Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Rasa yang berbeda


__ADS_3

Jangan memaksakan hati, jika kamu ingin dia bahagia, lepaskanlah!


POV. Alan


Setelah ku fikirkan lagi, lebih baik aku mengalah dan tak terus memaksakan perasaan ini. Karena bagaimana pun Belly tak akan pernah bisa menjadi milikku.


Ku lepaskan segala keinginan dan harapanku yang ingin selalu dekat dan memilikinya, aku harap ini adalah keputusan yang terbaik untukku. Ah, tidak, ini adalah keputusan yang terbaik agar Belly bahagia meski hatiku saat ini terasa hancur berkeping-keping.


Usai sikap acuhku padanya pagi ini, aku meminta darwin untuk mengantarkanku ke Rumah Sakit di mana tempat seseorang yang sedang di rawat yang ingin kutemui.


Raja, ku temui dia di ruang rawatnya dengan kedua orang tuanya di sana. Namun karena menyadari kehadiranku, kedua orang tuanya itu pun keluar dengan melemparkan sedikit senyuman kepadaku. Seolah mereka sadar jika aku hanya ingin berbicara empat mata saja dengan Raja.


Aku pun hanya mengangguk dengan tubuh yang sedikit membungkuk sebagai tanda hormatku kepada mereka. Sebagai seorang anak yang tidak memiliki orang tua, jelas saja aku merasa iri terhadap Raja.


Namun bukan itu tujuanku kemari, aku ingin membicarakan hal yang serius dan jauh lebih penting dari pada rasa iriku ini.


"Bagaimana kabarmu?" Aku mencoba berbasa-basi terlebih dahulu, untuk menghilangkan rasa canggungku ini.


"Menurutmu??" Raja malah bertanya seolah acuh tak acuh sembari menatap malas kearahku.


Aku hanya bisa menarik nafasku dalam-dalam, sembari mengucapkan kata 'sabar' di dalam hati. Jika aku tak kasihan padanya dan ak bisa mengontrol emosiku, mungkin kepalan tangan ini sudah menghajar wajah menyebalkannya itu.


"Jika tak ada yang ingin kau bicarakan, lebih baik pergi karena aku ingin istirahat," ucap Raja dengan menarik selimut putih untuk menutupi kakinya yang masih terpasang perban.


"Belly hari ini akan kembali ke Surabaya," tak ingin mengulur waktu, aku langsung to the point. Karena sebenarnya aku juga malas berlama-lama bertatap muka dengan orang yang menyebalkan seperti Raja.


"A-apa? Aku harus menemuinya ..."


"Tunggu Raja, keberangkatannya jam tujuh malam nanti. Ada hal lain yang ingin ku sampaikan," jelasku memotong ucapannya karena kulihat Raja sudah ingin beranjak dari pembaringannya.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" Raja sepertinya memberikanku kesempatan untuk bicara.


"Tolong jaga Belly, dan bahagiakanlah dia," perlahan kutarik nafas ini yang terasa berat. Sedikit ada rasa sesak di dadaku saat aku mengatakan hal ini.


"Apa maksudmu?" Raja langsung memberikan tatapan tajam kepadaku.

__ADS_1


"Aku ingin kau menjaganya dengan segenap jiwamu, jangan pernah lagi kau sakiti dia. Aku menyerah ..." rasanya air mata ini ingin sekali keluar, namun mata ini masih bisa meahanan hingga air mata itu pun masih terbendung dengan aman.


"Aku menyerah dan merelakan Belly bersamamu," lanjutku lagi setelah merasa sedikit lega karena rasa sesak di dada ini sedikit plong.


"Alan, apa aku dapat mempercayaimu? Heuh, aku bahkan tak percaya pasti kau tetap ingin mengganggu Belly," Raja kali ini malah melemparkan tatapan sinisnya kearahku.


"Temui dia nanti di Bandara, jika kau memang tak ingin kehilangan dirinya lagi, dan aku ingin kau bisa menjaganya dengan baik," tak ingin menanggapi perkataan Raja yang terus memancing emosiku, aku pun memutuskan keluar dari ruangan rawat itu.


Saat di luar ruangan, aku melihat tatapan mata kedua orang tua Raja ke arahku. Sepertinya banyak sekali tanya yang ingin mereka utarakan kepadaku, namun aku segera pergi meninggalkan tempat itu tanpa sapaan apapun.


Hingga kubuka pintu Mobil dan membanting tubuhku pada kursi tepat disebelah Darwin yang tengah menungguku sembari memegangi setir Mobil.


"Ck! Lemah," umpat Darwin sembari menggelengkan kepalanya menatap kearahku dengan senyum sinis.


"Ternyata aku selemah ini," jawabku yang baru tersadar akan ucapan Darwin.


"Kau hebat kawan, aku bangga padamu," Darwin menepuk-nepuk pundakku beberapa kali kemudian ia pun langsung melajukan Mobil Range Rover itu dengan kecepatan sedang.


