
"Raja!!! Raja......!!!!!!" Maura memanggil raja dengan keras, namun raja tak memperdulikannya.
Maura tersungkur lemah di atas tanah halaman rumah, ia menangis tersedu menyaksikan sikap dingin raja padanya. Tamparan ibunya yang tadi sakit kini sudah hilang. Menurutnya, mendapat perlakuan raja seperti ini jauh lebih menyakitkan.
Mungkin sekarang kamu mengacuhkanku my king, tapi aku yakin kau masih sangat mencintaiku.... Kau pasti kembali kepelukanku lagi.
"Maura.... Sudahlah nak..." Nadia menghampiri putrinya yang tersungkur di atas tanah menangisi raja.
"Mama..." Maura memeluk tubuh nadia.
"Biarkan raja pergi, dia sudah tidak peduli lagi padamu." Ucap nadia menenangkan hati maura.
"Yang jelas, jangan pernah mengganggu raja dan belly lagi! Mereka berdua sudah bahagia. Jika aku mengetahui kau mengganggunya, aku takkan tinggal diam kali ini." Sambung prass yang tengah berdiri di samping nadia dan maura dengan kedua tangan memasuki saku celananya. Kali ini prass mengancam maura, ia tak ingin terjadi sesuatu pada belly akibat perlakuan maura.
Mendengar ayah tirinya berbicara seperti itu maura hanya diam, tangannya meremas rerumputan yang ada diatas tanah, sembari mengumpat didalam hati.
Akan ku buat putri kesayanganmu itu menangis darah! Kita lihat saja nanti.
Nadia membabtu maura untuk bangun dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tak ada yang bisa prass perbuat, semuanya sudah terjadi. Prass membiarkan nadia membawa maura masuk.
Sesampainya di kamar yang dulu pernah di tempati maura, namun kamar itu masih sangat rapih karena selalu di bersihkan dan juga di rawat oleh asisten tumah tangga.
"Duduklah..." Nadia memerintahkan maura duduk di tepian ranjang. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kau kembali pasti sedang terjadi sesuatu denganmu?" Nadia yang sudah hafal betul akan sifat putrinya itu pun telah menaruh rasa curiga.
"Ma, aku pulang hanya ingin menemuimu. Aku merindukan mama..."
"Mama atau raja??" Potong nadia.
"Mama selalu tahu apa yang tengah terjadi padaku." Maura mengerucutkan bibir serta mengusap jejak-jejak air matanya.
"Katakan ada apa maura? Jangan bilang jika kau membuat masalah lagi!" Nadia yakin kini putrinya itu tengah bermasalah.
"Ma, aku benar-benar menyesal. Maafkan maura...." Rengek maura bergelayut manja memeluk tubuh nadia.
"Maura, mama sudah memaafkanmu! Tapi tidak untuk papamu dan....."
"Dia bukan papaku!" Sergas maura tak terima jika nadia menyebut prass adalah ayahnya.
"Maura? Sampai kapan kau akan bersikap kekanak-kanakan?" Nadia merasa heran maura tak kunjung menerima prass sebagai ayahnya.
"Ma! Dia hanya suami mama, bukan papaku." Sejak dulu, Maura merasa marah dan kesal jika membahas hal ini bersama nadia.
"Oke, baiklah. Sekarang kau istirahatlah.."
"Ma, apakah raja...."
"Raja sudah menjadi suami belly! Mama harap kau tidak akan berbuat macam-macam lagi."
__ADS_1
"Hmmmmmm...." Maura menarik nafasnya panjang, belum juga ia selesai mengatakan suatu hak tapi nadia seenaknya memotong ucapannya hingga membuat maura merasa kesal dan malas.
Nadia keluar dari kamar maura, ia menutup pelan pintu kamar kemudian pergi ke kamarnya menyusul prass.
***
"Em.. Yummy!!!." Steva membelalakkan matanya hingga menjadi bulat sempurna sembari terus mengunyah makanan hasil dari masakan belly.
"Bagaimana? Enak?" Tanya belly memicingkan senyum lebarnya.
"Haruskah kau menjadi asisten pribadi sekaligus asisten rumah tanggaku?" Tanya steva masih dengan tatapan serius ke arah belly.
"Boleh saja, yang penting aku meminta gajiku tiga kali lipat!" Sahut belly sembari menunjukkan tiga ruas jarinya ke arah steva.
"Emm, kau pintar sekali." Steva memutar bola matanya malas.
"Tenang saja, aku pasti akan menjadi asisten rumah tanggamu, sekaligus asisten pribadimu. Kau takkan rugi menggajiku besar." Ucap belly sembari terkikik.
"Masakanmu enak, kau cantik, pintar, baik tapi mengapa raja memperlakukanmu seperti itu? Aku merasa tidak terima bell...."
"Setiap pandangan dan penilaian orang itu berbeda-beda stev, coba saja didunia ini semua orang sepertimu. Pasti dunia takkan sehancur ini." Jawab belly menanggapi ucapan steva.
