Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

"Hai mam..." Maura menghampiri nadia yang tengah membaca majalah di kamarnya.


"Em, ada apa?" Jawab nadia ketus karena maura kini menunjukkan sikap manis pada ibunya. "Pasti ada maunya..."


"Ketahuan." Maura nemasang wajah manis didepan nadia ddngan senyum yang melekat di bibir tipis dengan balutan lipstick merah merona.


"Sudah dapat mama baca dari jauh-jauh hari sebelum kamu kembali ke rumah lagi." Ungkap nadia sembari terus menatap majalah di tangannya.


"Hmm... mam..." Maura bergelayut manja pada nadia. Ia memegangi telapak tangan nadia dan menciuminya.


"Apa sih, apa yang sedang kamu inginkan??" Tanya nadia.


"Mam, maura ingin uang untuk ke salon. Rambut maura sudah terlihat kusam." Akhirnya maura pun memperjelas niatnya.


"Ck!" Nadia berdecak, kemudian meraih ponselnya yang berada di nakas dan mentransfer sejumlah uang untuk putrinya.


Celenting.....


Suara notifikasi pada ponsel maura.


"Mama sudah transfer ke rekeningmu." Nadia meletakkan ponselnya kembali.


Segera maura membuka ponselnya dan melihat ternyata ada transfer masuk dari rekening nadia. "Mam, apakah ini tidak salah?!" Maura terkejut ketika melihat nominal yang di transfer oleh nadia.


"Kenapa? mama rasa tidak ada yang salah. Buakankah kau ingin uang?" Ucap nadia menjawab pertanyaan maura.


"Ma, lima juta itu sedikit sekali. untuk perawatan rambut maura mana cukup!" Maura memasang wajah kesalnya.


"Maura, kamu bukan anak kecil lagi yang harus terus meminta uang pada mama!!!" Tak ingin kalah, nadia pun membalas ucapan maura dengan nada suara yang tinggi.


"Mam.... Maura sudah tidak bekerja lagi jika tidak kepada mama maura harus meminta kepada siapa? Apakah mama tega jika maura menjadi gembel???" Maura kini memasang wajah sedihnya. Hingga ucapan maura dapat membuat nadia iba.


"A..apa? Sudah tidak bekerja? Lalu agency yang kamu ceritakan itu bagaimana?" Nadia penasaran dengan kisah putrinya.


"Iya ma... Cita-cita maura hancur karena ada orang yang bermain licik. Maura tidak tahu harus bagaimana?" maura mengeluarkan air mata bawangnya hingga membuat nadia merasa kasihan padanya.


Nadia merangkul tubuh putri semata wayangnya yang manja itu. "Siapa yang membuatmu begini nak? Beritahu mama. Mama akan memberi pelajaran pada mereka."


"Mam,.... Hikss...hikss...." Maura pun menangis di pelukan nadia.


"Sudah, jangan menangis lagi sayang. Mama akan transfer yang banyak ke rekeningmu. Pergilah ke salon manjakan dirimu sayang." Nadia menenangkan maura yang tengah merengek. Kemudian ia mentransfer sejumlah uang dengan nominal sepuluh juta ke rekening maura lagi.


"Mam, thanks...." Maura mengecup pipi kanan dan kiri nadia.


"Iya sayang. Sudahlah cepat pergi ke salon sekarang." Nadia mendorong tubuh maura ke gawang pintu, ia mengusir maura dari dalam kamarnya.


Namun setelah sampai di depan pintu kamar, prass sudah berdiri disana.


"Pa..papa???" Sontak nadia pun terkejut dengan kehadiran suaminya.


Maura hanya diam, ia pun segera berlalu dari papa tirinya. Langkah kaki maura seketika terhenti ketika prass berbicara. "Jika kau ingin uang, maka bekerjalah! Jangan hanya bisa meminta."


Namun maura melanjutkan langkah kakinya. Ia tak mempedulikan ucapan prass.


"Pa..." Nadia berupaya merayu suaminya dengan memegang lengan prass.


Prass menepiskan tangan nadia. "Berhenti memanjakannya!"


"Tapi pa, maura anakku satu-satunya." Rengek nadia.


"Belly pun anakku satu-satunya! Tapi dia tak semanja putrimu!!" Sergas prass.


"Pa, belly sekarang sudah menikah. Tentu saja dia sudah dinafkahi suaminya dan tidak lagi meminta uang padamu." Nadia pun kini membanding-bandingkan kehidupan belly dan maura.


"Kau terbiasa memanjakannya! Hingga sampai sekarang dia masih saja merepotkan!" Sergas prass lagi pada istrinya . "Jangan lupa, karena ulahnya dia banyak merugikan orang lain!"


Prass pun pergi meninggalkan nadia.


