
Bukankah ini maumu? Kau tak ingin aku mencampuri urusanmu! Kau sendiri yang mengatakan itu bukan? Aku urus diriku sendiri, dan kau urusi dirimu sendiri! Lalu saat aku diam, kau seolah tak merasa bersalah? Inikah dirimu yang sebenarnya? Lelaki egois? Lelaki yang hanya memikirkan perasaannya sendiri! Kau tak pernah menghargai apapun yang aku lakukan.." Belly meneteskan air mata bening disudut matanya. Kemudian ia menyeka air mata itu dengan tangannya. "Pernikahan kita hanyalah sandiwara, kita tak pernah menginginkan ini terjadi! Jadi, aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Teruslah bersandiwara didepan orang lain, selebihnya kita takkan saling mengusik kehidupan masing-masing." Setelah mengucapkan itu semua, belly melepas cekalan tangan raja kemudian ia sedikit berlari masuk kedalam kamarnya.
Kata-kata belly terus mengusik fikirannya. Raja tak dapat tidur, apa yang ia lakukan selalu terbayang kata-kata belly dan wajah belly terus muncul diingatannya.
"Argh!!!......" Raja berteriak diatas rooftop dekat kamarnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah karena memikirkan belly. Langkahnya terus mondar-mandir tak menentu.
"Apa sebenarnya ini!?? Mengapa wanita itu terus mengusikku??!!" Raja meremas rambutnya. Ia semakin kesal karena otaknya kini tak bisa bekerja jika terus memikirkan belly.
Raja menuruni anak tangga, ia melihat sosok belly sudah berpenampilan rapih. Tak seperti biasanya, belly keluar dengan pakaian rapih dan bersolek.
"Ehem! Kau ingin pergi kemana??" Raja berdehem dibelakang belly yang sedang sibuk memainkan ponselnya memesan taksi online.
"Ke supermarket." Jawab belly singkat.
"Aku antar, bagaimana?" Tanya raja sembari melirik kearah belly namun belly hanya diam tak menatap raja. "Maksudku, kita pergi bersama saja, aku pun ingin ke supermarket membeli sesuatu." Tambah raja semakin kikuk menghadapi belly.
"Aku sudah memesan taksi." Jelas belly kemudian ia menenteng tas kecilnya menuju keluar rumah. Langkah kaki belly berhenti sejenak, "Aku pergi dulu." Meskipun belly sangat kesal, ia tetap berpamitan pada raja.
Saat belly keluar rumah, ia berpapasan dengan alex juga seseorang disebelahnya. Seseorang yang ia kenal sangat lama. Dialah Alan alfazri, lelaki yang begitu saja ia campakkan. Lelaki yang sangat setia padanya namun terpaksa ia tinggalkan.
Tatapan belly dan alan pun bertemu. Seketika itu hati alan merasa sangat sakit namun disisi lain alan juga merasa beruntung karena menemukan belly disini.
Mata belly pun berkaca-kaca saat itu juga, alan hanya bisa menatap kosong kearah belly. Sorot mata alan yang menunjukkan kerinduan hebat untuk belly dapat terpancar dengan jelas. Kali ini alan tak akan meloloskan belly seperti sebelumnya. Alan sangat butuh penjelasan yang sejelas-jelasnya dari belly.
Prilaku kedua insan yang saling bertatapan itu pun tak luput dari pandangan alex, orang yang merasa heran pada mereka berdua.
Belly tak sanggup lagi membendung air matanya. Hingga ia pun berlari kecil menghindari alan. Saat itu pun taksi online pesanannya sudah tiba. Hingga belly segera masuk kedalam mobil dan pergi.
"Bell!!! Tunggu...." Alan memekik keras memanggil belly, ia pun berinisiatif untuk mengejar belly.
Mobilnya yang baru terparkir di pelataran rumah raja pun segera ia kemudikan dengan kecepatan tinggi.
"Alan mengenal belly?" Gumam alex didalam hati bertanya-tanya.
