...
__ADS_1