Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Cemburu


__ADS_3

"Kau???"


"Sudah ku duga!" Alan memicingkan senyumnya dengan tangan yang masih terus terulur.


"Kau, selalu membuatku sial!" Maura menepis uluran tangan Alan, ia merasa masih mampu untuk berdiri sendiri.


"Sial? Memangnya apa yang aku lakukan?" Dengan dahi yang berkerut, Alan menatap kearah Maura memikirkan sesuatu. "Jangan bilang jika kau mencoba mencelakai orang lagi?"


"Itu bukan urusanmu! Mau aku mencelakai orang, atau berbuat apapun, itu bukan urusanmu!!! Dan jangan pernah ikut campur!" Maura semakin kesal terhadap Alan. Ingin rasanya ia keluarkan semua cacian-cacian pedasnya pada Alan.


"Oh, jadi benar dugaanku jika kau saat ini tengah mencelakai seseorang??" Alan berbicara sedikit lirih, lirikannya kesana kemari berharap tak ada orang lain yang akan mendengarnya.


Upss! Mengapa aku keceplosan!! Jangan sampai pria ini mengetahui semua rencanaku!


Maura menutup mulutnya dengan jari dan bermonolog didalam hati.


"Heiiii??" Alan menyadarkan Maura dari lamunannya dengan melambai-lambaikan telapak tangannya tepat didepan Maura.


"Kau selalu berfikir negatif terhadapku, padahal kau jelas-jelas tak tahu apapun tentangku!" Maura berlalu begitu saja demi menghindar dari Alan. Ia takut semua rencananya akan gagal jika terus meladeni Alan.


Melihat Maura pergi dengan gerak-gerik yang mencurigakan, Alan bisa menebak jika memang tengah terjadi sesuatu pada Maura.


Alan menepiskan fikirannya perihal Maura, ia kini berubah haluan dan kembali pada tujuan utamanya untuk menemui Belly. Ia mencari informasi ruangan rawat Belly lewat resepsionis. Setelah itu ia segera bergegas menemui Belly.


"Mudah-mudahan tak terjadi apapun pada Belly."


Tak ada rasa jera sedikitpun di diri Alan, meskipun ia sudah berulang kali diperingatkan Raja untuk tidak menemui Belly. Tetap saja Alan ingin menemui Belly.


Tibalah Alan di ruangan rawat Belly, ia pun membuka gagang pintu dan ternyata Belly sendirian didalam.


Belly tengah kesusahan ingin meraih gelas berisi air minum di meja sebelah brankar. Melihat itu Alan segera membantunya.


"Bell, kau ingin minum?" Dengan sedikit berlari, Alan mengambilkan gelas dan diserahkan pada Belly.


"A..alan?" Belly tak tahu sebenarnya apa yang tengah terjadi padanya. Saat ia sadar, tak ada siapapun di ruangan ini.


Apakah Alan lagi yang membawaku ke Rumah sakit? Lalu, dimana Raja?


Belly mengingat-ingat kejadian terakhir yang menimpanya. Matanya kesana kemari mencari keberadaan seseorang yang tak lain adalah Raja.


"Bell, bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?" Pertanyaan Alan membuyarkan lamunan Belly.


Belly hanya menganggukkan kepalanya pelan, sebenarnya ia sendiri pun tak tahu bagaimana keadaannya saat ini. Ia meminum Air hingga tandas, kepalanya yang tadi terasa sangat berat, kini sudah mulai membaik.

__ADS_1


"Bell, apakah ini semua karena ulah wanita itu??" Ingin menjawab kekhawatirannya, Alan pun memberanikan diri bertanya langsung kepada Belly.


Belly menggelengkan kepalanya, ia tak ingin membahas Maura kepada Alan. Belly takut Alan akan terus mengkhawatirkannya.


"Alan, terimakasih atas pertolonganmu selama ini."


"Bell, itu sudah kewajibanku. Em, maksudku kewajiban sebagai sesama manusia kita harus saling membantu bukan??" Merasa tak enak hati, Alan mencoba menutupi perasaannya terhadap Belly.


"Tapi Alan, bisakah kau tak usah menemuiku lagi?" Berat mengatakan hal ini pada Alan, tapi Belly tak ingin Raja akan terus salah paham terhadapnya. Meskipun pertemuan mereka berdua tak disengaja, dan Alan sudah dua kali menyelamatkan dirinya dari kejahatan Maura . Hal itulah yang membuat Belly merasa berhutang budi pada Alan. Jika tak ada Alan, entah apa yang akan terjadi pada Belly saat itu.


"Bell, apa karena Raja?? Apa Raja yang melarangmu??" Alan menatap Belly yang tengah lemas diatas brankar dengan penuh selidik. Sungguh, Alan benar-benar tak bisa memenuhi permintaan Belly.


"Alan, meskipun Raja tak melarangku, tetap saja aku ingin jika kita tidak bertemu lagi. Aku tak ingin banyak yang salah paham." Jelas Belly pada Alan.


"Bell, jujur saja. Jujur aku sangat mengkhawatirkanmu! Aku hanya ingin melindungimu Bell, jangan memintaku untuk tidak menemuimu lagi. Aku takkan sanggup!" Alan kini menyatakan kejujuran dihatinya. Meskipun Alan tahu hal ini tidaklah benar karena Belly bukanlah lagi kekasihnya.


