
Mungkin lebih baik begini walaupun sementara. Karena kita tidak bisa memaksakan hati seseorang. Setidaknya dekat lebih baik, meski tak bisa memilikinya.
**Alan Alfazri
Alan membuka pintu Apartementnya dengan menekan tombol untuk memasukkan passcode pintu Apartementnya.
"Perhatikan ini." Pinta Alan agar Belly menghafal sandi pintu unitnya.
Belly mengangguk pelan menyimak dengan saksama.
Klik! Pintu pun terbuka.
Mata Belly membola ketika melihat isi dari unit Apartemen Alan. Diluar dugaan, ternyata Alan memiliki selera yang tinggi hingga memiliki Apartemen mewah seperti ini.
"Kamarmu ada diatas." Alan menunjuk kearah anak tangga di sampingnya.
"Kamarku disitu, jika ada yang kau inginkan bisa menemuiku disana." Tunjuk Alan pada sebuah ruang kerjanya.
Alan pun membawa beberapa kantung plastik besar hasil belanjanya tadi dengan Belly di supermarket. Diletakkannya belanjaan itu diatas meja makan.
"Ini dapur yang bisa kamu gunakan sesuka hati."
"Dapur yang cantik," Ucap Belly kagum dan takjub memperhatikan beberapa peralatan masak didapur Alan.
"Ya, kamu juga cantik." Jujur Alan pada Belly. Entah kenapa kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutnya.
"Ehem!" Belly berdehem, ia merasa tenggorokannya gatal, hingga harus meminum air.
"Ternyata kau banyak peralatan juga." Lanjut Belly mencoba membahas topik lain.
"Ya. Aku merasa membutuhkannya,"
"Lah? Ini kenapa ada disini?" Tanya Belly saat sedang mengeluarkan belanjaan dari kantung plastik ia melihat sebuah teflon ada didalamnya.
Alan hanya tersenyum kecil. "Aku mau membersihkan diri dulu, setelah ini beristirahatlah ke kamarmu."
Alan melangkah pergi meninggalkan Belly menuju kamarnya.
Belly hanya terpaku dengan tangan yang terus memegangi teflon, ia tidak menyangka jika Alan akan membeli teflon itu. "Sangat manis..."
Setelah selesai berkutat di dapur membereskan beberapa pekerjaannya. Belly pun pergi ke atas menuju kamar yang tadi disebutkan Alan untuk ia tempati.
Ada dua pintu kamar diatas, namun satu pintu sudah diberi Name tag oleh Alan yang bertuliskan BELLY.
Belly tersenyum membacanya, ia pun segera membuka pintu kamar yang telah disiapkan oleh Alan. Begitu pintu terbuka, mata Belly kembali membulat sempurna. Ia tak menyangka Alan akan menyiapkan kamar secantik ini untuknya.
Belly hanya berdiri mematung didepan pintu, tubuhnya serasa mati tak bisa bergerak lagi.
"Wow!" Hanya itu yang bisa ia katakan.
"Kau suka?" Tanya Alan yang ternyata sejak tadi sudah ada dibelakangnya.
"A..aalan?" Belly terkejut mendapati Alan sudah ada dibelakangnya. "Suka."
"Suka? Dengan?"
"Dengan?"
__ADS_1
"Dengan siapa?"
"Tentu saja dengan kamarnya."
Alan tersenyum menanggapi ucapan Belly. Ia merasa bahagia ketika melihat ekspresi Belly menerima kamar yang sudah disiapkannya.
"Aku harap kau betah. Dan selamat beristirahat."
Alan melangkahkan kakinya, ia hendak meninggalkan Belly menuju ke bawah.
"Al, tunggu."
"Ada apa Bell?"
"Terimakasih."
Alan mengurungkan niatnya, ia berbalik badan menghampiri Belly kembali.
"Aku terima, berhentilah berterimakasih padaku Bell. "
"Kau sudah banyak membantu Al,"
"Itu sudah kewajibanku, apapun hal mengenai dirimu, itu tanggung jawabku."
"Al,"
"Sst...." Jari telunjuknya membungkam bibir Belly yang masih ingin berucap. Kali ini ia benar-benar tak ingin mendapat penolakan atau alasan apapun dari Belly.
"Turunlah, aku sudah siapkan makan malam untuk kita."
Kamu begitu baik untuk diriku yang selalu menyakitimu Al...
Hati Belly merasa ada sesuatu yang mengganjal. Rasa bersalahnya pada Alan kini kian meradang kembali. Sebaik apapun Alan, baginya hal itu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Raja dihatinya.
Sampai kapanpun....
...****************...
Bandung.
Apakah perasaan ini akan hilang dengan sendirinya? Jalani saja dulu.
**Raja Arfatama Darmawan
"Raja, kamu ajak Maura jalan-jalan dong. Kasihan dia kelihatannya bosan." Rianti yang terus menatap anaknya itu pun mengusulkan sebuah ide.
