
Hai readers semua yang masih terus setia menunggu thor UP lagi dan masih membaca karya othor yang recehan ini, terimakasih banyak othor ucapkan karena dukungan dari kalian lah othor menjadi semakin semangat buat dapetin ide-ide yang akan othor tulis.
Terimakasih semua, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak-jejaknya... Gift, vote, like dan komentarnya ya...
...----------------...
Hujan membuat udara kembali dingin melanda setiap penjuru bumi. Malam ini, kedua insan sedang terlelap meringkuk didalam balutan selimut tebal. Dengan tubuh yang membelakangi Raja, Belly tidur dipelukannya.
Rasa kantuk terganggu karena perut yang mulai merasa lapar. Belly menggeliatkan tubuhnya hingga membuat Raja terbangun.
"Ada apa sayang, apakah dia lapar?" Seolah mengerti apa yang tengah dirasakan oleh istrinya, Raja mengangkat kepalanya mengecupi tengkuk leher Belly sembari tangannya yang mengelus perut rata milik Belly.
Dengan mata yang masih berat, Belly menyunggingkan senyumannya. "He'eum... Sepertinya dia lapar."
"Baiklah...." Raja mengumpulkan nyawanya, dengan penuh semangat ia pun bangun dari pembaringannya. "Kau mau apa?" Tanya Raja pada istrinya seolah saat ini ia sedang menjadi suami yang siap siaga.
Belly membuka matanya perlahan, diliriknya jam dinding yang masih menunjukkan pukul sebelas malam.
"Susu hangat.."
"Hanya susu? Apakah tidak ada yang lain?" Tanya Raja meyakinkan lagi.
"Ya, sementara hanya susu..." Dengan suara parau dan mata yang masih amat berat untuk dibuka, Belly meminta suaminya untuk membuatkan susu hangat. "Maaf selalu merepotkan..."
Mendengar istrinya meminta maaf, Raja langsung mengecup puncak kepala Belly. "Tak ada yang direpotkan disini, ini adalah bentuk kerja sama yang baik antara seorang suami dan istri."
"Kerja sama?" Belly tak mengerti akan ucapan Raja yang menurutnya begitu Ambigu. Entah karena ia belum tersadar dari tidurnya atau karena memang Belly benar-benar tak mengerti.
"Ya. Kerja sama mengurus dia.." Raja tersenyum kecil, dengan tangan yang masih mengeluas perut istrinya.
Karena melihat ekspresi Belly yang seolah belum paham, Raja pun menjelaskan maksudnya.
"Sayang.... Kita membuatnya saja harus memerlukan kerja sama yang baik hingga dia bisa hadir sekarang. Maka dari itu, untuk mengurusnya kita juga perlu kerja sama yang baik agar dia tumbuh dengan baik pula."
Belly mengulum senyumannya, ia tak menyangka maksud pembicaraan Raja mengarah kesana.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kau ini. Aku fikir kerja sama dalam hal apa?" Belly menepuk tangan Raja yang terus mengelus perutnya.
"Jadi kapan susunya akan jadi?" Tanya Belly kepada Raja, karena sejak tadi Raja belum juga membuatkan susu untuknya.
"Oh, aku hampir lupa. Tunggu sebentar." Raja pun bergegas pergi keluar kamar untuk membuatkan susu hangat permintaan Belly.
Belly terkikik pelan mendapati suaminya yang langsung bergerak cepat menuju ke dapur.
Sejujurnya Belly merasa tak enak hati karena terus merepotkan Raja ditengah malam. Ia merasa telah mengganggu istirahat Raja, apalagi Raja harus pergi bekerja pagi harinya. Namun Raja tak memeprmasalahkan hal itu, malahan Raja akan menegur Belly jika tak membangunkannya saat ia membutuhkan sesuatu.
Tak butuh waktu lama, Raja pun datang membawakan satu gelas susu hangat khusus ibu hamil yang sempat mereka beli di supermarket kemarin.
"Ini susu untuk istriku tercinta.." Ucap Raja menyerahkan segelas susu kepada Belly dengan logat bahasa yang sedikit Lebay.
"Manis sekali..." Puji Belly pada tingkah suaminya yang lucu itu. Belly pun segera meneguk susu hangat itu hingga tandas.
"Apakah masih lapar?" Tanya Raja melihat Belly yang begitu cepatnya mengahabiskan susu hangat buatannya.
