
Dengan kaki dan tangan yang terikat, mata yang tertutup kain hitam, Alan mencoba memberontak dan berteriak agar ikatan pada kaki dan tangannya dapat terlepas.
Namun sayang, sudah satu hari ini ia tak juga bisa bebas dari sekapan yang tengah dialaminya saat ini.
"Maura, kau benar-benar perempuan keji!!!!"
Alan mencoba berteriak minta tolong, ia berharap ada orang baik atau malaikat yang akan membebaskannya saat ini. Tapi sayang seribu kali sayang, semua harapannya itu tak kunjung terwujud.
"Akan kubuat kau menyesal Maura!!!!"
Alan benar-benar habis kesabaran, ia menyesal saat itu tak mencekik leher Maura hingga tewas.
"Tolonggggggggg!!!!!!!!" Teriak Alan dengan suara yang menurutnya paling kencang.
"Tolong lepaskan aku!!!!!!" Alan kembali berteriak lagi.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka.
"Tolong! Apakah ada orang disitu???" Alan merasa ada sedikit harapan baginya untuk lepas dari siksaan Maura.
"Tolong lepaskan aku, tolonglah...." Ucap Alan memohon.
"Hahaa...... Hahahaha..." Suara tawa dengan irama yang bahagia, wanita itu melangkah mendekat kearah Alan. Ia menarik kain penutup mata Alan dengan kasar.
"Maura??"
"Halo tuan pahlawan, apa kabar?" Tanya Maura menyapa Alan.
"Maura, berengs*k kau!!!! Cepat lepaskan aku! Atau akan kubuat kau menyesal seumur hidupmu!!!!"
"Upssss! Takut....." Bukannya merasa bersalah, maura malah meledek ancaman Alan.
"Tuan Alan, kau selalu saja menyelamatkan kekasih hatimu itu! Tapi sayang, kau tak bisa menyelamatkan dirimu sendiri!!" Tawa Maura kembali meledak, ia sangat senang melihat penderitaan pria yang kini ada dihadapannya.
"Mauraaaa!!!!!" Alan menggoyang-goyangkan tubuhnya, berharap ikatan ditangannya akan lepas. Ia dengan sekuat tenaga berupaya membebaskan diri agar dapat memberi pelajaran kepada Maura.
"Percuma tuan Alan, percuma kau lakukan itu! Lebih baik kau menuruti perintahku!"
"Cuiihhh!!!" Alan meludah kesembarang arah.
"Aku takkan sudi menuruti perintahmu!!!" Alan menolak kasar.
"Kurang ajar, beraninya kau jual mahal!!"
Maura merasa kesal melihat keangkuhan Alan padahal kondisinya saat ini begitu memprihatinkan, ia pun memberikan kode kepada anak buahnya untuk segera memberi pelajaran pada Alan.
Bughh!!!!! Bughhh!!!!
Pukulan keras pada perut dan dada Alan pun tak bisa terelakkan. Alan yang tak bisa berkutik hanya bisa menahan rasa sakit yang kini ia derita.
"Bagaimana, kau masih ingin membangkang? Atau mengikuti perintahku??" Tanya Maura memberi kesempatan lagi pada Alan.
"Aku lebih baik mati daripada menuruti perkataanmu!!!"
Masih bersikeras, Alan tetap pada pendiriannya. Ia tak ingin menjadi budak Maura, lebih baik ia mati daripada harus menjadi jahat.
"Dasar tidak tahu diuntung!!!"
Umpat Maura, ia pun memberi kode kembali pada anak buahnya. Kemudian anak buahnya pun menyumpal mulut Alan dengan kain yang sudah diberi obat bius.
Alan kembali tak sadarkan diri, Maura sebenarnya ingin segera melenyapkan Alan, tapi ia merasa akan rugi jika melakukan hal itu sementara tujuan utamanya belum terlaksana.
"Bawa dia ke Mobil!" Perintah Maura yang ditanggapi dengan anggukan oleh kedua anak buahnya itu.
Alan pun dibawa Maura dan para antek-anteknya menuju kesebuah tempat. Dengan sebaik mungkin, Maura mengatur rencana jahatnya.
Sebenarnya sudah lama ia menyusun rencana ini, tetapi menurutnya sekarang adalah waktu yang terbaik untuk menjalankan rencananya.
Selesai, ia pun segera melangsungkan rencana berikutnya.
****
"Raja, segera datang ke Hotel Melati, kamar nomor 23....." Maura berbicara melalui sambungan telepon, belum sempat Maura melanjutkan perkataannya, Raja mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Tut!!!
"Ya tuhan Raja, beginikah caramu memperlakukanku?? Kita lihat saja nanti, kau pasti akan berterimakasih padaku!"
Maura tersenyum senang, ia menunggu kedatangan Raja tepat didepan hotel Melati. Ia ingin tahu lebih jelas bagaimana nanti ekspresi Raja dari awal hingga akhir.
