
Saat jam makan siang berlangsung, bastian menghampiri raja yang duduk sendiri di cafe tak jauh dari kantor.
Bastian menepuk pundak raja yang sedang meneguk secangkir kopi hitam ditangannya.
"Hey, sendiri saja..."
"Hem, bas." Raja hanya menoleh sebentar kemudian kembali meneguk kopinya.
"Makan siang bos, kenapa malah minum kopi bisa-bisa asam lambung!" Teguran bastian tak diindahkan raja. Raja hanya memicingkan senyumnya sedikit.
"Ada apa ja? Akhir-akhir ini kau sering minum kopi?" Bastian menyodorkan satu piring kentang goreng yang ia pesan dihadapan raja.
"Aku sudah makan. Terimakasih bas..." Ucap raja lagi tanpa menjawab pertanyaan bastian.
"Jika kau sakit, istrimu bisa repot." Sahut bastian sembari mencocol saus pada kentang yang ia makan.
Lamunan raja teringat akan belly, ketika ia sakit dan belly merawatnya dengan telaten. Dimana masa-masa bersama mereka berdua yang membuat jantung raja semakin berdegup kencang. Kini semua itu tak pernah ia rasakan lagi, sepertinya kali ini ia sangat rindu akan hari-harinya bersama belly.
Ditengah lamunan raja, alex datang menghampiri raja juga bastian. Tak lupa alan dibelakangnya.
"Raja tidak pesan makanan?" Tanya alex namun raja masih saja melamun.
"Hey, ja..." Bastian menggibas-gibas tangannya didepan wajah raja hingga membuat raja sadar dari lamunannya.
"Eh, iya... Ada apa??" Sontak raja terkejut. Ia pun menoleh ke arah asal suara.
"Apa yang kamu fikirkan? Sepertinya kali ini bebanmu amat berat?" Tanya alex khawatir pada sahabatnya.
Raja hanya diam, kemudian tatapannya menoleh kearah alan disamping alex. Ia langsung memutar bola matanya malas. "Aku ada urusan mendadak, aku pergi dulu.."
Semua hanya diam menatap kepergian raja dari mereka. Termasuk alan, ia merasa raja sangat tak menyukai kehadirannya disini.
"Sebenarnya ada apa denganya?" Tanya bastian sembari terus mengunyah kentang gorengnya.
"Bukankah sejak tadi kamu yang bersamanya? Apa kau membahas masalah isterinya lagi?" Tanya alex menyelidik bastian.
__ADS_1
"Jangan asal menuduh lex! Aku tidak mungkin berani menyinggung masalah isterinya lagi." Sahut bastian yang merasa tertuduh oleh alex.
"Hmm, mungkin saja raja sedang ada masalah." Ucap alex menghela nafas pendeknya. "Oh ya al, aku baru ingat sekarang. Kau bukannya pernah mengejar belly waktu itu, apa kalian saling kenal?" Tanya alex pada alan yang sejak tadi hanya diam tak bersuara.
"He'eum, aku mengenenalnya." Ucap alan singkat.
"Apa?? lalu mengapa kau mengejar belly?" Tanya alex lagi. Sepertinya alex saat ini sedang keppo.
"Kami teman kuliah. Ya, hanya itu.." Ucap alan tak ingin berbelit-belit. Alan juga ingin menutupi privasinya. Ia tak ingin kedua teman raja tahu jika alan dan belly pernah menjalin hubungan.
"Hanya itu???" Sambung bastian menatap curiga ke arah alan.
"Ya. Hanya itu..." Ucap alan lagi.
"Tapi, setelah raja melihatmu ia langsung pergi begitu saja. Apakah terjadi sesuatu diantara kalian?" Kali ini bastian yang keppo pada alan.
"Ck! Apa yang harus kami permasalahkan?? Aku merasa tak memiliki masalah apapun padanya. Tapi, mungkin saja dia yang merasa memiliki masalah denganku." Pungkas alan menjawab pertanyaan bastian.
