
Belly bangun lebih awal, karena semalaman ia tak dapat tidur. Belly pergi kedapur untuk memasak sarapan, beberapa jenis sayur-mayur telah di potong-potong untuk diolah. Hingga tak sampai satu jam belly telah selesai mengerjakan pekerjaan dapur.
Setelah semua selesai, belly menyempatkan diri menuju taman kecilnya di samping rumah. Bunga-bunga yang bermekaran dengan beberapa tetesan embun pagi pada daun serta kelopaknya membuat bunga-bunga itu semakin segar.
Lihatlah bell, meskipun kemarin mereka sempat layu namun paginya bunga-bunga ini kembali segar bahkan terlihat sangat cantik. Begitupun dengan keadaan hatimu sekarang, kau tak boleh terus terpuruk.
Belly terus berbicara pada bunga-bunga cantik hasil tanamannya. Ia menasehati dan menyemangati dirinya sendiri. Prilaku belly kali ini pun tak lekang dari pandangan raja yang sedang berada di rooftop.
Sembari menatap tingkah belly yang dianggapnya aneh namun belly terlihat sangat lucu, raja bergumam dari hati diserta gelengan kepalanya.
Apakah dia tahu bahasa tumbuhan? Apa yang dia bicarakan? Dasar wanita aneh...
Pagi ini raja pergi ke kantor, saat ia turun dari kamarnya dilihatnya belly sedang menonton tv dengan topless ditangannya. Biasanya belly akan menyambut rajansaat turun dan mengajak sarapan, namun kali ini tidak. Di meja makan pun tak ada makanan yang dihidangkan oleh belly. Raja hanya meminum susu hangat yang ia buat sendiri pagi ini.
Raja terus melirik ke arah belly, namun belly tak mempedulikan raja yang sibuk di meja makan. Belly terus serius menatap layar televisi didepannya dengan beberapa tawa kecil karena menonton tayangan kartun kesukaannya.
Lagi-lagi belly terkikik, raja semakin resah mendengar tawa kecil belly. Setelah selesai menghabiskan minumannya, raja pun berangkat ke kantor. Ia berjalan melewati belly yang sibuk menonton, namun belly seakan tak menganggap keberadaan raja. Biasanya saat raja akan berangkat ke kantor, belly akan mengantarnya hingga ke ambang pintu.
Belly menoleh kearah depan, melihat kepergian raja dari jendela. Sebagai seorang istri ia merasa sangat bersalah, namun ia juga tak ingin memaksakan diri karena hingga saat ini apapun yang dilakukan belly raja masih tak bisa menerimanya.
Istri macam apa aku ini? Tuhan, apakah aku sangat berdosa? Ampuni aku, sungguh aku ingin melayani suamiku layaknya seorang istri sungguhan. Tapi apalah daya, suamiku sendiri yang tak menginginkan itu. Bahkan, ia masih menganggap jika aku hanyalah istri sandiwaranya.
Mungkin cara kami menikah sempat salah, tapi pernikahan ini tak pernah salah.
***
"Apa yang kalian lakukan? Apakah kalian tidak bisa bekerja? Jika sudah tidak mampu, aku menunggu surat pengunduran diri kalian!!!"
Raja melempar beberapa berkas yang ada di mejanya. Ia memarahi beberapa karyawan serta sekretarisnya dengan nada keras dan lantang. Suaranya kini menggelegar disetiap penjuru ruangan. Hingga karyawan yang lain pun tak berani bergerak jika raja sedang marah.
Kemarahan raja pun tak lepas dari pandangan alex dan juga bastian yang bekerja dengannya. Sebagai sahabat raja, alex ditempatkan menjadi kepala personalia perusahaannya. Sementara bastian menjadi seorang kepala mekanik.
"Ada apa dengannya pagi ini?" Tanya bastian pada alex
"Aku juga bingung, mengapa sepagi ini dia sudah uring-uringan?" Alex menatap raja heran.
"Mungkin dia sesang bertengkar dengan istrinya." Bastian asal menebak.
"Kau ini! Sudah ku bilang jangan membahas istri raja! Kau mau dihajar raja hingga babak belur?"
