Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Kecemasan belly


__ADS_3

"Apakah ini mimpi??" Ketika membuka matanya pagi ini sosok raja sudah ada didekatnya. Raja terus mengusap-usap kepala belly dengan lembut.


Belly memejamkan matanya, kemudian perlahan membukanya lagi namun sosok raja masih ada dihadapannya. Malahan raja menyimpulkan senyum manis kepada belly.


"Selamat pagi, Apakah tidurmu nyenyak??" Dengan senyuman manis, raja menyapa pagi belly.


"Pa..pagi.." Ucap belly terbata, ia masih bingung kali ini apakah benar-benar nyata atau hanya sekedar mimpi.


"Kau mimpi indah??" Tanya raja lagi masih dengan senyuman manisnya.


"Mimpi??" Sontak belly menepuk-nepuk pelan wajahnya. Namun terasa sakit baginya hingga ia sadar jika sekarang ia sedang tidak bermimpi.


Melihat tingkah belly, raja merasa semakin gemas.


"Pergilah mandi, kau bisa terlambat..." Ucap raja senang.


Raja pun keluar dari kamar, ia tak ingin lebih lama lagi bersama belly. Ia takut tak bisa mengontrol dirinya.


"Oh belly, memalukan sekali......" Belly menutupi wajahnya dengan tangan, ia pun bergegas turun dari ranjang menuju ke kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, belly akhirnya selesai bersiap. Ia keluar dari kamar dengan tatapan mata kesana kemari mencari-cari keberadaan seseorang.


Karena tak ada siapapun, belly akhirnya keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan. Ia menuju ke ruang makan.


Setelah sampai disana, ia mendapati raja tengah duduk menunggunya di meja makan.


"Sudah siap? Mari sarapan bersama..." Ajak raja pada belly.


Raja bangun dari duduknya, kemudian ia menarik kursi untuk belly. Kali ini raja benar-benar memperlakukan belly bak ratu.


"Terimakasih...." Ucap belly mendudukkan bokongnya di kursi.


Segelas susu dan roti panggang sudah terhidang di depannya. Ia meraih roti dan menyantapnya perlahan. Fikirannya tak menentu, ia mencari-cari sesuatu menurutnya ada yang kurang.


"Steva??" Belly mencari-cari keberadaan temannya itu.


"Steva sudah berangkat ke kantor, ia terlihat terburu-buru." Jelas raja sembari terus menatap lekat wajah belly.


"Bisa-bisanya anak itu meninggalkanku....." Belly berkata lirih ia merasa amat kesal dengan steva.


"Habiskanlah sarapanmu selagi hangat." Perintah raja pada belly.


"Eum...."


"Kau jangan khawatir, Aku yang akan mengantarmu, karena ini sudah sangat siang untuk berangkat kerja." Ucap raja lagi sembari menatap arloji ditangannya.


Belly pun sadar, ia merasa sangat bersalah karena telah bangun kesiangan. Hingga ia terus merutuki dirinya sendiri.


Tuhan, mengapa kau menghadapkanku dengan situasi yang seperti ini? Aku sungguh tak bisa berkutik.


Belly menggulung asal rambutnya, ia pun segera bergegas pergi ke kantor. Rok pendek serta kemeja yang dibalut dengan blazer hitam ia kenakan pagi ini pun membuat raja semakin terkesima.


Raja hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah belly yang ceroboh namun menggemaskan baginya.


Sungguh tak disangka, wanita yang kini dihadapanku adalah wanita ceroboh yang terus mengusik fikiran dan hatiku. Dia terus membuat hatiku semakin kacau....


Raja menggerutu di dalam hatinya.



Tak butuh waktu lama, belly dan raja pun segera keluar dari gedung apartement menuju parkiran mobil raja.


Raja bergegas membukakan pintu untuk belly.


Namun Belly membuka pintu belakang, ia memilih duduk di kursi belakang kemudi.


Raja tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya mencoba untuk terus bersabar.


Sabar raja, kau harus menahan rasa sakit hatimu ini....


"Apakah pekerjaanmu berat??" Tanya raja mengisi keheningan diantara mereka saat di dalam mobil. Dari kaca raja melihat wajah belly sembari fokus menyetir. Saat ini situasinya raja merasa menjadi seorang sopir. Raja hanya bisa menahan tawanya dalam hati.


"Tidak." Jawab belly singkat.


"Jangan terlalu lelah bekerja bell..." Ucapan raja terdengar jelas ditelinga belly hingga menembus ke dalam hatinya.


Sejak kapan dia menjadi perhatian begini? Belly, tetaplah tegakkan pertahananmu dan jangan runtuh lagi....


Sesampainya di kantor steva, raja menghentikan laju mobilnya. Ia berniat keluar mobil untuk mengantarkan belly hingga masuk kedalam gedung perkantoran.


