Menjadi Ibu Tiri

Menjadi Ibu Tiri
Lalapan mang dadang


__ADS_3

" Aaakkkkhhhhhh....tolong singkirkan makhuk menjijikkan ini dari atas kepalaku " teriak seorang pelanggan wanita bertubuh gempal dengan dandanan menor .


Tubuh wanita itu terlihat sedang sangat blingsatan karena caca sang anak ayam warna warni milik nino yang sudah hinggap berdiri dengan santai di atas kepala miliknya .


Nathan yang melihat kekacauan itu hanya bisa menepuk wajahnya malu beserta kesal karena ulah sang anak yang membawa anak ayam itu ke tempat umum seperti ini .


Para karyawan yang melihat kejadian itu langsung saja dengan sigap berusaha menghampiri sang tamu hendak akan menangkap anak ayam nakal tersebut .


Sungguh mereka semua sedikit kewalahan , karena anak ayam itu cukup lincah dan cukup gesit dalam hal main kabur kaburan .


Sehingga membuat para karyawan yang sedang berusaha menangkap anak ayam tersebut menjadi sedikit kesal dan geram melihatnya .


" Awas kau anak ayam nakal , setelah kutangkap akan kujadikan kau steak anak ayam yang lezat " ucap seorang pelayan yang hendak menangkap anak ayam itu yang kini berdiri di hadapannya .


Anak ayam itu berdiri dengan santainya , seolah - olah menantang sang pelayan untuk di tangkap .


Dan Hap.......!!


Pelayan itu menerjang si anak ayam , namun sayang bukannya anak ayam yang di dapat melainkan hanya tai ayam yang encer dan tentunya bau yang di dapat olehnya .


Sehingga membuat sang pelayan menjadi murka dan jijik sekaligus di buatnya .


" Anak ayam sialan !!! Awas saja kau , akan ku tangkap kau sampai ke ujung dunia " teriak sang pelayan dengan emosi tingkat dewa . Pria itu terlihat seperti memiliki dendam kesumat tujuh turunan terhadap caca si anak ayam petakilan .


Sedangkan si anak ayam masih gencar saja berlari dan melompat kesana kemari , seolah mengejek dan mengajak bermain semua orang yang ingin menangkapnya .


Hap...


" Kena kau "


Cit...cit...cittt !! Teriak si anak ayam yang berhasil di tangkap oleg sepasang tangan wanita . Dan wanita itu adalah Nana .


" Dasar anak ayam nakal , awas kau akan ku hukum dirimu nanti sampai di rumah " ucap Nana dengan sedikit mengancam si anak ayam sehingga membuat anak ayam itu menjadi takut dan hendak berontak ingin turun dari genggamman Nana .


Nino yang melihat kekacauan yang dibuat oleh si anak ayam peliharaannya hanya meringis sambil tertunduk diam .


Anak kecil itu sepertinya malu dan juga takut akan di marahi dan di hukum oleh sang ibu nantinya .


Sebenarnya Nino ingin membuat kekacauan juga untuk mengerjai sang ayah , namun tak sekacau yang di buat oleh Caca si anak ayam petakilan itu saat ini .


Situasi tempat itu kini bukan hanya kacau namun sudah sangat hancur lebur plus berantakan .


Sehingga membuat Nathan selaku Owner restoran mewah tersebut harus bertanggung jawab atas semua kekacauan yang di perbuat oleh anak ayam yang putranya itu miliki .


Dia hari ini sedikit mengalami kerugian bandar , karena harus memberikan kompensasi kepada seluruh para tamu yang datang kerestoran miliknya tersebut dan juga para karyawan yang sudah di buat jungkir balik karena berusaha menangkap anak ayam nakal itu .


Dan acara makan di restoran steak mewah tersebut terancam batal dan pindah haluan menjadi kewarung lalapan milik mang dadang langganan Nana .

__ADS_1


Sehingga Nathan harus pasrah mengikuti kemauan istrinya itu agar wanita itu tak mengamuk nantinya pada dirinya .


Begitu pula dengan Nino yang juga terlihat manut - manut saja akan di bawa kemanapun ibunya itu inginkan .


Setelah sampai di warung makan tersebut , tanpa mau berlama - lama Nana pun tampak langsung memesan makanan yang sudah ia bayangkan sedari tadi di dalam perjalanan .