Belly menggelengkan kepalanya. "Aku mengantuk, ayo kita tidur lagi.." Ajak Belly pada Raja.
"Iya Raja, tidurlah besok kau harus pergi bekerja bukan?" Sembari meraih selimut tebalnya, Belly pun membaringkan kembali tubuhnya.
Raja pun membaringkan tubuhnya disebelah Belly. Ia memeluk tubuh istrinya yang kini tengah membelakanginya.
Karena Raja merasa ada sesuatu yang masih mengganjal dihatinya, untuk saat ini sejujurnya Raja masih dalam keraguan. Ia pun berniat bertanya kepada Belly. "Sayang, apakah kau sudah tidur?"
"Belum..." Jawab Belly dengan cepat.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
Raja pun meminta Belly menghadap kearahnya, dan kini mereka berdua pun saling memandangi satu sama lain.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Mata Belly yang tadinya berat untuk dibuka, kini terbelalak lebar.
"Bagaimana jika kau tidak usah bekerja lagi, maksudku untuk menjaga anak kita dan kau tak terlalu kelelahan....."
__ADS_1
"Raja, meskipun aku bekerja tapi percayalah aku akan menjaga anak kita semaksimal mungkin." Belly memotong ucapan Raja. Sebenarnya ia sudah yakin jika Raja suatu saat pasti akan memintanya untuk berhenti bekerja.
"Bell, fikirkanlah lagi. Aku hanya tak ingin kau dan bayi kita tak terlalu kelelahan.. Biarlah aku yang akan mencari nafkah untuk kalian berdua.." Raja masih tak mau menyerah, ia terus berusaha membujuk Belly.
Karena tak ingin terus berdebat ditengah malam, Belly pun mencoba membuat tenang hati Raja. "Eum, baiklah. Izinkan aku memikirkannya terlebih dahulu Raja. Aku juga perlu berbicara pada Steva."
Eummm baiklah jika begitu, kabari aku segera jika sufah berbicara pada Steva."
"Oh ya, tempo hari apakah kau pergi ke toko kue STAR......"
"STAR cake??" Sambung Belly memotong ucapan Raja.
"Iya itu dia maksudku." Dengan mengumpulkan keberaniannya Raja pun bertanya prihal ia bertemu dengan Alan seperti yang dikatakan Maura sekaligus mencari tahu kejadian sebenarnya pada Belly.
"Apakah kau bertemu dengan Alan??"
"Oh itu, ya. Aku bertemu dengannya." Ucap Belly tak enak hati. Sebenarnya ia ingin mengatakan hal ini pada Raja besok, namun entah kenapa Raja malah sudah mengetahuinya.
"Raja, aku dan Alan bertemu tak sengaja. Kau jangan berfikir yang macam-macam. Aku bisa jelaskan..."
"Sudahlah.. Aku percaya padamu Bell. Sudah malam dan kita harus kembali tidur. Aku sudah mulai mengantuk."
Raja mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia sempat berfikir jika Maura tempo hari tengah mengarang cerita hanya untuk memfitnah Belly lagi. Tapi ternyata setelah bertanya pada Belly secara langsung, kini ia tahu jika Maura tak berbohong.
Jadi, itu semua benar dan Maura tidak berbohong. Bell, kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau terus saja bertemu dengan Alan padahal sudah jelas jika aku melarangnya.
Mata Raja terpejam, namun hatinya terus bergumam. Raja berusaha mengalah kali ini, ia tak ingin membuat Belly stress dan hal itu akan berpengaruh pada bayinya.
Sementara Belly hanya bisa diam melihat mata Raja yang kini telah terpejam. Padahal maksud Belly ingin menjelaskan secara rinci kejadian yang sebenarnya.
Aku belum memberitahunya, tapi mengapa Raja sudah mengetahuinya? Apakah Raja melihat aku dan Alan? Atau Maura yang memberitahu hal ini kepada Raja?
Banyak pertanyaan yang terbesit dalam benak Belly, hal itu membuat kepalanya terus berfikir lebih keras hingga ia tak bisa memejamkan matanya.
Jika benar Maura yang memberitahukan hal ini, pasti dia telah mengarang cerita yang tidak-tidak tentang aku dan Alan.
__ADS_1
Maura, apa sebenarnya tujuanmu kali ini??