"Aku hanya mengira-ngira saja, tak perlu berlebihan lex." Bastian menepuk pundak Alex, kemudian ia pergi meninggalkan alex.
Setelah selesai dengan marah-marahnya, alex menghampiri raja.
"Ini..." Alex memberikan satu kaleng minuman dingin untuk raja.
"Thanks.." Raja langsung meneguk minuman soda pemberian alex.
"Ada apa denganmu? Ada masalah?" Alex memang selalu perduli pada belly.
"Mereka yang bermasalah!" Raja masih tersulut dengan emosinya.
"Sore nanti ada waktu? Kita pergi keluar saja, bagaimana?" Ajak alex pada raja.
"Aku tak ingin pergi kemana-mana!" Tolak raja.
"Apakah kau sudah betah berada di rumah? Sejak kapan?" Alex menatap raja heran, apakah benar ini karena istrinya seperti yang dikatakan bastian..
"Aku sedang tak enak badan, lain kali saja." Raja beralasan.
"Emm baiklah, jika begitu maka kami yang akan pergi ke rumahmu." Jawab alex.
"Terserah kalian saja." Sebenarnya raja tak ingin temannya datang ke rumah. Pasti mereka akan memperhatikan belly, dan itu semua sangat mengganggunya. Raja tak enak jika menolak temannya datang. Karena sebelum menikah, raja memperbolehkan teman-temannya ke rumah kapanpun.
Siang ini raja memutuskan pulang lebih cepat, rasanya ia tak fokus lagi bekerja.
Setibanya raja di rumah, ia tak menemukan belly menyambut kedatangannya. Rasanya sangat aneh mendapat perlakuan seperti ini baginya.
__ADS_1
Raja mencari keberadaan belly di dapur dan ruang tengah, namun tak ada. Kemudian raja menuju ke kamar belly dan kini ia tepat berada didepan pintu.
Tangan raja sangat ingin memutar knop pintu kamar belly, namun hatinya tak memiliki keberanian.
Ceklek!....
Pintu terbuka dari dalam, dengan satu kali sentakan raja langsung memutar tubuhnya menjadi membelakangi pintu kamar belly.
Belly yang melihat raja sudah ada didepan kamarnya pun merasa terkejut. Ingin belly menyapa keberadaan raja, namun hatinya saat ini masih enggan untuk sekedar berbicara pada raja. Belly yang semula ingin keluar, kini kembali menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras.
Der!!...
Suara pintu itu pun membuat raja kaget. Raja hanya bisa menelan salivanya mendapat perlakuan belly.
Raja bingung apa yang harus ia lakukan di rumah, sementara belly hanya diam dikamar tak menampakkan diri. Raja menonton tayangan bola di ruangan televisi yang kebetulan berdekatan dengan kamar belly. Dengan volume yang keras berharap belly akan keluar dari kamarnya ternyata usaha raja nihil.
Tak lama kemudian, alex dan bastian datang ke rumah raja. Alex pun membawa alan bersamanya.
"Sepi nih rumah..." Alex tiba-tiba sudah masuk kedalam menghampiri raja.
"Eh, alex bas... Silahkan duduk." Raja mempersilahkan tamunya duduk.
"Alan boleh duduk tidak?" Sahut bastian.
"Oh, tentu... Silahkan..." Jawab raja menatap ke arah alan.
"Aku permisi ke toilet sebentar, dimana toiletnya?" Tanya Alan pada raja.
"Lurus saja ke arah dapur..." Raja menjelaskan dengan menunjukkan tangannya ke arah yang dimaksud.
Belly mendengar ada suara ramai di luar , hingga ia memutuskan keluar dari kamarnya. Ia melihat ada bastian dan juga alex. Belly pun menyapa kedua teman raja.
"Kamu sudah pulang?" Belly mengarah menuju raja dan menyalaminya. Belly menatap mata raja seolah memberi kode, kemudian mencium punggung tangan raja dengan lembut.
"Ii..ya. Ada teman-temanku. Bisa buatkan minum?" Raja pun menarik tubuh belly hingga masuk kedalam pelukannya.
Raja yang tak pernah melihat belly sedekat ini pun merasakan ada getaran aneh dalam dirinya. Dengan reflek, raja mengecup puncak kepala belly.
