Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Melepaskan


__ADS_3

"Alan masih belum bisa dihubungi, Bell?" Tanya Prass ketika melihat putrinya hanya mondar-mandir di depan pintu rumah yang selama ini mereka tempati dengan raut wajah khawatir.


Belly hanya menggeleng pelan, "belum Pa,"


Prass menghela nafasnya panjang, kerumitan yang dihadapi putrinya kali ini membuatnya semakin merasa bersalah. Andai saja dulu ia tak menikahkan Belly dengan Raja, mungkin kemalangan yang kini menimpa Belly takkan terjadi.


Namun semua ini sudah terlanjur, disaat seperti ini ia tak ingin membahas itu semua. Hal yang harus dilakukan olehnya adalah menenangkan putrinya. Ia tak ingin menjadi seorang ayah yang gagal untuk kedua kalinya.


"Bell,"


"Ya Pa," jawab Belly tanpa menatap kearah Prass karena ia masih sibuk menghubungi nomor telepon Alan yang tak juga aktif.


"Kamu mengkhawatirkannya?"


"Pa, jelas Belly khawatir. Sekarang sudah larut malam, Alan belum juga pulang. Dia tak pernah seperti ini, apa jangan-jangan terjadi sesuatu padanya?"


Mata Belly kini mulai berkaca-kaca, menurutnya hanya dengan menunggu Alan tak akan membuahkan hasil. Ia harus segera mencari dan menemukan keberadaan Alan.


Melihat Putrinya melangkahkan kaki, Prass pun segera menghalanginya. "Kamu mau kemana, Bell?"


"Pa, Belly tidak bisa berdiam diri seperti ini, bukan?"


"Kamu mau mencari Alan?"


"Ya, Pa. Belly khawatir terjadi sesuatu padanya," ucap Belly dengan suara lirihnya.


"Bell, menurut Papa kamu tidak perlu mencarinya. Mungkin Alan butuh waktu untuk sendiri dan tak ingin diganggu. Biarkanlah Alan menenangkan dirinya dulu," Prass mencoba membujuk sekaligus menasihati Putrinya.


"Tapi, Pa ..."


"Sudahlah, bukankah kamu bilang Alan tak pernah seperti ini? Cukup tunggu saja Alan di sini sampai dia pulang, Papa akan temani," ungkap Prass mencoba menenangkan putrinya kembali.


Belly hanya diam, ia tak menanggapi perkataan Prass. Kali ini menurutnya perkataan Papanya ada benarnya. Biarlah malam ini ia ditemani oleh Prass, meski sebenarnya ia juga khawatir dengan kondisi Papanya.


Setelah menunggu selama dua jam, Alan tak juga pulang. Hal itu membuat Belly meminta Papanya untuk masuk ke dalam rumah lebih dulu. Prass pun mengiyakan permintaan Belly, ia pun masuk untuk beristirahat di dalam kamarnya.


Kini tinggallah Belly sendiri di luar dengan angin malam yang begitu dingin menyapu kulitnya. Fikirannya kalut, ia begitu mengkhawatirkan seorang Alan. Belly juga merasa semakin bersalah, hingga tak dapat mengontrol air matanya yang hendak keluar.


TINNNN!! TINNN!!


Suara klakson mobil terdengar dari arah luar gerbang. Belly dapat melihat jika itu mobil Alan, hal itu sedikit membuat dirinya dapat bernafas lega.


"Alan, akhirnya kamu pulang," Belly segera berlari menghampiri mobil yang kini sudah berhenti di depan rumah.


Namun betapa terkejutnya ia, ketika mendapati sosok Pria berbeda yang keluar dari mobil itu.


"Darwin???" ucap Belly dengan membelalakkan matanya.


"Di mana Alan?" lanjutnya lagi.


Darwin hanya menghela nafas panjang ketika berhadapan dengan Belly. Ia segera memutari mobil menuju kursi penumpang belakang. Di bukanya pintu itu dan menampakkan sosok Alan di sana yang terlihat berantakan. Ia pun memapah tubuh Temannya itu menuju ke dalam rumah.


