Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Obat untuk raja


__ADS_3

Belly membuka kamar raja yang aromanya begitu khas, di tatapnya seluruh penjuru ruangan kamar dan suasananya yang begitu ia rindukan.



Masih dengan kamar yang sama, dimana dia??


"Raja??....." Ia mencoba memanggil raja kembali. Namun tak ada sahutan sama sekali.


"Raja....." Belly tersimpuh di lantai dekat ranjang tidur raja dengan tetesan air matanya ia menangis tersedu.


"Belly???" Suara bariton yang sedikit serak itu menghentikan tangisan belly. Hingga ia pun menoleh keasal suara.


"Ra..raja??" Belly menatap lekat wajah pucat raja malam ini.


"Bell? Kau kemari........"


"Apa kau baik-baik saja?? Apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit?" Belly beranjak dari lantai menghampiri raja. Ia memegangi kening raja merasakan hangatnya suhu tubuh raja. "Panas.."


Raja memegang telapak tangan belly yang hinggap di keningnya, kemudian ia menempelkan telapak tangan belly tepat di dadanya. "Disini, disinilah sumber sakit itu berada." Raja menjawab pertanyaan belly tanpa mengalihkan pandangannya.


Belly segera menarik tangannya, ia menunduk menyembunyikan wajah memerahnya dari pandangan raja. "Apakah kau sedang bercanda?? Bahkan kau tak terlihat sedang sakit!!!" Belly berkata sedikit ketus pada raja. Padahal jelas terlihat, wajah pucat dan suhu tubuh raja yang sedikit panas.


Raja tersenyum, ia mengangkat dagu belly agar pandangannya menatap ke arah raja. "Apakah kau mengkhawatirkanku??"


"Apa kau sudah minum obat? Dimana obatnya?" Belly memalingkan wajahnya dan berbalik arah membelakangi raja. Namun raja segera meraih pinggul belly hingga berada dirangkulannya.


"Ini, ini adalah obatnya...." Ucap raja lirih. Nafas hangat raja dapat terasa ditelinga belly. Raja semakin mendekatkan wajahnya pada belly, namun ia terlebih dahulu meminta izin pada belly akan niatnya "Aku merindukanmu bell, bolehkah aku menciummu??"


Sontak hati belly terasa semakin berdesir, jantungnya semakin berdegup kencang tak beraturan. Belly tak bisa berkata-kata setelah mendengar ucapan raja. Ia hanya bisa berbicara pada diri sendiri didalam hati.


Apa yang dia katakan?? Mengapa tubuh ini terasa mati?? Mengapa tubuh ini tak bisa menolaknya??? Ayolah belly, pertahankan dirimu....


"Jika kau tak menginginkannya, maka aku takkan melakukannya." Lirih raja dengan tatapan yang semakin dalam pada nanar belly. Tangannya menyentuh juntaian rambut belly kemudian menyelipkannya dibelakang telinga.


Mendengar perkataan itu, belly meremas ujung gaunnya dengan kuat. situasi kali ini benar-benar membuatnya terjebak dengan raja.


Melihat belly hanya diam tanpa jawaban, raja pun menghentikan niatnya. Ia takut jika belly akan semakin marah padanya. Raja pun segera melepaskan rangkulan tangannya pada pinggul belly.


Raja menjauhkan dirinya dari belly, ia mengajak belly keluar dari kamarnya. Ia tak ingin terus berlama-lama dikamar karena hal itu akan semakin menimbulkan gejolak yang selama ini ia tahan.

__ADS_1


"Ayo ikut denganku...." Ajak raja pada belly.


"Kemana?" Tanya belly ingin tahu.


"Keluar, ayo..." Raja berjalan lebih dulu, kemudian belly mengekorinya dari belakang.


Langkah raja terhenti di rooftop dekat kamarnya, ia mengajak belly duduk di sebuah kursi yang memang sudah ia siapkan untuk sekedar bersantai.


"Udara disini sangat segar, duduklah..." Ajak raja dengan menepuk kursi di sebelahnya agar belly duduk disana.


"Eum.." Belly hanya menganggukkan kepala pelan, lalu ia duduk di sebelah raja. Entah kenapa hatinya merasa aneh ketika raja mengurungkan niatnya tadi, entah itu rasa tidak terima atau apalah ia juga tak tahu. Yang pasti belly saat ini merasa semakin canggung.


Raja menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi panjang yang biasa ia gunakan saat santai dan menenangkan fikirannya. Malam ini, ia sungguh tidak menyangka jika akan duduk bersama belly.


"Bintang malam ini sangat cantik." Ucap belly dengan mata yang terus memandangi bintang di langit malam.


"Iya. Sangat cantik!" Tanpa mengalihkan pandangannya dari belly, raja semakin merasa terpesona oleh kecantikan belly. Angin malam yang berhembus pelan mengayunkan helaian-helaian rambut belly. Hal itu justru membuat raja tak bisa lagi memalingkan wajahnya. Meskipun saat ini ia sedang sakit, rasanya sakit itu sudah terobati oleh kehadiran belly.


"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Tanya belly yang tahu jika raja terus memperhatikannya meskipun belly tengah memandangi langit.


"Heum, ketahuan.." Umpat raja yang merasa tertangkap basah jika tengah memandangi belly.


"Hmmm, kalau boleh tahu kau sakit apa??" Belly menoleh kearah raja, ia penasaran ingin tahu sakit yang dialami raja.