Alex dan bastian hanya diam tak menjawab perkataan alan sembari mengangguk-anggukkan kepala pelan. Mereka fokus pada pemikiran masing-masing tentang raja.
***
Ada apa dengan kalian? Mengapa kalian terlihat tak bersemangat bahkan layu?
Ungkap raja dalam hatinya, Fikiran raja tiba-tiba langsung teringat belly. Ia merasa sesuatu terjadi pada belly. Raja menghempas selang air lalu berlari menuju kedalam rumah.
"Bell?........" Panggil raja pada belly sedikit keras.
"Belly.........? Bell....." Panggil raja lagi.
Ia memutari seluruh ruangan rumah, kemudian menuju dapur, ruangan tengah pun tak ditemukannya sosok belly disana.
Terakhir, ia berniat menuju ke kamar belly. Dengan berat hati ia mengumpulkan keberaniannya untuk mengetuk pintu kamar belly.
Tok...tok....
__ADS_1
"Bell? Apakah kamu ada didalam?" Tanya raja dari luar kamar. Namun, semuanya tak seperti harapan raja. Ia tak mendengar sahutan belly dari dalam. Biasanya belly langsung membuka pintu dengan segera jika ia mengetuk. Namun hari ini sepertinya berbeda.
Raja pun akhirnya memutar knop dan membuka pintu kamar belly. Suasana kamar belly hening, lampu pun tidak menyala. Raja menekan saklar lampu pada tembok dekat pintu, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi belly tak juga ia temukan.
"Bell....." Panggil raja lagi. Saat raja mengarah ke ranjang tidur, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu.
Raja ternyata menginjak sebuah bucket bunga yang tempo hari ia temukan.
"Ck!! Mengapa bucket ini masih disini?" Raja mengambil bucket bunga yang sudah terlihat layu itu. Kemudian ia mengambil kartu ucapan yang telah terjatuh. Tak sengaja mata raja pun membaca isi dari kartu ucapan itu.
Dear my king,
Aku yakin, perasaanmu pun masih sama terhadapku. Aku sangat merindukanmu...
Deg! Jantung raja pun seolah terhenti setelah ia membaca isi pesan yang tertulis. Raja baru menyadari jika bucket bunga itu ditujukan untuknya. Ia pun tahu siapa sang pengirim bucket meskipun disitu tidak tertulis namanya.
"Maura!!" Raja meremas ddngan kuat kartu ucapan hinggga berubah bentuk dan kusut.
Raja menelisik seluruh isi ruangan, kali ini ia benar-benar merasa bersalah pada belly. Ia telah menuduh belly tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Raja terus memegangi kepalanya, ia benar-benar merasa jahat telah memperlakukan belly semaunya.
"Bell, kamu dimana? Maafkan aku bell...." Mata raja terus berputar keseluruh penjuru kamar belly. Ia melihat meja rias yang sudah kosong, tanpa adanya makeup dan beberapa peralatan lain yang biasanya berada di atas meja itu.
Mata raja semakin membulat, ia juga membuka lemari pakaian belly dan ternyata isinya sudah kosong tak ada sehelaipun yang tertinggal.
"Argh!!!!......" Raja menjerit keras, ia meraup wajahnya dengan sebelah tangan.
Ia pun keluar dari kamr belly membawa bucket bunga yang sejak tadi ditangannya kemudian dibuangnya kedalam tong sampah depan rumah.
Bell, dimana kamu.....
Raja menggulir ponselnya. Ia berusaha mencari kontak nama belly berulang kali. Namun tak juga ia temukan. Raja baru sadar, selama ini ia dan belly saling tak menyimpan nomor telepon masing-masing.
Bagaimana mungkin, raja kamu sungguh keterlaluan. Sangat keterlaluan!
Raja berbicara pada dirinya sendiri, ia merasa prustasi telah kehilangan belly. Saat ini ia terus terbayang akan kesalahannya selama ini pada belly.
__ADS_1
Harus kemana aku mencarimu???
To be continue...