
👣Satu minggu berlalu......
Raja dan belly bak pengantin baru yang terus-menerus menampakkan kemesraan. Siapa pun yang melihat pasangan ini pasti akan merasa iri. Seperti saat ini, raja mengantar belly bekerja ke kantor steva, tak lupa ia keluar dari mobil dan memberikan kecupan hangat pada bibir istrinya. Tentu saja aksi itu membuat beberapa orang yang melihatnya menjadi Ciut. Pasalnya, kebanyakan karyawan wanita yang bekerja di kantor steva mengidolakan sosok raja. Tapi setelah tahu jika raja adalah suami belly asisten dari steva, mereka pun mengubur dalam-dalam perasaan sukanya itu terhadap raja.
CUP!!
"Kau? Kau melakukannya lagi? Aku sudah katakan jangan menciumku di sini raja..." Belly merasa malu ketika raja mencium bibirnya saat mengantarnya ke kantor.
"Aku tidak bisa menahannya, kau canduku, wanita berbissa-ku!" Senyum bahagia raja terpancar jelas saat mendapati wajah belly yang terlihat gugup dan memerah karena malu.
"Raja, apakah di rumah tidak cukup?? Jika kau melakukannya lagi maka besok tak perlu mengantarku ke kantor!" Belly memasang wajah marahnya.
CUP!!
Raja tak menanggapi aksi ngambeg istrinya itu, ia mencium kening belly dan mengacak rambutnya pelan. "Aku pergi dulu." Ia pun segera masuk ke dalam mobil.
Belly hanya bisa menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan mendapati aksi suaminya yang menurutnya sedikit bandel.
Dengan melirik ke kiri dan ke kanan, ke depan kemudian ke belakang ia pun masuk ke area perkantoran. Belly berpapasan dengan beberapa karyawan lain, karena merasa malu ia pun menyapa karyawan-karyawan yang tengah memperhatikannya dengan sedikit senyuman terpaksa.
Hingga sampai di dalam ruangannya, belly bisa bernafas lega. "Huft, sampai kapan aku akan terus begini? Raja, dia benar-benar membuat ku senam jantung setiap hari...." Belly merasa sangat kesal pada suaminya.
"Hai bell....." Sapa steva memasuki ruangan belly.
"Eh, ibu steva? Tumben sudah datang ke kantor?" Belly menatap arloji berwarna gold dipergelangan tangannya, merasa heran dengan kedatangan steva sepagi ini membuatnya curiga.
"Sejak kau tak tinggal bersamaku lagi, aku jadi sering bangun kesiangan. Hingga aku harus bangun jam lima demi berangkat pagi-pagi." Steva mengerucutkan bibirnya. "Ini juga pasti gara-gara hendrick yang terus saja mengajakku....."
"Mr. Hendrick mengajakmu apa??" Tanpa kesabaran, belly menanti ucapan steva yang terputus tak di lanjutkan.
"Ck! Aku di buat pusing olehnya!" Steva berdecak, ia memijat kepalanya pelan.
__ADS_1
"Ada apa stev? Apa yang dilakukan hendrick?" Belly masih penasaran, ia sangat ingin tahu apa yang tengah terjadi pada steva.
"Menurutmu menikah itu bagaimana? Apakah rumit?" Steva malah balik tanya, tanpa menjawab pertanyaan belly.
"Upss!" Belly menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Jangan bilang Mr. hendrick mengajakmu menikah??"
Tebakan belly tepat, ternyata steva dipusingkan oleh hendrick pria blasteran yang terus mengejarnya itu. Belly berusaha menasihati steva dengan hal-hal manis dalam pernikahan, namun steva masih bimbang ragu dengan keputusan yang akan diambilnya.
***
Jarum jam kian memutar, tak terasa waktu pulang pun telah tiba. Belly membereskan meja kerjanya, saat itu pula ponselnya berbunyi tanda notifikasi pesan masuk.
Celenting!
[Sayang, ada meeting dadakan sore ini. Aku tidak bisa menjemputmu. Tapi, aku janji akan pulang dengan cepat setelah selesai, jaga mata jaga hati untukku]
Pesan masuk yang dikirimkan oleh salah satu kontak bertuliskan Suamiku itu pun membuat belly tertawa geli. Pesan yang dikirim oleh raja itu berhasil membuat perutnya bergelitik.
Tak ingin membuat kekhawatiran suaminya, belly pun segera membalas pesan raja.
Setelah mengirimkan pesan balasannya, belly bergegas keluar area perkantoran dan menunggu taksi online pesanannya.
