
"Raja, bisakah pelankan laju mobilmu?" Ketakutan Maura semakin menjadi takut ketika Raja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Raja tersenyum smirk, sepintas ia dapat melirik kearah Maura yang terlihat ketakutan. Wajah panik Maura begitu menyenangkan baginya.
"Ini saatnya!" Raja tak mau selesai begitu saja, ia benar-benar kesal terhadap Maura dan harus membalas perbuatannya.
"Raja!!!! Apa yang kau lakukan!" Maura sudah mulai berteriak. Ia semakin ketakutan hingga harus berpegangan.
"Rajaaaa!!!" Teriaknya lagi. Namun Raja tak menggubris hal itu. Yang ada Raja malah semakin senang dan puas karena bisa mengerjai Maura.
Sampai di sebuah jalan yang terlihat sepi, raja menekan rem mendadak hingga membuat mobil terhenti dan tubuh Maura terhuyung kedepan.
"Awww!" Kepala Maura terkena dashboard depan mobil hingga ia mengaduh kesakitan.
"Raaj...."
Belum sempat ia memaki Raja, ia sudah mendapati Raja berada diluar mobil dan membukakan pintu untuknya.
"Turun!!!" Perintah Raja dengan intonasi nada yang tinggi.
"Raja, kenapa aku harus turun disini?" Mata Maura celingukan memperhatikan sekitar jalan yang begitu sepi. Hanya ada pepohonan dan mirip seperti hutan disekelilingnya.
"Turun sekarang!" Lanjut Raja lagi, ia tak ingin menjawab pertanyaan Maura.
"Ra..ja!!! Apa-apaan ini?"
Karena Maura tak juga mau turun dari mobil sportnya, ia terpaksa menarik tangan wanita itu dengan kasar hingga keluar dari mobil.
"Raja, apa yang kamu lakukan?" Merasa tak mengerti dengan sikap Raja padanya, ia begitu bingung dengan tindakan Raja saat ini. Jangan bilang jika Raja akan meninggalkannya sendiri di jalan sepi ini. Itu tak boleh terjadi.
Raja menatap sinis kearah Maura. Tak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan. Dengan segera ia masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesin.
"Ra..raja??" Maura memukul-mukul kaca mobil.
"Raja!!!!"
"Rajaaaaaa!!!! Berhentiii!!!!!"
Ngenggggggg!!!!!!
Mobil Raja pun melesat cepat. Didalam mobil ia tertawa puas menyaksikan wajah Maura yang terlihat ketakutan.
"Wanita seperti itu harus diberi pelajaran!"
"Rasakan itu dasar wanita tidak tahu malu!"
Semenjak kedatangan Maura ke rumah orang tuanya, Raja merasa ada yang tak beres dengan wanita itu hingga ia berencana untuk memberikan pelajaran padanya. Sebenarnya saat itu juga ia ingin melakukannya, tapi ia masih menunggu agar tahu apa yang akan diperbuat oleh Maura.
Apalagi Raja sempat mengetahui jika Maura menjelek-jelekkan Belly. Sungguh ia tak terima itu. Entah mengapa, ia merasa tak terima padahal ia sudah melayangkan surat cerai untuk Belly.
Setidaknya jika ia tidak bisa bersama dengan Belly, ia tak ingin bersama Maura. Ia tak ingin mengulang dan mengingat masa lalunya yang buruk.
__ADS_1
Raja meraih ponselnya, ia menghubungi seseorang disana.
"Bagaimana??"
"Aku akan mengirim via E-mail." Jawab seseorang diseberang sana.
"Baiklah."
Tut!! Raja memutuskan sambungan teleponnya. Ia pun segera mengemudikan mobilnya menuju kediaman orang tuanya.
Sementara dijalan yang sepi, Maura kebingungan. Tak ada lagi kendaraan yang lewat dijalan yang gelap itu.
"Berengs*k kamu Raja!!! Awas saja, aku akan memberi pelajaran padamu!!" Umpatnya kesal.
Ia mencoba meraih ponselnya, hendak menghubungi seseorang dan mencari taksi online. Namun ponselnya saat itu kehabisan daya.
"Aaa...Arghhhhh!!!!!" Maura hanya bisa berteriak ia terus merutuki perbuatan Raja padanya kali ini.
"Shi*ttt!!!!" Maura mulai kebingungan seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
"Bagaimana ini??? Ya Tuhan, berikan pertolonganmu." Pinta Maura memohon.
Saat seperti ini saja ia memohon pada Tuhan. Coba saja saat hendak melakukan kejahatan, ia tak pernah ingat dengan Tuhan.
Tak lama, ada sorot lampu yang terlihat menandakan akan ada kendaraan yang lewat.
Maura merasa senang, setidaknya ia bisa menumpang pada kendaraan yang sudah semakin terlihat mendekat itu.
"Heeeiiiii!!! Berhentii....." Teriak Maura dengan sekencang-kencangnya.
Sebuah mobil Pick Up menepi dipinggir jalan. Maura pun segera berlari menuju mobil yang sudah berhenti itu.
"Hai, ayo naik." Ajak sang pria setengah baya dengan senyum dan pandangan nakal kearahnya.
Maura melihat kondisi mobil yang tak layak baginya itu, matanya menyusuri setiap body mobil dari depan hingga kebelakang.
"Ayo manis. Naiklah..." Ajak si pria yang menyetir mobil itu dengan membukakan pintu tanpa turun dari mobil tersebut.
"Ish! Apakah tidak ada pertolongan Tuhan yang lain??" Dengus Maura kesal dengan suara sedikit lirih.