Mengenai caca si anak ayam , tenang saja Nana sudah mengantisipasi hal tersebut .


Di perjalanan tadi dirinya sudah membeli sebuah kandang burung kecil yang dijadikan tempat sementara untuk si anak ayam petakilan tersebut tinggal . Agar anak ayam nakal itu tak bisa lagi membuat keusilan dan keisengan sehingga menyebabkan kekacauan serta berantakan seperti yang ia lakukan di restoran tadi


****


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya makanan yang dipesan nana pun tersaji di atas meja mereka .


Nathan dan Nino yang melihatnya hanya bisa celingak celinguk seperti mencari sesuatu , yang membuat Nana menjadi bertanya - tanya .


" Kalian mencari apa ? " celetuk Nana keheranan melihat dua pria berbeda umur di depannya .


" Mana sendok garpunya ? " tanya mereka berdua dengan kompak .


Nana yang melihat itu hanya bisa tertawa kecil di buatnya . Dirinya sungguh lupa jika dia baru pertama kali membawa dua orang kaya itu untuk makan di tempat sederhana seperti ini .


" Kalian tidak bisa makan dengan tangan langsung " tanya Nana yang kini terlihat sudah mulai makan lalapan dengan tangan kosongnya .


Nathan dan Nino yang ditanya seperti itu hanya menjadi saling pandang satu sama lain . Dan dengan kompak mereka berdua menggelengkan kepala mereka berdua sebagai jawaban tidak dari pertanyaan Nana .


Nana yang melihat itu hanya bisa menghela napas dan sedikit merasa geli .


Padahal bagi orang biasa seperti Nana hal ternikmat dalam menikmati makanan adalah dengan menggunakan tangannya sendiri secara langsung , tanpa menggunakan embel - embel seperti sendok , garpu , pisau dan ***** bengek lainnya yang biasa orang kaya itu pakai dalam hal makan memakan .


Dengan terpaksa Nana pun memanggil mang dadang selaku pemilik dan pelayan warung lalapan tersebut .


" Mang boleh minta sendok dua pasang " pinta Nana dengan sopan kepada pria paruh baya itu .


" Boleh atuh neng . Neng ini neng nana ya ..yang dulu pernah sekolah di seberang ? " tanya mang dadang dengan sedikit ragu . Pria itu terlihat menyipitkan kedua matanya yang mungkin sedang mengingat beserta melihat wajah nana lebih jelas . Maklumlah mang dadang sudah agak berumur jadi penglihatan dan ingatannya tak sebagus waktu pria itu masih muda dulu .


" Mang dadang masih ingat saya " ucap Nana yang begitu merasa antusias dan bahagia ketika ada seseorang yang masih mengingat keberadaan dirinya di dunia ini .


" Tentu saja atuh , siapa yang gak ingat sama gadis cantik , manis dan baik kayak eneng " balas mang dadang sehingga membuat Nana menjadi tersipu malu mendengarnya .


Sedangkan pria dewasa yang kini duduk di depannya malah sedang kebakaran jenggot mendengar pujian dari pria tua asing yang sedang memuji sang istri tercintanya .


Dan nino yang melihat sang ayah yang sedang dalam mode cemburu hanya bisa geleng - geleng kepala masa bodo menaggapinya .


Dia lebih memilih berbicara bersama si anak ayam yang kini ada di dalam sangkar burung pemberian nana daripada harus menanggapi dan meladeni sikap ayahnya yang gila karena cemburu buta .


" oh ya neng dua orang cakep ini siapa ? " tanya mang dadang setelah beberapa lama bercakap ria bersama Nana .

__ADS_1


Sungguh karena keasyikan bercerita tentang masa lalu membuat dua orang itu menjadi lupa akan kehadiran Nathan dan juga nino yang terlihat duduk didepan mereka seperti seekor kambing congek .


" Aduh ! Maaf...maaf....karena asyik bercerita , Aku sampai lupa ngenalin mereka berdua ke mang dadang " ucap Nana sedikit cengengesan dan diikuti juga oleh mang dadang .


