Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Kesepian


__ADS_3

Seperti biasanya, ketika alan hendak pergi ke kantor ia menaiki lift untuk menuju lantai dasar. Baru saja satu lantai turun, lift sudah berhenti. Seketika pintu lift pun terbuka, dua orang wanita tengah bercengkrama dan bercanda memasuki lift Tanpa menatap ke arahnya.


Alan seketika itu pun terkejut, ternyata salah satu diantara wanita itu adalah belly. Wanita yang begitu ia kenal.


"Bell?" Saat pintu lift tertutup alan pun menyapa belly.


Belly dan steva pun menengok ke arah asal suara di belakang mereka.


Deg!


"Allannn??" Belly seperti sedang tertangkap dari persembunyiannya. Bagaimana bisa ia bertemu lagi dengan alan di apartement ini.


"Bell? Kau disini?" Tanya alan ingin tahu, pasalnya ia sudah beberapa kali bertemu dengan belly disini.


"Eh, i..iya." Ucap belly terbata sembari terus menundukkan kepalanya.


"Belly bekerja bersamaku. Apakah tuan penghuni apartement ini juga?" Sambung steva, ia tahu jika saat ini belly merasa tidak nyaman setelah bertemu alan.


"Oh, ya aku di lantai 12." Alan memicingkan senyumnya pada steva. Kemudian ia kembali menatap ke arah belly yang telah membelakanginya kembali.


"Emm, rupanya kita bertetangga.." Sahut steva sembari mengangguk. Steva sengaja mengajak alan berbicara agar belly tak banyak bicara pada alan.


Ini gawat, mengapa aku dan alan bisa berada di tempat yang sama. Oh, tidak mungkin....


Belly mengumpat dalam hati khawatir. Jika begini ia merasa sudah tidak aman lagi, bisa-bisa raja juga tahu tempat persembunyiannya.


Tak lama, pintu lift pun terbuka. Steva menarik tangan belly disertai jalan dengan cepat. Ia berharap agar mereka segera terhindar dari alan.


"Stev, apakah tak bisa pelan sedikit?" Bisik belly pada steva yang kini sudah membuka pintu mobilnya.


"Kau mau berlama-lama dengannya? Bagaimana jika dia berniat jahat padamu?" Kekhawatiran steva saat ini berlebihan.


"Jangan berlebihan stev, aku tahu siapa alan ia tidak mungkin melakukan hal rendahan.." Belly pun masuk ke dalam mobil, karena sekarang belly adalah seorang asisten maka ia yang duduk di kursi kemudi.


"Kau sepertinya sangat mengenalnya?? Sudahlah, ayo cepat jalan!" Perintah steva.


"Huft....." Belly menghembuskan nafasnya, kemudian melajukan mobil menuju kantor.


Dalam perjalanan menuju kantor, steva sepertinya sedang berfikir keras. Hingga ia pun memberanikan diri mengutarakan apa yang ia fikirkan.


"Bell, jangan bilang alan yang tadi adalah alan yang kau ceritakan??"


Belly hanya diam dan tetap fokus menyetir mobil.


"Bell?? Jadi benar?" Steva semakin menatap lekat wajah bey yang kini sudah menelan salivanya.

__ADS_1


"Ya Ampun belly.....!" Steva pun menepuk keningnya sendiri.


Tak ada jawaban apapun dari belly, ia tak menanggapi pertanyaan steva. Tapi, steva sudah tahu jawabannya tanpa bertanya lagi pada belly. Menurut steva diamnya belly menandakan jika pertanyaan steva benar, dan tak perlu di jawab lagi. Ternyata fikirannya bukan asal menduga, benar jik alan yang steva maksud adalah alan mantan kekasih belly.


***


"Aku benar-benar kehilanganmu, bell kembalilah...." Raja terus menyirami tanaman bunga di taman kecil samping rumah.


Semenjak kepergian belly tanpa pamit atau pesan, bunga-bunga yang biasa di rawat oleh belly menjadi layu. Hingga beberapa hari ini raja lah yang menyiraminya.


"Ehem,....." Alex berdehem mengejutkan raja yang terus bermain dengan selang air di tangannya.


"Ck!!" Raja hanya memutar bola matanya malas menyaksikan kedua temannya itu datang.


"Sejak kapan kau menyiram tanaman?? Apakah ini pekerjaan barumu?" Goda bastian pada raja.