"Bagaimana nanti nasibnya jika dia tersakiti lagi?" tanyaku masih saja memikirkan nasib Belly dikemudian hari.


"Terus saja memikirkan dia, sampai kau melupakan nasib dirimu sendiri!" timpal Darwin dengan nada kesal.


"Ayolah kawan, masih banyak wanita cantik berkeliaran diluaran sana! Kita senang-senang okay?" lanjut Darwin lagi mencoba menghiburku.


Untuk pria seperti Darwin, yang hobinya hanya berganti-ganti wanita mungkin menurutnya masalah seperti yang sedang aku hadapi ini begitu mudah. Hingga ia hanya menganggap enteng dan terus mengajakku pergi ke Club malam untuk bersenang-senang.


Namun kali ini aku tidak ingin pergi ke tempat berisik itu lagi, kemarin malam saja aku sudah dibuat kacau oleh minuman yang terus saja ku teguk.


Jika diingat-ingat lagi, Belly pasti menilaiku sebagai pria terburuk didunia karena kekacauan yang kulakukan kemarin malam. Ah, apa yang telah aku lakukan, rasanya aku ingin mendatanginya dan meminta maaf pada wanita pujaanku selama ini atas perlakuanku padanya semalam.


Otakku terus saja memutar nama Belly, niat hatiku melepaskan dirinya, namun ternyata hatiku belum bisa juga mengikhlaskannya.


...****************...


"Semua sudah siap, coba diingat-ingat lagi apa ada yang tertinggal, Bell?" tanya Pras pada Putrinya yang kini masih duduk melalui dipinggiran Ranjang.

__ADS_1


"Bell," Prass mencoba menyadarkan Putrinya karena tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"I-iya, Pa. Ada Apa?"


"Hmmm ..." Prass hanya menarik nafas panjang. Ia pun duduk di sebelah Putrinya itu sembari memberi usapan lembut pada puncak kepalanya.


"Papa tahu ini pasti berat, lebih baik kita segera berangkat karena satu jam lagi jam penerbangan kita," lanjut Prass mencoba menyadarkan dan menenangkan Belly.


"Iya, Pa," jawab Belly disertai anggukan pelan.


Sebenarnya Belly masih menunggu Alan, namun sedari pagi hingga hari mulai malam Alan tak kunjung terlihat olehnya. Padahal banyak sekali hal yang ingin ia katakan. Seperti yang ia fikirkan, mungkin Alan kini tengah menghindarinya.


Ketika menuju Bandara, Belly mencoba menghubungi Alan via telepon namun nomor telepon Alan berada di luar jangkauan.


Tiba di Bandara, Belly terus saja mencari-cari keberadaan seseorang. Belly benar-benar berharap Alan akan datang menemuinya tetapi sepertinya sia-sia. Alan tak juga menampakkan diri di depannya.


"Bell, ada yang mencarimu," panggil Prass dengan suara lembut.


"Al," Belly menoleh kearah asal suara, hatinya kini sedikit lega karena Alan akhirnya menemui dirinya. Namun betapa terkejutnya ia ketika mengetahui seseorang yang datang bukanlah orang yang sedang ditunggunya.


"Bell, kembalilah bersamaku," Raja mengeluarkan sebuah kotak kecil berisikan cincin permata berwarna putih. Meski pergelangan kakinya masih terasa sakit, ia bertekad berjongkok sembari menunjukkan kotak cincin itu di hadapan Belly.


"Ra-ja, apa yang kamu lakukan?" mata Belly terbelalak, sembari beberapa kali melihat sekitar karena banyak orang berkerumun menyaksikan aksi Raja.


"Belly, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku ingin kau selalu bersamaku hingga kita tua," dengan menitikkan air mata sebagai tanda penyesalannya karena telah menyia-nyiakan Belly selama ini, Raja berharap Belly takkan menolaknya lagi.


"Bell, aku tahu kamu belum bisa memaafkan kesalahan selama ini. Tapi, tolong izinkan aku memperbaikinya. Aku janji, aku tidak akan pernah menyakitimu lagi," lanjut Raja.


Banyak orang yang beraorak disana, mengucapkan kata 'Terima' beberapa kali membuat Belly menjadi salah tingkah. Tapi setelah menerima perlakuan Raja malam ini, entah mengapa rasanya begitu berbeda.


Bukankah hal ini yang diinginkannya? Bukankah ia sangat mencintai Raja dan tak bisa menggantikannya dengan siapapun? Hatinya yang tadinya terus bergetar ketika melihat Raja kini berubah tak seperti biasanya.


Belly meneteskan air matanya, kemudian ia mendongakkan kepalanya kearah atas berharap air mata itu tak lagi tumpah.


Namun, saat kepalanya mendongak dengan tangan yang mengusap pipinya, ia melihat seseorang diatas sana sedang menatapnya dalam diam. Tatapan yang dapat terlihat samar-samar karena jarak yang tak dekat itu dapat tergambar jika seseorang di sana sedang mengalami kekecewaan yang mendalam.

__ADS_1


"A-lan?"


To be continue ...


__ADS_2