" Kenalin mang , ini suami aku dan ini anak aku . Ganteng kan mang ? " jawab Nana sembari sedikit mencolek dagu nathan yang wajahnya sedikit tertekuk karena merasa terabaikan .


" Oalah neng ....ini mah bukan ganteng lagi , tapi super ganteng level tingkat tinggi , sebanding atuh sama neng Nana yang cantiknya kayak bidadari kahyangan " ujar mang dadang memuji .


" Ah...mang dadang bisa aja " ucap Nana tersipu malu .


" Ih..bener atuh neng , dulu tuh banyak cowok - cowok yang nanyain eneng disini . Bahkan warung mang dadang dulu jadi rame kan karena eneng gelis yang sering makan di warung abang . Mereka semua datang makan kewarung abang cuma buat bisa ngelihatin wajah eneng yang cantik dan ayu ini . Bahkan Tio anak abang juga jadi rajin dulu bantuin abang jualan disini karena buat bisa pdkt sama eneng " ujar Mang dadang flashback kemasa lalu .


" Oh ..terus si tio kemana sekarang mang , kok gak bantuin mang dadang disini " tanya Nana sedikit penasaran .


" Si tio mah alhamdulilah sekarang sudah jadi pengacara neng , jadi dia gak bantuin mang dadang jualan lagi . Lagian eneng dulu udah jarang kelihatan datang kemari , jadi anak itu gak semangat dech buat bantuin abahnya " jawab Mang dadang dengan tertawa renyah mengingat kelakuan sang anak dan diikuti tentunya dengan Nana .


" Ehemmm...bisa saya minta sendok garpunya sekarang " sela Nathan di antara tawa mereka berdua .


" Oh ..bisa mas sebentar ya...saking enaknya ngobrol saya sampai lupa mengambil sendok garpu " jawab mang dadang dengan cengiran kudanya .


Nana yang melihat wajah sang suami yang tertekuk seperti dalam keadaan yang kesal sedikit heran di buatnya .


" Dia kenapa lagi ? " batin Nana sambil mencuri pandang ke arah Nathan berada .


Dan sendok garpu pun diantar kemeja mereka .


Keluarga kecil itu terlihat makan dengan nikmat .


Dengan Nathan dan nino yang menambah lalapan ayam sebanyak sepuluh porsi , sehingga membuat Nana dan mang dadang menjadi menganga di buatnya keheranan .


" Neng , suami sama anak neng kesurupan apa doyan neng . Memang makannya sering banyak begitu ? " tanya mang dadang sedikit berbisik .


" Biasanya gak seperti itu mang , mungkin karena ini pertama kalinya saya ajak mereka makan ayam lalapan disini jadi doyan dech . Biasa orang ningrat mang , beda mah sama kita - kita ini " jawab Nana tak kalah berbisik ke arah mang dadang .


" Oalah...ningrat toh neng . Pantesan penampilannya beda , bahkan saya sampai bingung tadi ketika suami neng minta sendok garpu sama saya buat makan lalapan . Untung saya ada stoknya karena jarang bahkan tidak ada yang pernah minta sendok garpu sama saya buat makan lalapan " bisik Mang dadang sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal .


" Emang dapat dimana neng cowok sempurna seperti itu ? " bisik mang dadang lagi .


" Nemu di pengkolan ojek sebelah mang " jawab Nana dengan sedikit tertawa .


" Busyet dah neng ada - ada aja . Masa nemu wong sugih seperti itu di pengkolan ojek " ujar Mang dadang juga ikut tertawa .


Nathan dan nino yang mendengar bisik - bisik di antara Nana dan mang dadang hanya acuh tak perduli .


Dua pria itu sedang sangat menikmati daging ayam yang kini tengah berada di atas piring makan mereka masing - masing .


Sungguh ini merupakan daging ayam terenak yang pernah mereka berdua cicipi , dan mereka sudah berencana akan mengajak nana untuk sering datang kesini agar bisa memakan daging ayam yang lezat ini kembali . Bila perlu kedua orang kaya itu akan memindahkan warung mang dadang ke dalam mansionnya agar bisa setiap hari memasakkan ayam yang lezat itu untuk mereka .

__ADS_1


Dan tentunya hal gila seperti itu tak akan pernah dikabulkan oleh Nana .


BERSAMBUNG


__ADS_2