
"Kita akan kemana?" Tanya Belly pada Alan yang kini sudah siap untuk mengajaknya pergi.
"Kemana-mana," jawaban Alan begitu santai, namun perkataan itu susah dimengerti oleh Belly.
"Al, aku serius!" Belly sedikit menaikkan nada bicaranya, pasalnya Alan sejak tadi selalu saja menggodanya. Bahkan Alan tak ingin melepas dan memberikan waktu istirahat untuk Belly dari permainannya. Hal itu membuat tubuh Belly terasa lemas dan sedikit layu.
"Al, kita mau kemana?" Tanya Belly sekali lagi.
Alan hanya menggedikkan bahunya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Alan tersenyum kemudian menghampiri istrinya yang tengah bersolek di depan cermin meja riasnya.
Alan mengalungkan tangannya dan menyandarkan dagunya pada bahu Belly sembari memujinya. "Istriku begitu cantik,"
Belly memanyunkan bibirnya, ia melihat pantulan diri Alan dari cermin di depannya. Sepertinya Alan begitu bahagia, raut wajah Alan hari ini tak seperti biasanya.
"Al, apa ada yang ingin kau katakan?" Tanya Belly ketika melihat Alan begitu manja padanya. Semburat aura tak biasa terpancar dari wajah Alan, hal itu membuat Belly merasa aneh.
"Aku ingin mengatakan ..." Alan tersenyum menghentikan perkataannya yang membuat Belly semakin penasaran.
"Al, apa??" Belly sepertinya sudah tak sabar. Matanya sudah mulai membulat memelototi suaminya.
"Aku ..."
Belly sudah menunggu lama, namun Alan tak juga melanjutkan kata-katanya. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada Belly dengan mata yang terus terpejam.
"Al," panggil Belly mencoba menyadarkan Alan kembali.
"Alan, kamu mengantuk?" Tanya Belly ketika melihat pantulan wajah Alan dari cermin yang sudah memejamkan matanya.
"Aku ingin terus seperti ini, Bell," ucap Alan diiringi dengan senyumannya.
"Seperti ini? Al, aku lelah," ujar Belly dengan suara lemahnya. Jika ia terus membiarkan Alan bergelayut padanya, bukan tak mungkin Alan akan menghabisinya kembali.
"Baiklah, jika kau lelah," Alan tak ingin memaksakan Istrinya. Namun ia masih terus menyandarkan dagunya sembari memeluk Belly dari belakang.
"Al, apa kau ingin tidur?"
"Asalkan bersamamu, apapun itu aku pasti mau," jawab Alan dengan enteng tanpa banyak berfikir.
"Al," Belly langsung mencubit lengan Alan hingga membuatnya membuka mata.
"Awww!"
__ADS_1
Alan mengaduh kesakitan, ia pun melepas dekapannya pada tubuh Belly dengan mengusap-usap lengannya yang terasa sakit dan panas akibat cubitan tangan Belly.
"Panas! Jemarimu itu bahkan seperti semut, Bell," ujar Alan dengan jujur.
"Itu agar kau bangun dari fikiran kotor," celetuk Belly.
"Haruskah kau mencubit? Mengapa kau tak menggunakan jari itu untuk hal yang lain,"
"Hal yang lain? Kau mulai lagi, Al!" Perkataan Alan begitu ambigu membuat dahi Belly berkerut dengan bola mata yang memutar ke atas. Namun Belly tahu arah dari pembicaraannya itu menuju ke mana.
"Bell, jemarimu itu bahkan bisa membuat aku melayang-layang,"
"Alan!!!!"
Belly berteriak dengan kencang, ia tak menyangka setelah menikah selama satu hari dengannya, sikap Alan rasanya berubah total bahkan menjadi sebucin ini. Ternyata, mencintai Alan semenyenangkan ini.
...****************...
Belly dan Alan saling bergandengan tangan mengelilingi taman hiburan yang kini mereka datangi. Pantas saja Alan memintanya untuk memakai pakaian santai, ternyata ia membawa Belly ke tempat yang membuatnya semenyenangkan ini.
Meski pun Alan memberi honey moon sederhana padanya, Belly merasa sangat bersyukur dan begitu bahagia di awal pernikahan mereka.
"Al, lihat di sana!"
"Al, kau serius? Apakah kora-kora sebesar itu tak bisa lau lihat?" Tanya Belly yang merasa heran dengan mata Alan.
"Tidak!" Jawab Alan dengan percaya diri.
"Al, kau yakin?" Tanya Belly lagi merasa khawatir. Ia takut suaminya itu memiliki mata yang rusak. Tangannya pun dilambai-lambaikan tepat di depan mata Alan.
