Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Lembaran Baru


__ADS_3

Pernikahan ke dua,


Meski sempat gagal menjalani hiruk-pikuk rumah tangga yang pertama bersama Raja. Belly berusaha untuk menghapus semua kenangan buruk di masa lalu dan membuka lembaran baru. Baginya, masa lalunya akan dijadikan sebagai pelajaran hidupnya.


Harapan Belly, semoga lembaran baru ini akan menjadi pernikahan seumur hidupnya. Dan Alan akan menjadi pelabuhan cinta terakhirnya. Hingga mereka sama-sama menjadi kakek nenek dan hanya maut yang akan memisahkan.


Setelah saling mengucap janji pernikahan, akhirnya mereka berdua sudah SAH menjadi sepasang Suami Istri di mata Agama dan Negara.


Karena permintaan Belly, mereka melangsungkan pernikahan yang sederhana yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat saja. Belly juga tak meminta mahar pernikahan yang mewah atau besar. Karena baginya, mendapatkan Alan adalah anugerah terbesar yang pernah di miliknya.


Ia juga tak ingin memberatkan Alan, karena Alan sudah mau menerimanya apa adanya seperti ini bahkan dengan masa lalu buruk itu sudah membuatnya merasa bersyukur.


"Selamat untuk pernikahan kalian," ucap Darwin dengan menyunggingkan senyumannya.


"Terimakasih, semoga kau juga akan segera menikah," jawab Alan penuh dengan semangat.


"Ck! Aku masih ingin menikmati masa mudaku. Aku tak ingin terburu-buru,"


Alan dan Belly hanya tersenyum. Mereka mengerti jika Darwin bukanlah orang yang serius dalam menjalani sebuah hubungan. Di beri nasihat pun rasanya percuma.


Ketika sedang berbincang, terlihat dari arah yang berbeda seseorang datang menghampiri Belly dan Alan. Melihat seseorang itu datang, Darwin pun segera pergi menjauh.


"Raja?" Belly terkejut melihat Raja yang hadir di pernikahan mereka. Padahal baik Belly atau Alan tak mengundang dirinya.


Mata Alan pun mengarah pada Raja yang semakin mendekat menghampiri mereka.


"Selamat!" Raja mengulurkan tangannya pada Alan.


Alan pun menjabat tangan Raja yang terasa dingin. "Terimakasih, Raja,"


Setelah itu, Raja segera melepas jabatan tangannya dengan Alan. Ia pun menatap seorang wanita cantik berpenampilan sederhana di sebelah Alan.


Meskipun hanya memakai riasan yang sederhana, Belly terlihat cantik. Bagi Raja, Belly adalah wanita tercantik yang mampu membuatnya menyesal seumur hidup karena kebodohannya.


"Kamu cantik hari ini, tidak kamu bahkan cantik setiap hari," ucap Raja mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan.


Alan yang mendengar Raja berkata seperti itu merasa ngilu. Rasanya ucapan Raja tak pantas di ungkapkan apalagi ini adalah hari pernikahannya. Namun Alan memaklumi pujian Raja terhadap Belly. Karena ia yakin jika Raja belum bisa ikhlas melepaskan Belly.


Belly hanya tersenyum terpaksa, ia juga sudah melihat gelagat aneh yang ditampakkan oleh wajah Alan.


Belly pun menggandeng tangan Alan dan bergelayut manja menyandarkan kepalanya pada bahu Alan.


"Terimakasih sudah datang, Raja."


Raja merasa kepanasan melihat Belly merangkul tangan Alan di depan dirinya. Ia masih berfikir jika Belly harusnya bersanding dengannya, bukan Alan.


"Bell, Belly!!" Suara teriakan seseorang memanggil nama Belly.


"Steva?" Belly yang melihat sahabat lamanya datang pun segera berlari berhambur untuk memeluknya dan meninggalkan Raja juga Alan.


"Miss you, Bell," Steva merentangkan tangannya, Belly pun berhambur menangis terharu di pelukannya.


"Miss you too, Stev,"

__ADS_1


"Kenapa kau datang tidak memberitahuku?" Tanya Belly penasaran diiringi rasa haru, karena ia merasa tak mengundang Steva ke acara pernikahannya. Namun ia juga bersyukur, karena sangat merindukan sahabatnya itu setelah sekian lama tak pernah bertemu.


"Kau jahat, kau tak mengundangku di acara pernikahanmu, hah?" Steva mulai merajuk, ia pun mencubit pipi Belly.


"Dan lihat, kau malah lebih memilih mengundang pecun**ng itu, dari pada aku?" Steva bergeleng-geleng karena melihat Raja ada di acara pernikahan Belly.


"Stev, itu ..."


"Tak apa, selamat untuk pernikahanmu, semoga Alan adalah lelaki yang bertanggung jawab dan pelabuhan cinta terakhirmu, aku yakin kau bahagia dengan orang yang tepat kau tidak akan pernah disia-siakan lagi. Aku turut bahagia untuk itu,"


Mendengar ucapan Steva Raja seperti tengah tersindir. Dapat di lihat olehnya jika Steva berbicara seperti itu dengan mata mengarah padanya, tapi memang benar perkataan Steva. Ia harus terima jika Belly kini telah bahagia bersama Alan.


"Al, terimakasih kau telah setia menjaga sahabatku ini. Semoga kalian segera dikaruniai anak yang banyak," Steva terkikik melihat raut wajah Alan dan Belly saat ini yang terlihat kaku.


