Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Melatih kesabaran Raja


__ADS_3

Setelah satu hari di rawat, akhirnya Belly sudah diizinkan pulang ke Rumah oleh Dokter karena kondisinya kini sudah membaik.


Selesai menebus resep Obat yang diberikan Dokter di Apotek Rumah Sakit, Raja kembali menemui istrinya di ruang rawat dan mengemasi barang-barang Belly untuk dibawa pulang.


"Sayang, ayo kita pulang.." Dengan penuh kasih sayangnya, Raja mengecup puncak kepala istrinya.


Belly hanya tersenyum kecil menanggapi perlakuan manis Raja. Hingga akhirnya mereka berdua pun keluar dari Rumah sakit dengan saling bergandengan tangan.


Di perjalanan pulang, mata Belly mengarah kesana kemari. Ia melihat beberapa pedagang di pinggiran jalan menjajakkan makanan. Hingga matanya pun menginginkannya.


"Emmm, Raja... Kita singgah sebentar ke pedagang bakso itu ya?" Ucap Belly dengan senyum sumringahnya.


"Bakso? Bukankah kau tak menyukai Bakso?" Tanya Raja heran pasalnya Belly selama ini tak pernah makan Bakso karena memang tak menyukainya.


"Tapi aku ingin memakannya Raja. Dengan sedikit kuah dan satu sendok sambal! Emm.... Aromanya bahkan membuatku ingin segera melahapnya.." Belly kini telah membayangkan bakso yang hendak disantapnya.


"Tapi Bell....." Raja tak melanjutkan kata-katanya, ia langsung saja menuruti permintaan Belly dan menepikan mobilnya didekat pedagang bakso keliling itu. "Tunggulah disini, aku akan membelikannya untukmu." Raja keluar dari mobil, ia pun langsung membelikan bakso untuk Belly.


Setelah beberapa menit, Raja kembali kedalam mobil dengan menenteng kantung plastik isi bakso.


"Sudah?" Tanya Belly dengan senyum sumringahnya.


"Ya, kita makan nanti di Rumah ya.." Ucap Raja sembari menyalakan mesin mobilnya.


Tak terasa sampailah mereka berdua di Rumah, di meja makan Raja menyiapkan mangkuk untuk wadah bakso yang tadi dibelinya.


Dengan tatapan tak sabar, Belly pun segera melahap semangkuk bakso dihadapannya. Namun, baru saja satu suapan ia menyudahi makannya.


"Ada apa Bell?" Melihat Belly tak lagi makan Raja menjadi khawatir.


"Kau tidak memberi sambal disini?" Tanya Belly dengan wajah malasnya.


"Sudah, tapi hanya sedikit." Ucap Raja.


"Ck! Aku sudah katakan bukan? Hanya satu sendok sambal Raja!" Ucap Belly terlihat kesal.


"Bell, kau baru saja sembuh dari sakit....." Raja mencoba membujuk istrinya yang menurutnya makin sensitif akhir-akhir ini.


"Aku sudah tak berselera makan!" Belly bangun dari duduknya, kemudian ia pergi ke kamar.

__ADS_1


"Bell....." Raja mencoba memanggil Belly, namun tetap saja Belly tak mengindahkan panggilannya.


"Hmmmmm....." Raja membuang nafasnya perlahan. "Ada apa sebenarnya Bell? Kenapa kau begitu sensitif sekali. Padahal biasanya kamu tidak pernah mempermasalahkan hal sepele seperti ini!"


***


Malam ini Raja tidur dengan lelapnya, sementara Belly merasakan perutnya begitu lapar.


"Raja...." Belly menggoyang-goyangkan tubuh Raja berniat membangunkannya.


"Hmmm..." Raja hanya menyahuti panggilan Belly dengan mata terus terpejam.


"Raja...." Rengek Belly lag berharap Raja akan segera bangun dari tidurnya.


"Iya..." Ucap Raja dengan suara serak masih dengan mata terpejam.


"Bangun Raja!" Belly masih menggoyangkan tubuh Raja. Kali ini dia menggoyangkan tubuh Raja dengan sedikit kuat agar Raja segera bangun.


"Iya. Ada apa Sayang..." Raja akhirnya membuka matanya. "Apakah sudah pagi?" Tanya Raja pada Belly dengan mengucek matanya perlahan.


"Sayang, ini masih jam satu malam... Kenapa sudah membangunkanku?" Tanya Raja pada Belly setelah menatap Jam dinding di kamarnya.


"Lapar?? Jadi, kau ingin makan apa? Aku akan buatkan.." Ucap Raja memberikan tawaran. Tingkah istrinya ini membuatnya begitu gemas. Tak biasanya Belly merengek manja padanya.


