
"Kamar nomor 123...."
"123...."
"Dimana kau...."
Mata Raja terus mencari-keberadaan kamar yang masih menjadi teka-teki baginya. Ia terus berjalan melewati lorong-lorong hotel mengikuti langkah kakinya.
Saat matanya tertuju pada sebuah kamar bertuliskan angka 123, sejenak Raja menelan salivanya. Ditahannya nafasnya sebentar, kemudian ia menghembuskannya dengan cepat.
Kakinya perlahan mendekat ketempat dimana sebuah pintu bertuliskan angka yang ia cari saat ini.
Susah payah Raja mengumpulkan keberaniannya untuk membuka gagang pintu kamar tersebut, disatu sisi ia penasaran, disisi yang lain ia takut jika salah.
Tak ada pilihan lain, demi mewujudkan rasa penasarannya Raja pun memegang knop pintu kamar tersebut. Urusan salah atau tidak, itu bisa diatasi nanti.
Sangat mudah sekali, ternyata pintu itu tak terkunci.
Dibukanya perlahan, kemudian ia masuk kedalam kamar itu dengan langkah mengendap-endap.
Tak ada siapapun didalam kamar tersebut, hanya keheningan tanpa sebuah tanda kehidupan disana.
Raja merasa tengah dipermainkan saat ini, jelas ia tak menemukan apapun didalam kamar itu.
"Siapa yang berani mempermainkanku??"
Rahangnya mengeras, kepalan tangannya kian mengencang. Ingin rasanya Raja memberi sebuah pukulan kepada orang yang tengah mempermainkan dirinya..
Kepalan tangannya menyasar ketembok, beberapa kali ia memukul-mukul tembok itu.
*Bugghhhh!!!
Bughhh*!!!!
Rangga dan Alex berlarian menuju ketempat Raja saat ini, mereka berdua saling mengejar untuk mencari keberadaan Raja, kini mereka menemukan Raja yang tengah berdiri dengan tangan yang terus meremas rambutnya.
"Tuan, anda tak apa?" Tanya Rangga dengan nafas terengah-engah.
"Raja, kau menemukan Belly?" Tanya Alex dengan nafas yang terengah pula.
"Tak ada siapapun disini, sepertinya aku sedang dipermainkan." Ucap Raja lirih.
Bagaimana bisa seorang Raja tengah dikerjai oleh seseorang. Hal itu membuat Alex dan Rangga semakin geram.
"Berikan nomor yang menelponmu, aku akan melacaknya." Alex memberikan sebuah solusi kali ini untuk temannya itu.
"Tidak perlu, aku tak ingin menghabiskan waktu untuk orang yang tak penting!"
__ADS_1
Raja pun beringsut pergi keluar dari kamar, namun berbeda dengan Rangga dan Alex. Mereka berdua mencoba masuk lagi kedalam kamar untuk memeriksanya. Mereka juga berharap mendapatkan sebuah petunjuk untuk menemukan Belly dari kamar itu.
"Kau menemukan sesuatu?" Tanya Rangga pada Alex.
"Coba lihat, aku menemukan cincin..." Alex melihat ada sebuah cincin yang tertinggal diatas nakas dekat ranjang.
"Cincin??" Rangga meraih cincin itu dari tangan Alex.
Dapat terlihat jelas cincin itu, Rangga maupun Alex mengenali cincin yang kini mereka temukan.
Raja sebenarnya belum pergi, ia masih berada diluar kamar hotel. Mendengar Alex dan Rangga berisik didalam, ia pun segera menemui mereka berdua.
"Apa yang kalian temukan?" Tanya Raja mengagetkan keduanya.
Wajah Rangga dan Alex tak karuan lagi, mereka berdua hanya bisa menelan salivanya masing-masing berharap Raja tak meluapkan kemarahannya disini kepada mereka.
Raja dengan sigap merebut cincin yang ada ditangan Rangga, dapat terlihat jelas matanya yang kini kian memerah, dahinya yang kini mengeluarkan urat-urat kemarahan, seperti ingin mengeluarkan sebuah ledakan dari dalam dirinya.
Bergetar tangan Raja memegang dan memandangi cincin itu, bagaimanapun ia tahu betul siapa pemilik cincin yang kini ditangannya.
"Tuan, mungkin ini hanya akal-akalan orang saja untuk memanipulasi....."
