
"Alan!!" Belly yang masih berada di pembaringan berteriak melihat Alan yang kini telah tersungkur akibat pukulan Raja. "Raja, apa yang kau lakukan?"
Belly terkejut sekaligus khawatir karena Alan dan Raja kembali bertikai.
Raja masih dengan emosi yang memuncak. Ia benar-benar tidak terima atas perkataan Alan yang memintanya untuk menyerahkan Belly kepadanya. "Jika kau tidak tahu apapun tentang aku dan Belly, tolong jaga ucapanmu!" Kedua tangan Raja masih mengepal menonjolkan otot-ototnya.
Alan mengaduh kesakitan, ia memegangi area wajahnya akibat tonjokan yang dilayangkan oleh Raja.
"Terimakasih karena kau telah membawa istriku ke Rumah Sakit hari ini! Tapi aku harap, jangan lagi menampakkan wajahmu didepanku! Atau aku......"
Raja tak melanjutkan kata-katanya ia hanya menghela nafas panjang, meskipun sebenarnya ia sangat berat mengucapkan terimakasih kepada Alan.
Sementara Bastian sudah membantu Alan, ia kini membawa Alan keluar dari ruangan rawat Belly.
"Jika aku jadi Raja, maka aku akan melakukan hal yang sama." Ucap Bastian ingin menceramahi Alan. "Jagalah sikapmu Al, Raja tidak mungkin...."
"Kau selalu membela Bossmu itu! Sudahlah!" Alan pun bergegas pergi meninggalkan Bastian.
"Dasar keras kepala!" Umpat Bastian kesal menyaksikan kepergian Alan.
Tak ada lagi yang Alan katakan, ia pun pergi meninggalkan area Rumah sakit. Hati Alan kini amat sakit, siapa yang tahu itu? Bahkan mungkin Belly yang pernah menjadi wanita spesial dihatinya pun tak mengetahuinya.
Aku sungguh masih sangat mencintamu Bell hingga rasanya teramat sakit...
Heuh, bahkan kau kini tengah mengandung anaknya?? Tapi aku masih saja ingin memilikimu! Sangat sulit Bell, sulit sekali untuk menghilangkanmu dari Hatiku.
Argggghhhhhhhh! Hati alan kini menjerit, kali ini rasa sakitnya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata lagi.
__ADS_1
Alan berjalan menuju keluar area Rumah sakit, Belly yang saat ini sedang terbaring di brankar Rumah sakit tapi mengapa Alan lah yang merasa lebih sakit. Tentu saja sakit di hatinya..
***
Di atas brankar Rumah Sakit Belly masih mematung, ingin rasanya ia memaki Raja saat ini. Tapi Alan lah yang telah memancing emosi Raja, hingga Belly pun memilih untuk diam.
Raja mengganti semua makanan yang telah dibeli Alan, ia tak mau jika Belly memakan pemberian Alan lagi.
"Kau tak perlu berlebihan Raja, makanan itu kan jadi mubazir." Ucap Belly saat mengetahui Jika Raja membelikan makanan baru untuknya.
"Mengapa mubazir? Aku tak membuangnya Bell, aku memberikan semua makanan itu pada orang di luar. Aku hanya tak ingin kau terus berhubungan dengannya!" Nada bicara Raja kini sedikit acuh. Sepertinya suasana hati Raja saat ini sedang tidak baik.
"Hmmmm... Aku tak berhubungan lagi dengannya Raja! Dia menolongku, jika Alan tidak menolongku mungkin aku..."
"Banyak orang lain yang berada disekitar kantormu! Meski tak ada dia, kau pasti tetap akan ke Rumah Sakit. Dasar dia saja yang terus ingin mengganggu kita." Dengan hati yang masih dongkol, Raja menyiapkan makanan untuk Belly.
Belly meresapi setiap kata yang diucapkan Suaminya itu. Menurut Belly ada benarnya juga. Tapi tetap saja Raja salah telah memukul wajah Alan. "Raja, mungkin saja begitu, tapi kau tetap salah. Tidak seharusnya kau memukulnya, harusnya kau berterimakasih pada Alan."
