
Celenting!
Suara sebuah nada pesan pada Aplikasi WA di ponsel Raja terdengar nyaring. Dengan segera ia meraih ponselnya yang terletak di atas meja.
Sebuah nomor tak dikenal, mengiriminya pesan video, "Ck! apakah nomor teleponku sudah menyebar hingga akhir-akhir ini banyak sekali nomor tak dikenal menggubungiku,"
Raja menggerutu, ingin ia membuka pesan itu namun sedikit ragu. Ia ragu jika pesan itu hanya sebuah Spam.
"Buka saja. Barangkali penting," sahut Bastian yang kala itu ada bersamanya.
Namun berbeda dengan Alex. Kali ini ia hanya berdiam diri tanpa komentar apapun. Alex hanya melirik sebentar kearah Raja, kemudian ia beralih lagi fokus pada ponselnya sendiri.
Raja menghela nafas panjang, ia merasa seperti ada yang kurang pada sahabatnya. Biasanya Alex yang akan memberikan saran kepadanya, namun kali ini Alex hanya diam.
Memang semenjak pertengkaran mereka terakhir kali, Alex lebih banyak diam hanya bicara seperlunya saja kepada Raja. Begitu pula dengan Raja. Ia tak mau ambil pusing, hanya sebatas kepentingan kerja saja ia akan berbicara pada Alex. Namun karena hari ini Bastian mengajak mereka berdua untuk makan bersama, membuat keduanya saling tak nyaman.
Harapan Bastian hanyalah mempersatukan kedua sahabatnya itu kembali. Namun sepertinya usahanya kali ini tidak sempurna alias gagal.
Raja kembali meraih ponselnya, kemudian ia segera membuka sebuah video yang dikirim oleh nomor yang tak tersimpan pada kontaknya.
Matanya pun terbelalak lebar, telinganya mendengarkan jelas suara pada putaran video itu.
"Shi*t!!!!" Raja mengeratkan genggaman tangannya. Diletakkannya ponselnya di atas meja dengan sedikit kasar.
Mendengar Raja mengumpat, kedua sahabatnya itu pun terkejut. Hingga Bastian dan Alex saling bertatap.
"Ada apa Ja?" tanya Bastian. Karena hanya Bastian lah yang akan berbicara lebih dulu saat ini. Tak seperti dulu, jika Alex yang biasa lebih dulu berbicara dari semua peristiwa-peristiwa yang mereka lalui.
Bukannya menjawab, Raja malah beranjak dari tempat duduknya dan menampakkan ekspresi tak enak dipandang mata.
Ia berjalan seperti orang yang sedang kebingungan dan tak tahu arah. Melihat hal itu Alex segera meraih ponsel Raja yang tadi sempat diletakkan di atas meja dan ikut melihat video yang baru saja diputar oleh Raja.
"Ya Tuhan, celaka besar!", Alex mengajak Bastian segera mengikuti kemana Raja pergi. Hingga keduanya pun segera beranjak untuk mencari Raja.
"Lex, itu raja!"
"Ayo Bastian, jangan sampai kita kehilangan dia. Raja pasti sangat terpukul kali ini," Alex segera mengambil langkah seribu berharap tak kehilangan jejak Raja.
Namun sepertinya Alex dan Bastian terlambat. Raja sudah lebih dulu memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Tak diam begitu saja, Alex dan Bastian juga segera memasuki mobil dan mengejar kemana mobil Raja melesat dengan cepat.
Tak ada lagi yang Raja fikirkan kali ini selain menuju ke sebuah tempat. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, bahkan ia berharap mobilnya kali ini bisa terbang agar tak terkena kemacetan di jalan Ibu kota. Raja memilih jalan tol agar lebih cepat sampai pada tujuannya.
"Belly..", ucap Raja lirih. Setelah sekian lama ia tak mengucap nama mantan istrinya itu, ternyata kali ini rasanya berat sekali. Mungkin karena rasa bersalahnya yang semakin besar terhadap Belly, mungkin juga karena rasa sayangnya yang tak mampu ia tutupi.
"Aku bodoh! Begitu bodoh," Raja mengingat satu persatu semua kejadian yang menimpa Belly dan kini ia hanya bisa menyesalinya.
