Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Apakah sudah Berakhir?


__ADS_3

Setelah Faizal datang, Alan membawa Belly menuju ke Rumah sakit terdekat. Ia membungkus tubuh Belly dengan selimut tebal yang ada di kamar hotel tempat dimana mereka berdua berada, karena pakaiannya yang minim dan tentunya Alan tidak berani untuk menyentuh tubuh Belly meski kini dalam keadaan tak sadarkan diri.


Setibanya di Rumah sakit, Alan segera meminta dokter untuk menangani Belly. Sangat kebetulan, hari ini dokter Yulia yang menangani Belly.


"Dok, tolong selamatkan Belly!!!" Pinta Alan dengan penuh harap kepada dokter Yulia.


"Pak Alan? tenanglah, saya akan memeriksanya." Ucap dokter Yulia, kemudian ia pun segera masuk ke dalam ruangan dimana Belly dirawat.


Setelah beberapa menit, akhirnya dokter Yulia keluar dan memberi kabar kepada Alan. Saat itu pula Alan terlihat khawatir dengan tubuh yang terus gemetar.


"Dok, bagaimana keadaan Belly?"


"Pak Alan, kondisi ibu Belly sangat memprihatinkan! Dan bayinya saat ini sangat lemah, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Saya tidak tahu dok, saya baru bertemu Belly hari ini."


"Oh begitu, lalu dimana pak Raja suaminya?" Mata dokter Yulia celingukan mencari-cari keberadaan sosok Raja. Namun ia hanya melihat orang lain berdiri di belakang Alan. Dan ia merasa tak pernah melihat pria itu sebelumnya.


"Raja, Raja sedang ada urusan." Hanya itu alasan yang dapat Alan katakan untuk menutupi hal yang telah terjadi diantara mereka.


"Baiklah jika begitu." Dokter Yulia memperhatikan keadaan Alan dengan intens.


"Pak Alan, apa terjadi sesuatu? Harusnya bapak mengobati luka anda terlebih dulu."


"Benar pak, sebaiknya anda periksakan luka anda lebih dulu." Sambung Faizal.


"Kondisi lukaku tidak penting, bagiku Belly yang utama!" Alan mengeratkan genggam tangannya menjadi kepalan yang kuat. Ia bertekat akan segera membalas semua perlakuan Maura terhadapnya dan juga Belly.


"Maura, aku tidak akan mengampuni!" Umpat Alan dalam hati. Ia terus menerus mengutuk Maura.


"Pak, anda juga harus mendapat perawatan. Jika anda lemah, maka tidak akan bisa membantu ibu Belly." Rupanya bujukan Faizal mampu meluluhkan hati Alan, hingga ia pun mau untuk diobati.


Dokter Yulia pun meminta seorang perawat untuk segera menangani luka pada tubuh dan wajah Alan. Namun Alan lebih memilih mengobatinya sendiri hanya dengan mengoleskan salep dan meminum obat pereda nyeri saja. Ia tak ingin melewatkan waktunya untuk meninggalkan Belly. Ia tetap ingin menunggu Belly didepan ruangan rawatnya saat ini.


Dari dalam, seorang perawat keluar dengan wajah yang sedikit panik.


"Dokter, kondisi pasien melemah!"

__ADS_1


"Apa?!!!" Dokter Yulia pun segera masuk kedalam ruangan Belly dan segera melakukan pemeriksaan pada tubuh Belly.


Hal itu membuat Alan semakin mengkhawatirkan keadaan Belly dan janinnya. Ia menyudahi aktivitasnya mengoleskan salep pada bagian tubuhnya.


Beberapa menit kemudian....


"Bagaimana kondisi Belly dokter? " Alan memasang wajah khawatir bercampur dengan rasa bersalahnya. Ia segera ingin tahu keadaan Belly kepada dokter Yulia yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Dengan berat hati, kami meminta maaf pak. Janinnya tidak bisa diselamatkan..."


Dokter Yulia tidak bisa bertindak lebih, karena yang berhak atas nyawa seseorang adalah Tuhan. Baginya profesi seorang Dokter hanyalah perantara saja.


"Ma...maksud dokter........?"


"Kita harus segera melakukan tindakan Kuret!"


"Dokter, coba cek sekali lagi saya yakin pasti ada kesalahan!"


