
Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi para pelayan di mansion Wijaya . Kebahagiaan mereka disebabkan karena kembalinya Nana sang nyonya muda .
Nana yang mendapatkan sambutan pun tampak sangat terharu karena melihat para pelayan yang sangat antusias akan kedatangannya . Dirinya begitu terharu karena menganggap bahwa semua para pelayan di mansion sangat begitu merindukannya sehingga para pelayan disana tampak sangat bahagia sampai ada yang menangis haru akan kedatangannya . Padahal yang sebenarnya terjadi adalah para pelayan itu merasa bahagia karena mereka bisa terlepas dari kekejaman sang iblis kecil yang bernama Nino . Sepertinya hari - hari damai mereka dimansion akan hadir kembali karena kedatangan Nana .
Nino yang melihat kedatangan Nana dan Nathan hanya diam saja tanpa ingin ikut menyambut kedatangan mereka . Nino malahan pergi berlalu dengan acuh tak acuh menuju ke arah kamarnya .
Nana yang melihat kediaman Nino pun sangat mengerti dengan keadaan anak sambungnya tersebut . Ia tahu bahwa saat ini anaknya itu dalam mode merajuk menahan kesal karena tidak diikut sertakan dalam acara liburan mereka . Bagaimana mengajak , dirinya saja tidak tahu jika ia akan dibawa liburan oleh Nathan . Nana merasa seperti di culik saat itu . Tapi tidak apa -apa . Ia menyukainya , bila perlu ia ingin diculik oleh suaminya setiap hari . Nana merasa ketagihan . Bagaimana tidak ketagihan , karena ketika Nana diculik dirinya diperlakukan sangat manis dan diberikan banyak sekali kepuasaan dan kenikmatan sekaligus . Benar - benar hari yang menyenangkan .
Namun saat ini , dirinya harus kembali ke kenyataaan . Ada hal penting yang harus dirinya lakukan saat ini , yaitu menjalankan misi untuk meluluhkan hati nino yang sedang merajuk .
Nana harus menyiapkan strategi yang jitu untuk menghadapi kelakuan anak sambungnya tersebut . Ia pun mulai melangkah menuju kamar nino .
Tok...tok..tok !!! Nana mengetok pintu kamar Nino.
" Sayang apa kau didalam " tanya Nana sambil menempelkan daun telinganya di depan pintu.
Cklek...!! Nana membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari sang punya kamar .
Nana berjalan perlahan dan mendapati jika Nino sedang tidur sambil memeluk guling dengan punggung membelakangi dirinya . Ia yakini bahwa nino tidak benar - benar tertidur saat ini . Nana duduk di tepi ranjang dan mencoba berbicara padanya . Dengan sabar dirinya terus saja bicara walaupun tak ada satupun perkataan darinya yang disahuti oleh Nino . Benar -benar seperti berbicara dengan tembok .
Setelah dua jam menunggu , namun sikap Nino masih saja tetap sama . Dirinya tak kunjung juga membalas ucapan Nana . Yang membuat Nana menjadi frustasi dan kesal .
" Hey...sebenarnya sampai kapan kau akan memusuhiku " ucap Nana akhirnya yang masih setia duduk disamping ranjang milik Nino .
Tak ada satupun sahutan , nino masih tetap saja mempertahankan modenya yang diam membisu .
" Baiklah....kalau kau tetap tak mau bicara padaku , akupun tak akan mau bicara lagi padamu " Nana beranjak dari duduknya dan hendak ingin pergi dari kamar nino . Akan tetapi baru dua langkah berjalan , sebuah suara tiba - tiba saja terdengar dari arah belakang Nana . yang menyebabkan langkahnya terhenti , dan ia pun mengurungkan niatnya untuk keluar kamar .
" Kenapa kau yang jadi berbalik marah padaku " kesal Nino tak terima .
" A..aku kan sudah bilang minta maaf padamu , tapi kau mengacuhkan maaf ku " ujar Nana tak mau kalah .
" Harusnya kau berusaha lagi untuk membujukku " ucap Nino lagi .
" Tidak mau...yang jelas aku sudah berusaha " Nana berdiri sambil bersedekap dengan dagu yang sedikit terangkat . Berlagak sombong .
" Lakukan ulang " nino menatap sengit ke arah Nana .
__ADS_1
" Tidak mau " Nana menatap tak kalah sengit ke arah nino .
" mau " teriak Nino
" tidak mau " teriak Nana
" mau " teriak Nino
" tidak mau " teriak Nana .
" mau " teriak Nana
" Tidak mau " teriak Nino
Tanpa mereka sadari ucapan mereka malah terbolak balik . Mereka benar - benar seperti dua ekor banteng yang siap beradu .