"Terimakasih untuk Do'amu Stev," hanya itu yang bisa diucapkan oleh Alan.


Sementara Belly hanya bisa menepuk pelan pundak sahabatnya itu. Setelah sekian lama tak bertemu ternyata Steva tak berubah. Ia masih saja bersikap asal dan ceplas-ceplos.


Setelah Raja mendapat perlakuan seperti tadi, ia sadar jika kehadirannya di sini hanya akan mengganggu suasana bahagia Belly. Ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Darwin yang melihat Steva hanya bisa memandang dari jarak jauh, ia kemudian mencoba mendekati orang-orang yang sedang berkumpul di sana untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Ehem," Darwun berdehem memecahkan suasana haru antara Steva dan Belly yang masih saling dilanda rindu.


"Dia siapa?" Bisik Darwin pada Alan.


"Teman Belly," jawab Alan seadanya.


"Hai Al, hai Bell," sapa Hendrick yang baru saja muncul di antara mereka.


"Hendrick??" Alan pun langsung menyambut kedatangan Hendrick yang masih dikenalnya sebagai kekasih Steva.


Hendrick pun memberi selamat kepada Alan atas pernikahannya, setelah itu ia menghampiri Belly yang tengah asyik berbincang dengan Steva. Di saat itulah Hendrick merangkul pundak Steva kekasihnya.


Hal itu tidak luput dari pandangan Darwin, ia pun bertanya pada Alan.


"Al, mengapa Pria itu ..."


"Kau tak akan bisa apa-apa, Win, Steva adalah calon Istri Hendrick," Alan hanya tersenyum melihat kekonyolan Darwin.


"Huft! Kenapa aku begitu kurang beruntung, padahal dia begitu menarik,"


Alan tertawa mendengar penuturan sahabatnya yang terdengar putus asa. Sementara matanya tak pernah bergeser sedikitpun memandangi Belly yang kini sudah berada di kursi seberang sana bersama Steva.


"Sepertinya kau sudah tidak sabar lagi, Al," Darwin yang sadar ketika melihat Alan terus saja memandangi Belly pun merasa kesal.


"Maksudmu?" Alan merasa pernyataan Darwin begitu rancu. Hingga ia tak mengerti arah dari pembicaraan Darwin.


Darwin terkikik, ia mulai mencari cara untuk menggoda Alan. Hingga terbesit sebuah ide dalam otaknya.


"Apa kau sudah siap?"


"Si-siap apa maksudmu?" Alan masih belum juga mengerti.

__ADS_1


"Kau pura-pura berlagak polos, Al,"


"Ck! Fikiranmu pasti sudah mulai kotor!" Celetuk Alan.


"Aku lupa, kau bahkan belum berpengalaman. Apa perlu ku beri tahu caranya?"


"Kau gila," Alan hanya menggelengkan kepalanya heran dengan sikap Darwin yang terus saja meledeknya.


Lagi-lagi Darwin tertawa, namun suaranya sedikit keras hingga membuat Belly, Steva dan Hendrick menatap kearah mereka.


"Kau lihat tatapan istrimu? Dia begitu menggoda imanmu, bukan?" Bisik Darwin.


"Crazy!"


Alan pun akhirnya memilih meninggalkan temannya itu menghampiri ketiga orang yang sedang berbincang di sana, jika berlama-lama bersama Darwin otaknya pun akan ikut menjadi kotor.


...****************...


Malam telah berganti, setelah selesai makan malam bersama mereka saling berkumpul di ruang keluarga.


Hanya ada Prass, Darwin, Belly dan Alan. Maklum saja pernikahan mereka mendadak. Alan tak menghubungi keluarga satu-satunya di Jakarta. Ia berniat jika nanti sudah kembali ke sana, ia akan memperkenalkan Belly kepada Om dan Tantenya yang tak lain adalah orang tua dari Alex.


Hanya itu keluarga Alan, kedua orang tuanya sudah tiada beberapa tahun lalu.


"Al, aku lelah. Aku ingin tidur," ucap Darwin memecahkan suasana hening. Ia juga merasa tengah lelah hari ini karena disibukkan oleh pernikahan Alan dan Belly. Darwin pun pergi ke kamar Alan untuk istirahat. Karena biasanya Darwin memang tidur satu kamar dengan Alan jika ia tidak kembali ke Apartementnya.


"Papa juga ingin istirahat," Prass pun pergi menuju ke kamarnya.


Sementara tinggallah Belly dan Alan di ruang keluarga itu.


"Bell, lebih baik kamu segera istirahat. Kamu pasti lelah,"


"Al, sebaiknya kamu juga istirahat," Belly juga melihat raut wajah Alan yang terlihat lesu.


"Baiklah, aku akan pergi ke kamar,"


Alan pun melangkah pergi menuju ke kamarnya, namun saat itu pula Darwin sudah mengunci pintu kamar.


Alan mencoba mengetuk-ngetuk pintu kamarnya memanggil Darwin, namun Darwin tak juga membuka.


"Sial, dia pasti sudah mengerjaiku," umpat Alan merasa semakin kesal dengan sahabatnya itu.


To be continue ...


Haii readers,


Silahkan mampir di karya Othor yang baru yang berjudul MENGEJAR CINTA JANDAKU.


Cerita ini nggak kalah seru, selamat membaca.


Jangan lupa tinggalkan jejak²nya ya, komen, like, vote dan giftnya. Terimakasih .....


__ADS_1


__ADS_2