
'Aku menyesal Bell' Hanya kata itu yang terus terputar berulang kali di otak Belly. Penyesalan Raja, Benarkah?
Benarkah Raja menyesal? Atau itu hanya tipuan muslihatnya saja untuk mendekati Belly kembali. Sejak Raja mengungkapkan kalimat penyesalan itu, Belly merasa lemah, ia tak ingin mendengar lebih penjelasan dari Raja hingga ia memutuskan harus keluar dan meninggalkan Raja sendiri.
Belly mengambil langkah seribu membawa perasaannya yang kacau balau. Ia tak peduli meski banyak pasang mata yang memperhatikannya di setiap lorong rumah sakit, ia juga tak peduli jika orang-orang itu menilainya buruk. Saat ini, situasi yang dihadapi Belly seperti sedang lari dari sebuah masalah.
Seketika langkahnya terhenti, karena di depan sana sudah ada dua orang yang menatapnya dari kejauhan.
"Papa?"
Langkahnya semakin mendekat ke arah Prass dan juga seseorang yang mendorong kursi rodanya.
Belly baru ingat jika hari ini adalah jadwal kontrol untuk papanya, entah mengapa ia bisa melupakan hal itu. Sepertinya fikirannya saat ini sudah dipenuhi oleh Raja, hingga hal-hal penting dalam kehidupannya pun bisa dilupakannya.
Alan, ya hanya Alan lah yang menurutnya menjadi pengingat dan penyelamatnya, bukan cuma kali ini saja bahkan Alan sudah sering melakukan semuanya akibat kecerobohan Belly.
Langkah Belly semakin dekat, dengan cepat ia segera menyeka sisa-sisa air mata di wajahnya.
"Pa, Al," sapa Belly dengan suara yang sedikit serak, ia juga menyimpulkan senyuman palsu.
Sayangnya, kedua pria dihadapannya itu tahu jika saat ini Belly sedang menegelabui mereka berdua.
Prass hanya tersenyum, sementara Alan hanya mengangguk pelan dengan wajah datar. Mereka semua pun segera pergi menuju ruang Dokter yang menangani pengobatan Prass.
Ketika Prass sedang menjalani terapi yang didampingi oleh seorang Dokter dan dua Orang perawat, Alan mengambil kesempatan untuk berbicara pada Belly.
"Kau sudah bertemu dengannya?" Alan buka suara, dengan duduk di samping Belly yang sedari tadi terus memperhatikan papanya.
Tak ingin menutupi hal apapun, Belly pun berusaha untuk jujur dan menyampaikan apa yang terjadi padanya hari ini. Menutupinya dari Alan pun percuma, ia yakin jika Alan sudah mengetahuinya.
"Ya," sahut Belly sembari mengangguk.
"Bagaimana keadaannya?" Alan ingin mengetahui kondisi Raja saat ini. Entah itu ditunjukkannya sebagai rasa simpati sungguhan atau hanya basa-basi. Yang jelas hampir semua orang tahu, jika Alan tak begitu menyukai Raja.
Belly baru ingat, jika rumah sakit yang merawat Raja sama dengan rumah sakit yang digunakan Alan untuk mengobati papanya.
"Dia sudah siuman, kau bisa mengunjunginya jika mau. Karena Raja juga di rawat di rumah sakit ini."
"Em, aku tahu."
"Kau tahu? Oh, sebenarnya siapa dirimu, Al?" Belly menatap Alan penuh dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Apa lagi yang kamu ketahui, Al?" sambung Belly lagi.
Alan menghela nafasnya panjang, "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, jika kau masih mencintainya maka kembalilah padanya."
Alan pun langsung beranjak meninggalkan Belly, ia keluar dengan perasaan yang tak karuan. Entahlah, sepertinya kini hati Alan sudah mulai lelah dan menyerah.
Sementara Belly hanya terdiam, lagi-lagi Alan memberikan pilihan untuknya. Namun pilihan kali ini begitu sulit baginya. Sungguh kali ini Belly tengah merasakan dilema.
Belly meneteskan Air mata kembali, namun ia segera menyekanya. Ia tak ingin jika Prass akan melihat keadaannya saat ini.
"Bell," panggil Prass dengan suara perlahan menghampiri putrinya.
"Ya, Pa," jawab Belly.
"Papa adalah seorang Pria, Papa juga ingin yang terbaik untuk kamu. Papa tahu bagaimana perasaanmu saat ini, kamu pasti bimbang bukan?"
Kali ini Prass sudah mulai membuka suaranya, pengobatan yang ia jalani memang membuat kesehatannya semakin membaik. Selain ia sudah bisa berbicara meskipun belum lancar, tangannya pun sudah mulai bisa di gerakan.
"Pa, jangan khawatirkan Belly," ungkap Belly yang tahu maksud dari arah pembicaraan Prass. Ia pun kembali menyunggingkan senyumannya.
"Sebagai lelaki, Papa tahu bagaimana cara memperlakukan wanita. Papa tahu hatimu masih sepenuhnya untuk Raja," Prass memegang tangan Putrinya itu dengan lembut.
"Nak, ikuti kata hatimu. Apapun keputusan yang akan kau ambil, Papa harap hal itu yang akan membuatmu bahagia," lanjut Prass lagi.