"Terimakasih sudah mengantar, aku masuk ke dalam dulu..." Pamit belly pada raja.


"Aku antar ke dalam....."


"Tidak perlu, kau harus pergi ke kantormu.." Belly segera berjalan cepat meninggalkan raja.


Raja hanya tersenyum pahit, Ia pun segera melajukan mobilnya ke kantornya yang jarak tempuhnya memakan waktu tiga puluh menit dari kantor tempat belly bekerja. Itupun jika tak terkena kemacetan di jalan.


Sampai di dalam ruangannya, belly menghembuskan nafasnya yang ngos-ngosan. Ia duduk di kursi kerjanya, namun belum selesai mengatur nafas kedatangan steva sudah mengejutkannya.


"Belly......." Dengan wajah bahagianya, steva memeluk belly dari belakang kursi.


"Steva!! Kau ini mengagetkanku!" Dengus belly kesal. Belly merasa masih sangat kesal dengan steva karena telah meninggalkannya.


"Benarkah? Apakah jantungmu sudah jatuh?? Oh iya benar jantungmu sudah jatuh...."


"Ibu stevaa.....??" Belly memutar bola matanya malas meladeni teman sekaligus bossnya itu.


"Maksudku jatuh, jatuh kedalam pelukan raja..." Steva terkikik geli menggoda temannya itu.

__ADS_1


"Steva, berhentilah menggodaku!" Belly memasang wajah marahnya.


"Okey, tapi berkat dirimu aku bisa dengan mudah mendapatkan kontrak kerja sama. Terimakasih asisten cantikku...." Steva tersenyum sumringah.


Belly membalikkan badannya, ia menginginkan penjelasan lebih dari steva. "Kontrak kerja sama? Maksudmu??"


"Maksudku adalah, perusahan the king corp menerima bekerja sama dengan perusahaanku!" Jelas steva dengan nada yang penuh semangat.


"A..apa? Bagaimana mungkin?? Kita bahkan belum membahasnya...."


"Ya, maka dari itu aku ucapkan banyak terimakasih padamu bell. Thank you very much...." Steva memonyongkan bibirnya, namun bibir steva segera di tampik oleh belly dengan telapak tangannya.


"Steva!! Menyingkirlah......" Belly merasa semakin kesal pada tingkah steva.


"Terimakasih belly zeana... Aku pastikan kau mendapatkan bonus besar bulan ini!" Steva melambaikan tangannya keluar dari ruangan kerja belly.


"Huft!" Belly menarik nafasnya. "Oh ya tuhan, sikapnya sungguh sangat menyebalkan. Dasar steva!"


Apakah benar yang di katakan oleh steva?? Mengapa raja begitu mudah membuat kontrak kerja sama ini??


Belly menjadi semakin pusing, bukan karena masalah pekerjaan. Tapi karena fikirannya terus di penuhi oleh raja, raja dan raja.


Argh..... Tidak bisakah dia menyingkir sebentar saja dari fikiranku? Bagaimana aku bisa fokus bekerja jika selalu begini??


****


"Rangga bagaimana? sudah selesai?" Tanya raja yang baru saja tiba di kantor sesiang ini tak seperti biasanya. Hal itu membuat rangga terkejut. Ia fikir raja tidak masuk kerja.


"Pa..pak raja?? Su..sudah selesai pak. Sesuai perintah bapak, hari ini kita akan melakukan pertemuan....."


"Kita yang akan kesana, siapkan semua berkasnya sekarang." Perintah raja pada rangga.


"Kita yang kesana pak?? Ke PT. kencana sukses?" Tanya rangga mencoba meyakinkan.


"Ya. siapkan kontrak kerjanya!" Raja berjalan gontai menuju ruangan kerjanya, ia terus memasang senyum mengingat wajah belly yang begitu menggemaskan.


Belly? Kau berhasil membuatku semakin kacau.....


Siang ini, rangga dan raja menuju kantor steva, mereka tiba tepat pukul satu siang. Semua karyawan merasa terheran-heran melihat kedatangan raja. Apalagi karyawan wanita, merasa begitu terkesima akan ketampanan dan kharisma seorang raja.


"Wah siapa dia??"


"Apakah dia seorang pangeran?? Tampan sekali..."


"Iya, benar-benar sempurna."


"Aku mau meskipun menjadi madunya.."


Steva dan belly pun merasa heran ketika sehabis pulang makan siang semua karyawan mereka berkumpul. Mereka berdua pun segera masuk ke dalam gedung.


"Stev, ada apa ini?" Tanya belly pada temannya.


Belly pun mengikuti langkah steva dari belakang. Steva menegur karyawannya yang tengah berkumpul dan memerintah mereka untuk kembali ke tempat kerja masing-masing.


