Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Gagal Move On


__ADS_3

Alan sudah berusaha dengan keras agar tak lagi mempedulikan Belly dan menyerahkannya pada Raja, namun hatinya tak sekuat itu. Hingga ia memutuskan untuk melihat Belly di Bandara meski dari kejauhan untuk terakhir kalinya. Sepertinya kali ini Alan gagal Move On.


Sekeras apapun ia mencoba menahan, hingga hati yang telah ia paksaan beberapa hari ini tengah meronta-ronta karena tak sanggup menjalani keinginannya untuk melepaskan Belly.


"Ah, ****!!" Alan mengumpat kesal ketika mata itu menatapnya dari kejauhan. Ia pun segera pergi dari tempat dimana ia memperhatikan Belly dari kejauhan.


Alan Berlari menuju keluar Bandara, ia tak ingin ketahuan oleh Belly jika tadi tengah memperhatikan dirinya. Namun sepertinya Alan terlambat karena Belly sudah melihat keberadaannya.


Sementara Belly yang telah melihat Alan pun pergi begitu saja meninggalkan Raja dan beberapa orang yang tengah berkerumun.


"Belly, kamu mau kemana?" panggil Prass yang kini telah melihat Putrinya berlari tanpa ia tahu alasannya.


Tak menggubris pertanyaan Papanya, Belly tetap saja melaju pesat mencoba mencari Alan yang kini telah hilang dari pandangan matanya.


"Alan, aku yakin itu tadi Alan," Belly menelisik setiap sudut mencari-cari keberadaan Alan.


"Tapi di mana dia?" lanjut Belly lagi bergumam dalam hati. Kemudia ia memutuskan untuk pergi menuju keluar Bandara.


Benar saja, di sana ia melihat Alan yang tengah berjalan cepat menuju sebuah Mobil Range Rover hitam. Tak ingin kehilangan jejak, Belly segera berlari dan memanggil Alan.


"Alan!" Teriak Belly dengan suara lantangnya.


Seketika Alan menghentikan langkahnya, karena mendengar suara keras Belly yang memanggil namanya.


"Al, berhenti, please ..."


Di saat itulah Alan mulai melemah, mendengar ucapan Belly dengan suara yang kian serak. Ia merasa sudah ketahuan dan tak bisa lari lagi dari Belly. Hingga mau tak mau ia tak bisa sembunyi lagi dan harus menghadapi Belly.


"Al, berhenti menghindariku. Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak bersikap seperti ini?" lanjut Belly tanpa sepatah katapun jawaban yang keluar dari mulut Alan.


Melihat Alan hanya mematung membelakangi dirinya, Belly memilih berhambur dan memeluk Alan dari belakang. Belly menyandarkan kepalanya pada pundak Alan dengan mata yang kini tengah berembun. Ia pun mengeratkan kedua tangannya yang melingkar pada perut Alan seakan tak ingin melepaskannya.


Seketika tubuh Alan langsung menegang, darah yang mengalir seakan lebih cepat, hingga jantungnya pun serasa terhenti.


Alan berusaha bersikap rileks, agar jantungnya tak terus berdegup kencang. Kemudian ia sedikit mencoba menggerakkan tubuhnya berharap Belly sadar dan melepaskan pegangan tangannya pada perut Alan.


"Al, biarkan seperti ini,"


Selama ini Belly tak pernah melakukan kontak fisik seperti ini dengan Alan, namun malam ini bersandar pada pundak Alan ternyata terasa nyaman baginya.


"Belly," panggil Raja dengan suara sedikit lesu.


Dapat terlihat jelas oleh kedua matanya jika Belly saat ini tengah memeluk pria lain, apakah ini pertanda jika Belly telah menolak dirinya? Tidak, Raja masih kukuh jika Belly belum menolaknya, bahkan ia begitu percaya diri jika Belly masih sangat mencintainya dan tak mungkin menolaknya.


Alan dan Raja saling bertatap, mata keduanya sama-sama sulit diartikan. Baik Raja ataupun Alan sama-sama menyukai Belly. Berbeda dengan Belly yang masih memejamkan kedua bola matanya merasakan kenyamanan saat ini, hingga tak menggubris jika Raja tengah memperhatikannya.


Raja mengeratkan rahangnya, mungkin karena ia kecewa dengan situasi saat ini. Situasi yang tak tepat bagi dirinya, di mana malam ini ia akan membawa Belly pulang bersamanya namun ia malah melihat pemandangan yang tak menyenangkan.