"Pak Alan, tolong segera ke bagian admin. Ibu Belly dan janinnya harus segera dilakukan tindakan!"


Dokter Yulia tak ingin lebih lama lagi, ia ingin Alan segera melakukan persetujuan tindakan kuret sebagai wali dari Belly, dengan menandatangani beberapa berkas yang sudah disiapkan oleh pihak Rumah sakit.


"Ya Tuhan, tolong selamatkan Belly..."


Alan meminta Faizal segera menghubungi Raja, karena bagaimanapun Belly masih tanggung jawab Raja. Namun, beberapa kali nomor telepon Raja tak bisa dihubungi.


Alan pun segera menghubungi Alex, ia yakin Alex akan memberitahu kabar ini segera kepada Raja.


Dan benar saja, setelah Alan mengirimkan pesan pada Alex, ternyata fast respon yang ia dapatkan.


"Pak Alan, tidak ada waktu lagi!" Dokter Yulia mencoba mengingatkan Alan.


"Jika kita tidak segera melakukan tindakan, maka akan berbahaya bagi ibu Belly." Lanjut dokter Yulia yang terkenal dengan mulut pedasnya itu.


Alan tak punya pilihan lain, ia dengan segera menandatangani berkas yang sudah disediakan kepadanya sejak beberapa menit lalu. Ia akan bertanggung jawab sebagai wali dari Belly.


Dengan hati yang bergemuruh, tubuhnya yang terus bergetar Alan mengukir tanda tangannya diatas kertas.

__ADS_1


Sejak itu pula, ia bertekad dalam hatinya untuk terus bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada Belly.


"Aku akan bertanggung jawab atas dirimu Bell! Percaya aku..." Alan terus menatap wajah Belly yang terlihat pucat. Di atas brankar tubuhnya berbaring lemah dan didorong oleh beberapa perawat menuju ruang tindakan. Dapat terlihat beberapa selang yang menempel di tubuhnya.


***


"Raja! Please...." Pinta Alex merayu sahabat sekaligus bossnya itu untuk segera menemui Belly di rumah sakit.


"Kau saja yang kesana!" Jawab Raja dengan nada tinggi dan penuh kekesalan.


"Raja, bagaimana bisa kau bersikap seperti itu? Belly istrimu!" Alex mendekati Raja yang terus berkutik dengan laptop di mejanya. Ia berusaha untuk merayu dan menyadarkan sahabatnya yang sudah salah arah itu.


Alex juga kesal pada Raja yang lebih mempercayai Maura daripada mencari bukti terlebih dahulu tentang skandal Alan dan Belly.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Belly? Kau begitu peduli padanya!"


Mata Raja menatap Alex penuh selidik, dengan tangannya yang mencengkram kuat kerah baju kemeja Alex.


"Raj...."


"Apa kau juga menyukainya? Kau mau menusuk sahabatmu sendiri?"


Brukk!!!


Alex mendorong tubuh Raja hingga terhuyung kebelakang mengenai meja kerjanya. Ia merasa tak terima jika Raja menuduhnya seperti itu. Sikap Alex hanyalah menunjukkan sebagai kepedulian terhadap istrinya, bukan seperti yang dituduhkan Raja padanya.


"Aku tak seperti itu Raja!" Alex pergi begitu saja meninggalkan Raja di dalam ruangan kerjanya. Ia segera menuju ke Rumah sakit untuk menemui Alan.


"Arghhhhh!!!!!!" Raja berteriak, ia mengacak beberapa berkas di atas meja hingga berhamburan jatuh ke lantai.


Setelah melampirkan kemarahannya, Raja menangis menatap nasib dirinya. Apalagi ketika ia mendengar kabar dari Alex jika Belly saat ini sedang kritis di rumah sakit.


Hatinya terasa hancur, tak bisa ia melupakan kejadian saat melihat istrinya berada dalam satu selimut dengan pria lain. Otaknya seperti sebuah kaset yang terus saja menyetel ulang kejadian yang tak ingin ia ingat.


"Kenapa Bell, kenapa kamu membohongiku??" Raja berkata lirih.


Tess!!

__ADS_1


Tak terasa air matanya pun menetes, namun segera ia usap. Ia tak ingin terlihat lemah oleh siapapun apalagi saat ini sedang berada di kantor.


"Apakah kita benar-benar sudah berakhir Bell??"


__ADS_2