
Steva merasa hendrick bersikap berlebihan terhadapnya, ia hanya terluka kecil dan siapapun pasti akan menganggap ini adalah luka biasa. Hendrick malah membawa steva ke rumah sakit. Alhasil, luka itu hanya di beri plester oleh perawat. dengan diiringi tawa kecil. Hal itu malah membuat steva menjadi semakin malu.
"Hen, sudahlah jangan berlebihan ini hanya luka biasa." Ucap steva kesal.
"Wanita itu berbahaya stephani! Bagaimana bisa kalian berurusan dengannya?"
Belly dan steva tak mengucapkan kata-kata apapun setelah mendengar pengakuan hendrick jika maura adalah wanita berbahaya sekaligus mantan kekasihnya.
Hendrick juga bercerita tentang kisah maura yang mengejarnya untuk dijadikan jembatan menuju agensi model yang ia idamkan. Setelah mengetahui itu semua, akhirnya hendrick pun memutuskan maura dan meninggalkannya.
Selain itu, hendrick juga memberi tahu jika maura saat ini sudah tidak bekerja sebagai model lagi. Ia di pecat karena telah melakukan penganiaayaan terhadap juniornya.
Semua kabar tentang maura akhirnya diketahui oleh belly. Ia berfikir, mungkin inilah penyebab maura kembali mengusik kehidupan raja.
Belly sangat hafal bagaimana sikap maura ketika ingin mendapatkan uang, ia takkan menyerah begitu saja. Banyak cara yang dihalalkannya demi menuju keinginannya. Meskipun cara itu merugikan orang lain.
Kali ini aku takkan tinggal diam jika kau mengusik kehidupanku dengan raja, cukup puas aku mengalah karena mu. Aku sudah banyak mengalah padamu maura, takkan kubiarkan kau berbuat semaumu lagi.
***
Tepat pukul delapan malam belly tiba di rumah, ia tak mendapati keberadaan raja. Ia berfikir mungkin raja belum kembali dari kantor. Belly menuju ke lantai du dimana kamarnya dengan raja berada di sana. Namun saat ia membuka pintu, dilihatnya ada sosok raja di dalam kamar.
"Raja, kau sudah pulang?" Belly menyapa raja yang terdiam duduk di pinggiran ranjang menunggu kepulangan belly.
"Baru pulang? Selarut ini?" Bukannya menjawab, raja malah balik bertanya pada belly dengan tatapan tajam.
"Tadi aku menemani steva ke rumah sakit, jadi aku...."
"Bagaimana bisa bell? Kau pulang dengan santai selarut ini, sementara aku mencemaskanmu? Semua panggilan dan pesanku tak kau jawab! Apa maksudmu bell?" Raja terlihat gusar, ia memegang kedua pundak belly hingga membuat tubuh belly terguncang.
"Raa..raja, tidak ada hal serius yang terjadi. Mengapa kau bersikap berlebihan?" Belly berusaha menenangkan raja, namun sepertinya cara belly ini salah di mata raja.
"Berlebihan? Kau bilang aku berlebihan??" Raja melepaskan pegangannya pada pundak belly, ia terduduk lemas dipinggiran ranjang.
__ADS_1
"Raja, tenanglah.. Ponselku ada didalam tas dan tertinggal di dalam mobil. Maaf aku tak mengabarimu..." Belly merasa bersalah sudah membuat raja khawatir. Digenggamnya erat-erat tangan raja yang kini terasa dingin.
"Bell, aku hanya takut. Bahkan sangat takut jika kau pergi lagi..." Perkataan lirih itu membuat belly tercengang.
"Raja, bagaimana bisa kau berfikiran seperti itu?? Aku tak mungkin pergi... Percaya aku, hatiku milikmu..."
Raja menarik pinggul belly hingga semakin mendekat dan rapat padanya. Di peluknya belly dengan erat. "Karena kau sudah membuatku khawatir, maka kau harus di hukum!"
"Raa..ja? Hukuman apa lagi? Mengapa kau terus menghukumku setiap malam?" Belly terkulai lemas, ia mengerti maksud HUKUMAN yang dikatakan raja.
"Aku sangat ingin menghukummu bell!" Raja dengan segera meluc*ti pakaian belly, ia tak sabar ingin mengobrak-abrik tubuh istrinya yang teramat diinginkannya.
Aroma tubuh belly membuatnya candu, hingga raja terus saja merindukan belly dan menginginkannya. Meskipun lelah, belly tahu akan keinginan suaminya.
