Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Pengawal


__ADS_3

"Makanlah, kau harus segera sehat Bell." Raja menyuapi Belly buah semangka yang telah dipotong-potong kecil olehnya.


"He'eum.." Sebenarnya Belly juga tak ingin terus berada di Rumah sakit. Selama beberapa waktu, ia sudah bolak-balik Rumah sakit dua kali. Hal itu membuatnya lelah.


"Bell, ada suatu hal yang ingin kukatakan." Dengan penuh keraguan, Raja menjelaskan kecelakaan yang tengah menimpa Steva.


"Steva di rawat di Rumah sakit ini juga, dia mengalami kecelakaan."


Mendengar hal itu, Belly pun terkejut dan ingin segera menemui Steva. Raja yang melihat guratan kesedihan pada wajah Belly pun tak tega dan segera membawanya menuju ruang dimana Steva dirawat.


Saat ini Steva masih belum bisa dikunjungi oleh siapapun, karena baru saja selesai melakukan operasi besar. Baik keluarga atau pun kerabat Steva hanya dapat melihatnya dari luar ruangan saja.


Hendrick, saat ini dapat terlihat jelas dirinya tengah terpukul atas kecelakaan yang menimpa Steva.


Sudah dua hari Steva maupun Belly di rawat di Rumah sakit yang sama. Belly sudah diizinkan pulang oleh Dokter, tapi berbeda dengan Steva. Keadaan Steva belum juga ada perkembangan pasca Operasi.


Hari ini, Raja mengantar Belly pulang ke Rumah mereka. Ia sengaja meluangkan waktu dan cuti kerja selama Belly dirawat di Rumah Sakit.


Sampai di kediamannya, Raja memperkenalkan Belly dengan seorang lelaki paruh baya dengan tubuh kekar, tegap dan tinggi.


Namanya pak Amran. Dia ditugaskan Raja untuk mengawal Belly kemana pun. Baik di rumah, atau ketika Belly ingin keluar Rumah pak Amran lah yang akan mengawasinya.


Saat tiba di kamar, ia menyandarkan tubuh lelahnya di sofa. Raja pun mendudukkan tubuhnya disebelah Belly.


Belly merasa Raja berlebihan kali ini, ia merasa masih mampu menjaga diri sendiri. Tak perlu sampai membayar orang hanya untuk mengawalnya. Ia merasa bak Tahanan yang harus terus diawasi.


"Raja, apa ini tak berlebihan??"


"Berlebihan? Apa kau tak menyukai pak Amran, haruskah aku menggantinya dengan orang lain?" Raja tetap pada pendiriannya, ia tak ingin Belly pergi kemanapun sendiri. Apalagi jika nanti harus diganggu oleh Alan, itulah tujuan utama Raja.


"Belum saja pak Amran bekerja, kau sudah mau menggantinya?" Belly mendengus kesal.


"Pak Amran itu sudah bekerja dengan keluargaku selama dua puluh dua tahun. Sejak aku kecil, beliau lah yang terus mengawalku kemanapun." Raja menjelaskan asal-usul pak Amran pada Belly.


"Pak Amran juga orang kepercayaan Papa, Mama dan Papa lah yang memberikan ide agar pak Amran yang menjadi pengawalmu." Bubuh Raja lagi.


"Jadi, tolong lebih hargai pilihan papa dan mama. Mereka tak ingin kau kenapa-kenapa, mereka begitu mengkhawatirkanmu juga calon cucu pertama mereka." Raja mengelus perut Belly, kemudian dikecupnya perut itu.


Belly hanya pasrah, mungkin ada baiknya juga jika saat ini ada pengawal untuknya. Apalagi akhir-akhir ini ia terus diganggu oleh Maura. Belly berfikir, Maura takkan menyerah begitu saja. Ia yakin Maura akan kembali untuk mengganggu dirinya.


Hal berbeda juga terbesit dibenaknya, ia merasa Raja melakukan semua ini karena Alan.

__ADS_1


"Raja, apakah kau melakukan ini karena Alan?"


"Em, sejujurnya itu salah satunya." Ucap Raja dengan jujur.


"Tetapi, hak yang lebih penting adalah keselamatan istriku dan bayi kita!" Raja terus tersenyum memandangi istrinya dengan tangan yang masih terus mengelus perutnya.


"Aku tidak Bisa terus bersamamu, maafkan aku jika menjaga kalian lewat perwakilan orang lain. Aku harap kau mau mengerti Bell.."


"Baiklah, beginilah jika memiliki suami yang super sibuk!" Belly mulai merajuk, ia bergelayut manja dengan kepala yang bersandar didada bidang Raja.


"Ini demi kau dan anak kita..." Raja mengeratkan dekapannya pada Belly. Dihirupnya wangi shampoo di rambut Belly yang begitu memikatnya.


"Terimakasih sudah melakukan yang terbaik untuk kami." Belly mengecup pipi kiri suaminya itu.