Nadia hanya diam menyaksikan kepergian suaminya. Bagaimanapun yang dikatakan suaminya itu benar, tapi ia tak mampu jika harus bersikap sedikit keras pada putrinya maura. Dari kecil ia sudah biasa memanjakan maura hingga dewasa.


***


Di dalam ruangan kerjanya, belly tengah sibuk memeriksa beberapa laporan. Hingga ponselnya bergetar.


Drt.....drrrttt......


Belly melihat sang penelpon, ternyata disitu tertulis nama PAPA.


"Hallo pa??" Belly menjawab telepone dari prass.


^^^"Hallo apa kabar nak?" Tanya prass di seberang sana. Sepertinya kali ini prass begitu merindukan putrinya. Hingga ia memutuskan menelpon belly.^^^


"Baik pa. Papa bagaimana, sehat bukan??" Sahut belly sedikit khawatir. Ia tahu jika prass menelpon pasti ada sesuatu yang terjadi.


^^^"Iya nak baik. Em....tempo hari raja kemari, sepertinya ada yang ingin ia katakan. Apa ada masalah??" Tanya prass memberitahu belly.^^^


"Em, ti...tidak pa. Tak ada masalah apapun." Jawab belly kaku.


^^^"Apakah kau yakin??" Prass rasanya tahu jika kini belly sedang ada masalah dengan raja . ^^^


"Pa, belly sangat yakin. Raja hanya singgah karena ada urusan pekerjaan." Tak terasa air mata belly pun menetes, ia tak kuasa jika membohongi prass.


Ia juga merasa bersalah pada papanya, pasalnya semenjak menikah dengan raja belly tak pernah menghubungi orang tuanya.

__ADS_1


^^^"Syukurlah, jika ada masalah jangan ragu memberitahu papa." Ucap prass, kemudian ia langsung menutup sambungan telpon. ^^^


Belly mengusap air matanya yang telah menetes, kejadian itu pun tak luput dari pantauan steva yang sudah berdiri di gawang pintu ruangan kerja belly.


"Sampai kapan kamu akan terus membohongi dirimu sendiri dan juga orang lain?" Steva datang menghampiri belly yang tengah duduk di kursi kerjanya.


"Stev?? Sejak kapan kau disini?" Bukannya menjawab pertanyaan steva, belly malah balik bertanya.


"Hmmmm, sejak ikan belum mengenal air." Ucap steva kesal.


"Memangnya bisa??" Belly bertanya heran.


"Ck!! bisa....." Dengus steva kesal. "Bisa mati." Steva menyerahkan sebuah dokumen berbentuk file kepada belly.


"Ya ampun! Aku fikir itu serius." Belly pun terkikik pelan. "Dokumen apa ini??" Tanya belly lagi membuka lembaran demi lembaran kertas di tangannya.


"Besok kita akan menemui pemilik sebuah perusahaan besar yang akan kita tawarkan produk baru kita. Dia pengusaha muda yang cukup sukses, beberapa supermarket besar dia miliki. Jika kita bisa menggaet perusahaanya, mungkin kita akan menjadi suplier tetapnya." Jelas steva.


"Emm, ok. Aku akan mengatur pertemuan kita." Jawab belly mengerti.


"Hubungi sekretarisnya dengan baik bell, aku dengar jika bossnya sangat susah untuk diajak bertemu."


"Serahkan padaku, apakah bossnya ini seorang wanita?" Tanya belly ingin lebih tahu.


"Pria, dan pria itu sangat tampan. Banyak yang tergila-gila padanya, tapi sayang dia pria yang cuek dan dingin." Jelas steva.


"Kau sudah pernah bertemu dengannya? Kau tahu banyak hal.."


"Belum, ini sekedar info dari teman-teman relasi bisnisku yang selalu gagal menjalin kerja sama pada perusahaannya." Jawab steva terkikik pelan.


"Ck! Kau hanya menilainya dari pandangan orang lain yang jelas-jelas belum kau ketahui kebenarannya." Belly berdecak mengomentari steva.


"Ya ampun bell, kenapa kau seperti membelanya? Apakah kau sudah berkenalan dengannya?" Steva melempar beberapa pertanyaan pada belly.


"Hmmm, lebih baik kita bekerja dari pada kita berdebat. Kita lihat saja besok." Belly kembali membuka layar laptopnya.


"Dasar kau! Ayo kita pergi makan siang, jangan terus bekerja bagai kuda! Jika kau kurus semua orang pasti akan menyalahkanku!" Ajak steva pada belly.


"Baiklah...." Belly pun membereskan meja kerjanya.


***


"Apa jadwalku hari ini?" Tanya raja pada rangga atmaja, lelaki yang sudah beberapa tahun mendampinginya sebagai sekretaris.


