Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Apakah aku menyukaimu??


__ADS_3

Raja hanya memicingkan senyum pahitnya, ia kemudian menyerahkan ponsel belly. "Ini, ponselmu tertinggal di rumah."


"Oh, ponselku. Terimakasih..." Ucap belly terbata.


"Raja, aku bisa...."


"Bell, aku pulang dulu sudah malam. Istirahatlah." Raja pun melangkah pergi sembari menahan sesak di dadanya. Ia merasa jika hatinya amatlah sakit melihat belly bersama alan. Belly terlihat begitu ceria bersama alan, sementara ketika dengannya belly terlihat tak nyaman.


Bell, apakah aku tak pantas untukmu? Apakah kebahagianmu ada pada diri alan?? Atau....apakah benar yang dikatakan maura??


Banyak pertanyaan yang terbesit di benak raja, namun ia segera menepiskan fikiran negatifnya itu. Raja percaya, jika belly adalah wanita yang baik. Tidak seperti pandangan maura.


Sementara belly hanya menatap diam kepergian raja, dapat dilihatnya kekecewaan diwajahnya.


"Ayo bell, kita pulang." Ajak alan pada belly yang hanya diam tanpa kata menatap kepergian raja.


"Alan, kau bisa pulang lebih dulu." Jawab belly.


"Bell, ini sudah malam..."


"Alan, bisakah kau tak pedulikan aku? Aku sudah memiliki suami, dan kamu lihat sendiri bukan bagaimana raut wajah raja?? Dia pasti kecewa al!" Belly mulai berusaha tegas pada alan, ia tak mau alan terus memberi perhatian padanya hingga membuat raja salah paham.


"Bell, dia memang suamimu. Tapi aku tahu siapa dia, aku tahu bagaimana dia memperlakukan dirimu seenaknya! Dia tidak pantas untukmu bell!" Alan merasa naik pitam, ia masih berusaha untuk mendekati belly.


"Alan, kau tidak tahu apapun tentang aku dan raja. Jadi tolong jangan asal menilainya kau mengerti??"


"Dan terimakasih atas kebaikanmu selama ini, aku harap kau tidak lagi menemuiku!"


Belly meninggalkan alan begitu saja, ia berjalan cepat menuju apartement steva.


"Arghhhhh!!!!!" Alan meremas rambutnya dengan kedua tangannya, kakinya menendang tong sampah di sebelahnya.


Belly, aku melakukan semua ini untukmu! Tidak bisakah kau melihat semua pengorbananku? Aku takkan menyerah begitu saja bell, aku sungguh mencintaimu....


***


Belly terus mondar-mandir di ruangan kerjanya, ia begitu gelisah memikirkan raja. Sudah seharian ini raja tak menampakkan diri atau pun mengabarinya.


Belly, mengapa kau secemas ini? Bukankah sudah biasa bagimu tak mendapat kabar darinya??


Belly terus bertanya-tanya dalam hatinya, rasanya ia tak fokus bekerja.


"Bell, waktunya makan siang..." Ucap steva menghampiri belly.


"Emm, stev aku makan di luar. Aku pergi dulu!" Tanpa banyak kata, Belly mengambil tas kerjanya ia melangkah keluar kantor dengan tergesa-gesa.


Steva hanya bisa menarik nafasnya panjang, belum sempat ia berbicara belly sudah meluncur jauh dari pandangannya.


Belly menuju perkantoran raja, kali ini ia berniat memberanikan diri untuk menemui raja. Pagi tadi belly menelepon rangga tapi tak bisa tersambung. Hingga kekhawatiranpun muncul di benaknya. Ia takut terjadi sesuatu dengan raja.


Belly menuju meja resepsionis, ada seorang wanita muda menyambutnya dengan baik.


"Siang bu, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang resepsionis ber name Tag Safira itu.


"Pak raja ada?" Belly langsung pada intinya.


"Apa anda sudah membuat janji terlebih dulu??"


"Emmm, sudah. Katakan dari belly." Ucap belly tegas namun kali ini ia terpaksa berbohong, karena ia belum membuat janji apapun dengan raja.


"Tunggu sebentar ya bu... Saat ini sedang jam makan siang, dan pak raja tidak ada di ruangannya." Ucap safira sang resepsionist.


Belly tengah duduk di kursi tunggu untuk bertemu dengan raja. Saat bastian dan alex kembali dari makan siang mereka menghampiri belly.