"Oh... Lain kali tak perlu terus menemuiku. Inilah akibatnya, kau jadi kelelahan...." Belly ingin sekali melanjutkan mengomeli raja, tapi ia tahan karena rasanya sangat canggung.


Raja memicingkan senyum kecilnya, "Sudah lama aku tak mendengar omelanmu." Sejenak raja terdiam. Ia menundukkan wajahnya, kemudian menatap lagi kearah belly. "Bahkan, hal itu pun membuatku rindu... Bell, izinkan aku meluruskan semuanya."


Dan lagi,...


Apakah ini senjatanya untuk memancing perasaanku kembali??


Belly menatap kearah raja sebentar, kemudian ia kembali lagi menatap langit.


"Bell, masalah bucket bunga itu aku minta maaf karena sudah salah menduga... Sebenarnya bucket itu dikirim oleh maura. Tapi aku benar-benar tidak tahu apa maksudnya? Aku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengannya setelah dia pergi dan kita menikah." Jelas raja hati-hati.


Mengapa? Mengapa raja memperjelas masalah ini? Apa tujuannya?


Belly masih diam, hatinya terus bertanya-tanya maksud dan tujuan raja sebenarnya.

__ADS_1


"Aku memiliki kesalahan yang begitu banyak padamu, keegoisanku, kemarahanku aku harap kau mau memaafkannya." Tambah raja lagi.


"Kau tak lelah terus meminta maaf?" Belly berusaha mencairkan suasana hatinya yang kini gaduh tak karuan.


"Mungkin dulu aku tak pernah mengucapkan kata maaf, tapi setelah kau memperkenalkannya padaku aku jadi terus menerus mengucapkan kata Maaf." Ucap raja, memorinya mengingat saat belly memintanya untuk mengucapkan kata maaf jika sudah melakukan kesalahan.


"Heuh...." Belly tersenyum kecil. "Kau ingat itu??" Tanya belly pada raja dengan terus tersenyum.


"Dan terimakasih, kata terimakasih juga aku dapatkan dari dirimu bell. Terimakasih karena sudah memberikanku pelajaran berharga dan membawaku ke hal yang positif." Ucap raja merasa tenang ketika belly menyimpulkan senyuman kearahnya.


"He'um, aku senang jika kau bisa bersikap lebih baik." Ucap belly dengan menganggukkan kepalanya pelan.


"Sekali lagi terimakasih bell." ucap raja senang. Senang karena kini belly sudah mulai mau menanggapi perkataannya, senang karena belly kini sudah bersamanya, perasaannya kini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Berhentilah berterimakasih, aku bosan mendengar kata itu..." Rajuk belly pada raja.


"Oh ya??? Benarkah? Apakah kau ingin mendengar kata-kata lain dariku?" Raja semakin melekatkan pandangannya pada wajah belly. Mungkin saat ini ia baru menyadarinya, jika belly sangatlah cantik.


"Eumm....maksudku, berhentilah berterimakasih. Tidak bermaksud lain..." Belly menelan salivanya, ia semakin tak bisa menahan getaran hatinya, sebenarnya ia sendiri tak tahu apa yang membuatnya mengeluarkan kata itu hingga membuatnya terjebak sendiri.


"Aku harap kau merasakan hal yang sama sepertiku bell." Tatapan raja semakin menusuk dan menembus jantung belly, ia tak bisa lagi menahan degupan kencang di dalam dadanya.


"Rasa?? Oh, iya disini udaranya dingin sekali.." Belly melipat kedua tangannya seolah sedang merasa kedinginan.


Raja menggeser duduknya, ia merapatkan diri disebelah belly dengan merangkulkan satu tangannya dipundak belly. Yang satu lagi meraih kedua telapak tangan belly. "Semakin malam, udara disini memang semakin dingin. Apakah kau ingin masuk??"


Apa lagi ini? Apa yang diperbuat oleh raja? Mengapa tubuhku terasa mati??


Belly terus merasakan gemuruh didalam hatinya, sentuhan raja membuat tubuhnya menjadi semakin hangat. "Tubuhmu panas! Apakah kau masih sakit??" Lagi belly meletakkan telapak tangannya pada kening raja. Dan benar saja, suhu tubuh raja memang semakin panas dari sebelumnya.


"Udara disini tak baik, masuklah...." Belly beranjak dari duduknya, ia berniat mengajak raja untuk masuk.


Raja mengikuti belly dari belakang, ia memasuki kamarnya yang sudah dibukakan pintu oleh belly.


"Istirahatlah,..." Pinta belly pada raja, raja pun duduk pada pinggiran ranjang. "Dimana obatnya?? Kau belum minum obat, biar aku ambilkan.....


"Sudah cukup bell,...." Raja menarik belly hingga terduduk di pangkuannya. Belly yang menerima prilaku raja pun sontak terkejut dan membulatkan matanya dengan sempurna. Pandangan mereka berdua pun saling bertemu, hati dan jantung pun saling beradu merasakan getaran serta desiran yang membuat keduanya tak bisa lagi berkata-kata.


Lagi, aku terjebak untuk kesekian kalinya...

__ADS_1


TO be continue.....


πŸ’πŸ™ Readers, terimakasih banyak atas dukungan kalian semua untuk karya othor yang satu ini. Terimakasih.... Terimakasih...... Tiada henti othor ucapkan, seperti raja yang tiada henti mengucapkan kataΒ² itu pada belly. Othor harap readers tidak pernah bosan membaca tulisan othor! Semangat semuanya πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ Semangat kasih like, give dan votenya untuk othor.... πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2