Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Mawar untuk belly


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Raja sianggah di toko bunga. Raja memilih dua jenis bunga mawar. Mawar putih dan pink.


Setelah tiba di rumah, ia melihat rumah masih dalam keadaan sepi. Ia masuk dengan membawa dua tentengan ditangannya.


Setelah sampai di kamarnya, ia merapihkan bunga-bunga itu ke dalam vas yang juga dibelinya tadi.


"Cantik..." Lirih raja memandangi hasil rangkaiannya. Sesekali ia menghirup wangi bunga mawar itu.



Mawar pink telah selesai, kini giliran mawar putih. Dengan telaten raja menyusun bunga-bunga di dalam vas putih. Dan akhirnya selesai...



"Dua bunga yang berbeda, tapi sama-sama cantik dan wangi." Raja menghirup wangi mawar kemudian menghembuskannya pelan. Hingga raja melakukannya berulang kali.


"Pantas saja belly sangat menyukai bunga, ternyata begini rasanya menatap mereka yang cantik-cantik ini. Sangat menenangkan..." Imbuh raja seolah berbicara pada bunga-bunga hasil rangkaiannya.


Sudah selesai dengan kegiatannya, raja pun memutuskan untuk membersihkan diri dan mandi.


Raja menuju kamar belly membawa dua bunga hasil rangkaian tangannya, karena sedari tadi ia tak melihat belly di rumah. Ia berfikir jika belly berada dikamarnya.


"Bell..." Raja memanggil belly dari luar kamar. Karena kedua tangannya membawa bunga, raja tak bisa mengetuk pintu.


Belly yang mendengar suara raja pun bangun dari pembaringannya. Meskipun merasa sangat malas, namun belly segera membukakan pintu.


Belly terkejut ketika pintu dibuka, sosok raja didepan dengan tangan yang membawa dua vas bunga.


"Hai..." Dengan senyuman kecilnya, raja menyapa belly.


"Eh, hai..." Belly pun membalas sapaan raja yang teramat asing baginya. Apalagi dengan senyuman itu, belly merasa raja sangat aneh hari ini.


"Ini..." Raja menyerahkan satu vas berisi bunga warna pink kepada belly.


"Untukku?" Tanya belly ragu-ragu.


"Ya, untukmu. Kau tak suka?" Raja mengerenyitkan dahinya.


"Oh, aku sangat menyukai bunga. Terimakasih.." Belly pun meraih mawar berwarna merah muda itu dari tangan raja.


"Boleh aku masuk kamarmu?" Tanya raja pada belly dengan hati-hati.

__ADS_1


"Si...silahkan..." Jawab belly pula dengan hati-hati.


Raja berjalan perlahan melewati gawang pintu. Sementara belly menatap aneh pada raja, ia pun mengikuti langkah raja dari belakang.


Raja meletakkan vas bunga berisi mawar putih di atas meja rias belly. "Nah, sangat cantik bukan?"


"Mawar putih itu juga untukku?" Tanya belly menatap curiga kearah raja. Bey pun meletakkan vas mawar pink yang sedari tadi ia pegang tepat di sebelah vas mawar putih.


"Ya.. Anggap saja bunga ini sebagai tanda permintaan maafku padamu.." Jawab raja dengan sedikit tegang. Pasalnya, selama ini ia tak pernah meminta maaf kepada orang lain. Apalagi itu adalah wanita.


"Permintaan maaf??" Belly kembali menatap raja dengan curiga.


"Maa...maa..maafkan a..aku bell!" Rasanya sangat berat kata-kata itu keluar dari mulut raja.


"Heh," Belly tersenyum tipis menyaksikan ketegangan raja. "Apakah sangat berat bagimu untuk sekedar mengucapkan kata MAAF?? Kau bahkan terdengar tidak ikhlas.."


"A..apa? Aku tidak ikhlas? Yang benar saja! Aku sangat tulus mengucapkannya!" Pungkas raja dengan wajah yang sedikit kesal.


"Oh begitu? Tapi mengapa aku mendengarmu mengucapkan kata maaf itu sangat berat?" Tanya belly.


"Itu karena aku memang tidak pernah mengucapkannya kepada siapapun." Jawab raja perlahan.


"What???" Belly membelalakkan matanya dengan tangan yang menutup mulutnya.


"Oh.. Tentu saja aku mau memaafkanmu." Jawab belly cepat, ia tak ingin memancing amarah raja kembali.


"Jadi kau sudah memaafkanku?" Tanya raja semakin mendekat kearah belly.


"Ya, ya... Aku sudah memaafkanmu." Belly memicingkan senyuman manisnya menatap kearah raja.


"Baguslah.." Ucap raja dengan kaku, tak tahan dengan senyuman yang ditunjukkan belly.


