
"Sepertinya kau begitu merindukan mereka?" Melihat belly yang tengah menyirami bunga di taman kecil samping rumah, raja menghampirinya dengan membawa dua gelas teh hangat.
Belly tersenyum sipu mendapati raja menghampirinya dan memberikan satu gelas teh hangat kepadanya. "Terimakasih..."
Belly menghentikan aksi menyiram bunga, ia menyeruput sekali teh hangat pemberian raja. "Sudah lama aku tidak bermain bersama mereka, bisa dibilang aku begitu merindukan bunga-bunga ini."
Raja dan belly duduk di sebuah bangku panjang ddngan senderan bercat cokelat muda di dekat taman, dengan mata fokus menatap bunga-bunga segar di depannya. Mereka berdua terlihat sebagai pasangan suami istri yang bahagia.
"Bunga-bunga ini pun pasti merindukanmu bell, sama sepertiku...." Mungkin, saat ini raja sedang mengungkapkan isi hatinya. Hingga membuat belly terdiam sejenak.
"Ehem!" Belly berdehem dengan kepalan tangan yang menutupi mulutnya. Jujur, belly pun merasakan hal yang sama seperti raja.
"Kau tahu bell, aku baru menyadari kepergianmu saat aku melihat bunga-bunga ini layu.." Ingatan raja kembali pada awal belly pergi dari rumah meninggalkannya. Ketika mengingat hal itu, raja amat menyesali semua perbuatannya terhadap belly. "Aku sungguh menyesal bell...."
Tangan belly terulur, ia menggenggam tangan raja. "Sudahlah, tak perlu diingat lagi. Semua itu hanya akan membuat kita berdua kembali sakit." Ucap belly menenangkan raja.
Raja mengulurkan satu tangannya, di letakkannya diatas punggung tangan belly. "Bell, aku mencintaimu! Aku sangat mencintaimu...."
Tak ada sepatah kata pun yang belly katakan, tapi kali ini ia sungguh bahagia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut raja. Hingga belly pun memeluk raja dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bell, apakah kau masih belum bisa mencintaiku??" Pertanyaan itu raja ucapkan agar dapat mendengar jawaban langsung dari mulut belly. Namun sepertinya belly masih enggan. Meskipun begitu, raja tahu jika belly pun memiliki perasaan yang sama sepertinya. Sikap dan prilaku belly sudah menunjukkan jika ia pun mencintai raja. "Aku ingin mendengar jika kau pun mencintaiku bell?"
"Raja, apakah mencintai dan dicintai itu hanya bisa dinilai dari sebuah perkataan??" Kali ini belly yang melontarkan pertanyaan pada raja.
"Tidak juga, kita bisa menilai melalui sikap atau tindakan. Tapi, sebagian orang juga ingin mendengar secara langsung ungkapan cinta itu. Dan salah satunya adalah diriku!." Ucap raja melepaskan pelukan belly, matanya menatap dalam belly.
"Raja, jika aku bilang AKU TIDAK MENCINTAIMU bagaimana? Apakah kau percaya??" Belly memutar bola matanya malas.
"Aku percaya!" Dengan tegas, raja langsung membalas perkataan belly.
Belly mencubit perut raja, kali ini ia benar-benar kesal pada raja yang dianggap tak mengerti dengan maksud ucapannya.
"Awwww!" Raja mengaduh ketika tangan lentik belly memutar sebagian kulit perutnya. "Tanganmu sangat tajam bell!"
"Itulah hukuman karena kau sungguh tak peka!" Belly meninggalkan raja masuk ke dalam rumah.
"Bell, tunggu!!....." Raja pun menyusul belly masuk ke dalam rumah dengan wajah yang meringis merasa kesakitan.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan kegiatan raja dan belly dari jarak jauh. Ada perasaan iri yang mendesir dihatinya, sebagian lagi rasa nyeri yang begitu dalam melihat kemesraan mereka berdua.
"Harusnya aku yang berada di dalam rumah itu bersama raja. Bukan wanita bo-doh itu!!" Umpat maura kesal. Sudah berbagai macam cara dilakukan maura untuk memisahkan raja dan belly. Namun, bukannya menjauh mereka berdua malah semakin terlihat dekat.
"Aku tak bisa tinggal diam!" Maura turun dari taksi yang dinaikinya. Ia berjalan gontai menuju ke rumah raja. Karena pintu depan rumah terbuka, tanpa permisi ia langsung menerobos masuk begitu saja.
Di lihatnya belly sedang menonton televisi sendirian di dalam, dengan senyum smirknya ia pun menghampiri belly. "Santai sekali, nyonya raja??"