Ia merasa tak ingin naik dengan pria yang terlihat beringas itu. Namun jika ia tak naik, mungkin tidak akan ada lagi mobil yang akan melewati jalan sepi ini. Bisa jadi ia akan diterkam oleh binatang buas atau diganggu oleh hantu penghuni jalan sepi ini. Fikiran itu membuatnya bergidik ngeri, ia belum mau mati karena masih banyak tujuan yang harus ia gapai.
"Nona, ayo cepat naik. Tenang saja, aku akan membayarmu." Lagi, pria itu kembali membuka suara dan membuat Maura terkejut.
"Membayar?? Maksudnya?"
"Halah, tidak usah berpura-pura. Aku akan membayarmu lima ratus ribu. Tubuhmu sangat indah..." Mata pria itu mulai memandang Maura dengan penuh naf*su.
"A..apa??" Maura terkejut.
"Sialan!! Apakah kau menganggap aku ini wanita penjual diri?? Kau salah besar tuan jelek!!!" Maura berkata kasar, ia tak menyangka jika seorang pria dengan mobil butut itu berani berkata seperti itu dan memandang rendah dirinya.
__ADS_1
"Jangan jual mahal!! Mana ada wanita yang baik-baik sepertimu! Kau pasti menjual tubuhmu itu!"
"Heh!!! Jika aku menjual tubuhku, setidaknya aku mencari pria kaya dan tampan! Bukan sepertimu! Tua, jelek, tidak tahu diri. Apalagi mobilmu sangat butut!! Tidak sudi aku naik denganmu!"
Maura tidak bisa lagi menahan kekesalannya.
"Dasar pela*cur tidak tahu diri.!!" Si pria pun melajukan mobilnya meninggalkan Maura.
"Eeehhh, mau kemana kau! Tunggu...."
Maura berlari mengejar mobil itu. Namun langkahnya tak bisa mengimbangi kecepatan mobil. Ia kehilangan kendaraan yang bisa ditumpanginya.
"Arghhh! Semua ini gara-gara Raja!!!" Maura berteriak sekeras mungkin merutuki perbuatan Raja terhadapnya.
"Bagaimana ini, haruskah aku terus berjalan di tempat sepi dan gelap ini??" Maura terus berfikir dan mencari jalan keluar.
"Tidakkkk!!!!!" Teriaknya lagi.
Tak lama dari situ, ada sebuah mobil sedan berwarna silver melewati jalan itu. Dengan sigap ia pun melambai-lambaikan tangannya lagi agar mobil itu berhenti.
Maura memasang wajah sumringahnya ketika mobil itu menepikan lajunya. Ia mengetuk-ngetuk kaca mobil berharap si pemilik mobil mau memberinya tumpangan untuk kembali ke hotel.
"Bolehkah aku menumpang denganmu?" Tanyanya saat melihat seorang pria dengan wajah tegas dan memiliki kumis tipis dengan dagu dan wajah yang ditempuh bulu-bulu halus. Pria muda itu terlihat sangat manis dan gagah bagi Maura. Mata Maura memang tak pernah salah jika melihat pria tampan.
"Naiklah." Ucap sang pria dengan nada datar dan tatapan terus lurus kedepan tanpa menoleh atau melirik kearahnya.
Dengan senang hati Maura pun naik kedalam mobil itu. Ia tak menyangka ada pria manis yang akan memberikan tumpangan padanya.
"Antar aku ke hotel XYz." Kebiasaan yang suka memerintah ternyata tak bisa hilang dari dalam dirinya. Padahal ia baru beberapa detik bertemu dengan pria manis itu, tapi ia sudah berani memerintahnya.
Pria itu tak berkata apapun, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan menuju ke hotel yang Maura tuju.
Tak ada niat buruk dari pria tersebut, karena dia bukanlah pria jahat. Ia hanya kasihan terhadap wanita yang kini duduk disebelahnya meski tahu jika wanita itu bukanlah wanita baik-baik.
Maura merasa senang karena diantar oleh pria itu. Ia mencoba berbasa-basi beberapa kali, namun si pria manis tak juga menanggapinya dengan sepatah katapun.
"Apakah dia tuli? Atau bisu?" Batin Maura.
Tak terasa mereka pun tiba di halaman sebuah hotel yang dituju. Maura kagum dengan pria tersebut karena sudah mau mengantarnya dan tidak berbuat buruk terhadapnya. Kali ini ia merasa beruntung Tuhan masih baik padanya.
Maura pun membuka pintu dan turun dari mobil sedan berwarna silver itu. Ia tersenyum kearah si pria manis. Semanis mungkin ia pasang senyuman dibibirnya. Berharap pria itu akan terpikat padanya.
"Terimakasih karena...." Belum juga selesai mengucapkan perkataannya. Mobil yang dikendarai pria manis itu sudah melaju meninggalkan dirinya.
"Hoooh!! Pria macam apa itu? Apakah semua pria tidak pernah menghargai wanita?? Dasar sial*an!!!!"
Maura kesal, ia berfikir semua pria tidak pernah menghargainya. Mulai dari papa tirinya yang tak lain ayah Belly, yang tak pernah menyukainya. Kemudian Hendrick yang mencampakkannya begitu saja dan memilih wanita lain. Ada juga Alan, mantan kekasih Belly yang dianggapnya sebagai pria pengganggu. Belum lagi pria dengan mobil butut yang berani akan membeli tubuhnya. Sekarang ia harus dihadapkan dengan pria bisu dan tuli.
"Raja! Semua ini gara-gara kamu! Tunggu saja, kamu fikir aku akan menyerah?? Itu tidak ada didalam kamusku!"
To be continue.....
__ADS_1