Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Siasat maura


__ADS_3

"Hey bell, apa yang kau lakukan, Bukankah hari ini aku memberimu cuti?" Steva ternganga melihat belly yang kini tengah sibuk dengan laptopnya.


Belly mendengus kesal, "Aku merasa tidak pernah meminta cuti!" Ia menekan-nekan tombol laptopnya hingga mengeluarkan suara. Kali ini belly merasa lelah karena pagi-pagi ia harus kembali ke apartement steva untuk ganti baju kemudian ke kantor.


"Wajahmu terlihat kesal? Ada apa? Apa raja....."


"Ibu steva, silahkan kembali jika tak ada hal penting yang ingin dibicarakan!" Belly dengan beraninya mengusir steva, ia merasa banyak pekerjaan yang tertunda hingga harus segera diselesaikan.


Steva mengerucutkan bibirnya, ia tahu belly sedang tak ingin diganggu dan steva pun mengalah untuk pergi.


Belly terus memikirkan raja, hingga ia menaruh kepalanya di meja kerja.


Belly, tak ada yang salah antara kau dan raja. Kalian adalah suami istri yang sah dimata hukum dan agama! Jadi, apa yang terjadi semalam itu.....


***


Sementara di rumahnya, raja terbangun dari tidurnya. Setelah membuka mata ia tak melihat keberadaan belly, namun ranjang tidur sudah terlihat rapi.


"Apakah dia pergi meninggalkanku lagi??" Ucap raja merasa kecewa karena tak ditemukannya keberadaan belly.


Raja merasa tubuhnya sudah sedikit membaik, sejenak ia tersenyum mengingat kejadian semalam bersama belly. Ia pun segera memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.


Di ruang makan, raja mendapati bu sity yang tengah sibuk membereskan pekerjaan.


"Pagi tuan, buburnya ada dimeja. Tadi pagi-pagi sekali non belly membuatnya. Dia titip pesan agar tuan menghabiskan bubur dan meminum obatnya.." Jelas bu sity.


"Ya. Terimakasih bu." Ucap raja dengan senyum kecilnya. Ia pun duduk menyantap bubur buatan belly hingga tandas.


Tak butuh waktu lama menyantap semangkuk bubur, ia segera meminum obat kemudian pergi ke kantor.


Sesampainya di kantor, raja segera menuju ke ruangannya. Namun ia disambut oleh rangga dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


"Rangga, Ada apa??" Tanya raja merasa ada yang tak beres.


"Pak raja, syukurlah anda sudah datang. Ada seseorang yang mencari bapak." Jelas rangga dengan penuh kecemasan.


"Siapa??" Tanya raja dengan langkah cepat menuju ruangannya.


"Itu pak em....saya sudah mencoba melarangnya, tapi dia tetap memaksa. Maafkan saya pak!" Rangga takut akan kemarahan raja, hingga ia memutuskan untuk meminta maaf terlebih dulu.


Raja terus berjalan menuju ruangannya, matanya tertuju pada sosok wanita yang tengah duduk menunggunya disana.


"Rangga, pergilah! Biar aku yang mengurusnya." Ucap raja dengan penuh keyakinan.


"Baa..baik pak." Tukas rangga.


Wanita itu terus mengulas senyumannya menyambut kedatangan raja. Ia merasa senang kali ini melihat raja datang. Tak dapat dipungkiri, maura kini tengah merindukan sosok raja. Ia mengingat saat dulu mereka berpacaran, raja begitu menyayanginya dan memanjakannya bak ratu.


"My king......" Maura berlari kecil mendekati raja yang tengah berdiri menatapnya dengan tajam. "My king, i miss you...." Maura memegang lengan raja ia hendak menempelkan kepalanya di dada raja namun raja segera menepiskannya.


"Pergilah!" Ucap raja dengan nada tinggi.


"Raja, aku jauh-jauh dari surabaya kemari untuk menemuimu?" Ucap maura dengan nada memelas.


"Aku tak perduli!" Ucapan raja jelas menyakitkan maura.


"Raja, aku tahu kau masih marah. Tapi izinkan aku memberikan penjelasan...." Maura kini sudah memasang wajah melasnya. Ia berusaha tetap bersabar menghadapi raja demi mencapai tujuannya.