Belly tak sempat mandi sepulang dari kantor dan mengantar steva ke rumah sakit, ia harus bergulat terlebih dahulu diatas ranjang bersama suaminya.
Malam berganti pagi, karena terlalu lelap tidur belly bangun belakangan. Sementara raja sudah siap sedari pagi, ia berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk istri tercintanya.
Raja menuju ke kamar membawakan sepiring nasi goreng buatannya. "Morning sayang, apakah tidurmu nyenyak?"
Saat ini Raja sudah terbiasa mengeluarkan senyum bahkan tawanya di depan belly, tak seperti dulu. Raja dikenal sebagai pria dingin dan susah senyum.
"Apa-apaan ini? Apakah kau yang membuatnya?" Belly bangun dari pembaringannya, ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang dengan balutan selimut tebal yang membungkus sebagian tubuh moleknya.
"Aku mempersiapkan ini untuk wanita berbissa-ku." Ucap raja menyiapkan sarapan di atas nakas.
"Lagi, kau mengatakan aku wanita berbissa??" Belly memutar bola matanya malas.
"Aku menyukainya, makanlah... Kau pasti sudah kehabisan tenaga karena semalaman aku...."
"Tak perlu diperjelas raja!" Belly memelototi raja dengan matanya yang membulat. Ia segera meraih sepiring nasi goreng buatan raja. "Apakah ini enak?" Belly menatap penampilan nasi goreng yang tak meyakinkan menurutnya. Meskipun begitu, belly tetap menghargai usaha raja demi menyenangkan hatinya.
"Kau tak percaya jika nasi buatanku enak?? Pasti rasanya sangat enak karena aku membuatnya dengan sepenuh hati dan cinta!" Ucap raja membanggakan diri meyakinkan belly.
__ADS_1
Belly terkikik pelan, ia tak menyangka suaminya yang terkenal dingin ini sekarang sudah sangat mahir menggombal. Tanpa banyak tanya, ia segera menyuap sesendok nasi ke mulutnya.
Diam, tak melanjutkan mengunyahnya belly hanya diam. Ada sesuatu yang berbeda dirasakan oleh indra pengecap belly. Belly mengunyah pelan nasi di mulutnya, "Emmm,..."
"Bagaimana? Enak bukan?" Tanya raja penasaran pada belly.
"E..enak..." Jawab belly terbata, ia mengulum senyumannya sembari terus menahan nasi di dalam mulut tanpa menelannya.
"Apa aku bilang, masakanku itu sangat enak! Sini aku ingin pun ingin mencoba..."
"Jaa..jangan raja, aku saja yang memakannya." Belly melarang raja mengambil sendok dari tangannya.
"Sini, aku pun ingin menikmati masakanku sendiri bell." Raja memaksa, hingga ia berhasil menyendok satu suapan nasi ke mulutnya.
"Buhhhhh!" Raja memuncratkan nasi yang ada di mulutnya hingga berhambur keluar. "Asinnn!!!!!" Umpat raja, ia segera mengambil segelas air di atas nakas dan meminumnya.
Belly hanya diam tak berani menanggapi raja, ia begitu kasihan melihat wajah raja.
"Bell, kenapa tidak jujur padaku?? Kenapa nasi goreng asin ini kau bilang enak?" Raja merebut piring nasi dari tangan belly, kemudian meletakkannya di atas nakas.
"Aku ingin menghargai apapun usahamu raja, aku tak ingin mengecewakanmu.." Ucap belly menundukkan wajahnya.
"Ya tuhan belly, tapi tidak harus begini juga! Jika kau memakannya, kau pasti akan sakit perut! Aku akan membuatkannya lagi untukmu...." Raja hendak beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu, biar aku saja yang membuat sarapan raja!!." Ucap belly menahan tangan raja yang akan pergi ke dapur kembali.
"Aku saja bell...." Raja mencoba melepas cekalan tangan belly.
"Aku saja! Jika kau yang membuatnya, maka stok garam di dapur mungkin akan habis seketika!" Belly beralih dari ranjang, ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Raja hanya tersenyum mendapati tingkah istrinya yang berjalan perlahan di balut selimut tebal bak Ulat bulu menuju kamar mandi.
Hari-hari raja dan belly terasa indah dipenuhi dengan canda dan tawa keduanya. Tak jarang pula raja bersikap romantis memperlakukan istrinya, bahkan hal itu bisa di bilang setiap hari.
__ADS_1
To be continue.....