
Bu sity yang tengah sibuk bergulat di dapur melangkahkan kakinya menuju keluar saat mendengar Bell pintu berbunyi.
"Ya sebentar...." Teriak bu Sity, ia mengelap tangannya yang basah dengan kain lap.
Bu Sity pun membukakan pintu memperhatikan tamu yang datang kali ini. Tatapan Bu Sity penuh tanya, pasalnya ia tak mengenal siapa yang tengah datang sepagi ini. "Siapa ya??"
"Apa Belly ada?" Tanya Maura dengan senyum smirk nya.
"Non Belly ada, tapi maaf dengan siapa ya?" Tak ingin menerima tamu sembarangan, karena bu Sity takut akan kemurkaan Raja.
Raja selalu berpesan padanya, jika menerima tamu harus tahu nama dan tujuannya terlebih dulu.
"Aku temannya Belly, apa bisa aku bertemu dengannya?" Maura merasa bu Sity membuatnya kesal.
"Maaf, kalau boleh tahu nona siapa ya? Saya baru pertama kali melihat nona?" Tanya Bu sity masih menginginkan kepastian.
Cerewet sekali dia! Pembantu saja banyak tingkah!
Maura menghela nafasnya, ia harus lebih sabar kali ini demi mencapai tujuannya.
"Aku Stephanie, sahabat Belly. Aku hanya ingin bertemu dengan Belly. Dia tadi mengirimiku pesan, tapi aku malah disambut dengan tatapan kecurigaan! Memangnya aku maling??" Tak ada jalan lain, Maura harus merahasiakan identitasnya dengan menjual nama steva.
"Oh, Non steva??"
Tapi non steva sepertinya berbeda? Mengapa dia berambut pendek? Dan memakai kacamata hitam?
Bu Sity pun mempersilahkan Steva palsu untuk masuk. Ia memang belum pernah bertemu langsung dengan Steva, tapi ia sempat mendengar kisah Steva yang pernah diceritakan Belly.
Ia meminta Steva palsu untuk menunggu di ruangan tamu, Bu Sity beranjak menuju lantai atas memanggilkan Belly.
Belum juga tiba, terasa ada seseorang yang memukul pundaknya. Kemudian mulutnya ditutup dengan kain yang beraroma menyengat. Hingga akhirnya Bu Sity pun tak sadarkan diri.
Setelah itu Maura segera melancarkan aksinya.
Ia memasuki kamar Belly. Pintu kamar tak terkunci hal itu mempermudah aksinya, ia langsung bergegas masuk begitu saja.
Belly yang tengah merias diri, menyadari ada seseorang yang tengah masuk kedalam kamarnya. Belum sempat ia menoleh siapa yang datang, tiba-tiba mulutnya langsung ditutup oleh kain dan ia langsung tak sadarkan diri.
Maura menyuruh beberapa orang suruhannya untuk merusak seluruh CCTV di sekitar Rumah Raja sebelum ia melancarkan aksinya. Tentunya ia menyuruh orang-orang yang profesional dalam menjalankan aksi ini. Maura tak ingin rencananya gagal lagi, hingga ia memberanikan diri untuk membayar mahal orang-orang itu.
Saat ini dengan mudah Maura membawa Belly yang sedang tidak sadarkan diri kesuatu tempat. Tempat yang dirasa cukup aman untuk menyembunyikan Belly.
Sekitar beberapa jam, Maura pun tiba ditempat yang sudah dia siapakan.
Ia mengurung Belly disebuah kamar, Rumah yang ia gunakan saat ini memang jauh dari pusat kota dan bisa dibilang terpencil.
"Selamat datang sayang, selamat menikmati penderitaanmu!!" Maura tertawa puas, ia memerintahkan para suruhannya untuk melempar tubuh Belly diatas kasur yang bisa dibilang cukup tak layak.