"Penjelasan?? Heuh, aku tak butuh!!!" Ucap raja dengan kasar, ia pun segera masuk kedalam ruangan kerjanya.


Namun maura tak mau menyerah begitu saja, ia segera menyusul raja kedalam.


"Keluar!" Dengan tatapan tajamnya, raja mencoba mengusir maura.


"Raja, aku merindukanmu. Tidakkah kau sedikit berbaik hati padaku? Please, izinkan aku memberikan penjelasan dulu! Aku benar-benar menyesalinya raja...." Maura bersimpuh dikaki raja, kali ini aktingnya sungguh luar biasa.


"Berhentilah berakting!" Raja segera menarik kakinya dari cekalan tangan maura.


"Raja, aku minta maaf. Aku sangat bersalah padamu tapi aku mohon dengarkanlah dulu penjelasanku. Aku ingin kau tahu alasannya mengapa aku meninggalkanmu dihari pernikahan kita." Maura kini telah meneteskan air matanya, ia merasa sangat kecewa dengan sikap raja yang sudah membencinya. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Dengan cara apapun, ia harus merebut hati raja kembali.


"Heuh, Aku sudah membaca suratmu! Dan jelas tertulis disana jika kau......." Raja tak melanjutkan kata-katanya, ia tak mau lagi membahas masa lalunya dengan maura.


"Raja, aku menulis itu semua karena terpaksa. Aku di jebak!" Ucap maura mencoba meyakinkan raja kembal.


"Tak usah menipuku!" Ucap raja lagi tak ingin mempercayai maura.

__ADS_1


"Raja, kau tahu kan selama ini aku sangat mencintaimu dan tak ingin berpisah denganmu?? Aku juga yang sangat menginginkan pernikahan kita! Apakah kau tak pernah berfikir mengapa aku meninggalkanmu disaat hari H pernikahan kita? Kau tak mau tahu alasannya???" Jelas maura dengan nada lirih serta air mata bawangnya.


Raja terdiam sejenak, namun ia tak ingin terjerat dengan kesalahan lagi. Raja segera mengusir kembali maura dari ruangannya.


"Alasannya sudah jelas! Sekarang pergilah dan jangan lagi menunjukkan dirimu dihadapanku!"


"Raja, aku menulis surat itu karena ayah belly yang memintaku! Dia merencanakan semua ini...." Maura mulai mendekati raja, ia yakin raja akan mempercayainya.


"Jangan memfitnah orang lain karena kesalahanmu sendiri!" Tegas raja masih tak percaya dengan perkataan maura.


"Raja, kau tak percaya padaku?? Belly itu saudara tiriku, ia begitu membenciku dan iri padaku. Dia ingin aku hancur, dan sekarang aku telah hancur raja. Aku telah kehilanganmu...... Aku telah kehilangan cinta sejatiku..." Maura semakin terisak, ia benar-benar bersandiwara dengan maksimal. "Jika nanti belly sudah menyakitimu, dia pasti akan pergi meninggalkanmu raja! Dia hanya iri dan dendam kepadaku..."


Raja mengeratkan kepalan tangannya, ia segera menelpon rangga untuk memanggil security.


Tak lama kemudian rangga dan dua orang security pun datang. Raja memberi isyarat pada rangga dan rangga pun mengerti maksud bossnya.


Kedua security itu pun mencekal tangan maura, mereka membawa maura dengan paksa keluar ruangan raja.


"Lepaskan!!" Berontak maura.


"Ayo ibu, silahkan keluar.." Ucap seorang security.


"Kalian?? apa yang kalian lakukan? Jangan menyentuhku! Aku bisa keluar sendiri!" Ucap maura terus memberontak. Namun security suruhan rangga itu pun tak melepaskan maura begitu saja. "Raja, percayalah padaku.. Aku mengatakan hal ini, karena aku ingin kau mengetahui kebenarannya!!..." Ucap maura sedikit berteriak, ia yakin raja pasti akan percaya padanya.


Setelah keluar dari ruangan raja, security itu pun melepaskan maura. Tubuh maura sedikit terhempas kasar. Ia pun mengusap air matanya dan segera pergi dari kantor raja.


Raja, aku yakin kau akan kembali kepelukanku lagi. Perjuanganku takkan mungkin sia-sia!