"Jangan asal bicara!" Raja mengarahkan selang air ke bastian hingga bastian sedikit basah terkena semprotan air.


"Raja... Hentikan... Ampun, aku hanya bergurau." Bastian merasa bersalah, hingga ia meminta ampun.


Sementara alex hanya tertawa menyaksikan bastian yang tengah di siksa oleh raja.


"Biasanya istrimu yang menyiram bunga-bunga ini, sepertinya sekarang kaj sudah menjadi suami yang sayang istri." Timpal alex, sehingga membuat raja menghentikan aktivitasnya.


"Ada perlu apa kalian sepagi ini kemari?" Tanya raja.


"Kami hanya ingin berkunjung saja." Ucap alex yang merasa tak enak, tak seperti biasanya raja bertanya seperti itu jika mereka datang ke rumahnya.


"I..iya, sudah lama kita tak berkunjung ke rumahmu." Sambung bastian, ia tahu jika saat ini raja sedang tak ingin di ganggu.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan minum.." Raja melangkah menuju dapur, mengambilkan beberapa minuman kaleng dan camilan di dalam kulkas untuk tamunya.


"Istrimu tidak ada di rumah?" Tanya alex setelah raja keluar membawa nampan di tangannya.


"Oh, dia sedang pulang ke rumah orang tuanya." Jawab raja berbohong.


"Ke surabaya?" Tanya bastian lagi.


i


Raja hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Tapi kemarin aku melihatnya di sebuah cafe. Apa aku salah lihat?" Bastian menaik turunkan matanya menatap ke langit-langit rumah.


"cafe? Dimana?" Keingintahuan raja pun timbul. Pasalnya saat ini ia belum juga menemukan belly.

__ADS_1


"Daerah bintaro, sepertinya aku salah lihat.. Jelas-jelas istrimu sedang pulang kampung." ucap bastian ragu-ragu. Tapi ia merasa jika yang kemarin dilihatnya benar belly.


"Oh, iya. Mungkin saja.. Saat ini banyak sekali wanita-wanita yang memakai pakaian yang sama bukan??" Timpal raja.


"Memangnya sejak kapan belly pulang kampung?" Alex sepertinya ingin tahu.


"Sudah dua hari...." Entah sampai kapan raja bohong kepada teman-temannya. Ia merasa semakin bersalah.


"Oh, pantas saja sikapmu seperti pria yang kesepian!!" Bastian Kali ini mulai bergurau lagi.


"Apakah terlihat begitu? Ya sedikit..." Timpal raja.


Alex dan bastian merasa heran, biasanya raja akan marah jika bastian bergurau tapi tidak untuk kali ini. Wajah raja juga seolah benar-benar menunjukkan jika ia sedang kesepian.


"Hari ini apa kegiatanmu?" Tanya alex memecah keheningan di antara mereka.


"Tidak ada." Jawab raja.


"Bagaimana jika kita hang out?" Usul bastian.


"Hmmm, fikirkanlah untuk menikah. Apa kalian mau terus melajang dan bermain-main?" Sepertinya kali ini raja sedang menasihati kedua temannya yang terus melajang.


"Kami akan menikah, setelah menemukan wanita baik seperti istrimu." Sambung bastian.


"Tak mungkin ada wanita yang sepertinya. Belly hanya satu." Timpal raja.


"Ya, setidaknya bisa membawa hal positif untuk kami. Seperti belly yang bisa membuatmu semakin berubah baik." Sahut alex.


"Hmmmm....." Raja hanya menarik nafasnya panjang. Ia tak mau berkomentar lebih lagi.


"Apakah kamu tahu, jika alan dan belly saling mengenal?" Tanya bastian.


"oh, itu. Ya, tentu saja aku tahu..." Sahut raja kaku.


"Emm, kebetulan sekali ya. Ternyata istrimu berteman dan satu kampus dengan alan yang jelas adalah sepupuku." Sambung alex.


"Tapi bukannya belly kuliah di singapura?" Tanya bastian.


"Iya.. Singapura." Jawab raja.


"Mana mungkin? Setahuku Alan adalah lulusan kampus di jepang." Sambung alex.


"Oh, mungkin mereka pernah sama-sama kuliah di indonesia." Raja bingung harus mencari alasan apa lagi untuk menutupi kebohongannya.


Alex dan bastian hanya mengangguk pelan, tak ada tanggapan lain lagi.

__ADS_1


__ADS_2