Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Masih Sandiwara


__ADS_3

Belly keluar dari kamarnya tepat jam tujuh malam, ternyata belly tak sadar jika ia tidur sangat lama.


Belly keluar dari kamarnya, ia menatal meja makan sudah rapi serta tak ada lagi piring ataupun gelas kotor.


"Mungkin bu siti yang membereskannya, tidak mungkin ini kan hari libur? Bu siti tidak bekerja hari ini." Belly bertanya-tanya sendiri.


Belly mengarah keluar, dilihatnya juga tak ada siapapun. Raja dan teman-temannya sudah tak ada lagi di ruang tamu, namun terlihat dari jendela mobil raja masih ada di depan rumah.


"Mungkinkah dia sudah kekamarnya. Hmm ya sudahlah, aku mau mandi saja."


Belly berbelok arah, namun ia menabrak tubuh seseorang yang ternyata sejak tadi sudah dibelakangnya.


"Aw...." Tubuh belly menabrak raja.


"Kau tak punya mata?" Raja masih bersikap dingin padanya.


"Kau yang berdiri disini. Mana aku bisa lihat! Mataku kan di depan, bukan dibelakang!" Belly merasa kesal, hingga ia terus berjalan meninggalkan raja menuju kamarnya untuk mandi.


"Dia fikir hanya dirinya saja yang bisa memaki dan marah-marah. Aku pun bisa, aku lelah jika terus mengalah pada manusia es itu." Belly terus meromet kesal.


Selesai mandi, belly keluar kamarnya dan menuju dapur. Dilihatnya di meja makan sudah ada raja yang sedang duduk. Belly yang merasa masih kesal pada raja pun diam saja, ia tak mau memancing kemarahan raja.


"Duduklah.." Raja membuka suaranya. Sontak membuat belly jadi merasa aneh. Tanpa kata-kata apapun, belly duduk di kursi yang berhadapan dengan raja.


"Makanlah ini." Raja menyodorkan satu kotak pizza kearah belly.


"Terimakasih." Belly menerima satu kotak pizza dari raja. Belly yang merasa tengah kelaparan pun langsung mengambil sepotong pizza dan melahapnya.



"Emm... Yummy.." Belly meracau sembari menikmati pizza.


"Heh, seperti tak pernah makan saja!" Raja yang melihat tingkah belly pun merasa aneh dengannya.

__ADS_1


"Aku tak pernah makan pizza..."


"Apa?? Bukankah kau seorang lulusan universitas di singapore? Kau tak pernah memakan pizza?" Raja terkejut dengan pengakuan belly.


"Hmmm, aku tak pernah memakan pizza pemberian darimu. Maksudku, aku tak pernah memakan apapun yang kau beri. Oh aku lupa, maaf selama ini kau pun tak pernah memberikan apapun padaku. Ini pertama kalinya kau memberiku makanan.. Terimakasih...." Belly tak memanggil raja dengan sebutan tuan lagi, ia saat ini pun sedang bingung harus memanggil raja dengan sebutan apa.


Deg! Pengakuan belly sontak membuat raja merasa bersalah. Selama menjadi istrinya, raja memang tak pernah membelikan apapun untuk belly.


"Hm...Ehem!" Raja pun merasa tenggorokannya seret. Hingga ia berdehem. "Makanlah, aku memberimu ini tidak gratis. Ini adalah bentuk terimakasihku karena kau sudah bersandiwara dengan baik dihadapan teman-temanku tadi." Jelas raja.


Belly pun menghentikan aktivitas mengunyahnya.


"Apakah kau selalu menganggap semua sikap dan perbuatanku ini sebuah sandiwara?"


"Tentu saja. Kau harus bersikap seperti itu didepan orang lain bukan? Kau tahu jika dari awal kita memang sedang bersandiwara. Aktingmu memang bagus.." Raja mengambil segelas air lalu meneguknya.


"Apakah kau akan menganggap pernikahan kita sebagai sandiwara juga?" Tanya belly lagi, kini belly memberanikan diri untuk menatap mata raja.


"A..apa maksudmu? Jelas pernikahan ini memang sandiwara dari awal bukan?" Raja pun menatap lekat mata belly yang mulai berkaca-kaca.