"Harusnya bukan kata BAGUSLAH yang kau ucapkan!" Sergas belly.


"Lalu?" Tanya raja tak paham.


"Jika kau habis menerima sesuatu, baik barang, rezeki ataupun hanya sekedar ucapan maka kata-kata yang pantas kau keluarkan adalah TERIMAKASIH itu tandanya kau bersyukur atas nikmat yang telah tuhan beri." Jelas belly panjang lebar.


"Oh, begitu? Baiklah... Akan ku ulangi. Terimakasih Belly Zeana Anggraika." Secara gamblang raja menyebutkan nama lengkap belly.


"Oh, kau... Mengapa harus menyebut nama panjangku?" Belly jadi salah tingkah.

__ADS_1


"Aku sangat hafal dengan namamu! Kau jangan besar hati, aku mengingat itu karena saat kita akan menikah aku dituntut untuk terus menghafalkan nama panjangmu. Kau ini, namamu begitu panjang sehingga membuat aku susah dan terus mengulangnya." Raja jadi salah tingkah, ia mendudukkan tubuhnya dipinggiran ranjang karena lututnya terasa pegal sejak tadi berdiri.


"Hehe..." Belly mengulum senyumnya, ia merasa senang karena raja mengingat namanya. Meskipun akhirnya raja membuat alasan lain.


Saat belly hendak menuju kursi rias di dekat ranjang, kaki belly tersandung oleh sesuatu. Tubuhnya tiba-tiba akan ambruk kearah kasur. Namun dipinggiran kasur duduklah seorang raja, hingga belly menabrak tubuh raja dan mereka berdua sama-sama ambruk ke ranjang.


Dengan posisi raja tertimpa oleh belly, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Tatapan mata keduanya pun menembua hingga jantung kemudian berlabuh kedalam hati..


Desiran darah yang mengalir cepat, jantung yang terus berdebar kencang membuat keduanya tak bisa lagi berkutik, tak ada pergerakan apapun dari raja maupun belly. Mereka masih sama-sama mematung menikmati perasaan masing-masing.


Satu detik, dua detik......tiga puluh detik. Raja memegang pundak belly, hingga belly tercengang.


"Kau...kau tak apa?" Tanya raja dengan suara gugupnya.


"Oh, emmm aku tak apa. Maaf.." Belly pun bangkit dari posisinya saat ini. Ia melihat kearah bawah, ternyata sandalnya tersangkut oleh juntaian selimut yang sedikit turun dari ranjang.


Belly menepuk jidatnya dengan telapak tangannya. "Ya tuhan, bagaimana ini bisa terjadi!" Belly merasa sangat malu terhadap raja, hingga wajahnya pun kini mulai memerah seperti memakain Blush on.


"Ada apa?" Raja membenarkan posisinya, ia memperhatikan belly yang sedang berjongkok di lantai.


"Oh, tidak. Selimut ini, gara-gara selimut ini." Belly mengeluarkan cengirannya. Hingga gigi putihnya yang berjejer rapi terlihat. "Aku akan merapihkannya!" Belly meraih selimut mencoba melipatnya, namun tangan belly dicekal oleh raja.


"Biarkan seperti itu..." Raja pun tersenyum, menghalangi belly untuk merapihkan juntaian selimut.


Belly yang merasa aneh dengan raja pun menjadi salah tingkah. Hingga wajah belly semakin merah merona, dan itu dapat terlihat jelas oleh raja.


"Aku keluar dulu." Raja mengacak pelan rambut belly, dengan sedikit senyum kecilnya.


Belly hanya mematung tak bergerak, matanya membulat sempurna, wajahnya memerah bak buah tomat. Hingga kepergian raja dari kamarnya, ia masih terdiam tanpa kata dan tanpa pergerakan.


Oh tuhan, apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa dia bertingkah aneh hari ini? Dia tak seperti biasanya. Dan...dan ada apa dengan perasaan ini?


Belly bergumam dalam hati, ia terus memegangi dadanya merasakan jantungnya yang berdebar kencang.


Belly tersadar dari lamunannya, ia menuju ke arah bunga mawar di meja riasnya. Hingga belly meraih bunga itu dan menghirup aroma bunga yang amat ia sukai.


Sementara di tempat yang berbeda, raja merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya. Di dalam kamar, ia membayangkan kejadian tadi bersama belly. Perasaan raja yang aneh pun muncul, hingga bayangan wajah belly pun terus berputar-putar di otaknya.


Raja hanya tersenyum sendiri, ia memejamkan matanya rapat hingga raja pun tertidur..


*To be continue....

__ADS_1


🍒Readers, thanks untuk semua yang sudah dukung othor. Jangan lupa tinggalkan jejak²nya ya...


Kasih gift, like, koment untuk othor. Semangat......💪*


__ADS_2