Sementara Raja yang mendengar penuturan mamanya, ia tak habis fikir. Karena tujuannya kemari adalah untuk menenangkan diri dari kekacauan yang melanda hatinya sekarang. Jika ada Maura bagaimana ia bisa tenang? Yang ada ia malah semakin pusing dibuatnya.
"Raja, jalani saja dulu. Kalian tidak akan pernah tahu jika belum sama-sama mengalaminya. Apa kamu akan terus mengingat wanita yang telah membohongimu??" Tambah Rianti lagi.
"Ma, lebih baik kita makan dulu. Papa sudah lapar." Darmawan yang melihat gelagat Raja pun langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Maura, ayo dimakan. Ini masakan tante sendiri loh..."
"Iya tant, thanks.." Maura hanya mengulum senyumannya. Mudah baginya mengambil hati seorang Rianti, namun sulit sekali untuk menaklukkan hati Raja.
Sesekali Maura mencuri-curi pandang kearah Raja yang duduk diseberangnya. Raja begitu asyik menikmati makan malam ini.
__ADS_1
Terbesit sebuah ide di kepalanya untuk menggoda Raja kembali. Maura pun tersenyum puas ketika tatapannya dan Raja saling bertemu.
Berbeda dengan Maura, Raja merasa kesal karena harus terus bertatapan dengan Maura. Menurut Raja, wanita yang duduk disebrangnya hanya mengganggu pemandangannya saja.
Rasa kesal Raja bertambah ketika ia merasakan sesuatu dibawah sana. Entah apa yang menyentuh kakinya, membuatnya merasa sedikit meremang.
"Shi***!" Umpat Raja dalam hati.
Dari sebrang tempat duduknya, Maura mengulum senyumnya puas. Kaki yang dimainkannya berhasil menggoda Raja.
"Sampai kapan kau akan betah? Kita lihat saja nanti my king. Akan kepastian kau akan menjadi milikku." Ucap Maura dalam hati dengan terus memandang kearah Raja.
"Dasar wanita tidak tahu malu! Dimana harga dirinya?" Tatapan Raja pun memandang rendah seorang Maura yang sudah berani menggodanya. Dalam hati ia terus saja mengumpat, merutuki kelakuan Maura.
Setelah selesai makan malam, Maura berpamitan untuk pulang. Namun bukan Maura namanya jika tak memiliki akal licik untuk melancarkan niatnya mendekati Raja.
"Tante Rianti, Maura pamit ya.." Ia memeluk tubuh Rianti dengan menambah aksi cium pipi kanan dan kiri.
"Pulang kemana?" Tanya Rianti.
"Maura tinggal di hotel XYZ tant,"
"Terus pulangnya naik apa? Ini sudah malam Maura."
"Maura sedang pesan taksi online tant, tapi ternyata belum ada respon juga dari tadi."
"Raja, kamu antar Maura ya. Kasihan dia butuh istirahat."
"Ma, Raja tidak bisa."
"Raja, dimana hati nurani kamu sebagai lelaki? Apakah kamu akan membiarkan wanita berkeliaran sendiri tengah malam begini?"
Aku sudah tak memiliki hati nurani lagi, aku lelah berurusan dengan seorang wanita yang hanya bisa menggoda dan membohongi lelaki. Mereka semua sama saja.
Mendengar mamanya berbicara seperti itu, Raja sempat memikirkan Belly sesaat. Entah mengapa ketertarikannya kepada wanita saat ini sudah ambyar.
Hanya Belly, ya hanya Belly satu-satunya wanita yang terus mengisi relung hatinya. Meski sekuat tenaga ia menghilangkan nama Belly dari hati dan fikirannya, tetap saja tak bisa hilang begitu saja.
"Raja?" Tanya Rianti membuyarkan lamunan putra semata wayangnya itu.
"Ya ma."
"Ya sudah kamu antarkan Maura ya."
Raja tak bisa menolak keinginan mamanya itu. Segera ia meraih kunci mobilnya dan pergi keluar tanpa sepatah kata.
Melihat Raja keluar, Maura pun dengan senang hati mengikutinya. Akhirnya semua berjalan sesuai rencananya.
Saat Raja memasuki mobilnya, Maura pun ikut masuk dan duduk di kursi sebelah kemudi.
"Tak tahu malu!" Umpat Raja kesal.
"A..apa? Apa yang kau katakan barusan?" Dapat terdengar dengan jelas perkataan Raja ditelinganya. Maura mencoba meyakinkan dirinya berharap pendengarannya tidak salah.
Raja tak menghiraukan pertanyaan Maura. Ia dengan segera tancap gas dan melajukan mobilnya.
"Sabar Mauraaaa....." Maura hanya bisa mengelus dadanya pelan. Ia harus lebih berpikiran dingin menghadapi sikap Raja agar segera mencapai tujuannya.
__ADS_1