Dengan senyuman licik ala devil, Maura berjalan gontai keluar dari lingkungan perkantoran raja. Meskipun melakukan hal rendahan, itu tak masalah baginya. Yang terpenting adalah raja harus kembali lagi bersamanya.


Setelah kepergian maura, raja menjadi semakin pusing memikirkan kata-katanya. Meski ia sudah mencoba menghilangkan perkataan maura, namun perkataan itu terus terngiang-ngiang di telinganya hingga mengelilingi otaknya.


Tidak mungkin belly setega itu, belly bukanlah wanita rendahan seperti maura.


Batin raja terus meyakinkan hatinya.


"Rangga, cari tahu tentang wanita itu. Semua yang terjadi padanya belakangan ini!" Perintah raja pada rangga.


"Maksud bapak ibu maura??" Tanya rangga meyakinkan.


"Baik pak! Saya akan lakukan itu. Apa ada lagi yang lain?" Tanya rangga lagi.


"Hari ini tolong cancel semua jadwalku, aku masih ingin istirahat." Karena merasa tubuhnya belum begitu membaik, raja mencoba untuk tak pergi kemana-mana.


"Baik pak." Rangga pun segera keluar dari ruangan bossnya.


Sementara di luar, bastian dan alex menghampiri rangga. Mereka berdua nampak Keppo, ingin mengetahui yang sebenarnya dari rangga.


"Ada apa ga? Kenapa lagi si boss?" Tanya bastian sedikit berbisik.


Rangga hanya menggedikkan kedua bahunya, ia tak mau banyak bicara. Terlebih jika bossnya tahu, maka ia akan di damprat olehnya.


"Rangga, maura kemari lagi?" Sambung alex.


"He'um.." Ucap rangga singkat.


"Dasar wanita ibl*s!, Pasti dia mendekati raja lagi setelah menyesal meninggalkannya." Bastian yang asal bicara pun mengeluarkan kata-kata yang tak enak didengar telinga.


"Bass, pelankan suaramu." Ucap alex.


Rangga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak ingin lagi meladeni kedua teman raja. Ia memutuskan kembali keruangannya untuk segera menyelesaikan tugas dari raja.


***


Selesai kerja, belly segera merapihkan meja serta kursinya yang terlihat kacau. Hari ini tenaganya terasa terkuras habis, ia memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat.


"Stev, sudah selesai?" Belly ke ruangan steva, namun di dalam ruangan steva terdapat seorang pria. "Oh, maaf harusnya aku mengetuk pintu lebih dulu." Belly merasa tak enak hati, ia menerobos ruangan steva seperti biasa tanpa tahu jika ada tamu.


"Belly....." Steva memancarkan wajah memerahnya, ia seperti sedang kepergok oleh belly.


"Aku mau pulang, kau....."


"Pulanglah dulu, steva akan pulang bersamaku." Ucap hendrick memotong ucapan belly dengan mengeratkan rangkulannya pada pinggul steva.


"Bell, maaf aku tidak bisa pulang bersamamu.." Ucao steva dengan wajah malu-malunya.

__ADS_1


"Oh... Astaga steva, jadi kau merahasiakan ini padaku?? Baiklah, jaga steva baik-baik pak hendrick." Belly memicingkan senyumannya. "Dan kau stev, kau berhutang penjelasan padaku!" Belly menutup rapat pintu kembali sembari menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ia pun pulang ke apartement membawa mobil steva.


Di tengah jalan, mobil yang ia kendarai berhenti. Tak tahu apa akibatnya, belly pun segera keluar dari mobil mencoba mencari-cari apa yang terjadi pada mobil yang ia tumpangi.


Dari dalam mobilnya, alan melihat sosok wanita yang ia kenal di pinggir jalan. Ia pun menepikan mobilnya di dekat belly yang tengah berhenti.


"Bell? Apakah terjadi sesuatu?" Tanya alan mengahmpiri belly yang terlihat kebingungan.


"Oh, alan..." Belly masih merasa bingung. Ia terus memegangi kepalanya.


"Coba aku cek mungkin terjadi sesuatu." Ucap alan menawarkan bantuan pada belly.


"Tidak usah al, aku akan menelpon montir saja." Belly mencari-cari keberadaan ponselnya, namun tak ia temukan.