"Sudah waktunya bekerja kembali!!!! Apa yang kalian lihat?" Mendengar steva sudah menaikkan nada suaranya, semua karyawan itu pun bubar dan kembali lagi ke tempat kerja masing-masing.


Setelah semua kerumunan itu bubar, belly dan steva pun masuk ke dalam ruangan tunggu khusus tamu yang tadi sempat ramai.


"Astaga!!!" Steva kaget dan begitu terkejut mendapati siapa yang datang.


Sementara belly, hanya diam mematung melihat seseorang yang tengah duduk di sana menatapnya dengan senyum. Senyum yang dulu sangat jarang ia lihat, tapi akhir-akhir ini senyum itu selalu mengusik fikirannya. Jantungnya seakan berhenti, ketika raja bangun dari duduknya dan menghampirinya.


Karena kepekaannya steva dan rangga pergi keluar meninggalkan raja dan belly sendiri di dalam ruangan.


Aku begitu merindukannya, sangat merindukannya...


Ucap raja dalam hati semakin terus mendekat ke arah belly.


Sementara belly hanya bisa menahan degup jantungnya agar tak terdengar oleh raja.


Apa ini? Jantung tolong kerja samanya, jangan terus berdegup seperti ini....


"Apa kabar??" Tanya raja.


"Baik." Ucap belly singkat tanpa menatap mata raja.


"Apakah....."


"Apa yang kau lakukan? apakah kau tak ada pekerjaan? Mengapa kau selalu menemuiku?" Pertanyaan-pertanyaan belly memang tak enak didengar, namun belly sangat terganggu karena kehadiran raja di tempat kerjanya.


"Bell, aku...."


"Bukankah pagi-pagi kau sudah menemuiku? Siang ini pun kau menemuiku?" Belly tak memberikan kesempatan pada raja untuk menjelaskan niatnya.


Belly pun keluar dari ruang tunggu itu meninggalkan raja, sementara raja mengikutinya dari belakang.


Belly bertemu dengan steva juga rangga di luar.


"Terimakasih pak raja atas kepercayaannya kepada kami. Kami pastikan tidak akan mengecewakan bapak." Ucap steva.


"Stev? Maksudnya....." Belly masih belum tahu apa yang terjadi.


"Jadi pak raja dan pak rangga kemari untuk mengantarkan berkas kontrak kerja sama perusahaan kita bell. Aku jadi merasa tak enak karena mereka kemari tak mengabari, hingga tak ada persiapan apapun." Jelas steva.


Belly menahan malunya, ia memasang wajah merah jambu di depan semua orang. Tak berani lagi ia menatap raja. Ia terus merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Dasar bod*h!! Mengapa tadi kau menuduhnya asal, dia pasti akan memberikan pelajaran padamu belly....


Sementara raja hanya tersenyum, wajah merah belly semakin menggemaskan baginya.

__ADS_1


"Tak perlu merasa tidak enak bu steva." Ucap raja ramah.


"Pak, datanglah malam ini ke alamatku. Kami ingin mengundang anda untuk makan malam." Ajak steva. Jelas ajakan steva membuat belly semakin terkejut. Hingga mata belly kini membulat kearah steva.


"Makan malam??" Tanya raja meyakinkan.


"Iya pak, anggap saja ini adalah sambutan yang tertunda dan sebagai ucapan terimakasih untuk bapak raja dan pak rangga." Jawab steva.


"Tapi pak, malam ini bapak ada jadwal bertemu....."


"Batalkan saja, kita pergi ke undangan bu steva." Jawab raja memotong ucapan rangga yang sedikit lirih agar tak terdengar oleh steva dan belly.


"Bagaimana pak? Apakah anda memiliki waktu?" tanya steva lagi.


"Baiklah, kami akan datang." Jawab raja penuh semangat. "Kalau begitu kami pergi dulu." Raja dan rangga pun pergi meninggalkan kantor steva.


Belly ingin protes pada steva, tapi apalah daya ia hanya bisa menahan rasa protesnya itu dalam hati. Karena steva adalah bossnya dan keputusan yang steva ambil itu adalah haknya.


Meski pun belly memiliki masalah pribadi dengan raja, namun kali ini ia harus bersikap profesional karena menyangkut masalah pekerjaan.


***


Belly membuka lemari bajunya, dipilihnya beberapa gaun yang akan di pakai untuk makan malam kali ini. Ia sibuk menggonta-ganti beberapa kali gaun yang di cobanya.


"Ciee... Yang mau bertemu dengan raja? Persiapannya maksimal sekali??" Goda steva yang merasa heran dengan tingkah belly.