"Aku bo*doh telah percaya padanya," ucap Raja dengan lirih sembari mengepalkan telapak tangannya dengan kuat. Ia pun berjalan dengan wajah kesal menghampiri Belly kemudian menarik tangannya hingga membuat Belly dan Alan terkejut.


"Lepaskan Belly," ucap Raja dengan tatapan bringas ke arah Alan.

__ADS_1


Alan menjadi bingung, karena dia tak melakukan apapun terhadap Belly justru Belly lah yang mendekap tubuh Alan. Namun karena posisi itu, Alan sadar jika ia begitu merasa nyaman.


Sayangnya, Raja datang begitu cepat mengganggu kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Raja, apa yang kamu lakukan?" Belly mengguncang kuat tangannya agar terlepas dari cekalan Raja.


"Raja, aku ingin berbicara dengan Alan. Tolong tinggalkan kami," pinta Belly dengan meredam emosinya.


"Kalian bisa bicara di sini," jawab Raja tak ingin meninggalkan Belly dan Alan.


"Raja, tolong ..."


"Aku pergi, dan kalian saling bermesraan seperti tadi? Itu yang kalian inginkan?" ucap Raja sinis disertai perasaan kecewanya.


"Raja, kamu salah paham," jelas Alan, karena ia tak berniat bermesraan pada Belly. Menurutnya apa yang dilihat Raja tadi hanyalah sebuah kesalah pahaman saja.


"Bell, bicaralah agar tak ada lagi yang salah paham seperti yang dia ucapkan," tukas Raja menatap Belly dengan penuh rasa cemburu. Matanya pun secara bergantian menatap kedua insan itu dengan penuh rasa curiga.


"Baiklah, jika kamu ingin mendengar apa yang akan aku katakan kepada Alan," Belly merasa jika ucapan Raja seolah menantang dirinya. Ia pun menatap sinis kearah Raja, dan segera mendekat kearah Alan.


"Al, aku tahu apa yang sebenarnya aku rasakan akhir-akhir ini. Aku merasa tidak nyaman jika kamu bersikap acuh terhadapku, aku juga tidak nyaman jika kamu menghindariku," ucapan Belly terdengar lemah namun dapat terlihat oleh Alan guratan-guratan di wajah mulusnya jika saat ini ia tengah berkata jujur.


"Itu hanya perasaanmu saja, kau akan terbiasa nanti," jawab Alan menyela, tak ingin begitu menanggapi ucapan Belly. Lebih tepatnya tak ingin berharap lebih karena ia takut akan kecewa kembali.


"Apa kamu ingin aku seperti ini, Al? Kamu ingin aku terus merasakan sakit karena perlakuanmu?"


"Bell, sedikitpun aku tak berniat menyakitimu, maaf jika ..."


"Berhenti meminta maaf, Al," Belly meletakkan jari telunjuknya pada bibir Alan yang terasa dingin.


"Al, berhenti menyalahkan dirimu, cobalah untuk tidak memikirkan perasaan orang lain. Fikirkan perasaanmu sendiri, Al," kini jari telunjuk Belly berpindah pada dada bidang Alan.


"Bell, segeralah kembali karena jam terbang pesawat sebentar lagi," perlahan Alan meraih tangan Belly agar tak lagi menyentuhnya.


"Al, kamu yakin akan membiarkan aku pergi?" seolah tak ingin berpisah, Belly melontarkan pertanyaan untuk memastikan perasaan Alan padanya saat ini.


"Bell, seberapa pun aku melarang kamu akan tetap pergi, bukan?" Alan tak ingin lagi menautkan perasaannya, ia sudah berniat untuk melepaskan Belly.


"Al, kamu yakin?" Belly mencoba meyakinkan Alan sekali lagi.


"Jangan pernah mencoba menggodaku lagi, Belly?" Alan tak kuat melihat air mata Belly yang kini sudah mulai menetes, inilah kelemahannya.


"Kenapa, Al? Apa karena kamu juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?"


"Sudah cukup! Ayo kita pergi," Raja berusaha menarik tangan Belly. Ia tak ingin terus melihat kontak fisik antara Alan dan Belly. Bahkan menurutnya aksi Alan dan Belly kali ini berlebihan seperti sebuah Drama.


"Raja lepaskan!!!" Belly meronta, ia menarik tangannya dengan kasar agar terlepas dari cekalan Raja.


"Belly, kita harus segera kembali," ucap Raja mencoba meredam suaranya.


"Cukup Raja, aku tidak ingin kembali bersamamu! Aku tidak akan pernah kembali bersamamu!" Teriak Belly.

