
Drtttt....... Drtttt.......
Getaran ponsel Alex menyadarkan dirinya, hingga membuatnya terbangun. Tubuhnya terasa kaku dan pegal, karena semalaman ia tidur didalam mobil.
"Iya, aku hari ini masuk kerja tapi sedikit terlambat!"
Alex menutup sambungan telepon dari Bastian, pagi ini Alex benar-benar akan terlambat ke kantor.
Mam*puslah kau Alex! Raja paati akan memakimu!
Tebak Alex dalam hati dengan apa yang akan dilakukan Raja padanya.
Ia mengumpat kasar mengatai Alan yang telah berani meninggalkannya. "Sial!!! Awas saja kau Alan, akan kuhajar nanti jika kita bertemu!"
Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tangannya memukul stir mobil beberapa kali karena begitu kesal pada Alan yang telah meninggalkannya tanpa kabar.
"Apa yang dilakukan bocah itu? Mengapa hingga sekarang ia tak mengabariku? Dasar sepupu kurang A*jar!!!"
...****************...
Raja menghela nafas panjang saat Alex baru saja datang ke kantor sesiang ini. Ia menatap Alex dari atas hingga bawah, memperhatikan setiap gelagat Alex.
"Apa kau baru saja tidur dengan seorang wanita??"
"Itu tidak benar!" Alex mengelak, memang itu kenyataannya.
"Lalu?" Raja mengangkat sebelah alisnya.
"A..aku....."
Ingin sekali Alex jujur pada Raja jika ia mengantarkan Alan untuk membuntiti Maura semalaman hingga harus bermalam didalam mobilnya sendirian.
"Aku kelelahan Raja, maaf, aku takkan mengulanginya lagi!"
Terpaksa Alex berbohong, ia tak ingin Raja tahu jika dirinya dan Alan tengah mencurigai Maura sebagai dalang dari penculikan Belly. Ia akan membuktikannya terlebih dahulu, baru memberitahukan hal ini pada Raja. Begitulah yang ia fikirkan saat ini.
"Ya.." Raja hanya menganggukkan kepalanya perlahan, ia sadar jika sahabatnya itu kurang istirahat akhir-akhir ini karena tengah membantunya mencari Belly.
"Kau bisa keluar sekarang."
Saat ini Raja tak memarahi Alex, kali ini Alex selamat dari hukuman Bossnya. Padahal sudah jelas selama ini jika ada karyawan yang datang tak tepat waktu Raja pasti akan memberi hukuman pada mereka. Karena Raja amat tak menyukai orang yang mengulur waktu.
Untuk saat ini, Raja lebih banyak diam, dingin, fikirannya lebih baik berselancar untuk terus fokus memikirkan Belly istrinya.
Tubuhnya yang kini kian mengurus, kantung mata panda yang melingkar dibawah kelopak matanya akibat kurang tidur, serta sikapnya yang lebih banyak diam membuat semua orang yang melihatnya menjadi semakin takut.
Menurut karyawannya, lebih baik Raja bersikap garang daripada seperti saat ini. Itu hanya membuat semua karyawannya semakin serba salah. Apalagi Rangga, asistennya yang selalu terus berinteraksi padanya.
Setelah Alex keluar dari ruangan kerja Raja, Rangga kemudian berganti masuk. Ia mengantarkan kopi hitam permintaan Raja.
"Tuan, ini kopinya "
__ADS_1
Raja hanya mengangguk, kemudian segera menyeruput kopi hitam itu.
"Tuan, maaf sebelumnya. Tuan belum makan apapun sedari kemarin, saya takut asam lambung tuan akan kambuh lagi..."
Rangga memberanikan diri menegur Bossnya, pasalnya semenjak kepergian Belly Raja hanya sedikit memakan nasi. Hari-harinya hanya dipenuhi minuman berkafein itu.
"Tuan, saya hanya tidak ingin tuan semakin sakit. Jika tuan sakit, maka kita akan lebih sulit menemukan ibu Belly."
Rangga mengundurkan diri dari dalam ruangan Raja, sejujurnya ia takut mengutarakan hal itu pada Raja. Ia merasa lancang, apalagi Raja hanya diam seolah tak menggubris ucapan Rangga yang menasihatinya.
Raja memijat kepalanya yang kian pusing, ia mencerna setiap perkataan Asistennya tadi. Dipandangnya secangkir kopi hitam diatas meja, ia mencoba meraih kopi itu tapi diurungkannya.
"Benar kata Rangga, jika aku sakit maka aku akan lebih sulit untuk menemukan istri dan anakku."
Dengan tangan yang melipat diatas meja, Raja merebahkan kepalanya disana. Meneteslah air bening dari sudut matanya.
Sakit, saat ini yang tengah Raja rasakan. Berbagai cara telah ia kerahkan namun sampai saat ini belum juga menemukan keberadaan istrinya.