Suara yang khas dan sedikit cempreng itu mengejutkan belly, belly pun langsung bangun dari duduknya. "Maura??? Apa yang kau lakukan, tak bisakah kau bersikap sopan ketika masuk ke dalam rumah orang?"
Maura melangkah mendekat, di dudukkan bokongnya di sofa dengan tangan terlipat didepan dada. "Rumah ini begitu nyaman, pantas saja kau sangat betah disini! Tapi apakah kau sadar, jika kau berada di posisi saat ini karena telah merenggutnya dariku? Kau tak malu??"
"Apa yang kau katakan maura?" Belly masih berusaha menahan emosinya, meski saat ini ia begitu terhina karena ucapan maura saudara tirinya itu.
Bagaimana bisa maura menuduhnya telah merebut posisinya, padahal sudah jelas jika maura lah yang telah meninggalkan raja. "Aku tak pernah malu dengan posisiku, aku adalah istri SAH raja!" Ucap belly dengan intonasi yang sedikit menekankan kata SAH berharap maura sedikit sadar.
"Heuh?? Istri sah???" Maura tersenyum sinis. "Kau mungkin istri sah raja, tapi akulah wanita yang DICINTAI raja selamanya." Kini maura menyerang balik belly dengan menekankan kata dicintai.
Sedikit, hati belly sedikit nyeri mendengar ucapan maura. Sebisa mungkin ia berusaha bersikap tenang dan keep calm menghadapi wanita licik seperti maura. Belly berusaha menguatkan diri, ia hanya bisa merutuki maura lewat hati.
__ADS_1
Dasar wanita licik, penuh drama! Sabar belly, jangan terpancing emosi.
"Apa tujuanmu kemari? Apakah kau hanya ingin membuatku cemburu atau marah seperti tempo hari??" Tanya belly dengan sikap yang sedikit santai.
"Aku hanya ingin memperingatkanmu, segera tinggalkan raja!!" Dengan nada tinggi, dan jari telunjuk yang sudah berada di depan wajah belly, kali ini maura mulai berani memperingatkan belly.
Kini giliran belly yang tersenyum sinis, ia meraih jari telunjuk maura dan menyingkirkan dari hadapannya. "Apa sebenarnya tujuanmu kembali Maura Prianka?? Apakah impianmu menjadi model go international tak sesuai harapanmu alias HANCUR??"
"Beraninya kaau........" Mata besar maura seolah ingin menonjol keluar mendengar ucapan belly. Baginya, perkataan belly adalah sebuah hinaan meskipun itu memang fakta. "Kau fikir dengan menjadi istri raja kau bisa seenaknya terhadapku? Aku tidak akan tinggal diam, tunggu saja sebentar lagi raja pasti akan mendepakmu dari sini!!"
"Lakukan saja sesukamu, aku pun takkan tinggal diam. Aku takkan membiarkan wanita licik sepertimu merusak kebahagian rumah tanggaku!!" Belly tak mau kalah, ia pun berganti mengancam maura.
PLAK!!!!!!!!!
Maura menampar pipi belly dengan kuat, hingga menimbulkan warna merah muda.
"Sombong!!!" Maura tersenyum smirk! "Wanita lemah sepertimu tak pernah membuatku takut ataupun mundur begitu saja! Kita lihat saja nanti!"
Belly memegang pipi kirinya yang terasa panas karena di tampar oleh maura, ia merasa menjadi wanita yang lemah dihadapan maura karena tak bisa membalas tamparan itu.
Maura meninggalkan belly keluar dari rumah raja, hatinya merasa puas karena sudah melayangkan sebuah tamparan keras pada belly wanita yang amat dibencinya.
Maura bisa menghirup udara segar di luar dengan lepas dan lega. Ia terus berjalan riang, perasaannya yang tadi sesak kini sudah lapang kembali.
Wanita bo-doh itu ternyata sudah berani, kita lihat saja nanti aku pastikan raja akan kembali ke pelukanku!
***
Semalaman belly hanya banyak diam, bahkan ia pun hanya menanggapi seadanya ucapan raja. Fikirannya terus di penuhi akan hinaan dan ancaman maura siang tadi. Meski hatinya sudah berusaha mendorong fikiran itu, namun tetap saja kalah. Ia berusah menyembunyikan kedatangan maura dari raja. Saat itu, raja sedang berada di dalam ruang kerjanya karena rangga menelepon ada urusan pekerjaan yang mendesak.