Ia menyesal karena tidak mempercayai ucapan Belly dan lebih mempercayai Maura yang jelas-jelas sudah pernah membohonginya.
Tak terasa airmatanya pun menetes, "Bell, maafkan aku."
__ADS_1
Raja tak tahu lagi seberapa kencang kecepatan mobilnya. Yang jelas, kekacauan dalam dirinyalah yang menyebabkan ia tak lagi bisa berfikir jernih.
Setumpuk penyesalan dalam dirinya sudah memenuhi isi kepalanya, hanya kata maaf yang terus keluar dari mulutnya. Kata maaf untuk Belly, yang entah mungkin ia akan mendapatkannya dari Belly atau tidak.
Jika mengingat semua perbuatannya, maka ia yakin takkan mendapat kata maaf yang begitu diharapkannya.
BUMB!!! BRAKKK!!!
CIIIITTTTTTTTTT..
Raja tak bisa mengelak, Mobil yang dikendarainya menabrak sebuah mobil truk pengangkut besi didepannya.
Tak ada lagi yang dirasa oleh Raja. Yang terdengar hanya suara bising orang-orang namun terdengar semakin samar-samar.
...****************...
PRANK!!!!
"Ya Tuhan!" Belly terkejut mendapati gelas yang tersenggol oleh lengannya jatuh berkeping di lantai.
"Bell, ada apa?" Alan yang baru saja datang dari luar berjalan menuju dapur unit Apartemennya pun bertanya pada Belly karena mendengar suara benda yang jatuh.
"Alan?"
"Bell, tetap disitu. Jangan bergerak," Alan segera berlari mengambil sebuah sapu dan lap yang dibasahi air olehnya.
Perkataan Alan bak sebuah perintah yang tak bisa dilanggar oleh Belly, hingga ia menurut saja tetap diam di tempat tak bergerak.
Karena Alan masih memakai sepatu, ia pun memberanikan diri mendekati Belly.
"Maaf," Alan sedikit ragu, namun ia harus melakukan ini, ia tahu jika Belly saat ini dalam keadaan tegang. Alan pun membopong tubuh Belly perlahan menuju ke kursi meja makan.
Belly tak berkata apapun ketika Alan mengangkat tubuhnya, namun dengan gerakan reflek ia malah mengalungkan tangannya di leher Alan. Bukan apa-apa, Belly hanya ingin berpegangan karena takut terjatuh.
"Duduklah disini, aku akan membersihkannya lebih dulu," ucap Alan setelah mendudukkan Belly di salah satu kursi.
Belly hanya mengangguk, dipandanginya Alan yang begitu telaten membersihkan sisa-sisa pecahan gelas di lantai. Kini kesadarannya pun buyar, fikirannya malah teringat akan Raja.
"Hati memang tidak bisa dipaksakan. Sebaik apapun kamu Al, meskipun kamu terus bersamaku, tapi aku selalu mengingat Raja."
Belly semakin merasa bersalah terhadap Alan. Tak ada hal yang spesial timbul dihatinya saat dekat dengan Alan. Meski kini ia sudah berpisah dari Raja.
Sebesar inikah cintanya pada Raja? Apa ini yang dinamakan cinta buta? Buta karena tak melihat kenyataan jika Alan yang selalu ada untuknya, tapi ia malah terus memikirkan Raja yang jelas-jelas selalu menyakitinya.
Alan hanya tersenyum menanggapi ucapan Belly, ia pun segera menyelesaikan kegiatannya dan membuang sisa pecahan gelas di tempat sampah.
Setelah selesai, ia pun segera mencuci tangannya diwastafel.
Sebenarnya, Alan juga tak ingin mengambil hati atas ucapan Belly. Namun, dia juga manusia yang hatinya bisa rapuh kapan pun jika selalu mendapatkan penolakan dari Belly. Meski ia sudah bersikeras membuat Belly jatuh kepadanya.
Kesabaran demi kesabaran terus ia lakukan, kendatipun ia tahu jika perasaannya takkan mendapatkan balasan dari Belly sampai kapanpun.
