
Setelah Pesawat yang ditumpangi Alan take off dari Bandara Narita international Tokyo, kini Pesawat landing di Bandara International Soekarno Hatta.
Alan yang sudah merasa tak sabar, akhirnya tiba juga di Jakarta. Ia menaiki taksi menuju Apartementnya. Sampai di Apartement yang sudah begitu rapih dan bersih, kini ia kembali lagi. Ia fikir kepergiannya akan lama, karena tempo hari Alan sempat mengemasi barang-barangnya, menutupnya dengan kain agar tak terkena debu saat ditinggal ke Jepang. Nyatanya??
Alan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan cepat agar segala penat didalam dirinya bisa berkurang meskipun sedikit saja.
Diletakkannya kopper, kemudian ia segera keluar kembali dengan mengendarai mobilnya menuju Rumah Alex.
Malam ini, beruntung sekali Alex sedang ada di Rumah. Ia baru saja pulang dari kantor karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan akibat beberapa hari ini ia dan Bastian sibuk membantu Raja untuk mencari Belly yang menghilang. Alan memaksa Alex untuk menemaninya mencari Belly, karena kepalanya yang sedikit pusing tak memungkinkan untuk menyetir Mobil lebih lama.
Meski kini belum juga membuahkan hasil, padahal Raja sudah mengerahkan beberapa orang suruhannya untuk mencari Belly.
"Dia memang tidak berguna!" Umpat Alan kesal.
"Kau membicarakan siapa? Raja?"
Alex terheran-heran, bisa-bisanya Alan berkata seperti itu.
"Ya. Siapa lagi?" Alan duduk di kursi sebelah kemudi dengan mata yang terus menelisik seluruh pinggiran jalan.
"Al, harusnya kau istirahat dulu. Kau pasti lelah sepulang dari Tokyo."
Melihat kegusaran Alan, Alex mencoba menenangkan dirinya.
"Mana bisa? Kau fikir aku akan bisa tidur meski hanya satu detik jika Belly belum ditemukan??" Alan malah semakin menyolot.
"Yeeee.... Biasa saja Al, Raja yang suaminya saja tak berlebihan sepertimu!"
"Dia memang terbiasa santai dan tak bisa menjaga Belly! Manusia macam apa dia? Istrinya hilang tapi dia malah berdiam diri! Harusnya dari awal sudah kurebut Belly kembali!!"
"Alan, jangan bicara begitu. Raja tidak seperti yang kau tuduhkan!!"
Bukan maksud Alex membela Raja, hanya saja ia tahu betapa terpuruknya sahabatnya itu semenjak kehilangan Belly. Raja tidak berdiam diri seperti yang Alan katakan, Raja bahkan tidak bisa makan dan tidur karena terus memikirkan Belly dan bayi yang tengah dikandungnya.
"Ck! Daripada membela sahabat kesayanganmu itu, lebih baik kau pasang matamu Lex!"
Perintah Alan dengan nada tinggi, bukan maksudnya cemburu jika sepupunya itu terus membela Raja. Hanya saja Alan memang tidak pernah suka jika membahas tentang Raja, itu hanya memancing emosinya.
"Mataku sudah terpasang baik-baik sejak lahir Al, memangnya mataku kemana selama ini??"
Alan memilih diam tak menjawab ucapan Alex, ia tak ingin terus berdebat dengan sepupunya itu. Ia lebih memilih menelisik setiap penjuru jalan berharap ada petunjuk yang ditemukan.
Mata Alan tertuju pada seorang wanita yang familiar baginya, dengan tubuh moleknya wanita itu meliuk-liukkan bodynya, melihat hal itu Alan meminta Alex untuk memelankan laju Mobil.
__ADS_1
Wanita itu berjalan keluar dari sebuah cafe kemudian masuk kedalam mobilnya. Alan meminta Alex untuk mengikuti mobil wanita itu.
"Sebenarnya siapa dia Al? Mengapa kita harus mengikutinya?" Tanya Alex penasaran.
"Kau sungguh tak mengenalnya?"
"Memang aku tak mengenalnya. Jika aku tahu siapa dia, aku tak mungkin bertanya kepadamu!"
Alex mengumpat kesal, lagi-lagi Alan membuat emosinya naik. Pantas saja Raja selalu bertengkar dengannya jika mereka bertemu, ternyata Alan semengesalkan ini batin Alex.
"Pasang Matamu baik-baik! Kau bilang kau mengetahui semua tentang sahabat kesayanganmu itu?? Mengapa kau tak mengenal wanita itu?"
"Ck! Pada intinya saja Alan, jangan bawa-bawa Raja lagi! Siapa wanita yang sedang kita ikuti ini? Seperti penguntit saja!" Dengus Alex kesal.
"Dia Maura!" Jelas Alan pada Alex dengan pandangan yang masih tajam.
"A..apa?? Maura??" Alex kalah telak, bisa-bisanya ia tak mengenali Maura yang kini telah merubah penampilan dan gayanya. Penampilan Maura benar-benar membuatnya pangling, padahal sudah bertahun-tahun Alex mengenal mantan pacar Raja itu.