"Ck! Steva? Apakah tidak ada pekerjaan lain selain menggodaku? Daripada kau seperti itu lebih baik memberikan saran..." Dengus belly kesal.


"Kau lucu! Pantas saja raja bilang kau begitu menggemaskan!" Ucap steva.


"Menggemaskan? Benarkah? Kapan dia bilang seperti itu?" Belly merasa ingin tahu.


"Aku hanya bercanda." steva terkikik geli. "Segera siapkan dirimu belly! Sebentar lagi mereka akan datang."


Belly pun segera mempersiapkan dirinya dan merias wajahnya dengan make up.


Steva dan belly menyambut kedatangan tamunya, namun ia tak melihat keberadaan raja. Yang datang hanyalah rangga.


"Pak rangga?" Tanya steva menyambut kedatangan rangga.


"Maaf saya datang sendiri, pak raja sedang tidak enak badan. Mohon maaf tidak bisa hadir..." Ucap rangga menyampaikan permohonan maafnya pada steva dan belly.


"Tidak enak badan??" Belly pun terkejut mendengar ucapan rangga. Ia begitu cemas dengan keadaan raja saat ini.


"Oh, tak apa. semoga pak raja segera sehat mari silahkan masuk pak rangga."


Mereka bertiga pun masuk, menyantap makanan yang dihidangkan di meja. Hanya ada beberapa obrolan di antara mereka bertiga, sementara belly hanya banyak diam. Fikirannya terusik akan kecemasannya terhadap raja.


Belly, mungkin ini akal-akalan raja saja untuk membuatmu merasa kasihan padanya. Jelas-jelas siang tadi dia terlihat baik-baik saja.


"Kalau boleh tahu pak raja sakit apa?" tanya steva pada rangga.


"Oh, pak raja kelelahan dan asam lambungnya tadi naik. Tapi jangan khawatir, sebelum kemari kami sudah pergi ke dokter pribadinya dan pak raja sudah ditangani." Jelas rangga.


"Dokter pribadi??" Tanya belly heran, ia tak tahu jika raja memiliki dokter pribadi.


"Iya, dokter william. Dia dokter yang biasa menangani kesehatan pak raja selama ini." Ucap rangga lagi.


"Lalu sekarang raja dimana?" Tanya belly.


"Pak raja ada di rumahnya......"


Belly segera bergegas dari duduknya, ia melangkah pergi begitu saja tanpa berpamitan pada steva dan rangga.


Sembari turun dari lantai 11, belly memesan taksi online melalui ponselnya. Ia berniat pergi ke rumah raja.


Entah apa yang belly fikirkan, hingga taksi yang ia tumpangi sudah tiba di alamat yang tertuju.


Belly pun turun dari mobil, setelah membayar tagihan taksi. Dengan perasaan campur aduk, ia memasuki halaman rumah yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Matanya tertuju pada taman kecil dengan bunga-bunga hasil tanamannya. Bunga-bunga itu tentu semakin besar dan terlihat sangat terawat.


Kalian semakin cantik, apakah raja merawat kalian dengan baik??


Tanya belly dalam hati, namun belly kembali fokus pada tujuan utamanya. Ia melangkah kan kaki menuju ambang pintu.


Beberapa kali belly menekan bell, namun tak juga di bukakan pintu oleh raja.


Ck! Kemana dia? Apakah dia sudah tidur?


Belly menatap ponselnya, ia lihat masih pukul tujuh malam. Hingga ia memutuskan untuk mengetuk pintu.


Tok.... tok......


Tak juga ada jawaban, belly merasa semakin cemas dan khawatir pada raja. Dapat belly ingat dengan jelas, disaat raja sakit tak ada yang merawat raja. Ia takut terjadi apa-apa ddngan raja. Ia coba meraih gagang pintu dan ternyata pintu tak terkunci.


"Raja.....raja......" Panggil belly.


"Dimana kamu? Raja....." Seluruh penjuru ruangan lantai dasar tak juga ia temukan, ia pun segera melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamar raja di atas.


Belly membuka kamar raja yang aromanya begitu khas, di tatapnya seluruh penjuru ruangan kamar yang begitu ia rindukan.


Masih dengan kamar yang sama, dimana dia??


"Raja??....." Ia mencoba memanggil raja kembali. Namun tak ada sahutan sama sekali.


"Raja....." Belly tersimpuh di lantai dekat ranjang tidur raja dengan tetesan air matanya ia menangis tersedu.


"Belly???" Suara bariton yang sedikit serak itu menghentikan tangisan belly. Hingga ia pun menoleh keasal suara.


To be continue........

__ADS_1


🍒Readers, othor ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya atas dukungan kalian semua... Penasaran gimana kelanjutannya??? Kasih gift dan votenya ya untuk othor, biar makin semangat nih buat up lagi......


__ADS_2