"Al, sebenarnya apa maumu?" Belly mulai mengerucutkan bibirnya.
"Sederhana saja, aku hanya ingin kamu hidup dengan bahagia," jawab Alan.
Belly tersenyum, "Apakah kamu melihat kora-kora itu?"
"Aku tidak bisa melihat kora-kora itu, aku hanya bisa melihatmu di sini!" Alan tersenyum, ia berhasil membuat Belly seolah mendapat bunga mawar satu kebun.
"Al, aku terpana ..." Belly merangkul lengan Alan dengan kepalanya yang bersandar pada pundaknya. Wajahnya pun berubah menjadi semu kemerahan.
"Kita naik?" Tanya Alan menatap ke arah istrinya yang sedang bergelayut manja padanya.
__ADS_1
Belly menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Alan dan Belly pun berjalan cepat sembari bergandengan tangan menuju ke tempat pembelian tiket untuk menaiki beberapa wahana di taman hiburan yang mereka kunjungi.
Untuk wahana pertama, mereka berdua menaiki kora-kora. Stelah menaiki kora-kora, Belly mengajak Alan menaiki komedi putar. Namun baru saja turun dari kora-kora Alan sudah sempoyongan.
"Bell, aku ..." Alan merasa kepalanya pusing, perutnya begitu mual hingga ingin mengeluarkan semua isi dalamnya.
Belly hanya tertawa melihat suaminya kini sudah terkulai lemas dengan posisi jongkok. Ia tidak menyangka, Alan yang perkasa ini bisa lemas juga hanya karena menaiki sebuah wahana.
"Hueeeekkkk!!!" Alan pun memuntahkan isi yang ada di dalam perutnya.
"Al, kau tidak apa?" Tanya Belly khawatir memegangi pundak Alan sembari memijatnya pelan.
Alan hanya melambaikan tangannya, ia begitu malu saat ini. Sebagai pria ia terlihat lemah, hanya karena menaiki satu wahana saja. Padahal sebelumnya, ia dan Belly memutuskan untuk menaiki beberapa wahana.
"Al, bagaimana keadaanmu?" Setelah Alan keluar dari kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Belly begitu khawatir melihat wajahnya yang begitu pucat.
"Aku baik-baik saja," ucap Alan tak ingin terlihat lemah di depan Belly. Ia juga tak ingin Belly khawatir akan keadaannya.
"Benarkah? Kau yakin?" Tanya Belly lagi. Ia terus saja memandangi wajah Alan yang pucat itu.
"Iya sayang," jawab Alan mengusap lembut puncak kepala Belly.
"Al, bisakah kau membelikan aku itu?" Belly yang melihat pedagang Cotton Candy dengan berbagai warana pun menjadi tergiur. Ia menunjuk ke arah pedagang itu agar Alan melihatnya.
"Tunggu di sini," jawab Alan. Ia pun menuju ke seberang jalan sana menuju pedagang yang ditunjuk oleh Belly.
Belly duduk di pinggiran taman di kursi kayu panjang. Dari kejauhan ia dapat melihat punggung Alan yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.
Setelah tiba di pedagang Cotton Candy itu, Alan menoleh ke arah Belly yang memandangnya dari jauh namun dapat terlihat olehnya wajah Belly yang menyunggingkan senyuman kepadanya sembari melambaikan tangan.
Alan pun membalas melambaikan tangannya kepada Belly, kemudian ia pun kembali mengarah pada pedagang itu dan memesan dua buah Cotton Candy berbentuk bulat.
Setelah selesai, Alan pun membawa Cotton Candy menuju ke tempat di mana Belly telah menunggunya dengan sabar. Alan membawa Cotton Candy itu pada dua tangannya.
Sampai jarak beberapa meter lagi hingga posisinya dengan Belly dekat, Belly begitu bahagia melihat Alan dengan dua buah Cotton Candy yang menggembung begitu besar di tangan kiri dan kanannya. Sungguh bentuknya saja sudah begitu menggoda, apa lagi rasanya.
Dorrrr!!! Dorrr!!!
Dua kali, suara mengilukan telinga itu terdengar jelas olehnya. Hingga semua orang berhamburan dengan berteriak. Dapat terlihat olehnya banyak orang yang tengah berlari ke sana kemari mencari tempat perlindungan.
Begitu pula dengan dirinya, namun ia masih menanti sang kekasih hatinya yang tak terlihat lagi oleh pandangannya dan tak kunjung tiba hingga saat ini.
__ADS_1
To be continue ...