"Haii belly," Sapa bastian.


"Eh, bastian, Alex?" Belly memicingkan senyuman kecilnya.


"Apa kabar, sudah kembali dari surabaya?? Kapan?" Tanya bastian mencecar beberapa pertanyaan pada belly.


"Surabaya??" Belly menatap ke atas, ia masih mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh bastian.


"Bell, kau tunggu saja di ruangan raja. Mengapa kau duduk disini??" Alex mencari pembahasan lain, ia sebenarnya tau masalah tentang raja dan belly.


"Raja sedang tidak ada lex,..."


"Sudah, biar aku antar. Kau kan istrinya, kenapa harus menunggu disini!" Alex berbicara pada resepsionist sedikit berbisik, kemudian ia pun mengantarkan belly menuju ruangan raja.


"Terimakasih lex." Ucap belly sopan.


"Bas, kau kembali saja dulu ke ruanganmu. Aku akan mencari raja." Ucap alex.


"Oke, aku kembali dulu." Bastian berjalan gontai menuju ruangan kerjanya. Meninggalkan alex dan belly.


Setelah kepergian bastian, alex sedikit berbicara pada belly.


"Bell, maaf jika aku lancang. Tapi, aku sepertinya harus bertanya langsung padamu." Ucap alex pelan dan hati-hati.


"Ada apa lex? Apa ada hal penting?" Tanya belly ingin tahu.


"Bell, sebenarnya apa hubunganmu dengan alan?" Tanya alex. "Aku bertanya ini karena tempo hari aku menyaksikan perkelahian antara alan dan raja, dan aku sempat mendengar jika mereka berdua membahas dirimu." Lanjut alan menjelaskan.


"Berkelahi?? Alan dan raja?" Belly terkejut, pasalnya ia tak tahu jika alan dan raja saling berkelahi.

__ADS_1


"Ya, aku bertanya pada raja namun ia tak menjawab apapun. Kemudian aku tanyakan hal ini pada alan, tapi alan juga tak mau menjelaskan! Sebagai teman, aku hanya ingin meluruskan mereka berdua agar tidak saling perang dingin. Jika aku tahu masalahnya, mungkin aku akan memberikan sedikit saran." Panjang lebar alex menjelaskan pada belly secara hati-hati.


"Perang dingin??" Belly masih belum paham.


"Ya, raja bilang kau pergi ke surabaya. Tapi dia mencarimu di apartement alan saat hari ulang tahunmu itu. Dan mereka berdua malah saling adu jotos!" Alex menepuk jidatnya sendiri.


"Maaf bell., bukannya aku mencampuri urusan pribadimu. Aku hanya tak ingin alan sepupuku dan raja temanku saling adu hantam lagi jika mereka berdua bertemu." Alex melanjutkan ucapannya.


"Alex, maaf aku dan alan hanya teman dekat di masa lalu. Kami memang pernah menjalin hubungan. Tapi, setelah aku menikah dengan raja aku pun segera mengakhirinya. Dan saat ini, aku benar-benar menganggap alan hanyalah teman biasa tidak lebih." Ucap belly menjawab keingintahuan alex. Sementara hatinya memikirkan perkelahian antara alan dan raja.


"Owgh, begitu.... Pantas saja, alan menyimpan fotomu di kamarnya." Alex pernah melihat foto belly yang terbingkai di kamar alan. "Lalu masalahmu dengan raja??" Tanya alex lagi.


"Lex, itu hanyalah masalah kecil di dalam rumah tangga kami. Jadi aku minta maaf tidak bisa menceritakannya..." Ucap belly tenang dan hati-hati.


"Oh iya, tak apa. Itu privasi kalian, masalah rumah tangga memang harusnya tak boleh ada yang tahu. Yang penting sekarang aku sudah tahu masalahmu dengan alan. Aku akan membantumu untuk meyakinkan alan agar tidak terus mengganggumu." Jelas alex.


"Terimakasih lex,." Ucap belly.


"Ya, dan ada satu hal lagi bell yang ingin ku sampaikan." Alex masih ingin memberitahukan sesuatu hal pada belly.


"Apa lagi lex?" Tanya belly.


"Kemarin, maura datang kemari. Berhati-hatilah..." Ucap alex.


"Maura?? Maura prianka?" Tanya belly meyakinkan.


"Ya, aku yakin kedatangannya ada maksud tertentu." Ucap alex.