__ADS_1
Padahal, jika difikir lagi ia tak ada kurang apapun dari Raja. Bahkan ia merasa lebih baik dari Raja. Jika fikiran jahatnya keluar, ingin sekali ia menghabisi Raja dengan tangannya sendiri jika tidak mengingat Belly akan terluka olehnya.
"Al," panggil Belly ketika Alan tak juga mematikan kran air.
"Ya." Tanpa menoleh, Alan segera mematikan kran air yang sejak tadi mengucur karena aktivitas cuci tangannya.
"Alan, aku tidak bermaksud untuk terus melukai perasaanmu. Tapi...,"
"Bell, aku tahu, tanpa penjelasan darimu aku sudah paham. Baiknya kau segera berkemas, karena kita akan pergi ke Singapura besok pagi."
Tak ingin berdebat membahas masalah hati yang hanya akan membuatnya semakin terluka, Alan pun memilih untuk membahas masalah kepergian mereka besok ke negeri tetangga tepatnya Singapura untuk melakukan pengobatan terhadap Prass ayah Belly.
Tak ingin membantah Alan, Belly pun memilih bungkam tak melanjutkan perkataannya yang sempat belum selesai. Ia pun segera pergi untuk mempersiapkan barang-barang ayahnya yang akan dibawa ke Singapura besok.
Sebelumnya Alan sudah membahas masalah pengobatan ayahnya. Namun Belly tak mengira jika keberangkatan mereka secepat ini. Sudah terbiasa bagi Belly menuruti perintah Alan karena memang Alan tak pernah mau meminta pendapatnya terlebih dulu sebelum mengambil keputusan.
Setelah selesai membereskan perlengkapan Prass Belly keluar kamar. Namun ia mendapati Alan tengah berdiri dengan ponsel ditelinganya seperti sedang berbicara serius kepada seseorang.
Suara Alan terdengar pasrah seakan ada beban yang tertinggal dalam dirinya. Hingga Belly dapat dengan jelas mendengar obrolan Alan dengan ponselnya itu.
"Apa?? Aku akan membawanya pergi besok ke Singapura," Alan menghembuskan panjang nafasnya.
"Baik. Aku percaya kau bisa membereskan semuanya."
Alan menutup sambungan telepon, kemudian ia berbalik arah untuk menuju kamarnya. Namun ia terkejut saat mendapati Belly berdiri di depan pintu kamar Prass sedang menatapnya dengan tajam.
"Belly?"
"Al, apa terjadi sesuatu?," seolah menunggu jawaban dari Alan. Belly melontarkan pertanyaan karena ia yakin jika saat ini ada sesuatu hal yang Alan sembunyikan.
"Oh, tidak. Kau tidak perlu memikirkannya Bell," sebiasa mungkin Alan mencoba untuk terlihat baik-baik saja seolah tak ada masalah apapun.
"Hanya masalah kecil, jangan khawatir," lanjut Lain berusaha menutupi semuanya dari Belly.
"Kecil? Kau yakin?" Belly masih tak percaya.
"Emm, ya."
"Tapi aku merasa jika ada hal yang sedang kau sembunyikan Al," Belly masih ragu akan perkataan Alan.
"Bell, istirahatlah. Besok kita harus pergi pagi-pagi."
Alan pun melemparkan sebuah senyuman kecil kepada Belly. Ia kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.
"Aku harap tak ada yang kau sembunyikan dariku Al, karena jika sampai aku mengetahuinya dari orang lain aku mungkin....,"
"Semua kemungkinan yang akan terjadi sudah aku perhitungan sejak awal Bell. Jika kemungkinan yang kau inginkan itu terjadi, maka aku akan menanggung resikonya. Karena ini sudah pilihanku."
Alan selalu saja bisa membalas perkataan Belly. Hingga membuat Belly merasa percuma jika ia harus memberi sebuah argumennya meski hanya sedikit menggertak Alan.
Seolah Alan sudah berfikir panjang sebelumnya, ia bahkan tak mengindahkan sedikitpun perkataan Belly. Alan juga tak pernah terlihat mengambil hati karena Belly selalu saja bersikap mengecewakan dirinya.
__ADS_1
To be continue.....