Segera ia seka airmata itu, ditegakkannya kembali posisi duduknya dikursi kebesarannya.
"Dimana lagi aku harus mencarimu Bell??"
Sudah empat hari sejak kehilangan Belly, Raja tiada henti dan terus mencarinya. Ia kerahkan semua orang suruhannya untuk melacak keberadaan Belly, namun hasilnya belum juga ia dapatkan.
Polisi pun sama, belum ada laporan jika pihak yang berwajib telah menemukan Belly.
Hingga Raja berfikir, jika memang tak ada yang serius mencari istrinya. Hanya dia seorang yang telah Pontang-panting mengerahkan semua tenaga dan fikirannya.
"Apa gunanya aku membayar kalian dengan mahal jika kalian tak becus bekerja!!!!"
"Arghhhh! Aku tidak bisa terus begini!!!"
Raja memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah, diremas rambutnya dengan kedua tangannya, hingga bentuk rambutnya menjadi berantakan.
Ting!!!
Notifikasi yang menandakan sebuah pesan whatsapp pada ponselnya. Dengan segera Raja meraih ponsel itu, mungkin saja itu pesan dari orang yang telah menemukan Belly fikirnya.
Tapi sayang, pesan dari nomor tak dikenal itu bukan membahas hal tentang Belly, ia malah mendapat tawaran peminjaman uang.
"Shittt!!!! Bisa-bisanya mereka mengirimku pesan tak berguna seperti ini!"
Raja segera memasukkan nomor itu ke daftar hitam ponselnya.
Ponselnya kembali berdering, dilihatnya lagi nomor baru dilayar ponselnya. Namun kali ini nomor baru yang berbeda dari sebelumnya melakukan panggilan suara.
Ingin Raja mengabaikan panggilan itu, khawatir jika itu hanya panggilan spam. Tapi ponselnya terus saja berdering, tak ada pilihan lain kecuali mengangkat panggilan itu.
Ia khawatir jika itu kabar dari Belly, masalah nomor spam urusan belakangan gumamnya.
Raja menggeser icon hijau pada layar ponselnya, ia menempelkan ponsel ditelinganya tanpa berbicara terlebih dulu.
__ADS_1
"Jika ingin menemui istrimu, datang ke Hotel XXX kamar nomor 123!!!"
Tut!
Sambungan telpon langsung terputus.
"Hallo!!!! Siapa ini?"
"Hallo....."
Raja mencoba menghubungi kembali nomor itu, tapi sayang langsung saja berada diluar jangkauan.
"Sial!!!!! Siapa orang ini? Apa yang ia katakan? Apakah orang itu yang menculik Belly dan pergi ke Hotel XXx??"
Raja terus berfikir, tubuhnya mondar-mandir seperti setrikaan. Ia pun segera memutuskan pergi menuju hotel XXx yang dikatakan sang penelpon.
Tak lupa ia mengajak Rangga dan Alex. Sementara Bastian tetap di kantor untuk meninjau semua pekerjaan dan karyawannya.
Setidaknya jika penelpon itu berbohong atau menipunya Raja bisa melawan dengan beberapa orang disampingnya.
"Ayo cepat Rangga!!!" Ucap Raja pada Rangga yang kini tengah memegang kemudi.
"Tapi tuan, jalanan sedang macet."
Memang saat ini jalan raya sedang macet, hingga mobil yang mereka tumpangi hanya merayap seperti cicak. Sebentar jalan, sebentar lagi berhenti dan terus seperti itu.
"Shitttt!!!" Raja mulai tersulut emosi, ia mengepalkan tangannya kemudian memukul-mukul kepalanya dengan pelan.
"Raja, sabarlah.." Alex membuka suara mencoba menangkan sahabatnya.
"Sabar katamu?? Lex, Belly dan anakku sudah empat hari belum juga ditemukan! Aku tidak tahu, dimana dia? Makan apa? dia masih hidup atau sudah....."
"Tuan, kita sebentar lagi akan sampai." Rangga memotong ucapan Bossnya itu agar tak terus terpuruk dan berfikir yang aneh-aneh.
Rangga menancap gas, mobil mereka kini sudah berada di jalan tol. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya tiba disekitaran Hotel XXx.
Saat mobil berhenti, Raja langsung berlari menuju resepsionis untuk menanyakan kamar yang disebutkan sang penelpon misterius.
Rangga dan Alex hanya saling pandang, mereka berdua berjalan menyusul Raja yang sudah berlari.
"Rangga, apa kau yakin jika penelpon misterius itu bersungguh-sungguh?" Tanya Alex.
"Entahlah, aku merasa ini hanya sebuah jebakan."
"Mengapa kau membiarkan Raja pergi jika begitu?"
"Kau fikir siapa yang bisa mencegahnya hah??"
To be continue......
🍒 Segini dulu ya Readers, insya Allah besok othor lanjut lagi..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komentar, vote dan giftnya..
...Terimakasih...