Brakkkkkkkk suara pintu terbuka keras
" Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan ? " Ucap Nathan yang tiba - tiba saja menerobos masuk karena mendengar keributan dari arah kamar nino .
" Jangan ikut campur ..!!! " teriak Nino dan Nana bersamaan sambil menatap tajam ke arah Nathan berdiri . Sehingga membuat Nathan sedikit terjingkat karena terkejut dengan reaksi antara anak dan istrinya padanya . Sepertinya keputusannya untuk memilih masuk ke dalam kamar nino merupakan sebuah keputusan yang amat salah .
Di Mansion keluarga galvins.
Didalam kamar , Leo terlihat sedang meringis menahan sakit karena berusaha mengobati luka - luka diwajahnya .
" iss ...sakit sekali " keluh Leo
" Sini aku bantu " Alea mengambil paksa sebuah salep yang ada pada tangan Leo .
" Sakit ? " ucap Alea sambil mengusapkan salep ke arah wajah Leo .
" Tentu saja sakit..kau tidak lihat wajah tampanku menjadi babak belur seperti ini karena kelakuan kakak gilamu itu " kesal Leo . Sudah tahu sakit pakai bertanya lagi pikir Leo .Sungguh sebuah pertanyaan yang tak tepat waktu untuk diucapkan .
" Itu kan salahmu sendiri , kenapa kau berani menelanjangiku " ucap Alea sambil menekan keras ke arah luka Leo dan itu sungguh membuat Leo tambah meringis perih
" Aww..kau sengaja ya " Leo menatap kesal kearah Alea .
__ADS_1
" Iya ,,, memang kenapa " Mata Alea mendelik ke arah Leo sambil membereskan obat Leo dan meletakkannya ke dalam kotak penyimpanan kembali ..
" Kenapa kau marah , harusnya kau berterima kasih padaku karena telah menelanjangimu . karena dengan begitu tubuhmu tak akan lagi menggigil karena bajumu yang basah " dan Leo pun menceritakan kronologi tentang kejadian yang pernah mereka alami .
Sungguh membuat Alea menjadi tak enak hati mendengarnya , semua yang terjadi saat ini diantara mereka murni 100 %merupakan kesalahannya yang waktu itu sedang mengalami patah hati karena ditinggal sang mantan kekasih .
Alea sungguh merasa bersalah kepada Leo , karena dirinya wajah Leo yang tampan jadi babak belur karena dihajar kakak psikopatnya dan karena dirinya pula dirinya harus membuat Leo terjebak pada sebuah ikatan pernikahan .
" Hikk....maafkan aku " Alea tiba tiba saja menangis membuat Leo menjadi gelagapan .
" Hey ..kenapa kau menangis....tidak apa apa...walau semua ini memang salahmu , aku tidak akan marah padamu...aku hanya akan kesal saja " Leo berusaha mencoba untuk menghibur Alea . Ia tidak tahu harus berkata apa . Karena jujur , dirinya tidak tahu caranya menghibur wanita . Dulu saja ketika mendekati Clara , dirinya selalu minta bantuan kepada temannya Andre .
" Huuuwaaaaaa " tangis Alea semakin menjadi pecah karena mendengar perkataan Leo yang membuat dirinya semakin merasa bersalah .
Tok ...tok...tok
" Leo ...kalian kenapa ?..mama dengar ada suara menangis " ucap Lidya dari arah luar kamar .
" Hmmm..mmmm.." bibir Alea tiba - tiba saja di tutup oleh tangan Leo yang membuatnya menjadi menahan suara tangis .
" Tidak ada apa - apa mom .....pinggang alea sedang sakit , jadi aku lagi pijitin " teriak Leo dari dalam kamar agar ibunya bisa mendengar suaranya .
" Oh begitu...mama kira ada apa ..kalau begitu mama mau keluar dulu dengan daddy dan Liona ya " teriak Lidya dari arah luar pintu dan berlalu pergi .
" uuuhhhhuuuuhh....kau tega sekali membekapku , bagaimana kalau aku mati " Alea menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya kembali , dirinya benar - benar kesal karena hampir saja mati kehabisan napas .
" Kalau kau mati aku akan jadi duda paling tampan di dunia ini " celetuk Leo tanpa sadar .
" Dugh "
" Ah...apa yang kau lakukan " ringis Leo karena betisnya tiba tiba saja ditendang oleh Alea . Walau badannya terlihat kecil tapi tendangan Alea sungguh membuat betis Leo terasa ngilu .Itu kaki apa besi sih bambang .
" Aku takkan membiarkanmu menjadi duda dengan cepat " Alea pergi keluar kamar begitu saja dan membanting pintu dengan keras .
" Braaakkkk "
" Sebenarnya apa salahku ? " batin Leo bingung
__ADS_1
Bersambung