Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
My king


__ADS_3

Dear my king,


Aku yakin, perasaanmu pun masih sama terhadapku. Aku sangat merindukanmu...


Pesan tertulis dari bucket bunga itu terus mengganggu fikiran raja. Ia tahu benar jika maura lah yang telah mengirimkan paket bunga untuknya. Selama tiga tahun berpacaran dengan maura, ia sangat hafal jika hanya maura lah yang memanggilnya dengan sebutan My King.


"Beraninya dia mengirimkan bucket bunga untukku!! Si*l!!!" Raja memukul setir mobilnya, ia terus mengendarai mobil entah sudah kemana. Pencariannya hari ini belum membuahkan hasil sama sekali.


"Belly, dimana kamu....." Raja terus bermonolog, matanya yang terus melirik jalan yang ia lalui tak menemukan sosok seorang yang tengah dicarinya.


Raja berfikir lagi, jika mungkin belly pergi ke rumah orang tuanya. "Apakah aku harus mencarinya ke surabaya?"


Raja berbalik arah, ia kembali ke rumahnya untuk bersiap diri pergi ke surabaya. Dengan sekali tekan, akhirnya ia berhasil memesan tiket pesawat via online.


Keberangkatannya dijadwalkan malam hari, masih ada waktu untuknya berkemas.


***


Sementara di apartementnya, maura terus senyum-senyum sendiri membayangkan wajah raja mantan kekasihnya. Maura melamun, dipandanginya terus foto-fotonya bersama raja di galeri ponselnya. Andai saja waktu itu ia tak lari dari pernikahannya. Pasti kini ia sudah bahagia bersama raja.


Sesal memang datang di akhir, maura menyesal telah tergoda oleh hendrick pria blasteran kaya raya yang banyak harta tapi tak menyayanginya.


Hingga suatu hari maura pernah melihat raja dan bersama di sebuah restoran. Matanya pun melihat kebahagian diantara raja dan belly.


Wanita itu, dia telah merebut raja dariku! Dasar wanita tidak tahu diri, aku pasti akan merebut my king kembali. Aku yakin, my king pasti lebih memilihku!


Dengan senyuman jahatnya, maura terus bertekat untuk merebut raja dari belly. Hingga ia mengirimkan bucket bunga ke rumah raja. Ia sengaja menyuruh orang suruhannya memberikan paket kirimannya pada belly. Dengan begitu, maura yakin jika belly akan marah dan pasti akan bertengkar dengan raja.


Ya, dengan cara licik itu lah maura perlahan merusak hubungan antara belly dan raja.


Karena uang yang maura miliki saat ini sudah menipis, sudah tak ada lagi agency yang mau menerimanya sebagai model. Karena itulah maura menganggur tak ada pekerjaan. Maura pun memutuskan pergi menemui ibunya di surabaya malam ini.


✈✈✈


Setibanya di surabaya, maura mendatangi kediaman orang tuanya. Taksi yang maura naiki sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah. Sang sopir pun menurunkan koper maura yang berada di dalam bagasi mobil.


Tanpa basa-basi, setelah melakukan pembayaran maura pun menarik koper meneruskan langkahnya kedalam halaman rumah.

__ADS_1


Pak ujang pun segera membukakan gerbang ketika ia sudah melihat maura dari kejauhan.


"Se..selamat malam non maura..." Sapa pak ujang pada maura kaku. Ia hanya bisa menelan salivanya ketika melihat maura datang ke rumah ini lagi.


Maura hanya diam tak menganggap pak ujang. Ia berlalu begitu saja melewati gerbang dengan wajah angkuhnya. Ya, maura memang selalu begitu.


"Astaghfirullah, sikapnya masih tetap sama.." Pak ujang berkata sedikit berbisik sembari mengusap-usap dadanya.


Maura masuk begitu saja kedalam rumah, karena pintu rumah masih terbuka lebar. Sepertinya di rumah sedang ada tamu.


"Mama......" Sapa maura dengan senyum melihat nadia sedang duduk di ruang tamu bersama prass ayah sambungnya.


Mendengar suara itu, baik prass maupun nadia menengok kearah asal suara. Begitu pula dengan raja, ia menoleh kearah suara maura.


Raja pun baru saja tiba di kediaman mertuanya.


"Maura??" Sontak nadia kaget ketika posisi maura sudah mendekat kearahnya. Maura langsung berhambur memeluk nadia.