Raja yang baru saja keluar dari dalam rumah pun menyaksikan kepergian alan. Hingga raja dan alex saling bertatapan penuh tanya.
Alex hanya menggedikkan bahunya kearah raja tanda tak mengerti apapun.
"Ck! Kau kemari disaat yang tak tepat! Aku harus pergi." Raja pun menghampiri alex yang berdiri mematung didepan halaman rumahnya.
"Apa kau ingin mengejar belly juga?" Tanya alex menatap dalam raja.
"Juga??? Ada orang selain aku??" Raja balik bertanya.
__ADS_1
"Alan, dia pergi mengejar belly!" Jelas alex.
"What?? Alan?" Raja membulatkan matanya, ia terkejut mendengar penuturan alex. Tanpa basa-basi, raja segera menuju mobilnya yang terparkir di garasai rumah. Sama dengan alan, raja pun mengemudikan laju kendaraannya dengan cepat.
"Raja.... Hey tunggu! Bagaimana denganku??" Alex berteriak. Ia tak tahu apa yang terjadi pada alan, belly dan juga raja. Ia pun bingung harus bagaimana. Hingga ia memutuskan untuk pulang dengan taksi. Karena saat ke rumah raja, alex menaiki mobil alan sepupunya.
Di dalam mobil, alan terus mengejar taksinyang ditumpangi belly. Hingga taksi itu berhenti di depan sebuah supermarket. Alan menghentikan laju mobilnya ketika melihat belly keluar dari taksi.
Dengan langkah cepat alan mengejar belly dan memegangi tangan belly.
Belly yang merasa tangannya tersentuh pun segera menengok kebelakang. Sosok alan disitu sudah berdiri tegak dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.
"Bell, jangan lari lagi... Aku mohon ijinkan aku bicara denganmu.. " Alan memasang wajah melasnya.
Seketika itu raja datang dengan amarah yang memuncak, ia segera menepiskan tangan alan dan langsung menggandeng tangan belly.
"Lepaskan!" Bentak raja pada alan.
"Raja?...." Belly menelan salivanya merasa takut melihat raut wajah raja.
"Aku hanya ingin bicara dengan belly, tolong jangan ikut campur." Ucap alan menatap tajam kearah raja.
"Jangan mengganggu belly!" Tegas raja.
Belly menatap kearah raja yang terlihat sangat kesal, ia pun melepas pegangan tangan raja.
"Aku hanya ingin berbicara sebentar." Ucap belly pelan pada raja.
"Bicara saja disini!" Ucap raja dengan nada tingginya.
"Hanya berdua bell.." Alan menatap kearah belly, ia tak ingin raja bergabung pada mereka. "Hanya sebentar, kau tunggulah disini." Jelas belly pada raja.
Raja hanya diam, melihat belly berjalan meninggalkannya. Kemudian alan menyusulnya dari belakang.
Belly dan alan kini berada di sebuah cafe yang bersebelahan dengan supermarket. Alan memesan dua gelas jus mangga. Ia tahu belly sangat menyukai jus mangga.
"Minum bell.." Alan menyerahkan satu gelas jus dihadapan belly.
"Terimakasih." Belly hanya berkata singkat.
"Bell, sebenarnya aku tak mengerti mengapa kau..."
"Aku sudah menikah all." Belly dengan cepat memotong perkataan alan.
__ADS_1
Deg! Jantung alan seakan berhenti berdenyut. Ia meminum jus mangganya hingga tandas.
"Bell?" Alan seakan tak percaya pada ucapan belly.
"Alan, aku sudah menikah dengan raja. Dia adalah kekasih maura saudara tiriku. Disaat hari pernikahannya maura kabur tak tahu kemana hingga aku harus menjadi pengantin dalam satu hari untuk menggantikan posisi maura." Dengan berat hati belly menjelaskan ini semua. Ia tahu alan akan kecewa, tapi ini lebih baik. Karena alan berhak tahu apa alasan belly memutuskannya.