Cuppp!
"Terimakasih..." Jawab raja dengan senyum lembut terukir diwajahnya.
"Ehem!! Dunia rasanya milik berdua!" Bastian berdehem membuyarkan perasaan aneh antara raja dan belly.
"Namanya juga pengantin baru bas..." Sambung alex dengan menepuk pundak bastian.
Belly pun segera melepaskan dirinya dari dekapan raja. Meskipun belly sedang marah pada raja, ia terpaksa bersandiwara didepan orang lain. Kemudian ia menuju ke dapur untuk membuatkan minuman.
Baik belly maupun raja, mereka berdua sama-sama merasakan ada gejolak pada tubuh masing-masing. Gejolak dan perasaan aneh yang muncul karena interaksi keduanya tadi. Interaksi intim yang pertama kali mereka lakukan.
Alan selesai dari kamar mandi melewati ruangan dapur dirumah raja. Ia melihat seorang wanita sedang sibuk di dapur. Tubuh itu sepertinya sangat dikenalinya namun alan tak bisa melihat wajahnya karena posisi wanita itu membelakanginya.
Ingin sekali alan menegur wanita itu, tapi niatnya buyar ketika ia mendengar suara alex memanggilnya.
"Alannnn...." Suara alex sedikit berteriak.
"Ii..ya. Aku sudah selesai." Jawab alan kemudian menuju keluar.
Belly yang mendengar suara itu pun langsung menengok kearah asal suara. Namun belly hanya bisa melihat tubuh itu berjalan keluar.
Ketika belly mengeluarkan minuman buatannya, hanya ada raja dan bastian yang duduk disana.
"Alex kemana?" Tanya belly sembari meletakkan minuman di meja.
"Alex sedang keluar bersama sepupunya sebentar." Jawab raja, meskipun raja tak suka dengan pertanyaan belly namun ia tetap menjawabnya.
"Oh, diminum ya.. Aku tinggal dulu ke kamar." Belly menyunggingkan senyum manisnya. Ia pun kembali masuk kedalam kamarnya.
Kepergian belly pun diperhatikan oleh bastian yang merasa heran karena setahu bastian kamar raja ada diatas tapi mengapa belly masuk ke kamar yang ada di bawah.
__ADS_1
"Bukankah kamarmu ada diatas ja?" Tanya bastian penasaran.
"Iya, ada apa?" Tanya raja lagi sembari menyeruput cappucino hangat buatan belly.
"Belly masuk ke kamar tamu?" Tanya bastian lagi.
"Oh.. Itu, belly sedang merapihkan kamar tamu. Karena nanti mertuaku akan datang." Raja berbohong, terpaksa ia lakukan. Kali ini ia selamat karena untung saja otaknya ddngan cepat mencari alasan.
"Oh begitu.. Baguslah. Aku fikir kalian tidur terpisah." Bastian menjadi merasa tak enak pada raja.
"Tidak, tak mungkin suami dan istri terpisah kamar bukan?." Raja seperti sedang bermain film. Ia harus terus bersandiwara mengenai pernikahannya pada orang lain.
"Segeralah memiliki anak, agar cinta kalian semakin bertambah..." Ucap bastian.
"Itu sedang proses.. Soal anak sudah kami fikirkan." Jawab raja bersandiwara lagi.
"Baguslah.. Aku suka jika kamu sudah bisa melupakan wanita ibliss itu. Untung saja ja kamu tidak berjodoh dengannya. Apa yang akan terjadi jika dia menjadi istrimu? Tangannya bisa lecet jika memegang peralatan rumah tangga." Bastian kembali membahas maura.
"Iya. Dia pasti akan sangat sibuk dengan dunia modelnya. Hingga tak sempat mengurus raja.." Sambung Alex yang tiba-tiba datang dari luar.
Raja hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan kedua temannya itu. Alex dan bastian memang tak pernah menyukai hubungan raja dan maura.
Tapi ucapan temannya itu menurut raja ada benarnya, jika saja dia menikah dengan maura tak mungkin maura mau menyentuh peralatan dapur.
Mingkin juga maura akan lebih sibuk daripada raja.