"Kau sungguh sangat sabar, apakah orang tuamu tahu akan masalahmu ini?" Tanya steva lagi.
Belly hanya menggelengkan kepalanya.
"Stev, mereka tidak akan tahu jika kau tak memberitahunya." Sanggah belly.
"Lalu, jika raja yang memberitahu bagaimana?" Rasa khawatir steva kini timbul.
"Tidak stev, dia tak pernah peduli padaku. Jangan khawatir.." Dengan nada suara yang mulai lirih, belly meneguk air putih hingga tandas.
"Bell, dia pasti mencarimu kemana-mana." Tebak steva.
"Itu tidak mungkin stev, sudahlah kita sedang makan mengapa kita membahas dia." Mata belly menatap tembok di ujung pandangannya, fikirannya kini teralihkan oleh raja.
"Apakah kau merindukannya?" Dengan tatapan menyelidik, steva terus menatap mata belly.
"Ti...tidak! Kau sok tahu." Belly pun mengelak tebakan steva yang dianggapnya mengada-ada.
"Terlihat di wajahmu bayangan raja. Aku bisa melihatnya.." Canda steva menggoda belly yang kini sudah menunjukkan wajah memerahnya.
"A..apa?? Kau menghayal! Aku hanya memikirkan apakah dia sudah makan, atau belum...." Akhirnya belly pun sedikit mengakui pemikirannya saat ini.
"Nah! Aku yakin pasti kau sedang merindukannya." Tuduh steva lagi.
"Hmm, habiskan makananmu stev. Jangan membuang-buang makanan. Di luaran sana banyak sekali orang yang kelaparan!"
__ADS_1
Belly sepertinya menghindar dari pembicaraan, hingga ia harus membahas hal yang lain. Steva tahu jika belly saat ini tengah memikirkan raja.
Apa yang kamu fikirkan bell, berhenti menghawatirkannya belum tentu ia memikirkanmu.
Jangan pernah berharap lagi bell, itu hanya akan membuatmu semakin sakit hati.
Tuhan, maafkan aku jika tidak bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku.
Tentu saja belly bergumam dalam hatinya. Hari-harinya kini sibuk dengan pekerjaan barunya, tapi batinnya terus saja tersiksa karena memikirkan raja.
"Berhentilah melamun, aku tak ingin memiliki seorang asisten yang stress!" Ucap steva mengejutkan lamunan belly.
"Iya ibu boss....." Sahut belly dengan senyum terpaksanya.
Dengan jarak tempuh yang cukup jauh, raja merebahkan tubuh lelahnya di kamarnya. Bagaimana tidak lelah, semalam ia baru saja tiba di surabaya, paginya ia harus kembali lagi ke jakarta. Ia pulang dengan tangan kosong tanpa belly bersamanya.
Dimana kamu bell?.....
Raja terus menanyakan keberadaan belly pada hatinya, hingga tak terasa matanya pun terpejam saking lelahnnya.
Ditengah tidurnya, raja mendengar suara berisik yang berasal dari bawah. Dengan sigap ia membuka matanya kemudian mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
Dengan baik-baik ia mendengarkan asal suara tersebut, ia takut salah pendengaran. Tapi sepertinya kali ini pendengarannya tak salah. Suara itu benar adanya.
Raja pun memutuskan pergi ke lantai dasar di rumahnya, ia melangkah menuju dapur.
"Belly....." Ia melangkahkan kakinya cepat menuruni anak tangga. Setibanya di dapur, ada seseorang yang sedang mencuci piring berdiri di wastafel.
"Eh, tuan raja sudah bangun? Mau saya buatkan kopi?" Tanya bu siti yang sedikit terkejut akan kehadiran raja.
"Bu sity??" Raja ternyata salah mengira, ia fikir belly lah yang tengah berada di dapur.
"Iya tuan, saya sudah mulai bekerja hari ini. Alhamdulillah orang tua saya sudah sembuh di kampung." Jelas bu siti.
"Oh, syukurlah jika begitu. Saya kembali dulu ke kamar bu."
"Iya tuan..."
"Em, anu tuan maaf. Nona belly belum bangun? Saya bawakan oleh-oleh."
"Oh, belly sedang pergi ke rumah orang tuanya di surabaya." Raja rupanya berbohong untuk menutupi masalahnya dari bu siti. Ia tak ingin masalah rumah tangganya ini diketahui oleh orang lain.
"Oh begitu, baiklah tuan... Oleh-olehnya saya letakkan di kulkas." Tanpa banyak tanya lagi, bu siti pun segera melanjutkan aktivitasnya.
Raja hanya mengangguk pelan, kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.
To be continue...
__ADS_1
...🍒 Selamat malam readers, maaf ya kalo othor Up nya telat². Maakasih lohh buat dukungannya... Pokoknya makasih banget. 😊 Dan jangan lupa, tinggalkan jejak buat episode ini ya dears.. ...