Menjadi Ibu Tiri

Menjadi Ibu Tiri
Moment langka


__ADS_3

" Apa dia salah minum obat " batin Erik menatap heran ke arah Nathan yang kini terlihat sedang duduk di hadapannya dengan memegang beberapa dokumen di tangannya .


Erik merasa heran dengan sikap Nathan pagi ini . Bagaimana tidak heran , sedari tadi ketika memasuki perusahaan hingga mereka tiba kedalam ruang rapat , Nathan selalu saja memasang wajah tersenyum bagaikan orang yang baru menang undian lotre yang sangat berjumlah fantastis . Bukannya Erik tak menyukai Nathan tersenyum , namun itu terasa sangat aneh bagi Erik begitu pula dengan karyawan di perusahaannya . Mereka benar - benar tak percaya bahwa atasan yang biasanya terlihat cuek dan dingin itu , kini tengah tersenyum dihadapan mereka .Sehingga membuat suasana kantor yang biasanya terlihat sunyi dan tegang berubah menjadi sedikit ricuh karena perubahan Nathan yang bisa dibilang tak biasa itu . Benar - benar senyuman yang bisa membuat siapa saja terpesona jika melihatnya .


Semua karyawan wanita berubah menggila dibuatnya . Ini benar - benar momen yang sangat langka bagi mereka . Sehingga tak sedikit dari mereka yang mengabadikan moment ini dengan cara mengambil foto Nathan yang sedang tersenyum itu dari jarak jauh . Bagi mereka walaupun tak bisa memiliki sosok Nathan di sisinya , namun dengan memiliki fotonya saja sudah cukup bagi mereka . Apalagi foto Nathan yang langka ini , sungguh benar - benar adalah sebuah keberuntungan . Begitupula dengan karyawan pria yang juga menatap heran sosok Nathan saat ini . Ada diantara mereka terlihat mengucek ngucek mata mereka bahkan mencubit pipi mereka sendiri karena saking tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini .


" Apa kau baik - baik saja bro ? " tanya Erik memberanikan diri .


" Tentu saja aku baik . Apa ada yang salah ? " ucap Nathan yang masih saja fokus dengan dokumen yang ada di tangannya .

__ADS_1


" Tidak apa - apa . Kalau begitu aku kembali keruanganku dulu " ucap Erik yang hanya dijawab sebuah anggukan oleh Nathan .


****


Di sekolah Nino


Nana terlihat sedang asik membaca sebuah buku masakan yang ada pada tangannya , sampai dia tak menyadari ada sosok pria yang kini tengah datang mendekatinya .


" Leo ... ayo duduklah . Aku kira siapa " ucap Nana tersenyum .

__ADS_1


" Kau fokus sekali , sampai - sampai aku datang kau tak menyadarinya " ucap Leo pura - pura memasang wajah kesal .


" Maafkan aku . Aku sangat suka membaca buku , apalagi buku tentang memasak . Kalau sudah baca yang lain mah lewat " ucap Nana terkekeh geli .


" Dasar kau itu " ucap Leo sontak tertawa setelah mendengar jawaban dari wanita dihadapannya .


Beberapa hari tak bertemu , membuat Leo sangat merindukan sosok Nana . Pernah Leo mencoba menghubungi Nana , namun tak bisa ia lakukan karena mengingat bahwa tak ada nomor kontak Nana di dalam ponselnya .


Leo sangat menyukai senyum tulus yang dipancarkan oleh wanita yang ada dihadapannya kini . Mulai ada sebuah debaran yang tumbuh dalam diri Leo yang mampu menggelitik hatinya yang dingin hingga bisa berubah menjadi hangat seperti ini , ialah sebuah rasa yang selama ini sempat Leo lupakan karena harus menerima kenyataan pahit di masa lalu . 'Ya , rasa itu adalah rasa cinta . Mungkin jika orang lain mendengarnya akan menganggap Leo adalah orang gila yang bisa menyatakan dirinya telah jatuh cinta dengan wanita yang baru beberapa hari ia temui atau mungkin inilah yang disebut sebagian orang dengan cinta pada pandangan pertama , yang siapa saja mengalaminya akan merasakan musim dingin berubah menjadi musim semi mendadak . Malam hari terasa berubah menjadi pagi hari dalam sekejap atau rasa lunak yang asam berubah menjadi rasa gula yang manis . Itulah cinta , dengan sejuta keindahan namun dibalik itu semua terdapat beberapa kenyataan pahit menanti yang membuat siapa saja yang merasakannya harus memiliki benteng yang kokoh agar tak mudah hancur apabila kedatangan badai topan yang berliku dikemudian hari .

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2