"Habiskanlah, aku harus pergi keluar." Raja pun meninggalkan belly sendiri. Ia pergi membawa mobilnya keluar rumah.


Setelah kepergian raja, belly langsung menumpahkan air matanya yang telah ia bendung sejak tadi.


Belly menangis tersedu meratapi nasib pernikahannya. Meskipun awalnya belly tak pernah menginginkan pernikahannya dengan raja, namun belly perlahan mencoba menerima dan menjalaninya dengan ikhlas. Tapi tidak dengan raja, mendapat pengakuan raja seperti itu belly merasa hatinya sangatlah sakit.


Belly terus menangis hingga ia lelah, tak terasa ia pun tertidur dengan wajah yang berada diatas meja.


Pukul sepuluh malam, raja memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah. Ia mencium aroma semerbak bunga-bunga yang bermekaran ditaman kecil samping rumahnya. Melihat bunga itu mekar, hati raja merasa senang dan damai. Bunga warna-warni itu mampu memikat matanya.


Raja masuk kedalam rumah, pintu tak terkunci. Biasanya belly selalu menyambutnya jika ia pulang meskipun tengah malam. Namun malam ini belly tak menyambutnya.


Mungkin dia sudah bosan, siapa suruh sok mengurusiku. Hmmmm...

__ADS_1


Gumam raja dalam hatinya. Raja melangkah menuju anak tangga untuk ke kamarnya. Namun langkah kakinya terhenti mendapati belly yang masih berada di meja makan. Ia mengendap-endap melangkah mendekat ke arah belly. Namun saat ia melihat dengan jelas, ternyata belly sedang tidur. Raja melihat pizza yang ia berikan tadi masih banyak tersisa, sepertinya belly hanya mengambil sepotong saja.


Ia hendak membangunkan belly, namun niat itu diurungkannya. Raja pun pergi ke kamarnya di lantai dua meninggalkan belly.


Stelah seleaai membersihkan diri, raja turun ke bawah. Ia kembali karena lupa mengunci pintu depan rumah tadi. Raja mengarah ke dapur dan mendapati belly masih tertidur dengan posisi yang sama.


Apakah dia tidak merasa pegal tidur seperti itu? Dasar wanita ini, sangat merepotkan!!


Raja membopong belly menuju ke kamar yang di tempati belly. Ketika raja membuka kamar itu sangat wangi akan bunga. Sepertinya belly menaruh beberapa vas berisi bunga-bunga segar di dalam kamarnya.


Raja meletakkan tubuh belly perlahan, kemudian menyelimutinya. Ditatapnya dalam wajah belly, matanya yang terlihat sembab.


Apakah dia menangis lagi, apa dia tidak memiliki pekerjaan lain selain menangis? Wanita ini hanya bisa menangis. Tak lelahkah dia setiap hari harus mengeluarkan air mata? Dasar wanita cengeng!


Belly tersadar dari tidurnya, tenggorokannya terasa kering dan tubuhnya sedikit pegal. Belly meregangkan otot-ototnya dan perlahan membuka matanya. Namun ia terkejut mendapati ada raja dikamarnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya belly dengan suara parau khas bangun tidurnya.


"Kau fikir aku mau apa?" Raja malah balik bertanya.


"Kau ingin tidur disini?" Tanya belly asal menebak.


"Jangan mimpi! Bangunlah dari mimpimu itu!" Raja berkata dengan nada tinggi.


"Hmm, lalu mau apa? Apa kau butuh sesuatu?" Belly yang sudah terbiasa akan nada bicara raja pun hanya bisa menarik nafasnya.


"Kau bahkan tak sadar mengapa aku disini? Dasar merepotkan! Besok jika ingin tidur jangan di meja makan, karena aku menyediakan kamar untukmu tidur." Raja pergi begitu saja meninggalkan belly.


Setelah mendengar perkataan raja, belly baru ingat jika ia tadi tertidur di ruangan makan.


Apakah dia membawaku kekamar? Dia menggendongku? Oh, tidak....


🍒Tuan raja masih aja garang ya readers... Jangan lupa tinggalkan jejak ya di karya aku. Gift,like,coment.... Othor tunggu.. 😊🙏

__ADS_1


Mampir juga dinovelku, ASMARA YANG TERLUPAKAN. Othor tunggu juga jejak² readers semua....


__ADS_2