Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Setelan Oranye nomor dua puluh empat


__ADS_3

Sudah berhari-hari Raja mengalami koma di rumah sakit tanpa perubahan pada kondisinya. Alex dan Bastian siang ini datang untuk menjenguk Raja.


"Bagaimana keadaanya om?" tanya Alex.


"Yah, seperti yang kalian lihat. Aku sudah berencana membawanya ke rumah sakit terbaik di Singapura," jawab Darmawan dengan wajah keputusasaan.


"Semoga itu yang terbaik untuk Raja," sahut Bastian.


"Ya, dokter bilang Raja masih punya harapan meski hanya tiga puluh persen," mata Darmawan kini mulai berkaca-kaca. Tak dapat lagi ia bendung kesedihannya itu hari ini, meski beberapa hari lalu ia terlihat tegar.


Alex mengusap pelan pundak Darmawan, "Sabar Om, semua ini pasti berat untuk Om dan Tante Rianti. Tapi, di sini Raja pasti lebih berat dan sedang berjuang. Kita sama-sama mendoakan yang terbaik untuknya."


"Kamu benar Lex, Om dan Tante sangat berterimakasih pada kalian karena selama ini sudah mau membantu Raja."


Alex dan Bastian hanya mengulas senyum masing-masing, yang kini mereka tatap hanyalah Raja dengan kondisinya yang tak kunjung sadarkan diri. Semua yang di ruangan itu berharap akan ada keajaiban Tuhan untuk kesembuhannya.


"Apa Om boleh bertanya sesuatu?" Disela-sela keheningan, kini Darmawan kembali mengeluarkan suara.


Alex maupun Bastian hanya mengangguk pertanda tak ada masalah jika harus mendapat pertanyaan dari Darmawan.


"Apa kalian tahu di mana Belly?"


Alex dan Bastian menggelengkan kepalanya, tanda memang mereka berdua tak tahu di mana keberadaan mantan istri Raja itu sekarang.


"Kalian benar-benar tidak tahu?"


Alex dan Bastian kini mengangguk, mereka benar-benar tidak tahu di mana Belly berada.


"Kalau begitu, apa kalian tahu di mana Alan?"


"Aku tidak tahu Om, tapi Alex pasti tahu. Alan sepupumu, bukan?" Bastian menatap Alex percaya diri, hal itu membuat Alex merasa terpojok. Bagaimana bisa Bastian mengatakan hal itu, padahal sudah tahu jelas sejak kejadian lalu hubungannya dengan Alan kini tak sebaik dulu.


"A-aku tidak tahu Om, Alan sepertinya keluar Negeri." Alex tak tahu di mana keberadaan sepupunya itu hingga ia pun asal menebak saja.


"Luar Negeri? Biasanya Alan ke Negeri mana?" tanya Darmawan.

__ADS_1


"Jepang Om," kali ini Bastian dengan percaya diri pun menjawab.


"Oh, begitu."


Percakapan mereka pun terhenti setelah kedatangan Rianti. Semua mulut lelaki itu pun bungkam, tak ada satu pun yang berani berucap. Darmawan juga berpesan kepada Bastian dan Alex agar tak sembarangan memberikan informasi kepada istrinya. Karena Rianti adalah tipe wanita yang mudah goyah dan tidak berfikir panjang dalam mencerna sebuah informasi.


"Hei Bastian, Alex, ada di sini?" Rianti menyapa kedua sahabat putranya itu dengan sapaan ramah.


"Hai Tante," senyum tipis-tipis Alex dan Bastian menanggapi sapaan Rianti serentak.


"Eh, bagaimana keadaan Maura? Kalian sudah tahu?"


"Belum, eh tidak Tante. Kami tidak mau tahu," jawab Bastian enteng.


"Oh, bagus. Biarkan saja wanita jahat itu mendekam di dalam penjara!" Rianti mulai emosi jika membahas Maura.


Setelah mengetahui semua kebenarannya, Rianti merasa bersalah karena ia telah menyalahkan Belly begitu saja tanpa mencari tahu lebih dulu kebenarannya.


Ditambah dengan kondisi Raja yang memprihatinkan, Rianti terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Lex, bagaimana keadaan bayi yang dikandung Belly?" Rianti tiba-tiba membahas masalah Bayi.