Sementara dikediaman Raja, pak Amran yang ditugaskan bekerja tepat jam delapan pagi pun tiba. Namun ia terkejut saat melihat beberapa kamera CCTV yang sudah hancur berantakan. Serpihan kamera-kamera itu berceceran.
__ADS_1
Pak Amran segera berlari menuju kedalam Rumah, benar dugaannya dia melihat Bu Sity yang terkapar dibawah tangga.
Ia pun segera membangunkan Bu Sity, namun bu Sity tak kunjung sadar. Pak Amran pun segera menghubungi Raja. Setelah beberapa kali pak Amran menelpon, Raja tak kunjung mengangkat teleponnya.
Ditinggalkannya bu Sity yang tak sadarkan diri, pak Amran segera bergegas menuju lantai atas, ia mencari keberadaan Belly. Saat ini Belly lah yang lebih penting baginya.
"Non Belly!!!!!" Suara teriakan Amran memenuhi ruangan.
"Non Belly!!!!" Lagi, teriakan Amran tak juga mendapat jawaban dari Belly.
Dilantai atas Rumah Raja, Amran melihat kamera CCTV yang sudah dirusak pula. Hal ini membuatnya geram, tak habis fikir ada yang berani menyusup kedalam Rumah Bossnya dengan menghilangkan jejak. Pastilah orang ini sudah merencanakannya dengan matang.
Pak Amran melihat kearah pintu kamar yang sudah dibuka, ia memanggil-manggil Belly, namun tak juga ditemukannya.
Sembari mencari-cari keberadaan Belly, Pak Amran mencoba menghubungi Raja kembali, namun tak juga ada jawaban dari Raja.
Selesai menyusuri setiap penjuru dilantai dua Rumah majikannya itu, Pak Amran kembali ke lantai dasar karena upaya mencari Belly tak juga membuahkan hasil.
Hanya ponsel Belly yang tergeletak di atas nakas yang ia temukan. Ia ke lantai dasar dan segera membantu bu Sity agar segera sadar dan menanyakan perihal yang terjadi.
Ia mencari-cari minyak kayu putih dikotak obat, beruntung ia mendapatkannya. Segera Pak Amran membopong tubuh bu Sity keatas sofa berharap bu Sity akan segera sadar.
...****************...
Selesai melakukan pertemuan penting diperusahaannya, Raja keluar dari ruangan meeting. Ia meraih ponselnya yang sejak tadi bergetar didalam saku jassnya.
Sebenarnya sejak tadi ia ingin sekali mengangkat ponselnya, namun karena meeting sedang berjalan, ia mengurungkan niatnya.
[Tuan, jika sudah melihat pesan ini tolong segera hubungi saya.]
Dengan segera, Raja mendial nomor telepon Pak Amran. Tak lama, Pak Amran pun langsung menjawab sambungan telepon dari bossnya.
Setelah mendengar penjelasan dari Pak Amran, jika Rumahnya tengah dimasuki oleh penyusup dan Belly tak ada di Rumah.
Raja pun segera kembali pulang. Ia juga meminta Rangga untuk ikut dengannya dan membatalkan semua jadwalnya hari ini.
Bastian dan Alex pun diminta untuk ikut dengannya sekarang. Mereka berempat berada dalam satu mobil menuju ke Rumah Raja.
Rangga mengemudikan Mobilnya dengan kecepatan tinggi karena permintaan Raja. Dapat terlihat jelas guratan kekhawatiran pada wajah Raja. Tak ada yang berani bicara didalam mobil, semua hanya hening.
Tak butuh waktu lama, mereka berempat pun tiba dikediaman Raja. Rangga, Alex dan Bastian hanya bisa saling pandang.
Raja segera masuk kedalam Rumah, dia melihat Rumahnya yang kini tengah berantakan karena pecahan-pecahan kamera CCTV.
Ia melihat pak Amran dan Bu Sity yang tengah menangis didalam.
"Pak Amran, apa yang terjadi?" Tanya Raja pada Amran.