***
Setelah raja mengantar alex dan bastian kedepan rumah untuk pulang, raja kembali masuk. Ia mendapati belly sedang membereskan meja. Belly dengan telaten mengelap meja dan mengambil gelas bekas minuman menuju kedapur.
Raja jadi teringat ucapan alex dan bastian, jika saja maura yang menikah dengannya tentu saja ia takkan mau melakukan hal yang sama seperti belly.
Raja menyusul belly yang sedang mencuci gelas di wastafel. Ingin sekali raja menegur belly, namun mulutnya masih berat.
Belly yang terkejut mendapati raja ada dibelakangnya pun menjatuhkan sebuah gelas yang ada ditangannya hingga pecah.
"Kau.. Kau tak apa?" Raja mendekat dan meraih tangan belly. Ia mencari-cari sesuatu ditangan belly khawatir jika terluka lagi.
Belly menarik tangannya berusaha melepaskan dari cekalan tangan raja. Kemudian belly mengambil lap basah untuk membersihkan pecahan gelas di lantai.
Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, belly hanya memasang wajah datar tak menanggapi raja. Raja merasa salah tingkah karena ia tak pernah mendapatkan sikap cuek dari belly. Tapi kali ini, belly benar-benar mendiamkannya.
"Bell..." Raja mencoba memanggil belly. Namun belly tak menanggapinya. Belly berlalu setelah seleaai dengan kegiatannya menuju ke luar rumah.
"Argh....." Raja menyisir rambutnya kebelakang dengan jari. Ia merasa sangat tak suka jika belly mendiamkannya.
Raja pun keluar menyusul belly, ternyata belly sedang ada ditaman dan seolah sedang berbicara dengan bunga-bunga yang bermekaran. Sesekali belly tersenyum dengan bunga-bunga itu, membuat raja semakin geram.
"Apakah kau hanya berbicara pada tumbuhan bukan pada manusia?" Raja mendekat kearah belly.
Belly hanya bisa menghela nafas panjangnya.
"Aku sedang berbicara padamu!!" Raja kali ini sudah tak sabar, hingga ia kembali membentak belly.
Belly pun merasa jika raja tak akan pernah menghargainya, ia memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Langkah belly terhenti karena raja mencekal tangannya. Ternyata raja tak membiarkan belly pergi begitu saja.
"Kau ingin menghindariku?" Ucap raja. Namun belly masih diam saja tanpa kata. Hingga raja menarik tangan belly dan membuat belly berhadapan dengannya. Kini posisi mereka berdua sangatlah dekat.
Belly yang menerima perlakuan raja pun kini buka suara.
"Bukankah ini maumu? Kau tak ingin aku mencampuri urusanmu! Kau sendiri yang mengatakan itu bukan? Aku urus diriku sendiri, dan kau urusi dirimu sendiri! Lalu saat aku diam, kau seolah tak merasa bersalah? Inikah dirimu yang sebenarnya? Lelaki egois? Lelaki yang hanya memikirkan perasaannya sendiri! Kau tak pernah menghargai apapun yang aku lakukan.." Belly meneteskan air mata bening disudut matanya. Kemudian ia menyeka air mata itu dengan tangannya. "Pernikahan kita hanyalah sandiwara, kita tak pernah menginginkan ini terjadi! Jadi, aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Teruslah bersandiwara didepan orang lain, selebihnya kita takkan saling mengusik kehidupan masing-masing." Setelah mengucapkan itu semua, belly melepas cekalan tangan raja kemudian ia sedikit berlari masuk kedalam kamarnya.
Raja hanya mematung, tak ada kata-kata lagi yang bisa ia katakan. Semua yang dikatakan belly memang benar adanya. Semua itu adalah keinginan raja, bukan salah belly jika ia mendiamkan raja.
Entah apa yang dirasakan raja saat ini, raja merasa ada perasaan bersalah yang amat dalam terhadap belly. Hingga perasaan itu membuat raja menjadi tak nyaman.
🍒 Hai readers, maaf ya kalo othor up nya sedikit². Kasih like dulu dong... Biar othor makin semangat buat Up lagi yang banyak... 😊
Mari tinggalakan jejak readers... Othor tunggu ya..
__ADS_1