Melihat belly yang kebingungan, alan pun berinisiatif menelpon montir. "Biar aku yang menelpon montornya bell." Alan pun segera menelpon montir langganannya.


"Terimakasih al, ponselku sepertinya tertinggal di..." Belly masih berfikir, kemana sebenarnya ponselnya.


"Sudah, montirnya sebentar lagi akan datang aku akan mengantarmu pulang." Ucap alan.


"Aku naik taksi saja al, tak perlu." Tolak belly.


"Taksi??? Kita satu arah bell, lagi pula kita tinggal dalam satu gedung dan tujuan kita sama." Alan tak menyerah begitu saja.


"Aku tak ingin merepotkan, terimakasih banyak al atas bantuanmu." Belly memicingkan senyum pahitnya.


"Jangan tersenyum seperti itu, jangan pula menolak tawaran tulusku ini bell." Ucap alan menatap lekat belly.


"Al aku..."


"Apa?? Kau mau menjelaskan jika kau sudah memiliki suami, dan aku tak boleh bertemu denganmu??" Tanya alan memotong ucapan belly.


"Tidak seperti itu alan, tapi....ada benarnya juga ucapanmu." Tukas belly.


"Bell, meskipun kau sudah bersuami tapi aku tahu siapa suamimu? Dan marilah kita pulang sekarang sudah malam tak baik kau sendirian di sini..." Alan membukakan pintu untuk belly. Karena tak enak hati terus-menerus menolak kebaikan alan akhirnya belly pun luluh dan ikut pulang bersama dengan alan.


Sampai pada tempatnya, belly turun dari mobil alan. Ia mengucapkan terimakasih pada alan dengan menyunggingkan senyuman manis. Disitulah sepasang mata tengah memperhatikan mereka berdua dari jarak jauh.


"Terimakasih alan sudah mengantar, aku turun disini saja." Ucap belly di luar mobil.


Alan pun keluar dari mobil, "Kalau begitu, aku pun turun disini juga." Ucap alan mengacak pelan rambut belly.


Belly merasa tak enak hati, karena sikap alan padanya ditengah keramaian.


"Alan, tolong jangan bersikap seperti ini padaku. Aku adalah istri orang, bagaimana jika orang yang melihat kita berdua salah paham dan mengira yang tidak-tidak??"


"Bell, maaf membuatmu tak nyaman." Ucap alan merasa bersalah.


"Jangan lagi-lagi bersikap seperti itu, atau aku akan....."


"Ehem!" Raja yang tak bisa terus melihat alan bersama belly pun datang menghampiri mereka berdua.


Sontak semua mata mengarah pada raja, mereka terkejut akan kedatangan raja.


"Apakah aku mengganggu??" Ucap raja dengan menahan perasaannya.


"Ra..ja?" Belly hanya bisa menelan salivanya.


"Hey raja, sama sekali tidak mengganggu." Sambung alan, padahal sebenarnya ia merasa terganggu oleh kedatangan raja.


Raja hanya memicingkan senyum pahitnya, ia kemudian menyerahkan ponsel belly. "Ini, ponselmu tertinggal di rumah."


"Oh, ponselku. Terimakasih..." Ucap belly terbata.


"Raja, aku bisa...."


"Bell, aku pulang dulu sudah malam. Istirahatlah." Raja pun melangkah pergi sembari menahan sesak di dadanya. Ia merasa jika hatinya amatlah sakit melihat belly bersama alan. Belly terlihat begitu ceria bersama alan, sementara ketika dengannya belly terlihat tak nyaman.


Bell, apakah aku tak pantas untukmu? Apakah kebahagianmu ada pada diri alan?? Atau....apakah benar yang dikatakan maura??


Banyak pertanyaan yang terbesit di benak raja, namun ia segera menepiskan fikiran negatifnya itu. Raja percaya, jika belly adalah wanita yang baik. Tidak seperti pandangan maura.


To be continue...


🍒SELAMAT PAGI, selamat menjalankan aktivitas para pembaca karya othor yang setia. Mudah2an diberikan kesehatan dan kelancaran untuk semuanya. Amin.... 🤲

__ADS_1


Jangan lupa vote dan giftnya buat othor, terimakasih...🎮 🎁


__ADS_2