__ADS_1


"A-apa katamu? Bell, mengertilah aku mohon. Kau hanya sedang emosi, kita harus segera kembali ke rumah ..."


"Tidak, aku tidak akan pernah ikut denganmu lagi," tolak Belly dengan lantang.


"Bell, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, aku tahu kau pun merasakan hal yang sama denganku," Raja mencoba bersikap manis untuk merayu Belly.


"Heuh, bawa saja cintamu itu sendiri. Cintaku untukmu sudah hilang terbawa angin," Belly masih bersikeras, tak pernah terlihat Belly sekuat ini.


"Bell, apa kamu sudah melupakan semua kenangan kita? Di rumah kita?" Raja mencoba membuka memori lama untuk meredam emosi Belly.


"Apa kamu juga lupa, jika kamu tidak pernah mempercayaiku? Kamu juga lupa beberapa bulan yang lalu kamu sudah melayangkan surat cerai untukku? Kamu menyakitiku berulang kali, Raja. Apa kamu lupa, Hah??"


Sepertinya saat ini Belly sudah meluapkan semua isi hatinya hingga air matanya kini berlinang dan membuat ia tak kuat menopang tubuhnya untuk berdiri. Untung saja Alan sigap dan segera menahan tubuh Belly yang hendak tumbang.


"Bell, sudah jangan pernah mengingat kenangan pahit itu lagi," Alan memegang kedua pipi Belly yang kini sudah basah oleh air matanya. Ia mencoba menenangkan situasi hati Belly saat ini.


"Al, dia bahkan lupa jika sudah tak mempercayai janin yang ku kandung itu adalah darah dagingnya. Bahkan membuat aku kehilangan janin yang selama ini aku jaga, dan sekarang dia bilang dengan mudahnya ingin kembali lagi bersamaku?"


Belly meluapkan segala isi hatinya, Raja yang melihat hal itu pun hanya bisa mematung dengan mata yang memerah. Ia sadar, jika masa lalu yang dihadapi Belly begitu berat itu karena ulahnya sendiri.


Namun ia tak akan menyerah, ia akan tetap memperjuangkan cintanya pada Belly untuk menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan.


"Bell, beri aku kesempatan untuk memperbaikinya," Bujuk Raja dengan mendekat kearah Belly.


"Apa lagi yang mau kamu perbaiki? Kenapa baru sekarang kamu sadar jika aku berarti bagimu? Kenapa Raja? Kenapa?"


"Bell, aku menyesal. Sungguh ..."


"Sesal memang selalu datang di akhir, tapi aku tidak ingin menerima penyesalanmu itu, Raja!"


"Alan, apa kau sudah meracuni otaknya hingga ..."


"Berhenti menyalahkan orang lain karena kesalahanmu sendiri, Raja!" Potong Belly merasa tak suka karena Raja terus saja menyalahkan Alan.


"Belly, stop! Jangan terus membelanya. Dia terlihat baik di depan tapi sebenarnya dia punya niat buruk dibalik semua itu,"


"Niat Buruk? Selama kamu campakkan, aku tidak pernah merasa mendapat perlakuan buruk apapun dari Alan. Yang ada aku malah sadar, jika dirinyalah yang mampu memahami dan mengerti aku dalam keadaan apapun dan situasi terburuk sekalipun," Belly mengucapkan kebenaran yang selama ini ia alami saat bersama Alan. Sayangnya, ia baru menyadari semua itu sekarang.


"Belly, aku sudah menyesali perbuatanku di masa lalu. Tapi aku berusaha untuk menebusnya, aku mohon, Bell kembalilah padaku ..."


Raja tak tahu harus berbuat bagaimana lagi agar Belly mau memaafkan dan kembali lagi padanya.


"Al, tolong bawa aku pergi dari sini," pinta belly pada Alan. Ia pun memegang tangan Alan agar mau membawanya pergi.


"Al, please ..." mohon Belly, karena Alan hanya mematung dan membisu tak menanggapinya.


"Jangan pernah membawanya pergi, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu," ujar Raja menatap tajam ke arah Alan.


"Ayo," Alan menarik tangan Belly tanpa basa-basi kemudian membawanya masuk ke dalam Mobilnya. Dengan cepat Alan mengemudikan mobilnya, membawa Belly bersamanya.


"Belly!!!!" Teriak Raja dengan kencang. Namun rasanya percuma karena mobil yang Alan kendarai sudah hilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Belly," Raja bersimpuh lemas, dengan hati yang sakit dan berantakan menyaksikan kepergian Belly bersama Alan.


To be continue ...


__ADS_2