Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Habislah kau Maura!


__ADS_3

Pagi ini, tepatnya pukul lima lewat dua puluh menit Belly sudah siap dengan satu koper ditangannya. Ia menuruni anak tangga menuju lantai bawah untuk berganti mempersiapkan ayahnya.


Namun sepertinya ia terlambat, karena Alan sudah menunggunya di bawah bersama ayahnya yang berpenampilan rapi tanda sudah siap.


"Papa, Al, maaf sepertinya aku terlambat," ucap Belly merasa tak enak hati karena Alan dan Prass sudah menunggunya. Ia pun bergegas turun dari tangga.


"Kau sudah siap? Apa ada yang tertinggal?" Alan mencoba memperingatkan Belly khawatir jika ada sesuatu yang dilupakannya.


"Tidak, semuanya sudah siap!" Ucap Belly yakin.


"Oke, kita berangkat sekarang," Alan meminta Belly mendorong kursi roda Prass. Sementara dirinya membawa koper milik Belly dan beberapa perlengkapan Prass.


Belly memperhatikan gerak-gerik Alan, ia merasa jika pagi ini Alan terlihat terburu-buru tak seperti biasanya.


Setelah masuk ke dalam mobil, Alan duduk disebelah kemudi. Sementara Belly dan Prass duduk dibangku penumpang bagian belakang.


Belly terus saja memperhatikan Alan yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Ingin sekali ia bertanya kepada Alan.


"Aku sedang menuju bandara, tolong siapkan semuanya. Jangan sampai ada yang kurang sedikitpun."


Setelah menutup sambungan telponnya, ponsel Alan berkeringat kembali. Ia pun segera mengangkat panggilan itu, "hai win? Terimakasih atas bantuanmu."


Belly dapat mengetahui jika Darwin saat ini yang sedang berbicara dengan Alan. Tetapi Belly merasa ada yang janggal dengan pembicaraan Alan dengan Darwin kali ini.


Seperti ucapan terimakasih Alan yang terus-menerus ia ucapkan. Kemudian Alan tak banyak berbicara seperti sebelumnya ia berbicara lewat telepon selain Darwin. Ia hanya mengucapkan kata singkat saja seperti OH, OKE, dan YA.


Sepertinya Alan tak ingin jika pembicaraannya didengar oleh orang lain dan bersifat rahasia. Namun Belly bisa menebak, jika ada sesuatu yang tidak beres yang disembunyikan Alan dari dirinya.


Apa yang kau fikirkan Bell, mengapa kau negatif thinking terhadap Alan? Jika memang ada rahasia yang disembunyikan darimu, itu hak Alan. Buang jauh-jauh fikiran itu. Alan sudah banyak membantumu. Harusnya kau berterimakasih padanya, bukan malah berfikir buruk tentangnya.


Batin Belly terus berperang, karena sempat mencurigai sikap Alan yang tak seperti biasanya. Namun ia segera menepis fikiran itu, dan memilih untuk menghibur Prass dengan memijat telapak tangannya yang dingin.


...****************...


Entah berapa lama Raja berada di atas brankar Rumah sakit dan belum juga sadarkan diri sejak semalaman. Kondisinya saat ini begitu memprihatinkan karena memiliki luka serius dibagian kepalanya.


Alex, Bastian, Rangga sejak semalaman saling bergantian menunggunya berharap akan segera sadar. Namun, hingga saat ini sepertinya harapan mereka bertiga belum juga dikabulkan oleh Tuhan.


Kedua orangtua Raja pun baru saja tiba dari Bandung setelah semalam dikabari oleh Rangga jika terjadi kecelakaan pada Raja.

__ADS_1


Rianti, ibu Raja terus saja menangis ketika menatap putra semata wayangnya terbayang lemah di atas brankar rumah sakit.


Sesak memang rasanya, ketika anak yang kita sayangi harus jatuh sakit. Sebagai seorang ibu, lebih baik ia yang menanggung rasa sakit itu daripada melihat anaknya seperti ini.


"Raja," Rianti terus saja menangis sesegukan. Ia merasa jika nasib putranya ini amatlah kurang beruntung.


"Sudahlah ma, mama harus tenang! Lebih baik kita berdoa saja untuk kesembuhan Raja," Ucap Darmawan menenangkan istrinya.


"Pa, kasihan Raja. Baru saja ditinggal selingkuh istrinya, dia harus menderita seperti ini karena kecelakaan. Ini semua pasti gara-gara Belly!"


"Ma, tidak baik menyangkut pautkan masalah Belly dengan kecelakaan yang menimpa Raja, semua ini sudah kehendak Tuhan, mama jangan seperti ini. Cobalah berfikir realistis."


Darmawan tak mau lagi berdebat dengan istrinya, ia pun memilih meninggalkan istrinya sendiri di kursi tunggu rumah sakit.


Sejak keberangkatan mereka dari Bandung, Rianti terus saja mengumpat dan menyalahkan Nelly atas kecelakaan yang menimpa Raja. Padahal belum tentu semua pemikirannya itu benar.