Belly yang mendengar penuturan Alan hanya bisa diam, ia masih bingung dan memikirkan cara lain agar Alan tak juga menemuinya. "Alan, mengertilah. Ku mohon...."


Keduanya saling bertatap, Alan menatap Belly penuh harap.


Aku tak bisa Bell, aku masih terus ingin bertemu denganmu....


Setelah membeli beberapa makanan untuk Belly, Raja pun kembali ke ruangan rawat. Ia menyiapakan beberapa makanan dan buah semangka untuk Belly. Namun, setelah sampai di ruangan rawat hal yang tak mengenakan tengah terpampang di depan matanya.


Rasanya percuma bagi Raja selalu memperingatkan Alan, tetap saja ia menemui istrinya.


"Sudah??" Raja datang mengejutkan keduanya.


"Raja?" Belly menatap kearah suara Raja, kali ini ia semakin pasrah. Pasti Raja akan semakin berfikir yang macam-macam padanya.


"Raja, aku kesini hanya untuk menjenguk Belly." Jelas Alan, ia berusaha membuat Raja agar tak salah paham.


Raja menatap tajam mata Alan, ingin sekali ia menghajar wajah pria itu. Tapi, ia masih menjaga perasaan Belly. Ia tak ingin Belly tambah sakit, karena saat ini keadaan Belly sedang lemah.


"Terimakasih atas kunjungannya." Hanya itu yang diucapkan Raja, ia berusaha menahan amarah yang tengah bergejolak didalam dadanya.


"Sayang, kau sudah bangun??" Raja segera berhambur kearah Belly dan mengusap lembut kepalanya. "Lihat, aku bawakan makanan dan buah kesukaan anak kita.." Raja menunjukkan tentengan yang tengah dibawanya kepada Belly.


Belly tersenyum kecil, ia merasa senang saat ini Raja sudah bersikap seperti biasa dan tak lagi marah padanya. Tapi ia juga tengah tak enak hati pada Alan.


"Terimakasih Raja, a..aku lapar. Aku ingin itu.." Belly melihat satu bungkus siomay yang dibawa Raja. Sungguh matanya tak lagi berkedip, ia ingin segera menyantapnya.


"Aku ambilkan,." Dengan telaten Raja menyuapkan siomay kemulut Belly. Hal itu pun tak luput dari pandangan Alan.

__ADS_1


Aku bahagia Bell melihatmu seperti ini, tapi kebahagian ini membuat hatiku sakit. Bahkan sangat sakit..


Alan tak mampu lagi membendung rasa sakit hatinya, disini ia merasa bahagia melihat Belly kembali tersenyum. Namun disisi lain, ia tak bahagia karena Belly tersenyum bukan karenanya.


Sebenarnya masih banyak yang ingin Alan bicarakan kepada Belly, tapi karena kini ada Raja yang membatasi ruang geraknya, Alan pun mengalah dan berpamitan pulang.


"Bell, aku permisi pulang. Semoga lekas membaik..."


"Oh, baiklah. Terimakasih Alan atas pertolonganmu..." Belly berbicara pada Alan dengan penuh kehati-hatian. Sesekali diliriknya Raja, ia takut Raja akan marah.


Raja yang mendengar itu hanya diam saja, padahal sejak tadi ia menginginkan Alan untuk segera pergi. Hingga Raja pun hanya bisa mengumpat kekesalannya didalam hati.


Dasar pengganggu! Harusnya sejak tadi dia pergi! Bila perlu tak usah kemari!


Alan pun pergi meninggalkankan Belly bersama suaminya dengan berat Hati. Namun ia rasa lebih baik pergi daripada terus melihat kemesraan mereka berdua.


Setelah kepergian Alan, keadaan Belly dan Raja kembali menjadi canggung. Belly tak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana. Ia merasa masih ingin membahas kesalahpahaman diantara mereka.


"Raja,.." Panggil Belly dengan suara pelan pada Raja.


"Heum..." Raja mempersiapkan telinganya baik-baik. Ia tahu saat ini Belly sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


"Raja, aku...."


"Iya, ada apa Bell? Apa ada yang ingin kau katakan?" Pura-pura tak tahu, Raja sengaja memancing sebuah pertanyaan pada Belly.


"Raja itu, sebenarnya aku..." Belly berfikir lagi, sepertinya ini bukanlah saat yang tepat untuk memberi penjelasan kepada Raja. Ia pun mencari-cari alasan yang lain.


"Ada Apa bell?" Raja seperti sudah siap untuk mendengarkan Belly.


"Aku ingin semangka itu!" Belly memasang cengirannya diahadapan Raja.


Raja hanya bisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Ia sebenarnya berharap Belly akan mengatakan suatu hal yang penting. Dan menjelaskan semua yang terjadi antara dirinya dengan Alan.


"Baik, akan kuambilkan untukmu." Raja memasang senyum terpaksanya. Meski hatinya kini penuh dengan kepenatan, ia tetap harus mengertikan kondisi Belly saat ini.


Apalagi ia sempat diberi peringatan keras oleh Dokter Yulia. Jika Raja mengingat itu, ia menjadi bergidik dan takut. Sepertinya omelan Dokter Yulia begitu ampuh....


Raja memotong-motong kecil buah Semangka dan diletakkannya didalam piring agar Belly tak kesusahan memakannya.



To be continue....

__ADS_1


🍒 Bersambung dulu ya readers, othor ngantuk. selamat idhul adha semuanya....


__ADS_2