"Tidak, ini adalah cincin milik Belly. Aku memberikannya cincin yang hanya satu-satunya didunia. Tidak mungkin salah!"
Raja mengingat ketika ia memesan cincin dengan desain khusus, ia juga menyertakan namanya yang terukir di cincin itu.
"Itu yang masih aku pertanyakan! Rangga cari bukti yang lain!" Perintah Raja pada asistennya yang kini tengah sibuk mencari sesuatu yang lainnya.
"Tidak ada petunjuk lain yang saya temukan Tuan."
"Kita keluar, kita tanyakan saja pada Resepsionis siapa sebenarnya pemesanan kamar ini!"
Rangga ataupun Alex mengikuti langkah Raja yang semakin cepat. Mereka menghampiri Resepsionis.
Berbagai cara sudah dilakukan Alex dan Rangga untuk meminta si Resepsionis memberitahukan si pemesanan kamar, namun karena alasan privasi dia tak bisa memberitahukan siapa si pemesanan kamar.
Dengan cara lain, Rangga pun mencari sang manajer hotel. Akhirnya dengan susah payah, Rangga mendapatkan informasinya.
Itupun dengan memberikan sebuah tips yang lumayan besar kepada sang manager.
"Dasar mata duitan!!!" Umpat Rangga saat keluar dari ruangan sang manager.
"Bagaimana?" Tanya Raja tak sabar menanti kabar.
"Sudah Tuan, tapi kita harus kehilangan uang sepuluh...."
"Aku tak peduli. Mana informasinya?"
__ADS_1
Belum sempat Rangga menyelesaikan perkataannya, Raja sudah memotongnya. Seolah tak ingin alasan apapun.
Rangga menyerahkan amplop kepada Raja. Dengan sigap Raja pun langsung meraih dan membuka amplop tersebut.
Jelas tertulis diatas kertas putih itu, Alan Alfazri. Nama yang tak asing bagi Raja, nama yang amat ia benci meski membacanya saja.
Melihat wajah Tuannya begitu marah, Rangga langsung menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia sudah tahu sebelumnya jika kamar 123 itu dipesan atas nama Alan.
Namun Rangga tak ingin menimbulkan fitnah, lebih baik Bossnya saja yang menyimpulkan.
"Ada apa Raja?" Alex yang melihat hal itu pun segera mengambil alih kertas ditangan Raja.
Alex ternganga, matanya membulat sempurna. Rasa heran, rasa tak percaya kini menyelimuti hati dan fikirannya.
"Dimana dia??" Raja menatap Alex penuh rasa curiga.
"Dia??? Maksudku A...."
"Kau sudah tahu itu! Kau menyembunyikannya?? Apa karena dia saudaramu?" Kembali Raja semakin membuat Alex semakin terpuruk.
"Ra..ja, tidak begitu. Aku benar-benar tidak mengetahui dimana Alan! Sungguh!!"
Beralasan bagaimanapun tak membuat Raja percaya padanya.
"Aku akan mencarinya sendiri! Jangan salahkan aku jika tanganku ini akan merobek-robek kulitnya!!"
Raja beringsut pergi dengan kemarahan yang membara meninggalkan Alex yang hanya bisa mematung.
Rangga hanya menemukan pundak Alex pelan, ia pun segera menyusul kemana bossnya pergi.
"Alan? Dimana kau? Mengapa kau membuat semuanya menjadi semakin rumit!"
Alex teringat akan Alan yang pergi begitu saja meninggalkannya. Hingga sampai saat ini, Alan belum juga menghubunginya. Alex pun tidak tahu dimana Alan saat ini.
Beberapa kali Alex mencoba menghubungi Alan tetapi nomor ponselnya selalu diluar jangkauan.
"Kau keterlaluan Al, aku takkan menyalahkan Raja jika dia menghabisimu! Itu semua salah sendiri!"
Alex berlalu pergi dari tempat dimana ia ditinggalkan oleh Raja dan Rangga. Saat ini ia hendak kembali ke kantor saja.
Rangga dan Raja menuju ke unit Apartemen Alan. Namun bukannya menemukan orang yang dicari, mereka malah kembali dengan tangan kosong.
Saat hendak menuju parkiran, Raja malah bertemu dengan orang yang tak diharapkannya.
Seorang wanita yang terus berjalan dengan tubuh meliuk-liuk menghampiri nya.
"Hei, kita bertemu disini..."
__ADS_1
To be continue....