"Disini juga." Pinta Raja dengan menunjuk pipi sebelah kanannya.


"Kau ini, selalu saja merasa kurang!" Belly mengerucutkan bibirnya, kemudian mendaratkan bibirnya pada pipi kanan Raja dengan secepat kilat.


"Yang ini belum?" Tunjuk Raja pada bibirnya.


"Ck!" Belly berdecak dan memutar bola matanya malas.


"Ayolah sayang, mengapa tanggung sekali?" Rayu Raja pada Belly penuh permohonan.


Raja menghampiri istrinya, ia pun merebahkan tubuhnya di sebelah Belly. "Sayang, kau pintar sekali menggodaku."


"Menggodamu? Aku?" Belly membelalakkan matanya hingga bulat sempurna. Ia pun bangun dari posisi rebahannya dan mengahadap kearah Raja.


Raja tersenyum puas dengan alis mengangkat sebelah. "Kau terus saja menggodaku." Raja pun segera memegang tubuh istrinya, kemudian ia berada di atas tubuh Belly.


"Raja!!" Pekik Belly.


Raja tak memberinya ampun, jujur saja selama dua hari Belly berada di Rumah Sakit, Raja begitu merindukannya.


"Aku begitu merindukanmu...."


...****************...


Pagi ini, Raja tak mampu lagi membuka matanya. Rasa kantuk tengah melanda dirinya. Namun mengingat jika hari ini ia harus pergi ke kantor, karena ada meeting penting yang tak bisa ditunda, ia pun segera membuka paksa matanya yang begitu berat.


Ia menatap wanita disebelahnya yang tengah terlelap didalam dekapannya, Belly. Tak ada pergerakan sama sekali dari Belly, mungkin ia pun sama lelahnya karena semalaman Raja tak memberinya ampun.

__ADS_1


"Kau tak lapar?" Bisik Raja tepat ditelinga Belly.


Hal itu membuat Belly malah bergidik.


"Ra..ja.." Dengan suara parau serta mata yang masih terpejam, Belly mendorong wajah Raja dengan tangannya.


Raja menatap lekat wajah istrinya itu, terbesit sebuah ide di otaknya untuk menjahili Belly. "Kau begitu menggoda, apakah kau menginginkannya lagi?"


Masih samar-samar suara Raja dapat terdengar ditelinga Belly. Hingga membuat Belly melenguh dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. "Eughh...... Raja, berhentilah menggangguku.."


"Pagi ini kau lebih menggoda, aku sangat menginginkanmu sayang.." Bisik Raja sangat dekat ditelinga Belly.


Mata Belly begitu lengket, tak dapat ia melawan rasa kantuknya. Namun Raja terus saja mengganggunya. "Raja, aku sangat ingin tidur. Tolong berikan aku kesempatan..."


"Baiklah, aku akan memberikanmu kesempatan tidur. Tapi, izinkan aku melakukannya sekali lagi sayang..." Raja terkikik pelan tanpa suara.


"Raja!!!!!!!!" Belly benar-benar kesal, ia menarik bantal yang ada dikepalanya dan menutup wajahnya dengan bantal itu.


Karena sudah merasa puas menjahili istrinya, Raja pun bangun dari pembaringannya. Ia bergegas mandi untuk pergi ke kantor.


Setelah selesai mandi, Raja melihat Belly masih terbaring di tempat tidur dengan nyenyaknya. Sepertinya Belly memeng benar-benar dilanda rasa kantuk yang berat.


Jelas saja, semalaman Raja tak memberi kesemparan Belly untuk beristirahat, mereka melakukannya hingga beberapa ronde.


"Aku mencintaimu..." Raja mengecup puncak kepala istrinya. Tak lupa ia pun mengecup perut Belly.


"Jangan biarkan mamamu bangun siang, kau harus makan agar terus sehat sayang!" Raja berbicara pada bayinya didalam perut Belly.


Setelah merasa selesai bicara pada bayinya, Raja sedikit berbisik ditelinga Belly. "Sayang, aku pergi kekantor dulu. Jangan biarkan anak kita kelaparan."


Bisikan itu dapat terdengar oleh Belly. Namun Belly tak menjawab apapun karena masih ingin terus tidur.


Belly hanya menyunggingkan senyum kecilnya, hal itu membuat Raja mengerti. Ia pun keluar kamar dan segera pergi ke kantor.


Sebelum pergi, ia tak lupa berpesan pada bu Sity untuk menyiapkan makanan jika Belly sudah bangun nanti.


Raja melajukan mobilnya meninggalkan pelataran Rumah. Ternyata hal itu sudah dinantikan oleh seseorang yang sejak pagi tadi sudah mengintai pergerakan Raja.


"Waktunya beraksi..."


To be continue.....

__ADS_1


🍒 Bersambung dulu ya readers, besok Othor usahain buat Up lagi.


__ADS_2