Darmawan yang merasa istrinya telah salah pun lebih baik menghindar, karena berulang kali ia mencoba menepis pemikiran negatif istrinya itu, tetap saja ia keras kepala dan tak mau disalahkan.


Maka lebih baik untuk saat ini ia diam dan meninggalakan istrinya menuju ruangan dokter untuk bertanya kondisi Raja saat ini.


Alex, Bastian dan Rangga pun segera menuju ke kantor karena disini sudah ada orangtua Raja yang akan menjaganya.


Ketiganya pun berpamitan pada Rianti. Namun sebelum mereka pergi, Maura datang menghampiri mereka dengan nafas yang tersengal.


"Maura," Rianti pun berdiri dan segera berhambur untuk memeluk Maura.


"Tant, bagaimana kondisi My King? Apa kata dokter? My king baik-baik saja kan??" Banyak pertanyaan yang dilontarkan Maura pada Rianti, hingga Rianti pun bingung harus menjawab yang mana.


"Tant, jawab Maura. Kenapa tante diam saja," lanjut Maura.


"Kondisi Raja masih belum stabil Ra, kita harus sabar. Kita doakan saja yang terbaik untuknya," jawaban Rianti kini dapat membungkam mulut Maura yang terus saja merengek.


Pemandangan itu tak lepas dari mata lelaki yang berada diantara mereka. Hingga membuat ketiganya pun mencibir perlakuan Maura.


"Halah, dasar penjilat!" umpat Alex dengan kesal.


"Wanita tak tahu malu," sambung Rangga.


"Cari muka! Padahal dia sendiri yang membuat Raja menderita!" Bastian pun ikut berbicara.

__ADS_1


"A..apa maksud kalian??" Seolah tak mengerti apapun, Maura merasa dirinya kini telah menjadi bahan pembicaraan oleh teman-teman Raja.


Rianti hanya terpaku, ia pun merasa jika teman-teman Raja tak begitu menyukai Maura. Sepertinya ada hal lain yang belum ia ketahui. Karena tak mungkin teman-teman Raja berkata seperti itu tanpa alasan.


"Alex, Bastian, apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada yang belum tante ketahui?" Rianti pun melontarkan pertanyaannya pada kedua sahabat Raja yang sudah sangat lama dikenalnya. Ia menatap kedua lelaki yang seumuran dengan anaknya itu secara bergantian.


Namun bukannya mendapat jawaban, Alex dan Bastian malah mematung. Ia pun berganti menatap kearah rangga.


"Rangga???"


Sama dengan Alex dan Bastian. Rangga pun diam membisu ia hanya menundukkan kepalanya, tak berani berkata apapun.


"Tant, mereka memang seperti itu. Mereka bertiga tidak pernah menyukai Maura," kali ini Maura dengan air mata bawangnya pun berakting didepan Rianti. Ia menangis terisak, entah tangisan sungguhan atau hanya akal-akalan Maura saja.


"Maura, tante percaya denganmu. Maka dari itu, kamu harus ceritakan semua pada tante apa yang sebenarnya terjadi?"


"Tant, sungguh tidak ada hal apapun. Mereka memang tidak pernah menyukaiku karena selalu menganggap jika aku adalah pengganggu rumah tangga Raja dan Belly. Padahal jika difikir lagi, Belly lah yang telah merebut Raja dari aku tant," lagi, Maura tersedu dipelukan Rianti.


"Hmmmm, tante paham perasaanmu. Biar tante yang akan bicara pada mereka agar tidak lagi menganggap kamu seperti itu."


Baru saja Rianti akan memberikan wejangannya pada ketiga teman-teman Raja, hal itu tertunda karena ada tiga orang datang menghampiri mereka dengan seragam lengkap berwarna cokelat. Dua orang lelaki dan satu orang wanita berseragam itu pun semakin melangkah mendekat.


"Selamat siang! Maaf mengganggu, apa kami boleh berbicara dengan ibu MAURA PRIANKA?," salah satu pria berseragam dengan wajah tegas itu pun bertanya.


"Ada apa?, disini tidak ada orang yang kalian cari," ucap Maura dengan memberikan kode melalui mata kepada Rianti.


"Apa benar anda yang bernama Maura?, anda kami tangkap karena telah melakukan kasus penipuan dan penculikan terhadap ibu Belly dan pak Alan. Silahkan ikut kami ke kantor untuk menjelaskan!"


"Apa-apaan ini pak? Kalian salah orang!"


"Maura, apa sebenarnya yang terjadi?," Rianti pun bertanya-tanya, karena tidak mungkin jika para polisi itu menangkap dirinya tanpa bukti yang kuat.


"Tant, Maura tidak bersalah," Maura menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan terus mengarah pada Rianti ketika tangannya mulai diborgol oleh seorang polisi wanita.


"Pak, lepaskan aku. Aku tidak bersalah!, kalian salah tangkap!"


"Anda bisa menjelaskannya nanti di kantor!"


"Bawa dia!," perintah polisi itu kepada dua polisi lainnya.

__ADS_1


Dari sisi lain, ada sepasang mata yang tersenyum senang memperhatikan penangkapan Maura. "Habislah kau Maura!"


To be continue.....


__ADS_2