"Aku ingin makan sate yang ada di gang depan.." Dengan senyum bahagia pinta Belly pada Raja.


"Bell, ini sudah malam. Haruskah keluar membelinya?" Raja tak menyangka istrinya menginginkah makan sate malam-malam begini. Itu adalah hal yang menurutnya tak wajar.


"Tapi aku ingin makan sate itu Raja.." Rengek Belly sambil memegangi lengan suaminya.


"Bell, besok saja ya.. Besok aku akan membelikan sate yang banyak untukmu." Raja mencoba menolak permintaan Belly. Bukan karena tak ingin membelikan apa yang diinginkan Belly, tapi saat ini sudah dini hari dan Raja tak terbiasa keluar di jam-jam seperti ini.


"Raja, tapi aku sangat ingin makan sate itu..." Mata Belly mulai berkaca-kaca, ia tak menyangka jika Raja tak memenuhi permintaannya.


"Tapi Bell, besok saja ya.. Ini sudah malam, mungkin tukang satenya pun sudah pulang." Jawab Raja masih membujuk Belly. Berharap Belly mau mengerti.


"Baiklah, jika kau tak mau membelikannya. Tidurlah..." Dengan senyum miring, Belly menatap kearah Raja dan menyuruhnya tidur kembali.


"Aku akan membelinya sendiri!" Belly menyingkap selimut, ia kemudian turun dari ranjang dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


"Oh ya Tuhan... Apa lagi ini??" Raja pun bangun dari pembaringannya. Ia menyusul Belly yang kini sudah menuruni anak tangga dengan wajah yang ditekuk. Belly kali ini benar-benar ngambek.


"Bell, biar aku belikan satenya. Kau ingin bumbu apa? Kacang atau Kecap?" Tanya Raja menghampiri istrinya.


"Benarkah?? Bukannya kau tadi ingin tidur." Umpat Belly kesal.


"Tidak sayang, aku akan belikan untukmu." Ucap Raja membelai Rambut panjang istrinya yang wangi.


"Sate kambing bumbu kecap pakai lontong. Jangan salah..." Jelas Belly menuturkan keinginannya.


"Baiklah, tunggu di Rumah ya..." Raja mengecup pipi kiri istrinya. Ia tak ingin Belly marah lagi padanya. Mau tak mau, Raja pun harus keluar mencari pedagang sate yang diinginkan Belly.


Raja pun pergi keluar dengan memakai jaket, ia menggunakan motor maticnya menuju keluar gang.


Selang beberapa menit, Raja kembali dengan satu kantung pelastik ditangannya. Untung tukang satenya masih ada, jika tidak mungkin Belly akan marah lagi padanya.


Dengan udara malam yang dingin dan suasana yang sepi, Raja memberanikan diri dan ini yang pertama kali baginya keluar Rumah selarut ini. Semua itu demi Belly wanita yang begitu dicintainya.


Kedatangan Raja disambut dengan senyuman sumringah oleh Belly. Aroma sate yang kian menggoda penciumannya membuatnya tak sabar ingin segera menyantapnya.


Semua sudah disiapkan oleh Raja di piring, sate yang dipesan Belly sesuai dengan permintaannya. Kali ini Raja tak salah. Tapi Belly hanya memakan Satu tusuk sate saja dan sepotong lontong.


"Bell, kenapa tidak dilanjutkan? Apa ada yang salah dengan satenya?" Melihat Belly berhenti makan, Raja menjadi was-was. Ia takut kejadian bakso siang hari tadi akan terulang lagi.


"Tidak ada yang salah, aku mengantuk. Aku ingin tidur.." Ucap Belly dengan mulut yang menguap.


"Bell, habiskan dulu satenya." Pinta Raja karena merasa sayang jika sate yang ia beli dengan penuh perjuangan itu hanya dimakan sedikit oleh istrinya.


"Sudah, aku sudah kenyang Raja." Belly pun meninggalkan Raja yang hanya bisa diam dan melongo mengahadapi sikap istrinya itu.


"Ya tuhan, apa Belly hanya mengerjaiku??" Raja hanya bisa menelan salivanya, ia menarik nafas perlahan kemudian membuangnya dengan cepat.


Dengan kekesalan hati, akhirnya Raja lah yang menyantap sate itu.


Setelah selesai makan, ia pun kembali ke kamar untuk menyusul istrinya. Namun setelah toba di kamar, Belly sudah berbaring di Ranjang. Ditatapnya Belly yang kini sudah tertidur dan mendengkur halus.


Ya tuhan, kali ini kau benar-benar melatih kesabaranku Bell...


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2