"Hari ini jadwal bapak mengunjungi suoermarket yang tengah di renovasi dan besok ada satu pertemuan dengan pemilik pt. kencana sukses pak. Kita akan membahas....."


"Ck! Batalkan saja!" Potong raja.


"Hmmm, kau sudah menyiapkan berkasnya?" Raja seperti sedang berpikir. Ia meletakkan dua tangan ke dagunya¹ dengan tatapan tajam ke arah rangga.


"Sudah pak, ini..." Rangga pun memberikan sebuah file kepada bossnya.


Raja membaca isi berkas dengan teliti. "Apakah seorang wanita?" Tanya raja ketika ia membaca nama pemilik perusahaan.


"Iya, ibu stephani dan tadi asistennya sudah menghubungi saya pak, jika bapak sudah setuju saya akan mengkonfirmasikan jam temu besok." Jelas rangga.


"Ok. Jangan membuang waktu, lakukan dengan baik." Ucap raja.


Rangga pun segera keluar dari ruangan bossnya itu. Kemudian ia menghubungi belly via sambungan telepon.


Sementara di tempat yang berbeda, belly pun merasa senang menerima telepon dari rangga. Ia segera memberitahukan hal itu pada steva.


"Kita berhasil, persiapkan dirimu besok dan jangan sampai kita gagal seperti teman-temanku yang lain bell..."


"Kau ingin menggaet perusahaannya atau pemiliknya??" Belly memotong ucapan steva.


"Hmmmm, kita lihat saja nanti ya? Siapa tahu pemiliknya lebih tertarik padamu." Steva mulai bergurau ia melirik kearah belly.


"Dasar kau ini!"


Mereka berdua sama-sama menyantap makanan yang sudah terhidang di meja. Hingga seseorang datang menghampiri.


"Ternyata sekarang kau disini??" Seseorang itu membuat steva ataupun belly terkejut dan menoleh keasal suara.


"Hendrick???" Steva terbelalak, ia terkejut dengan kedatangan hendrick.


Sementara belly hanya diam dengan kaku, pasalnya ia tak menegenal siapa ptia itu.


"Hai stev, senang bertemu denganmu. Boleh aku duduk..." Tanya hendrick, tapi sebenarnya ia sudah duduk sebelum bertanya.


"Baik, tapi Kau su..sudah duduk.." Ucap steva melihat kearahnya tanpa kedipan mata.


Hendrick tersenyum pelan, pria blasteran ini menatap serius kearah steva. "Setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu.." Lirih hendrick.


"Oh, iya kenalkan ini belly temanku...." Steva merasa canggung, kemudian ia mengalihkan pandangannya.


Belly pun menyapa hendrick dengan menganggukkan kepalanya satu kali kearahnya. "Belly...."


"Hendrick." Ucapnya singkat, lalu pandangan hendrick kembali kearah steva.


"Emm, maaf kami harus segera pergi. Kami permisi." Ucap steva merasa ada yang tak beres dengan hatinya. Ia pun berdiri dari kursi dan meraih tangan belly kemudian sedikit menyeret belly.


"Tunggu dulu stev!" Hendrick menghentikan langkah steva yang kini sudah menggandeng tangan belly untuk segera pergi.

__ADS_1


"Stev, aku pergi ke kasir dulu." Ucap belly yang ingin membayar tagihan makanan mereka. Ia pun melepaskan cekalan tangan steva.


Steva hanya mengangguk pelan dan belly pun pergi meninggalkan steva juga hendrick berdua.


"A..ada apa?" Jawab steva gugup.


"Boleh aku meminta nomor ponselmu?" Hendrick pun menyerahkan ponselnya kepada steva untuk mencatat nomor telepon.


Steva meraih ponsel dan menekan beberapa angka pada layar ponsel hendrick. "Ini...." Ia menyerahkan kembali ponsel hendrick.


"Terimakasih banyak stev, aku harap kali ini kau tidak lagi menghindariku..." Senyum hendrick tersimpul di wajahnya.


"Aku permisi..." Steva melangkah cepat menuju mobil yang terparkir di luar restauran. Ia memasuki mobil yang ternyata sudah ada belly duduk menunggunya.


"Tak perlu gugup seperti itu." Ucap belly yang mulai menggoda steva.


Aura memerah pun keluar dari wajah steva. "Si..siapa yang gugup?" Bantah steva.


"Lah? Wajahmu biasa saja. Mengapa harus merah seperti itu stev?" Belly pun terkikik geli.


"Belly......." Steva membelalakkan matanya, kemudian belly dengan tawa kecilnya segera melajukan kendaraan.


"Aku menunggu ceritamu selanjutnya...." Ucap belly.


"Tak ada cerita apapun." Singkat steva menjawab.