"Maam, I miss you so much..." Maura berhambur memeluk ibunya. Tanpa tahu jika sedang ada raja bersama mereka.


Plakkkk!!!


"Anak tak tau diuntung!! Mau apa kamu kembali??"


Maura memegangi pipi mulusnya yang panas akibat tamparan ibunya. "Mam, aku anakmu. Apakah tak boleh jika menemuimu?"


"Kau??? Beraninya datang kesini setelah apa yang telah kau lakukan??" Karena disini ada raja, nadia menampar maura. Ia sebenarnya tak tega melakukan hal itu bagaimanapun maura adalah putri semata wayang yang ia miliki.


Prass hanya diam menyaksikan pertikaian ibu dan anak itu. Ia sebenarnya ingin menghukum maura lebih dari itu, namun ia masih punya hati. Biar bagaimanapun maura sudah menjadi anaknya.


"Papa, raja harus pulang." Ucap raja merasa tak nyaman berada di rumah ini. Ia sebenarnya rindu pada belly, tapi disisi lain ia tak ingin bertemu dengan maura.


"Raja, menginaplah ini sudah malam." Ucap prass mencoba menahan raja.


"Tidak pa, raja hanya singgah sebentar karena ada urusan bisnis disini. Raja tak bisa meninggalkan rumah lama-lama." Raja berusaha menolak halus permintaan orang tuanya.


"Emmm, papa tahu. Kamu pasti tidak bisa jauh-jauh dari belly bukan? Yaya, dasar pengantin baru." Dengan candaannya, prass pun menyunggingkan senyuman lebarnya.

__ADS_1


"Bu..bukan begitu pa...."


"Ah, sudahlah pulang saja sana. Titip salam papa untuk belly, sebenarnya papa sangat merindukannya tapi papa tahu sekarang belly sudah memiliki suami. Suaminya lebih berhak atas belly daripada papa." Wajah prass yang tegas pun terlihat.


Apa? Jadi belly tidak ada disini? Lalu kemana dia pergi jika tidak ke rumah orang tuanya? Apa jangan-jangan dia pergi bersama alan? Tidak, itu tidak boleh terjadi....


Gumam raja dalam hatinya. Ia pun segera pamit pada ayah mertuanya itu.


Melihat kehadiran raja, maura menjadi gelisah. Sungguh ia merindukan sosok mantan kekasihnya itu.


"My king??" Dengan mata yang berkaca-kaca maura terus menatap raja lekat.


Mendengar panggilan itu dari maura, raja merasa risih bahkan j*jik karena ia menganggap maura adalah wanita tak tahu malu. Raja mengepalkan kedua telapak tangannya, ingin rasanya ia mencekik leher maura. Namun ia tak ingin mengotori tangannya. Sekarang fikiran raja sedang dipenuhi oleh belly, ia tak ingin membuang waktu meladeni maura. Raja melangkahkan kakinya cepat berjalan keluar rumah.


"Raja.... Tunggu....." Maura pun mengejar raja yang sudah tiba di halaman rumah.


Raja tak menganggap maura ada meski ia menddngar suara maura.


"Raja, tunggu. Please maafkan aku...." Maura mencekal tangan kanan raja dari belakang.


Tanpa pikir panjang, raja segera menepis cekalan tangan wanita yang kini telah menjadi kakak iparnya itu.


"My king, aku menyesal... Please maafkan aku." Ucap maura dengan air mata bawangnya yang kini telah menetes.


Raja yang mendengar itu pun tak menghiraukan maura. Ia pergi melanjutkan langkahnya.


"Raja!!! Raja......!!!!!!" Maura memanggil raja dengan keras, namun raja tak memperdulikannya.


Maura tersungkur lemah di atas tanah halaman rumah, ia menangis tersedu menyaksikan sikap dingin raja padanya. Tamparan ibunya yang tadi sakit kini sudah hilang. Menurutnya, mendapat perlakuan raja seperti ini jauh lebih menyakitkan.


Mungkin sekarang kamu mengacuhkanku my king, tapi aku yakin kau masih sangat mencintaiku.... Kau pasti kembali kepelukanku lagi.


Nadia dan prass hanya menyaksikan maura tanpa sepatah kata. Mereka berdua membiarkan maura disana. Menurut prass, wajar jika maura mendapat perlakuan seperti itu dari raja.


Tapi nadia, ia merasa sangat kasihan dengan putrinya. Ingin rasanya ia bertindak, tapi suaminya terus mengawasinya.


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2