"Oh, itu ..."


"Ma, sebaiknya kita segera bersiap-siap. Sore ini kita akan berangkat ke Singapura," ujar Darmawan memotong percakapan Rianti dan Alex.


"Oke Pa," dengan suara lirih, Rianti pun mengiyakan perintah suaminya.


...****************...


Di dalam ruangan sempit berukuran empat kali empat itu terdapat dua orang wanita memakai baju setelan berwarna Oranye, dengan masing-masing tertera sebuah nomor sebagai panggilan baru untuk mereka. Kedua wanita itu kini tengah meratapi nasib mereka. Banyak sekali penyesalan yang terlintas dalam benak seorang wanita paruh baya bernomor dua puluh tiga, sementara satu orang wanita muda bernomor tahanan dua puluh empat hanya meratapi nasib dirinya.


Nadia, wanita yang kini dipanggil dengan tahanan nomor dua puluh tiga terduduk lemas dengan lutut yang menopang kepalanya, tanpa henti ia menangis sejak pertama kali menginjakkan kaki ke tempat ini ketika Alan menyerahkannya kepada polisi.


Andai saja dulu ia tak menuruti egonya, andai dulu ia tak terlalu memanjakan Maura hingga harus menipu suaminya. Banyak sekali andai-andai yang memenuhi otaknya.

__ADS_1


Kini hanya sesal yang tertinggal, karena obsesi putrinya Maura, ia jadi ikut terseret ke dalam lembah hitam dan meringkuk di tempat ini.


Padahal, jika difikir lagi hidupnya sudah bahagia dan berkecukupan sejak menikah dengan Prass. Namun, apalah dayanya ia tak mungkin menyalahkan Maura bagaimana pun seorang ibu ingin yang terbaik untuk anaknya. Tanpa berfikir panjang, hal yang ia lakukan ternyata salah besar.


Berbeda dengan Nadia yang kini tengah menyesali semua perbuatannya. Maura terus saja mondar-mandir seperti sebuah setrika.


Ia menggigit jari telunjuknya sembari terus berfikir agar dapat keluar dari tempat jahan*m ini.


"Aku harus keluar dari sini," ucapnya lirih dengan tatapan mengarah ke luar ruangan yang kini mengurung tubuhnya. Ia memegang teralis besi dan menggoyang-goyangkannya sembari terus berteriak.


"Hey!!! Kalian yang ada di sana, keluarkan aku!"


Seorang Petugas wanita datang menghampirinya, karena perbuatan Maura sangat mengganggu.


"Harusnya anda tidak masuk ke sini," ucap wanita berambut pendek itu menatapnya tajam. Langkah wanita itu pun mendekat ke arah Maura.


"Heuh, kau tahu itu bukan? Maka keluarkan aku sekarang! Ini bukan tempatku," Maura tersenyum, ia merasa jika seorang petugas yang tengah berbicara padanya saat ini akan membebaskan dirinya.


"Ya, kau benar! Karena tempat yang pantas untukmu itu hanya NERAKA!"


"Kau ...." Maura tercengang mendengar ucapan petugas wanita itu, hingga ia tak tahu lagi akan berkata apa.


"Jika kau masih saja membuat keributan, aku akan memotong tanganmu itu!!!" Dengan gertakan dan suara keras, Petugas itu pun meninggalkan Maura.


"Argh!!!" Maura menjerit, ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri hingga suaranya pun menggelegar disetiap penjuru ruangan sempit yang mengurungnya saat ini.


"Keluarkan aku!!! Awas kau, akan ku buat perhitungan padamu jika aku sudah keluar dari tempat jahan*m ini!!"


"My king, help me please," Maura mulai merengek, ia kini teringat akan Raja lelaki yang dipuja-puja olehnya.


Nadia hanya bungkam, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Melihat putrinya diperlakukan seperti itu ia tak bisa membelanya lagi. Saat ini membela dirinya sendiri saja ia begitu sulit, apalagi ia harus membela Maura.


Menasihati Maura pun dirasa percuma, karena setiap kali Nadia ingin angkat bicara Maura selalu saja mendahului hingga tak memberikan kesempatan padanya.


Penyesalan itu memang selalu di belakang, Nadia kini sangat menyesal karena telah salah mendidik anaknya.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2