"Em, begitu. Mungkin sekarang kau tak ingin bercerita, tapi kapanpun kau siap, aku selalu ada untuk mendengarkannya.." Belly tersenyum ramah, sesekali diliriknya wajah steva yang kian mengeluarkan aura bahagia setelah bertemu dengan pria blasteran yang bernama hendrick.


Pagi ini, steva mau pun belly sudah menunggu di tempat yang telah mereka siapkan untuk bertemu dengan pemilik perusahaan THE KING CORP. Tak ingin terlambat karena kemacetan, mereka lebih baik menunggu dari pada harus kehilangan calon relasi bisnis yang dirasa cukup menguntungkan perusahanan.


"Bell, apa kau yakin kita sepagi ini? Bahkan restauran ini baru saja buka." Steva melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Padahal jadwal pertemuan mereka pukul sepuluh lewat lima belas menit.


"Ck!, stev lebih baik kita menunggu boss yang kau bilang dingin itu. Jika kita terlambat maka kita akan kehilangan kesempatan emas, sabarlah..." Jawab belly yang terus memainkan ponselnya.


Di dalam ruangan VIP mereka menunggu. Belly sengaja menyiapkan ruangan ini agar lebih nyaman.


"Stev, apakah pak hendrick sudah menghubungimu?" Tanya belly berbasa-basi.


"Tentu, eh tentu saja belum." Jawab steva memalingkan wajahnya.


"Oh, belum hari ini? Tapi sudah kemarin dan semalam, bukan begitu?" Belly mulai terkikik.


"Ck! Apa maksudmu, aku dan dia hanya teman bell..."


"Memangnya kenapa? Mungkin saja kalian akan menjadi teman hidup." Goda belly lagi.


"Belly...." Steva pun mulai memelototi belly dengan mata besar miliknya.


"Stev, aku ingin ke toilet sebentar." Pungkas belly dan ia pun berdiri dari tempat duduknya.


"Sudah hampir jam sepuluh. Jangan berlama-lama." Ucap steva.


"Masih kurang dua menit. Aku takkan lama." Belly pun keluar ruangan menuju toilet.


Tak lama kemudian seseorang datang ke dalam ruangan dan berbicara dengan steva.


"Apakah pak rangga?" Tanya steva.


"Iya, kami dari The king corp." Jawab rangga.


Aduh, kemana belly? Mengapa hingga saat ini ia belum juga datang. Gumam steva dalam hati setelah bertemu rangga.


"Silahkan duduk pak." Jawab steva.


"Terimakasih, maaf pimpinan saya sedang ada urusan sebentar lagi ia akan datang." Jelas rangga, karena ia datang tidak bersama bossnya.


"Oh iya, asisten saya belly juga masih ke toilet sebentar. Bapak akan pesan makanan apa? Silahkan dilihat saja dulu menunya." steva menyerahkan buku menu yang ada di meja pada rangga.


"Oh, baik. Terimakasih bu stephani." Rangga pun memesan beberapa menu terutama makanan untuk bossnya.


Jam sepuluh lewat lima belas menit tepat saat itu pula raja datang kedalam ruangan yang di jadikan tempat pertemuan. Raja memang terkenal disiplin waktu. Sesuai jam temu yang ditentukan raja datang.


"Selamat siang pak, senang bertemu dengan anda. Saya stephani selaku pimpinan perusahaan dari PT. kencana sukses panggil saja steva." Ucap steva mengulurkan tangannya dengan senyuman manis pada raja.


"Raja." Dengan singkat ia membalas uluran tangan steva.


"Maaf pak, asisten saya sedang ke toilet sebentar, saya harap bapak berkenan menunggu..."


Steva merasa kaku melihat perlakuan raja. Benar kata teman-temannya. Raja memiliki wajah yang rupawan namun sangat dingin dan cuek.


Selain itu juga steva merasa khawatir pasalnya belly belum juga tiba dari toilet.


Saat itu ponsel raja berdering, hingga ia berdiri dari duduknya dan menerima panggilan telepon.


Pintu terbuka kembali, belly pun masuk kedalam ruangan yang ternyata sudah ada rangga dan bossnya yang tengah berdiri menatap kearah jendela membelakangi posisi mereka.


"Maaf sudah membuat anda menunggu pak, saya belly." Belly mengulurkan tangan ke arah rangga.


Rangga pun menerima uluran tangan belly dengan mata yang tak berkedip sedikitpun.


"Rangga atmaja, tak apa kami baru saja tiba. Senang bertemu dengan anda ibu BELLY ZEANA." Ucapan rangga dapat terdengar jelas oleh raja, ia pun segera menoleh kearah rangga saat ia menyebut nama belly zeana dengan penuh penekanan.


To be continue.....

__ADS_1


__ADS_2