"Darwin apa yang terjadi?" Belly merasa penasaran, karena ia melihat Alan sedikit tak sadarkan diri dengan tubuh yang sempoyongan juga tercium aroma minuman yang menyengat dari tubuhnya.


Tak mendapat respon apapun dari Darwin, Belly hanya bisa menghela nafas saja. Ia pun mengikuti mereka dari belakang, karena membantu pun tak bisa dilakukannya.


Tiba di kamar Alan, Darwin membanting tubuh temannya itu ke atas kasur beralas putih itu. Nafasnya terengah-engah karena dibuat repot oleh Alan sejak di Club yang mereka kunjungi tadi.


"Kau berat sekali, bisakah kau tak merepotkanku??" Darwin mengomeli Alan dengan perasaan yang begitu kesal.


"Akibat ulahmu, aku tak bisa bersenang-senang! Inikah yang namanya teman? Kau menjengkelkan sekali," lanjut Darwin lagi.


Belly dapat mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Darwin, begitu Darwin selesai mengumpat dan mendudukkan tubuhnya pada sofa di kamar Alan, Belly pun memberanikan diri untuk masuk.

__ADS_1


"Darwin, aku tahu kau tak begitu menyukai diriku. Tapi bisakah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Alan?" Belly bertanya dengan penuh kehati-hatian, ia tahu jika teman Alan itu tidak begitu menyukainya.


Belly mendudukkan tubuhnya di ranjang tepat sebelah Alan terbaring, ia memandangi setiap inci tubuh itu yang begitu kacau.


Belly pun melepaskan sepatu dan kaus kaki yang Alan kenakan. Kemudian Belly keluar membawa sepatu Alan itu dan kembali lagi dengan membawa baskom berisi air hangat juga handuk kecil ditangannya.


Darwin yang menyaksikan hal itu hanya tersenyum sinis, ia tak ingin menanggapi pertanyaan apapun dari Belly wanita yang telah membuat temannya kacau.


"Darwin, apa kau masih tak ingin berbicara padaku?" kali ini Belly memberanikan diri untuk mendekat ke arah Darwin yang sejak tadi tak menanggapi dirinya.


"Sepertinya kali ini bukan cuma Alan yang marah padaku, tapi juga sahabatnya," lanjut Belly lagi.


Belly meninggalkan Darwin yang hanya diam tak berbicara sepatah pun. Ia pun melanjutkan aksinya untuk membersihkan tubuh Alan dengan air hangat.


Belly mencoba melepaskan dasi yang masih melilit pada kerah kemeja putih milik Alan, kemudian ia pun mencoba menempelkan lap hangat pada kening Alan yang terasa panas.


Belum saja Lap itu mendarat pada kening Alan, tangan Belly kini sudah di cekal dengan kuat oleh Alan.


"Jangan pernah mendekatiku, jika kamu hanya ingin pergi, menjauh ..." ucap Alan dengan lirih serta tatapan mata yang tajam.


"Al, aku ..." Belly merasa terkejut, ia pun bingung harus berkata apa lagi karena pegangan tangan Alan membuat dirinya menjadi gugup dan serba salah.


"Menjauhlah, " pinta Darwin pada Belly. Kemudian Darwin mengambil alih Lap yang tadi dipegang oleh Belly.


"Darwin, biar aku saja," Belly mencoba meraih kembali Lap yang kini telah dipegang oleh Darwin.


"Kau tidak dengar apa yang baru saja Alan katakan?" ucap Darwin sedikit berbisik, dengan mata yang sekilas melirik ke arah Alan yang kini sudah terpejam kembali.


"Darwin, Alan sedang tidak sadar. Aku tahu bagaimana dia ..."


"Oh, kau tahu bagaimana dia? Tapi kenapa kau tadi bertanya padaku seolah tak tahu apa yang terjadi padanya? Hah??"