Belly berdiri di atas trotoar jalan, tiba-tiba ia di kagetkan dengan sosok yang dianggapnya sebagai hantu. Ya, karena sosok itulah yang akhir-akhir ini terus menghantui kehidupan belly dan membuat hidupnya menjadi tak tenang.
"Ada apa? Kau terkejut aku ada disini??" Ucap maura seperti biasa dengan senyum sinisnya. "Kau bekerja disini?? Apakah raja tak memberimu uang??" Maura terkikik pelan menertawai belly yang dianggapnya tak diberi perhatian oleh raja hingga ia harus bekerja di kantor orang lain.
"DASAR HANTU!!!" Belly tak memiliki kesabaran lagi, ia pun merutuki maura.
"A..apa kau bilang? Ha..hantu? Kau mengataiku HANTUU???" Maura sangat marah, ia mencoba melayangkan tangannya ke wajah belly.
Namun, tangan maura dicekal oleh seseorang yang tenaganya lebih kuat hingga membuat maura hampir jatuh dari posisi tegaknya. "Beraninya kau menyakiti sahabatku!!"
__ADS_1
"Steva?" Belly terkejut dengan kedatangan steva sekaligus senang karena steva telah menyelamatkannya dari hantu licik dihadapannya.
Maura membenarkan posisi tegaknya, ia tak mau kalah dari wanita yang baru pertama kali di temuinya hingga maura pun maju selangkah lebih dekat dengan steva, lalu ia mendorong steva hingga terjatuh.
"Awww...." Steva mengaduh, kakinya mengenai pinggiran trotoar dan menimbulkan luka lecet.
"Steva??, maura apa yang kau lakukan?" Belly mencoba menolong steva untuk bangun.
"Siapa dia, apakah dia temanmu? Pembantumu? Atau pahlawanmu?" Tanya maura dengan nada mengejek.
"Maura! Sebenarnya apa yang kau mau?" Belly mengeratkan kedua telapak tangannya hingga membentuk kepalan, ia tak menyangka maura bisa dengan tega menyakiti orang terdekatnya.
"Mau ku?? Kau masih bertanya? Mau ku adalah menghancurkanmu!!" Maura tersenyum sinis, dengan mata besarnya menatap tajam kearah belly kemudian berganti kearah steva.
"Stephani......" Seseorang pria berlari mendekat, ia membantu steva yang tengah duduk dipinggiran trotoar bersama belly. Dengan penuh kekhawatiran diwajahnya, hendrick menyentuh luka lecet pada pergelangan kaki steva. "Apa yang terjadi?"
"He..ndrick??" Melihat kedatangan hendrick dengan kekhawatirannya terhadap steva, maura pun menjadi semakin naik pitam.
"Maura??" Hendrick mengarah keasal suara yang begitu dikenalnya namun membosankan menurutnya. "Apa kau yang telah melukai stephaniku??" Hendrick menatap tajam maura, ingin sekali ia menghantam wajah maura. Tapi ia sadar jika maura adalah seorang wanita, dan tak pantas diperlakukan dengan kasar.
"A..apa??? Stephani-KU?" Maura tercengang mendengar penuturan hendrick mantan kekasihnya itu.
"Jika aku melihatmu mengganggu stephani lagi, akan ku buat perhitungan padamu. Camkan itu!!" Hendrick membopong steva menuju mobilnya yang ditepikan tak jauh dari pinggir jalan, "Ayo bell, ikutlah dengan kami."
Belly dan steva hanya saling pandang, mereka berdua masih belum paham dengan apa yang terjadi. Sepertinya hendrick mengenal sosok maura, dan maura pun sama begitu.
Melihat kepergian mereka bertiga, maura menepak-nepakkan kakinya di atas trotoar. Ia mengumpat kesal mendapati hendrick yang membopong tubuh stephani teman belly.
"Apakah dunia ini begitu sempit?? Bisa-bisanya semua orang yang berhubungan denganku itu mengenal belly? Wanita Bo-doh itu telah merenggut semua kebahagiaanku! Argggggghhhhhh!!!!!!!"
"Siapa wanita yang bersama hendrick itu?? Akan ku beri pelajaran kalian semua!! Kita lihat saja nanti?"
__ADS_1
Hantu licik itu pun pergi, dengan dendam yang membara. Banyak sekali keingintahuannya tentang wanita yang dibopong oleh hendrick dan hubungannya dengan belly, semua itu membuat maura harus bekerja lebih ekstra lagi untuk membalaskan dendamnya terhadap belly. Rencana dan rencana tengah disiapkan maura untuk mengahancurkan belly, namun sepertinya kali ini ia harus menyusun ulang lagi rencana itu.
To be continue......