"Benarkah??" Belly masih ingin tahu. "Lalu apa yang maura dan raja lakukan?" Tanya belly lagi.


"Bell, aku pergi dulu."


Belum sempat menjawab pertanyaan belly, alex segera pergi dari hadapan belly karena telah melihat raja kembali ke kantor dari kejauhan.


Jadi maura dan raja bertemu kemarin?? Padahal dia bilang jika tak pernah berhubungan lagi dengan maura, apakah dia berbohong??


Belly terus meluncurkan beberapa pertanyaan dalam hatinya. Banyak hal yang belum bisa terpecahkan.


"Bu belly??" Tanya rangga menemui belly.


"Pak rangga, selamat siang." Sapa belly.


"Ada apa bu kemari? Mengapa tidak mengabari?" Ucap rangga penuh tanya.


"Tak ada hal penting, raja dimana??" Belly celingukan mencari-cari keberadaan raja.


"Oh, pak raja sedang keruangan meeting. Ibu tunggu saja di dalam ruangannya. Mari saya antar.." Rangga mempersilahkan belly masuk ke ruangan kerja raja.


Sesulit inikah menemuinya?? Dia terlihat amat sibuk.


Belly tetap menunggu raja di dalam ruang kerjanya. Ia menatap interior serta penataan ruangan yang begitu rapi.


Sama seperti di rumah, dia sangat menyukai kerapihan.


Belly tersenyum, ia berjalan terus memutari ruangan kerja raja. Kemudian mendudukkan bokongnya di sofa.


Sementara di ruangan meeting, rangga datang menghampiri bossnya dengan berbisik.


Sontak raja pun segera mengakhiri pertemuan kali ini, ia pun segera bergegas pergi ke ruangan kerjanya.


"Belly? Bell, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Raja menghampiri belly dengan kekhawatirannya. Ia memegangi tangan kemudian kepala belly ddngan tatapan cemas.


"Raja, aku tak apa. Aku baik-baik saja." Ucap belly tersenyum kecil.


"Benarkah??" Raja merasa tak yakin dengan ucapan belly ia masih mencari-cari kebenarannya.


"Iya, aku baik-baik saja." Jawab belly meyakinkan.


Kenapa? Kenapa hati ini senang ketika menemuinya? Bahkan melihatnya seperti ini membuat mataku tak ingin berpaling.


"Bell?" Raja membuyarkan lamunan belly yang terus menatap kearahnya.


"Oh, iya.." Belly tersadar dari lamunannya.


Raja mendudukkan bokongnya disebelah belly, "Ada apa kemari?? Apa ada hal penting?" Raja bertanya ingin tahu tujuan belly.


"Oh, itu aku hanya singgah sebentar kemari. Sekaligus ingin membahas masalah pekerjaan pada pak rangga."


"Oh, aku fikir kau kemari untuk menemuiku." Raja tersenyum kecil, harapannya pada belly ternyata salah. "Bell, maaf aku tak menemuimu hari ini. Pagi-pagi sekali ada sedikit problem hingga aku harus langsung ke kantor."


Deg!


Ada apa denganmu bell? Bahkan raja sudah mengakuinya, tapi mengapa kau masih menyembunyikan perasaanmu.


"Oh, ya tak apa. Kalau begitu aku harus kembali ke kantor lagi..." Belly merasa canggung. Ia tak tahu harus membicarakan apa lagi.


"Bell, tunggu!" Raja tak mau begitu saja membiarkan belly pergi.


"Ekh, ya?? Ada apa??" Tanya belly yang menghentikan langkahnya.


"Kau sudah makan siang??" Tanya raja pada belly.


"Aku...Tentu saja aku sudah makan." Padahal belly belum makan siang.

__ADS_1


"Owgh, kalau begitu bolehkan temani aku makan siang??" Ucap raja menatap nanar belly dengan lekat.


Ya ampun belly, ada apa denganmu? Kenapa selalu raja yang berani ungkapkan perasaannya?


"Bell? Apa kau keberatan? Aku harap tidak." Ucap raja penuh harap.


"Emm....Baiklah, tapi aku izin dulu pada steva." Ucap belly mengangguk pelan.


"Biar aku yang menelepon steva," Ucap raja bersemangat, ia kemudian meraih ponselnya di saku celana mendial nomor telepon steva.


Akhirnya raja pun mendapatkan izin dari steva, steva merasa tak masalah, ia malah memberikan izin pada belly hingga besok.