"Apa-apaan ini bell? Menikah? Ini semua terpaksa bukan? Ta..tapi...." Alan tak percaya ini semua terjadi. Alan memegangi kepalanya yang terasa berat.
"All, tolong lupakanlah aku. Aku sudah menikah dan menjadi istri orang lain. Aku harap kau akan menemukan cinta sejatimu diluar sana." Jelas belly lagi.
"Tapi, cinta sejatiku adalah dirimu bell! Aku tahu kamu tidak bahagia bersamanya bukan? Kamu memaksakan perasaanmu bell, kamu akan menyakiti dirimu sendiri!" Pikiran alan semakin kacau, ingin rasanya ia menjerit. Namun, ia tak mungkin melakukan itu karena ramai orang di cafe.
"All, aku bukan cinta sejatimu. Jika cinta sejatimu adalah aku, maka aku takkan mungkin meninggalkanmu seperti ini." Belly tak kuasa lagi menahan air matanya.
"Bell, aku tahu semua ini terjadi bukan sesuai keinginanmu. Kau tak bahagia bersamanya? Dia menyakitimu?" Alan pun memeluk tubuh belly yang duduk disampingnya, namun belly segera melepaskan pelukan itu.
"All, kita sudah berbeda. Aku mohon, lupakanlah aku.." Belly menatap kearah alan. Dilihat wajah kacau alan yang ada disampingnya.
"Bell, aku takkan bisa melupakanmu." Lirih alan.
Meskipun tak bisa mendengar pembicaraan alan dan belly, raja merasa sangat kesal melihat kedekatan diantara mereka. Apalagi alan semoat memeluk belly. Itu semua membuatnya geram. Hingga raja memutuskan masuk kedalam caffe dan menarik tangan belly hingga bangun dari tempat duduknya.
"Sudah selesai bukan bicaranya? Ini sudah lebih dari sebentar." Kedatangan raja sontak membuat keduanya kaget. Belly dengan segera mengusap air matanya.
"Bell, sebentar lagi. Beri aku waktu sepuluh menit lagi.." Alan memohon pada Belly. Ia tak menghiraukan kata-kata raja.
"Maaf all, aku harus pergi." Ucap belly.
"Bell, pembicaraan kita belum selesai." Alan tak mau mengalah. Ia mencoba untuk terus merayu belly.
"Kau tak mendengarnya??" Sergah raja menatap kearah alan.
"Ini tak ada urusannya denganmu! Jangan mencampuri urusan kami! Kau tidak tahu apapun!" Alan semakin kesal dengan raja yang terus melarangnya berbicara pada belly.
"Kau??? Aku adalah suaminya! Jangan pernah mengganggu istriku! Aku tak suka milikku diganggu apalagi disentuh oleh orang lain!" Raja merapatkan tubuhnya dengan tubuh alan. Ia menarik kerah baju alan kemudian menghempaskannya.
Belly yang melihat itu pun merasa semakin takut. Hingga ia terus memegangi baju bagian belakang yang dipakai raja.
"Sudah ayo kita pulang..." Ajak belly pada raja. Ia tak ingin ada pertengkaran. Apalagi disini sudah banyak orang yang menatap kearah mereka bertiga.
"Ingat! Jangan pernah menemui istriku lagi! Apalagi jika kau sampai mengganggunya." Raja pun terus menggandeng tangan belly dan membawanya keluar cafe.
Belly tahu, aksi raja itu adalah sebuah sandiwaranya. Belly ingin bersikap bahagia saat mendengar raja mengakuinya sebagai istri dan membelanya. Namun, ia tepiskan pikiran itu semua. Karena raja tak mungkin tulus mengatakan semua itu. Yang ia katakan hanyalan sebagian dari sandiwara pernikahan mereka berdua.
__ADS_1
🍒 Jangan lupa like dan komentarnya yaa readers... Othor tungguin, biar othor bisa Up lebih banyak lagi.. ☺