Inilah kelemahannya, sedari dulu belly selalu mengalah menghadapi maura. Sejak papanya menikah dengan mama maura, belly selalu dinomorduakan. Kebutuhan belly jarang terpenuhi karena nadia selalu mengatur segala urusan rumah, bahkan uang yang papanya berikan untuk belly sering kali diambil oleh nadia untuk memenuhi kebutuhan maura. Kalah, belly selalu kalah dari maura.
Nadia memang licik, ia benar-benar bisa menutupi kebohongannya dari prass. Belly yang kala itu sangat lemah mau tak mau harus pasrah menerima segala penderitaannya.
Prass sempat tidak menyetujui keputusannya, namun belly pandai meluluhkan hati papanya itu dengan alasan mengejar kampus favoritenya dan ingin lebih hidup mandiri. Prass pun pada akhirnya menuruti permintaan belly.
Belly menitikkan air matanya, diingatnya kembali kenangan buruk saat kehilangan mamanya karena sebuah kecelakaan. Hingga akhirnya penderitaannya pun di mulai ketika papanya menikahi Nadia yang begitu licik.
"Bell?" Raja yang bingung karena sedari tadi belly banyak diam dan melamun pun menghampirinya. Siang tadi sepertinya belly baik-baik saja, namun semalaman ini belly terlihat tak seperti biasanya. "Ada apa bell?? Kau menangis?" Tanya raja yang kini melihat belly sudah mengusap air matanya. Raja mendudukkan bokongnya di pinggiran ranjang.
"Tidak, aku baik-baik saja raja." Belly masih menyembunyikan perasaannya, meskipun sebenarnya ia ingin sekali mengadu pada raja tapi, ia tak ingin membuat raja khawatir.
Raja memeluk tubuh istrinya, di usapnya kepala belly dengan lembut. "Ada apa? Apa yang telah membuatmu menangis, ceritakanlah aku siap mendengarkan keluh kesahmu..."
"Aku... Aku hanya merindukan mama." Ucap belly masih dengan isakan tangisnya.
"Mama? Mama Nadia?" Raja memang belum mengetahui jika belly dan maura memiliki hubungan yang kurang baik. Pasalnya saat pacaran dengan maura, raja tak pernah mendengar jika maura memiliki saudara. Maura mengaku pada raja jika ia seorang anak tunggal.
"Heuh," Belly tersenyum pahit namun raja tak bisa melihatnya karena belly sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang raja. "Mama Anastasya, dia adalah ibu kandungku yang sudah meninggal empat tahun lalu."
"A..apa? Benarkah?" Raja terkejut mendengar penuturan belly.
"Ya, kau tentu sudah tahu jika aku dan maura adalah saudara tiri bukan?"
"Oh, iya aku sudah tahu itu..." Raja tak ingin banyak membahas soal maura, ia merasa malas ketika mendengar nama maura. "Bagaimana jika kita keluar malam ini, agar kau tak bosan dan suntuk." Raja mengalihkan pembahasan, ia berniat mengajak belly pergi ke luar.
"Tapi aku sedang tak ingin kemana-mana raja, aku ingin di rumah saja." Saat ini belly tak ingin pergi ia pun menolak ajakan raja yang berusaha menghiburnya.
"Kau tak bosan seharian ini di rumah saja?" Tanya raja lagi.
__ADS_1
"Tidak, justru karena terus di rumah aku menjadi lebih sering dekat denganmu." Wajah belly memerah, ia tak habis fikir sekarang sudah berani menggoda raja meski hanya sedikit.
"Lalu?....." Masih mengulum senyumnya, raja ingin tahu seberapa jauh belly menggodanya.
"Lalu, lalu apa maksudmu?? Hah??" Belly mencubit perut raja lagi hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
"Kau lihat, kulit perutku menjadi biru karena cubitanmu yang berbissa??" Raja sedikit meringis merasakan nyeri dan panas karena ulah belly. Ia kemudian mengusap-usap bagian perutnya yang terasa sakit dan panas.
"Jadi kau menganggapku Ular??" Belly membelalakkan matanya menjadi bulat sempurna, tangannya pun ingin melayang kembali menuju perut raja. Namun dengan sigap raja menangkap tangan belly hingga belly pun menubruk tubuh raja dengan posisinya yang ada diatas.
Tatapan keduanya bertemu, tak ingin menyia-nyiakan waktu raja segera meraup bibir milik istrinya itu. Kali ini kegiatan belly dan raja berjalan dengan baik, hingga raja memutuskan melepas kaos hitam polos yang membalut tubuhnya atletisnya itu.