Darwin mulai geram dengan intonasi tinggi , ia merasa Alan sudah salah memilih seorang wanita. Rasanya ia ingin memberi pelajaran pada Belly, namun ia harus ingat jika Alan sahabatnya itu begitu mencintai wanita itu dan tak ingin dia terluka sedikitpun.


"Baiklah," tak ada pilihan lain bagi Belly selain meninggalkan mereka berdua. Ia pun memilih keluar dari kamar Alan dan pergi ke kamarnya.


Tiba di kamarnya, ia teringat akan ucapan Alan. Entah mengapa hatinya merasa terganggu akan sikap Alan kali ini padanya.


Darwin benar, aku memang tidak pernah tahu sedikitpun tentang Alan. Tapi aku bersikap seolah tahu segalanya, terlalu banyak misteri pada dirinya. Yang aku tahu selama ini hanyalah besarnya cintanya padaku.


Apakah Alan mabuk-mabukan karena diriku?? Oh, Tuhan. Apa yang kamu lakukan Alan?


Malam ini rasanya Belly tak dapat tidur, meski ia sudah berulang kali mencoba memejamkan matanya.


...****************...


Sepagi ini Belly menatap tiga orang pria sudah siap di meja makan dengan obrolan serius yang tak begitu bisa ia dengar.


Prass, Darwin dan juga Alan. Mereka bertiga sepertinya sedang menunggu seseorang.


Hingga akhirnya Belly datang dan ikut bergabung, ia mengambil posisi duduk di sebelah Papanya tepat bersebrangan dengan Alan.


Belly menghela nafasnya, ia memancarkan senyum kecil dan menyapa beberapa pria berwajah serius di sana.


"Selamat pagi semua," sapa Belly dengan mata menatap ke arah Alan.


Tak ada yang menjawab sapaan itu, hanya sebuah anggukan dari tiga pria di sana serta sebuah senyum sinis yang terlihat oleh Belly dari wajah Darwin.


"Bell, duduklah. Sepertinya kamu tak tidur dengan baik," Prass yang memperhatikan mata Belly begitu sembab langsung memberikan Putrinya itu satu gelas susu hangat.


"Thanks Pa," ucap Belly menerima perhatian dari Papanya. Namun matanya sesekali masih mencuri pandang ke arah Alan yang pagi ini terlihat sangat pucat dengan aura dingin.


"Al, apa yang ingin kamu bicarakan tadi?" tanya Prass kepada Alan.

__ADS_1


Alan terdiam sejenak, diliriknya Belly beberapa detik kemudian ia kembali menatap Prass dan mengutarakan pembicaraan yang tertunda tadi sebelum Belly datang.


"Begini Om, sebelumnya aku ingin meminta maaf jika selama kalian bersamaku banyak kekurangan atau kesalahan yang aku lakukan. Aku harap Om mau memakluminya,"


mendengar ucapan Alan.m entah mengapa Belly merasa hatinya tidak baik-baik saja.


"Alan, kenapa bicara begitu? Justru Om dan Belly yang merasa tak enak telah banyak merepotkanmu," ucap Prass merasa tak enak hati atas perkataan Alan. Selama ini Alan sudah banyak membantunya, harusnya ia yang mengucapkan maaf dan terimakasih kepadanya. Bukan malah sebaliknya.


"Om, aku bersyukur pengobatan dan perawatan Om Prass di sini berjalan baik. Sekarang Om sudah sehat seperti harapan Putri Om dan tentunya aku pun berharap yang sama. Jadi ..."


"Alan sudah siapkan tiket pesawat Om Prass dan Belly ke Surabaya malam ini, jadi berkemas dan bersiaplah karena penerbangan kalian pukul Tujuh malam nanti." Darwin yang merasa jika temannya itu sedang kesusahan untuk mengutarakan isi hatinya pun memotong ucapan Alan dan membantunya menjelaskan kepada Prass.


Baik Prass mau pun Belly tak bisa berkata apa-apa, mereka sadar jika hanya menumpang hidup pada Alan yang jelas tak memiliki hubungan apapun pada keluarga mereka.