Belly pun diam, ia tak melanjutkan lagi perkataannya. Padahal masih banyak yang ingin ia katakan. Masalah kehamilannya, ia belum sempat memberitahukan Raja. Menurutnya saat ini bukan waktu yang tepat. Belly akan memberitahu nanti jika mereka sudah di Rumah dan suasana hati Raja sudah membaik.
Belly tak ingin membuat raja menjadi lebih emosi lagi, dengan mengumpulkan kekuatannya Belly memakan nasi padang yang disuapi oleh Raja.
Meski aroma menyengat yang ditimbulkan oleh nasi didepannya, Belly tetap memakan nasi itu dengan lahap. Ia mengingat jika didalam rahimnya kini ada benih cintanya dengan Raja yang harus dijaga dengan baik.
"Kau lahap sekali, cobalah makan dengan pelan Bell?" Melihat istrinya makan dengan lahapnya, membuat Raja merasa aneh. "Apakah sangat lapar??"
Belly hanya memicingkan senyumannya, dengan pipi yang mengembung karena penuh dengan nasi.
__ADS_1
"Kau bahkan terlihat semakin imut... Makanlah perlahan Bell." Ucap Raja sembari terus menatap Belly.
Setelah selesai menghabiskan sebungkus nasi padang, Belly melirik kearah buah semangka yang memerah begitu menggodanya. "Raja, aku ingin semangka." Pinta Belly pada Raja agar mengambilkan buah semangka di atas meja yang berada di ruang tempatnya di rawat.
Raja menengok kearah meja, kemudian bangun dari duduknya mengambilkan beberapa buah untuk Belly. "Ada banyak buah disini, apakah kau hanya ingin makan buah semangka?" Tanya Raja sembari memberikan buah semangka pada Belly.
"Warnanya begitu menggoda..." Hap! Belly langsung melahap buah semangka itu dengan ganas.
Tak luput dari Pandangan Raja, ia merasa heran akan tingkah istrinya itu. Tak seperti biasanya Belly makan dengan lahap seperti ini. Apa mungkin karena sedang sakit? Atau Belly merasa tubuhnya lemas tak bertenaga jadi ia makan dengan banyak? Entahlah, pastinya Raja tak bisa melarangnya, ia bahkan menawarkan makanan lain kepada Belly.
"Kau mau apalagi? Aku akan belikan untukmu." Tanya raja pada Belly setelah melihat semua buah di keranjang sudah habis dimakan.
"Benarkah?? Kau akan membelikannya?" Dengan wajah semangatnya, Belly mengeluarkan senyum sumringahnya.
Di saat itulah, Belly minta dibelikan es krim, jagung bakar dan siomay.
Karena tak ingin mengecewakan istrinya, ia pun bergegas keluar untuk membeli makanan yang di inginkan Belly.
Kesana kemari ia mencari pedagang jagung bakar, karena masih siang jagung bakar masih sulit ditemukan. Akhirnya ia menemukan tempat penjual jagung bakar dipinggir jalan sedikit jauh dari Rumah Sakit, itupun masih baru saja buka hingga Raja menjadi pembeli pertama.
Raja kewalahan membelikan semua makanan yang dipesan oleh Belly. Di bawah terik matahari, siang ini ia mengusap piluhnya yang sudah membasahi keningnya.
Raja merasa jika hari ini Belly tak pernah merasa kenyang karena terus saja ingin makan. Semua makanan yang dibelikan oleh Raja langsung saja terkuras habis tak tersisa.
"Haa???" Raja membulatkan matanya sempurna melihat makanan itu habis. "Bell, sudah ya? Aku takut jika kau akan sakit perut.." Ucap Raja dengan penuh kekhawatirannya.
"Tapi Raja, aku masih ingin makan siomay. Rasanya enak sekali... Bolehkah kau membelikannya lagi??" Pinta Belly dengan memasang wajah melas didepan Raja.
__ADS_1
"Apa??!!!....." Mata Raja terbelalak, sungguh ia benar-benar tak tahu apa yang tengah terjadi pada istrinya. "Ya tuhan....." Belum saja lelahnya terobati, kini Belly sudah memintanya kembali membeli siomay. Sebenarnya Ada Apa dengan Belly??
To be continue....