Prass pun segera menyeka air mata itu dengan tangannya, "Papa hanya ingin anak Papa ini bahagia dengan Pria yang mampu mencintainya dengan baik, Pria yang tak akan menyakiti hati Putri Papa, Pria yang bertanggung jawab dan Pria yang akan selalu menjaganya saat Papa tidak lagi ada."
Mendengar penuturan Prass, Belly pun segera berhambur memeluk tubuh Pria yang sudah terlihat semakin layu dan menua itu.
"Papa adalah Pria terbaik dan yang paling mencintai Belly," ucap Belly sembari menangis sesegukan.
"Namun, sebelum kamu menggunakan kata hatimu, kamu juga perlu menggunakan logikamu Bell, Pria yang benar-benar mencintaimu tidak akan mengucap kata 'sesal' setelah melakukan kesalahan, meskipun kesempatan kedua itu memang ada."
"Pa," Belly semakin menangis terisak.
"Fikirkanlah baik-baik Bell, Papa hanya ingin kamu bahagia."
Di sela suasana haru itu, ada sepasang mata yang tengah menatap mereka. Mata yang kini ikut berkaca-kaca melihat pertunjukan di depannya. Tak ingin mengganggu, ia pun mengurungkan niatnya untuk menemui mereka.
...****************...
Raja merasa saat ini kondisinya sudah membaik, setelah Belly pergi begitu saja meninggalakan dirinya, ia pun segera keluar dari ruang rawatnya dan mencari keberadaan Belly.
__ADS_1
Dimana kamu Bell, aku tak ingin kehilanganmu untuk kesekian kalinya. Aku benar-benar menyesal.
Raja terus saja berbicara pada dirinya sendiri, dengan mata yang terus menelisik kesana kemari. Meski ia berjalan belum begitu lancar, kepalanya yang terasa kian berdenyut, ia tetap saja meneruskan pencariannya terhadap Belly di sekitaran rumah sakit.
Saat ia mencari Belly di sekitaran taman kecil, yang ia temukan malah orang yang bukan ia cari. Mata keduanya bertatapan dengan tajam, seolah saling memendam dendam lama
"Di mana Belly?" tanya Raja memulai percakapan.
"Kau bertanya padaku?" Alan menoleh kesana-kemari memperhatikan sekeliling, seolah tak percaya jika kali ini Raja sedang berbicara padanya.
Wajah Raja semakin kesal, setelah sekian lama tak bertemu dengan Alan, kali ini Alan malah memancing emosinya. "Kau pura-pura tidak tahu?"
"Aku tahu, bahkan aku lebih tahu segalanya dibandingkan dirimu!"
"Sombong! Ternyata kau masih sama saja, hanya bisa memancing keributan denganku," pungkas Raja dengan menatap sini kearah Alan.
"Ya, aku tak punya waktu untuk bertengkar dengan lelaki sepertimu," Alan pun memutuskan untuk meninggalkan Raja.
"Kau," Raja semakin memanas. Ia pun menarik tangan Alan dan memberikannya sebuah hantaman pada wajahnya hingga membuat Alan terhuyung dan hampir jatuh.
Alan segera membenarkan posisinya kembali tegak, ia pun mendorong tubuh Raja hingga jatuh ke lantai dan mengarahkan kepalan tangannya pada wajah Raja.
"Aku sudah bilang, aku tak punya waktu hanya untuk bertengkar dengan lelaki sepertimu! Lelaki lemah!!"
"Alan, hentikan!!!"
Teriakan seorang wanita dapat terdengar jelas di telinga Alan maupun Raja, kedua pria itu pun segera menoleh ke arah asal suara.
"Belly," Alan pun menurunkan kepalan tangannya yang sejak tadi sudah siap untuk menghajar Raja.
"Alan, apa yang kamu lakukan?" Belly segera melerai kedua pria yang saling baku hantam itu.
"Apa begini caramu? Kamu tidak lihat Raja sedang sakit?" lanjut Belly lagi.
Alan pun segera berdiri tegak dan pergi. Dapat tergambar dengan jelas gurat kesedihan dan kekecewaan pada wajahnya, hingga ia meninggalkan Alan dan Belly tanpa berkata apapun.
"Kamu tidak apa-apa?" ketika Alan pergi, Belly segera membantu Raja untuk berdiri.
Raja hanya mengangguk pelan, kali ini hatinya merasa lega karena sudah bertemu kembali dengan Belly, ditambah lagi ia senang karena merasa Belly telah membela dirinya dibanding Alan. Raja selalu berharap, semoga Belly memaafkan kesalahannya dan keinginannya untuk bersama Belly kembali bisa terwujud.
"Terimakasih, Bell." Raja menatap nanar Belly dengan dalam, tak bisa lagi ia tahan semua rasa rindu yang selama ini ia simpan. Ingin sekali ia memeluk Belly dengan erat, namun ia takut jika Belly akan salah faham. Lebih baik ia melakukan pendekatan pada Belly perlahan agar wanita yang ada di harapannya kali ini tidak pergi meninggalkannya lagi.
__ADS_1
To be continue ...