"Alan, kamu bertindak semaumu lagi," ucap Belly dalam hati.


"Untuk Rumah dan perusahaan Om di sana sudah kembali normal, semua kebutuhan di sana juga sudah aku siapkan," ucap Alan dengan berat hati.


"Al, terimakasih sekali lagi atas semua kebaikanmu. Maaf jika Om tidak bisa membalasnya sesuai apa yang kamu inginkan," Prass sangat berterimakasih pada Alan, yang dia sayangkan adalah mengapa Belly tak bisa menerima Pria sebaik Alan yang begitu tulus padanya.


"Aku hanya meminta agar Om terus sehat dan bisa menjaga Belly kembali, aku masih banyak pekerjaan aku permisi Om," Alan tak ingin berlama-lama, ia segera ingin pergi karena tak tahan melihat kemurungan dari wajah Belly yang sejak tadi hanya diam tak berkata apapun.


Alan Pun beranjak dari tempat duduknya, begitu pula dengan Darwin yang mengekorinya dari belakang.


Melihat Alan sudah menuju keluar Rumah, Belly pun beranjak dari kursinya dan mengejar Alan menuju keluar.


"Alan, tunggu!!"


Belly berjalan mendekat kearah Alan yang kini telah menghentikan langkahnya.


"Aku ingin bicara," Belly memegang tangan Alan dan berusaha menuntunnya untuk bicara empat mata.


Alan menghela nafasnya panjang, susah payah ia coba untuk menghindari Belly, namun ternyata Belly malah menghampirinya. Alan tak ingin usahanya untuk menjauh dari Belly terhalang kembali karena perasaannya, ia sudah bertekad untuk melepaskannya agar Belly bahagia keluar dari jeratannya selama ini. Ia pun dengan perlahan melepaskan cekalan tangan Belly pada pergelangan tangannya.


"Maaf Bell, aku harus pergi," ucap Alan dengan nada rendah.


"Al, tidak bisakah kamu beri aku waktu bicara sebentar saja?" tanya Belly dengan mata yang berkaca-kaca. Entah mengapa, perlakuan Alan sejak semalam membuat perasaannya tak tenang. Bahkan pagi ini, ucapan Alan begitu menyakiti hatinya.


"Aku rasa pembicaraanku tadi di meja makan sudah jelas, maaf aku harus pergi," Alan pun meninggalkan Belly di sana dengan mengambil langkah lebar menuju ke Mobil yang di dalamnya sudah ada Darwin.


"Al, Alan!!!"


Teriakan Belly tak dihiraukan oleh Alan, ia berlalu begitu saja meninggalkannya.


"Alan, tunggu!!"


"Alan, kamu selalu berbuat semaumu," Belly mengusap wajahnya yang kini sudah dialiri oleh air mata.


"Bell, sebaiknya kita berkemas sekarang," ajak Prass menghampiri putrinya yang terlihat sedih.


"Lihat, bahkan Papa pun menuruti keinginannya? Apakah dia selalu bertindak seperti itu? Menyebalkan," gerutu Belly, ia amat kesal dengan perlakuan Alan yang sejak dulu selalu bertindak tanpa berkompromi terlebih dahulu dengannya.


"Kamu kecewa?" tanya Prass menatap Putrinya dengan senyum.


"Pa, jelas Belly kecewa dengan sikapnya! Dia tak pernah mau berkompromi lebih dulu dengan Belly, dia selalu bertindak semaunya, dia benar-benartidak berubah,"


"Bukan itu maksud Papa, apakah kamu kecewa karena akan jauh dari Alan?" tanya Prass lagi meluruskan maksudnya.


"Pa, Belly ..."


"Sudahlah, Papa sudah tahu tidak perlu dijelaskan lebih baik kita berkemas."


Melihat mata Putrinya sudah kembali berkaca-kaca, Prass pun tak ingin melanjutkan lagi. Ia segera mengalihkan topik agar Belly tidak terus-menerus bersedih.

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2