
Tok! Tok!
"Bell, buka pintunya.... Ini aku Alan."
Melihat situasi yang sudah aman karena Maura sudah pergi, Alan mengetuk pintu Rumah.
Belly dari dalam mendengar suara Alan memanggilnya. Ia berniat membukakan pintu namun perasaannya masih ragu karena takut Maura masih ada di luar. Jujur, tubuh Belly saat ini benar-benar lemas karena penuh dengan kekhawatiran saat Maura datang mencoba mencelakainya.
"Apakah Maura sudah pergi??" Belly bermonolog, semakin didekatkan tubuhnya kearah pintu mencoba mendengar suara diluar.
"Bell, bukalah. Maura sudah pergi!" Alan sedikit berteriak berharap Belly mendengarnya dan membukakan pintu.
Tak ada maksud lain, Alan hanya ingin memastikan keadaan Belly baik-baik saja. Alan saat ini sangat mencemaskan kondisi Belly.
Belly pun membukakan pintu perlahan, matanya kesana kemari mencari keberadaan seseorang dengan raut wajah cemas.
"Bell, dia sudah pergi. Apakah kau baik-baik saja??" Tanya Alan penuh kekhawatiran.
Belly menganggukan kepalanya pelan, tubuhnya berdiri di belakang pintu yang sedikit terbuka. Ia sengaja tak membuka lebar pintu, bahkan ia juga tak mempersilahkan Alan masuk.
"Huft..." Belly menarik kemudian membuang nafasnya yang tak beraturan. Matanya terpejam sejenak, kemudian ia pun membukanya kembali.
"Jangan khawatir Bell, Jika dia mengganggumu lagi aku akan memberinya pelajaran." Alan terus memperhatikan Belly, dapat tergambar jelas kecemasan diwajah semu pucatnya.
Sebenarnya Belly bukan takut menghadapi Maura, tapi Belly tak ingin Maura menyakiti bayinya. Ia sengaja menghindar agar Maura tak berbuat macam-macam dan mencelakai bayi yang tengah dikandungnya.
Ketika mobilnya masuk dihalaman Rumah, dari kejauhan Raja melihat sosok lelaki yang tak asing baginya tengah berdiri di depan pintu Rumahnya. Raja yang baru saja pulang dari kantor pun segera menghampiri pria itu.
"Apa yang kau lakukan?" Raja memegang pundak Alan sedikit kuat, dan tubuh Alan pun berbalik sehingga berhadapan dengan Raja.
Alan Mengatur nafasnya, mencoba 1bersikap sesantai dan sekalem mungkin untuk menghadapi Raja agar tak menimbulkan emosi seperti biasanya jika mereka bertemu.
"Raa..ja??" Belly yang mengetahui Raja sudah kembali dari kantor pun terkejut. Ia segera membuka lebar daun pintu dan mendekat kearah Raja. "Raja, Alan kemari karena....."
"Aku tak ingin kau menemui istriku lagi, aku sudah berkali-kali memperingatkanmu bukan?? Tapi sepertinya kau tak mengerti!!" Tatapan Tajam mata Raja terhadap Alan penuh dengan emosi. Ingin sekali rasanya ia menghajar laki-laki yang terus mengganggu istrinya itu.
"Bell, aku permisi pulang!" Alan tak menanggapi Raja, ia tak mau banyak bicara. Karena jika meladeni Raja, mereka pasti akan bergulat. Ia pun berpamitan pulang kepada Belly, karena ia tahu Belly saat ini butuh istirahat dan ketenangan.
Melihat aksi Alan, Raja semakin naik pitam. Dicengkramnya kuat-kuat kerah kemeja cokelat muda yang tengah dikenakan Alan saat ini. "Kau??????"
__ADS_1
"Raja!! Stop!!!!!, jangan berkelahi. Aku mohon...." Belly yang melihat Raja sudah bersikap kasar pada Alan pun mencoba melerai dengan memohon, ia menarik pergelangan tangan Raja. "Jangan Raja, jangan lakukan ini please....."
Melihat Belly memohon dengan mata yang telah berkaca-kaca, Raja pun akhirnya melepas tangannya, ia menghempas tubuh Alan hingga terhuyung.
Raja benar-benar tak mengerti, entah mengapa prilaku Belly ini malah menunjukkan jika ia sedang membela Alan.
Alan mencoba meredam amarahnya, ditatapnya tajam Raja yang semakin emosi didepannya. Kemudian tatapannya kembali menuju kearah Belly dengan mata yang berkaca-kaca. "Bell, aku permisi."
Alan melangkahkan kakinya mencoba meninggalkan kediaman Raja dan Belly. Namun sesaat langkahnya tiba-tiba terhenti. "Bell, jaga dirimu baik-baik."
Setelah mengucapkan itu, Alan pun langsung bergegas pergi sembari merapihkan kerah kemejanya yang sedikit berantakan.
"Hah???" Raja menatap heran kepergian Alan yang kini semakin menjauh, kemudian ia menatap kearah istrinya dengan penuh tanda tanya. "Ada apa ini??"