Raja memesan makanan melalui OB kantornya, ia sengaja makan bersama belly di ruangannya. Jujur, raja masih ingin berdua dengan belly.


Raja memesan mie goreng jawa, ia sengaja meminta OB kantornya untuk membuat porsi banyak dalam satu piring.



"Cobalah, rasanya sangat enak." Ucap raja sembari mengarahkan satu suapan kepada belly.


"Aku??" Belly meyakinkan diri.


"A...." Raja meragakan agar belly membuka mulutnya.


Belly pun menerima suapan dari raja, jujur ia juga merasa sangat lapar. Hingga ia mengunyah mie itu dengan cepat.


"Bagaimana? Enak bukan?" Ucap raja merasa senang karena belly mau menerima suapan darinya.


"Emmm, Lumayan...." Jawab belly. Kemudian raja kembali memberi suapan kearah belly.


"Kau terus menyuapiku, kau saja dulu..." Belly berupaya menolak.


"Jangan menolak, aku senang melakukannya untukmu..." Jawab raja.


Uhuk....uhuk.....


Belly pun terbatuk, raja segera memberikannya air putih dan meminumkannya pada belly.


"Minumlah, kau tak apa??" Tanya raja khawatir.


"Emm, ya terimakasih..." Ucap belly.


Ada apa dengan mu belly? Mengapa kau jadi gugup begini saat dekat dengan raja?


"Bell, apa yang sedang kau fikirkan?" Tanya raja yang memperhatikan belly terus melamun.


"Melamun? Oh tidak, aku tidak memikirkan apapun." Ucap belly. "Boleh aku minta mienya lagi??" Belly mengalihkan pembicaraan.


"Kau lapar? Atau suka??" Goda raja.


"Ya, aku suka..." Belly menghentikan kata-katanya.


Aku suka, aku suka jika bersamamu raja, aku suka jika kita terus seperti ini.


Belly bermonolog lagi, ia merebut garpu dari tangan raja karena tak sabar ingin segera menyantap mie dihadapannya.


"Ya tuhan belly," Raja terkejut ketika belly merebut garpunya. Sementara belly hanya memasang senyum kecilnya sembari menyantap mie. "Hari ini kau mungkin suka dengan mie ini, tapi aku yakin suatu hari nanti kau pasti akan suka padaku..." Lanjut raja menggoda belly.


"Eummm.." Belly memasang wajah merahnya, rasa malu yang ia alami kali ini benar-benar membuatnya tak bisa berkutik.


Apakah aku akan menyukaimu?? Kapan waktu itu akan datang raja?


"Sebenarnya apa yang kau fikirkan dari tadi??" Raja mendekatkan diri pada belly, di cubitnya pelan pipi merah belly.


"Apa? Aku tidak memikirkan apapun raja." Belly mengelak lagi untuk kesekian kalinya.


"Benarkah? Tapi sepertinya kau begitu banyak fikiran?" Tanya raja tak yakin.


"Tidak, tak ada hal yang ku fikirkan." Ucap belly.


"Atau jangan-jangan kau sudah mulai menyukaiku???" Tanya raja dengan wajah girang.


Belly bergumam sejenak, ia merasa terjebak oleh pertanyaan raja.


Mampus! Kau sudah terjebak belly!


"Euh, Kau ini terlalu percaya diri!" Belly mengelak lagi.


"Jadi, kau belum menyukaiku hingga saat ini?" Tanya raja lagi.


"Kau ini, tak ada yang menyukai pria dingin sepertimu." Belly tertawa kecil.


"Benarkah?? Tapi, aku.....aku sudah mulai menyukaimu bell...." Raja menarik nafasnya pelan. Ia menatap belly dengan lekat, tatapan penuh harap. Raja sangat ingin jawaban dari belly, ia berharap belly pun memiliki perasaan yang sama.


Belly membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan raja, mie yang di dalam mulutnya pun terhenti tak dikunyah lagi.


Deg!!


Jantung, tolong kerja samanya! Jangan runtuh. Apakah aku harus mempercayai ucapannya?? Aku sudah terjebak lagi,...


To be continue....


🍒Selamat malam readers, maaf sudah membuat kakian menunggu... Terimakasih ya sudah mau menunggu othor UP lagi, dan dukungan kalian semua adalah penyemangat othor.. 🙏🤲

__ADS_1


__ADS_2