Alex tak banyak tanya lagi, kini Mobil mereka terus mengikuti Mobil Maura. Saat Maura membelokkan Mobilnya di sebuah kawasan Apartement mewah di Jakarta, Alan meminta Alex menghentikan laju Mobil dan dia keluar mengikuti Maura dengan sedikit berlari.
"Sial anak itu! Bisa-bisanya dia meninggalkanku tanpa bicara!" Alex merasa semakin kesal. Namun sesuai perintah Alan, ia akan tetap menunggu Alan diluar hingga kembali.
Benar-benar yang Alan lakukan saat ini seperti seorang penguntit. Ia tidak sabar lagi ingin mengacak-acak rambut Maura yang mengesalkan itu.
Alan pun segera menaiki lift disebelah dengan menekan tombol 6 pula.
"Kali ini kau tak bisa lolos Maura!!!" Alan mengeratkan rahangnya, ditatapnya terus menerus monitor di lift yang menunjukkan dilantai berapa ia saat ini, sungguh Alan sudah tak sabar lagi ingin bertemu Maura.
Sampailah di lantai 6, lantai yang menunjukkan dimana Apartement Maura.
Saat Maura menekan beberapa angka sebagai passcode Apartementnya, tiba-tiba saja tangannya dicekal dengan kuat oleh seseorang dari belakang.
"Berhenti!" Ucap Alan dengan nada dinginnya.
Maura menolehkan lehernya perlahan, menatap siapa yang kini telah berani menyentuhnya.
Maura membulatkan matanya seakan ingin menonjol keluar, ia sungguh terkejut lelaki yang selama ini mengganggunya kini muncul kembali.
"Kauuu???"
Tunggu, bukankah Alan saat ini berada di Tokyo?
Apa dia kembali hanya untuk mencari Belly? Dia memang Gi*LA!!
__ADS_1
Maura terkejut sekaligus bergumam, ia rasa Alan kini sudah tau perihal kabar kehilangan Belly wanita pujaannya.
"Tuan Alan, lepaskan tanganku! Anda sungguh tak sopan!" Maura menghentakkan tangannya agar segera terlepas dari cekalan Alan. Meskipun ia wanita yang suka menggoda, tapi ia sungguh tak tertarik pada Alan.
Bukan karena Alan tak tampan, lebih tepatnya karena Alan tak memiliki banyak uang seperti Raja atau Hendrick lelaki yang pernah ia kencani namun akhirnya ia dicampakkan juga!
"Lepaskan! Atau aku akan melaporkanmu ke polisi atas kasus pelecehan!" Umpat Maura karena Alan tak juga melepaskan cekalan tangannya, malah Alan semakin menguatkan cekalan itu hingga tangan Maura terasa sakit dan memerah.
"Silahkan saja, aku malah bersyukur! Karena itu hanya akan membuatmu masuk kedalam penjara dengan mudah!"
Tak mau kalah, Maura telah mengancam Alan. Dan Alan pun sebaliknya.
"Kau tak tahu siapa aku Alan?? Kau fikir aku bo*doh sepertimu?" Maura menyeringai jahat.
"Dimana Belly??" Tatapan Alan kini semakin tajam, ia terus saja menguatkan cekalan tangannya meski Maura tengah meronta kesakitan.
"Aw.... Apa maksudmu? Tentu saja Belly bersama suaminya!"
"Kau bohong! Jangan pura-pura berlagak bod*oh didepanku Maura!"
Alan semakin mengeratkan pegangan tangannya, ia kemudian mendorong Maura hingga tubuhnya terhimpit oleh tembok.
"Jangan kurang A*jar Alan!!!" Teriak Maura dengan nada suara lebih tinggi lagi.
Pasalnya Alan kini telah menyentuh pipi Maura dan menekannya dengan kuat hingga pipi mulus itu harus terlihat sedikit kempot.
"Alan!!!!! Lepaskan, atau aku akan melaporkanmu dengan bukti rekaman CCTV itu!" Maura menunjuk kamera CCtV yang tepat berada diatas pintu Apartementnya.
"Silahkan saja, aku tidak takut! Dasar wanita IBL*Isss! Bisa-bisanya kau merusak kebahagiaan Saudaramu sendiri!"
Semakin keras Alan menekan wajah mulus Maura, meski ia mencoba memberontak namun tetap saja sekuat apapun tenaganya, ia akan kalah oleh seorang pria. .
"Aku takkan memberikanmu Ampun Alan!"
"Aku yang takkan memeberikanmu Ampun Maura prianka, seorang model yang sudah TAK LAKU LAGI!!" Bisik Alan dengan menekankan kata tak laku lagi.
"Beraninya kau menghinaku, hahhhhh??"
To be continue.....
🍒 Meski capek pulang kerja, othor sempatin buat Up sedikit². Demi apa coba?? 🤪
Bersambung dulu ya readers, jangan minta othor up lebih banyak lagi. Soalnya kerjaan lagi numpuk biingiit...
__ADS_1
...Terimakasih pengertiannya... 🙏...