Raja seperti orang yang bo*doh, ia seakan tak tahu apa yang tengah terjadi. Ucapan terakhir Alan benar-benar membuatnya semakin kecewa.
"Raja, aku bisa jelaskan..." Belly mencoba meraih tangan Raja, namun Raja menepis tangannya pelan kemudian pergi masuk kedalam Rumah meninggalakan Belly sendiri.
"Raja, please dengarkan aku dulu... Kau akan terus salah paham jika begini." Belly pun segera masuk dan menutup pintu Rumah berusaha mengejar Raja.
"Raja, tolong dengarkan aku dulu. Aku bisa jelaskan semua yang kamu lihat itu tak seperti yang kamu fikirkan.." Belly menghampiri Raja yang kini berdiri di depan lemari pendingin sembari meneguk segelas Air mineral dingin.
"Aku sudah cukup sabar, aku sudah mencoba menutupi kemarahanku selama ini karena dia yang terus saja menemuimu."
"Raja, dia tidak menemuiku dengan sengaja...."
"Lalu?? Lalu apa Bell, apakah kalian berdua sengaja untuk bertemu??" Belum juga selesai, Raja sudah memotong ucapan Belly.
"Raja, dengarkan aku dulu. Tak bisakah kau mendengarkanku dan tidak terus memotong setiap ucapanku yang belum selesai??"
Belly sebenarnya tak ingin terus berdebat, namun karena Raja tak pernah mau mendengarkan penjelasannya, ia pun sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Hmmmmm...." Raja mengatur nafasnya yang tak teratur, berusaha untuk meredam emosinya dan sempat ingin menaikkan nada bicaranya juga. Raja hanya mencengkram kuat gelas yang ia pegang sebagai tumpuan emosinya. Kemudian meletakkan gelas itu diatas meja hingga air yang masih tersisa itu berjatuhan karena Raja meletakkan gelas dengan penuh penekanan. Beruntung saja gelas itu tak pecah.
"Apa, apa yang harus aku dengarkan?? Apakah kau akan bilang tentang pertemuanmu dengannya di toko kue tempo hari itu juga??"
Raja benar-benar tak bisa menutupi perasaannya saat ini.
"Bahkan kalian sering kali bertemu tanpa sepengetahuanku." Raja berkata sedikit lirih, namun telinga Belly dapat mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
"Raja, pertemuanku dan Alan itu tak disengaja. Benar-benar tak disengaja! Mengapa kau membahasnya? Bukankah tempo hari aku ingin menjelaskan hal itu tapi kau malah melarangku? Mengapa kau malah membahas masalah lain dan tidak fokus pada masalah yang sekarang??"
Belly tak habis fikir dengan sikap Raja, ia sama sekali tak memberikan kesempatan pada Belly untuk meluruskan semuanya.
Saat ini kepalanya semakin berdenyut. Tubuhnya terasa semakin lemas, rasanya ia tak kuat lagi untuk terus berdiri hingga harus mengencangkan pegangan tangannya pada meja makan.
"Masalah lain?? Tetap saja intinya kau bertemu dengannya!!!"
Raja meraup wajahnya dengan kasar, pandangannya mengarah kesana kemari. Tak mampu lagi matanya menatap Belly.
"Bell, aku sudah mengatakannya berulang-ulang kali bukan? AKU TIDAK SUKA JIKA DIA TERUS MENEMUIMU!!!!"
Kini nada bicara Raja sudah naik aatu oktaf dari sebelumnya.
"Apakah kau ingin terus menyakiti perasaanku, meski aku........... Arggggh!! Sudahlah, aku lelah. Benar-benar lelah!" Raja melonggarkan dasi yang melilit di kerah kemejanya. Ia pun meninggalkan Belly menuju kamarnya.
Air mata Belly kini menetes, tak kuat lagi ia membendungnya. Raja sama sekali tak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan semua yang terjadi.
Kenapa Raja, kenapa kau tak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dulu?
Belly tak sanggup lagi berdiri, ia perlahan menarik kursi dan mendudukkan bokongnya sedikit kasar.
Tubuhnya lemas, kepalanya pusing, penglihatannya pun sedikit berkunang-kunang.
Belly memegangi perutnya yang kini terasa sakit, dahinya mengeluarkan keringat dingin, tubuhnya pun terhuyung hingga tangannya mengenai gelas yang ada di atas meja.
PRANKKKKKKK!!
Gelas bekas minum yang Raja letakkan di atas meja itu pun terjatuh ke lantai hingga menimbulkan suara nyaring.
Raja yang baru saja melewati beberapa anak tangga pun mendengar suara itu dan menghentikan langkahnya. Ia berbalik arah mengurungkan niatnya ke kamar dan kembali ke lantai dasar mencari-cari letak asal suara.
Saat itu pula mata Raja terbelalak melihat apa yang ada didepannya.
"BELLY!!!!!".......
To be continue.....
๐Othor ngantuk, segini dulu yaa Readers... Besok sambung lagi.
__ADS_1
Kasih jejak dulu dong, bantu othor buat terus semangat UP.
Gomawo.... ๐