Pak Amran hanya diam, yang menjawab malah Bu Sity. "Tuan, maafkan saya.... Ini semua salah saya..."
__ADS_1
Bu Sity terus menangis, ia menceritakan kronologi yang ia ingat pagi ini sejak seorang wanita datang bertamu untuk menemui Belly.
"Stephanie, dia menyebut jika namanya adalah Stephanie tuan.. Saya menyuruhnya masuk, karena saya fikir dia adalah non Steva sahabat non Belly.."
"Steva?? Bukankah saat ini Steva tengah koma di Rumah Sakit?" Rangga mencoba menyadarkan Raja yang kini hanya bisa mematung.
Raja tak bisa berkata apa-apa, ia tak bisa menyalahkan pak Amran atau pun bu Sity disini. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan istrinya.
"Apakah kita harus melaporkan hal ini kepolisi pak?" Tanya Rangga pada Raja, namun tak ada jawaban apapun dari Raja.
"Rangga, kita akan mencari Belly terlebih dahulu." Ucap Alex dengan lirikan matanya mengarah pada Raja. Namun Raja tak juga memberi tanggapan apapun.
"Raja mungkin sedang syok!" Bisik Bastian ditelinga Alex.
"Rangga, segera hubungi kantor polisi untuk memeriksa Rumah ini." Alex pun berbicara.
"Bas, kau ikutlah denganku untuk mencari Belly." Tambah Alex lagi.
"Saya akan disini bersama pak Raja. Terimakasih atas bantuan kalian.." Pak Amran tahu keadaan tuannya kini tengah terpuruk.
Menyaksikan semuanya pergi, pak Amran berusaha menenangkan sang majikan. "Tuan, kita harus berdo'a semoga tidak terjadi apapun pada nona Belly."
"Bagaimana bisa pak?? Aku merasa tidak memiliki musuh, mengapa mereka ingin menyakiti istri dan anakku? Mengapa bukan aku saja?"
Perasaan Raja kini tak karuan, tak tahu apa yang harus ia perbuat saat ini. Ia terus memutar otaknya berharap mendapatkan ide cemerlang.
Namun rasanya percuma, otak Raja terasa buntu tak bisa berfikir apapun.
"Tuan, bagaiman jika kita ke Rumah Sakit menemui nona Steva?? Barangkali kita akan mendapat petunjuk setelah menemuinya?" Itulah yang dapat disampaikan Amran pada Bossnya yang tengah berdiam diri tak bertindak apa-apa.
"Baik pak! Ayo kita kesana." Sebelum pergi Raja berpesan terlebih dahulu pada bu Sity dan Rangga.
"Rangga kau sudah menghubungi polisi?" Tanya Raja.
"Sudah saya telpon pak, polisi sedang menuju kemari." Jawab Rangga dengan jelas.
"Rangga, jaga Bu Sity." Itulah pesan Raja pada asistennya.
"Bu Sity, beristirahatlah. Saya berharap ibu akan memberikan keterangan pada polisi dengan jelas nanti. Tolong bantu saya Bu..." Raja memegang tangan Bu Sity yang kini terus saja menangis dengan posisi duduk di sofa.
"Ya tuan, semoga non Belly cepat ditemukan. Dia belum memakan apapun pagi ini, bagaimana jika dia kelaparan dan penculik itu mengurungnya...."
Bukannya menenangkan suasana yang kini masih tegang, Bu Sity malah semakin membuat suasana hati Raja saat ini menjadi takut. Takut akan ucapan Bu Sity itu benar-benar terjadi.
Raja segera menepis semua rasa takutnya itu, ia segera mengajak pak Amran pergi menuju Rumah Sakit untuk bertemu Steva.
To be continue....
🍒Jangan lupa makan sate, selamat idhul adha semuanya....
__ADS_1
Bersambung dulu disini ya Readers, othor makan gulai dulu... 🤪🤪