Mata tak bisa berbohong, melihat perut kotak-kotak milik raja membuat belly terkesima. Bukan hanya terkesima, ia bahkan takjub dan menginginkan menyentuh otot-otot perut yang dianggapnya sangat seksi itu.
Belly memberanikan diri menyentuh perut kotak-kotak milik raja, ditelisiknya bagian-bagian garis yang membentuk kotak itu hingga ia menemukan warna hijau kebiruan pada perut raja. "Apakah bagian ini yang terkena bissa??" Tanya belly masih menyentuh bekas cubitannya.
"Heu'umm! Karena bissamu, perutku manjadi berwarna seperti ini. Butuh waktu lama untuk menghilangkan bekas ini! Kau harus di hukum!" Dengan senyum smirknya, raja melanjutkan aksinya. Ia menciumi wajah belly, dagu hingga leher.
Tak bisa menolak sentuhan raja, belly pun terbuai dan terhanyut. "Beginikah caramu menghukumku?? Jika ini hukuman untukku, maka aku akan terus memberikanmu bissa!"
Raja merasa menang, ia tak ingin menghentikannya sampai di sini saja. Tangannya pun mulai bergerilya melepas helaian kain yang melekat di tubuh belly.
Semakin larut mengarungi setiap lekuk tubuh belly, dengan meninggalkan beberapa kissmark di leher belly.
Dan................
Semua terjadi, belly dan raja pun melakukan penyatuan. Dengan nafas yang terengah-engah ketika keduanya selesai melakukan pelepasan.
CUPP!
Raja mengecup kening belly dengan penuh kelembutan. "Terimakasih, aku sangat mencintaimu Belly Zeana Anggraika."
Senyum belly terpancar jelas, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Rasa sakit pada area sensitifnya pun sedikit terobati karena raja yang terus memperlakukannya dengan manja dan penuh kelembutan.
Raja meraih selimut di bawah kakinya, ia melihat ada bercak berwarna merah yang tertinggal di sprei. Raja tersenyum senang, di tariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Kemudian raja kembali mengecup punggung tangan belly.
"Aku mencintaimu bell, sangat mencintaimu..." Ucap raja berulang kali dengan menghujani beberapa kecupan lembut pada belly. Ia amat berterimakasih karena belly memberikan yang pertama kali kepadanya.
"Apakah kau tak bosan mengatakan itu, raja?" Belly menatap lekat wajah raja, dengan suara sedikit serak mulutnya pun melontarkan sebuah pertanyaan kepada raja meski pun sebenarnya ia tak pernah bosan mendengar kalimat yang di ucapkan raja.
"Tak ada kata bosan untuk wanita berbissa-ku, aku mencintaimu..." Raja pun kembali mengatakan kalimat itu. Membuat belly semakin tersipu malu.
"Kau?..... A..apa katamu?? Wanita berbissa-KU??" Belly terkikik geli menirukan gaya bicara raja. "Apakah kau mau ku cubit lagi??" Dengan mata yang membola, di dekatkannya ke arah wajah raja.
"Dengan senang hati, cubit dan berilah aku bissa racunmu yang membuatku can-du.." Raja malah memasang wajah siap kearah belly.
"Kau ini....." Belly memutar bola matanya malas dengan membuang nafas satu kali.
"Ada apa? Kenapa tak kau berikan cubitanmu itu? Aku sungguh menginginkannya lagi...." Rajuk raja dengan manja.
"Kau inginkan cubitan atau yang lain??" Belly mengerti arti perkataan raja. "CK! Bahkan rasa perihnya saja belum hilang, ternyata kau setega itu?" Memang sakit akibat permainan raja tadi belum hilang, belly tak ingin mengulangnya lagi untuk malam ini.
"Benarkah?? Tapi aku menginginkanmu lagi bell, sungguh....." Raja kembali merajuk.
"Raja, berhentilah...." Belly tersenyum kecil, ia bangkit dari pembaringannya. "Aw... " Saat hendak bangun, rasa nyeri pada bagian itu semakin terasa.
"Bell, ada apa?? Mana yang sakit?" Raja mulai khawatir pada wanita berbissa-nya.
"Tidak! Tidak ada, aku baik-baik saja." Ucap belly sedikit meringis. Ia pun membangunkan tubuhnya perlahan, dengan tubuh yang dibalut selimut. Kemudian belly pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Melihat belly berjalan sedikit tertatih, raja merasa iba. Ingin rasanya ia menolong wanitanya itu, namun ia lebih memilih diam di atas ranjang untuk menahan keinginannya.
To be continue....