Selang beberapa menit, usaha menunggunya pun berbuah hasil. Raja datang bersama Rangga dan Alex. Ia terlihat berlari cepat ketika baru saja turun dari mobil.
"Muara!" Nafas Raja terengah-engah menghampiri Maura yang tengah menunggunya.
"Raja, akhirnya kau datang juga."
"Apa kau melihat mereka?" Tanya Raja ingin tahu.
__ADS_1
"I...iya, bahkan aku melihat mereka berdua bermesraan masuk kedalam....."
"Dimana mereka?!!" Mata tajam Raja mulai terlihat hingga hampir keluar dari kelopaknya.
"Em.... Di kamar no 23."
Dengan segera, Raja berlari cepat menuju kamar yang disebutkan Maura dengan diikuti Rangga dan Alex dibelakangnya.
Setelah sampai didepan pintu kamar bernomor 23, Raja dengan segera mendorong pintu kamar itu dengan sekuat tenaganya.
Brakkkkk!!!!
Pintu pun terbuka dengan paksa, menampakkan semua pemandangan didalam sana. Jelas, amat jelas terlihat oleh mata Raja.
Lemas tubuhnya, lemah hatinya, itulah yang dirasakan Raja saat ini. Tak percaya, tapi ini adalah kenyataan pahit untuknya. Ia berharap jika ini hanyalah mimpi, tapi lagi-lagi ia salah. Meski pahit baginya, inilah kenyataannya sekarang.
Susah payah ia membangun cinta untuk istrinya, namun ia merasa telah dihianati meski tak tahu apa salahnya.
Haruskah dengan cara seperti ini kau menghianatiku? Jika memang dari awal tak mencintaiku, mengapa kau tak meminta berpisah dengan baik-baik? Bell, kali ini aku sungguh terluka. Bahkan luka itu sangat dalam....
Mematung ia menyaksikan istrinya telah berada satu selimut dengan pria lain. Hancur lebur berkeping-keping hatinya saat ini. Hati yang selama ini ia jaga baik-baik, hanya untuk dimiliki Belly seorang. Mata yang kini telah ia jaga baik-baik, dari pandangan wanita lain demi untuk Belly. Tapi apa yang dia dapatkan? Penghianatan!
Semua mata terbelalak melihat pemandangan saat ini, Alex, Rangga termasuk juga Maura.
"Raja, aku tidak menyangka. Ternyata seperti ini kelakuan wanita yang terlihat kalem dari luar. Aku fikir, semua dugaanku salah, tapi setelah melihat ini semua aku jadi percaya!" Ucap Maura mulai menebar bara api.
Ia tak mau kehilangan kesempatan baik ini, dengan semangatnya ia pun segera memperdalam rencananya yang sudah jadi kenyataan.
"Raja, baiknya kita selidiki terlebih dahulu. Mungkin saja ini adalah sebuah jebakan." Alex mencoba menyiram air dingin agar otak dan hati Raja tak kepanasan.
Sementara Rangga, ia lebih baik memilih diam. Karena, ia tahu jika Bossnya saat ini sedang emosi dan terpuruk! Tak mau ia menjadi sasaran empuk dan sebuah pelampiasan kemarahan Raja.
Raja semakin mengeratkan rahang tegasnya, ia menggenggam kuat-kuat telapak tangannya kemudian melangkah mendekat kearah ranjang.
"Beraninya kau!!!!!" Raja meraih tubuh Alan, lalu menyertakan turun dari ranjang dengan paksa.
Bughhhhhhhh!!! Bughhhh!!!!!
Mendapat pukulan yang tepat mengenai wajahnya, Alan pun perlahan membuka matanya. Dengan hanya memakai celana boxer, tanpa baju yang menutup bagian atas tubuhnya Alan semakin merasa pusing. Pasalnya saat ini ia masih terkena efek obat bius, ditambah lagi pukulan kuat oleh Raja yang menghantam keras wajahnya.
"Raja!!!!" Alex berusaha membantu Alan yang terlihat sempoyongan. Meski ia merasa kesal dengan sepupunya itu, namun ia merasa jika ada yang tidak beres dengan kejadian hari ini. Meski abelum melakukan apapun, Alex mencoba mencegah Raja.
"Bela saja dia terus!!! Bela saudara bajinga*nmu itu Lex!!!" Raja semakin kesal, ia mengumpulkan tenaganya dengan kuat dan menghempaskannya dengan melayangkan sebuah tendangan kuat kearah Alan.
Tendangan Raja pun mengenai bagian perut Alan. Cairan berwarna merah akhirnya muncrat keluar dari mulut Alan. Tak tahu berapa kali ia mendapat pukulan pada tubuhnya, yang jelas ia merasakan semua tulang-tulangnya patah.
dengan membentangkan kedua tangannya.
"Tolong hentikan Raja, aku mohon..."
"Lex, aku selalu berusaha memandangmu sebagai sahabatku ketika ingin menghabisi laki-laki lakn*at ini! Tapi maaf, untuk sekarang aku tak lagi memandangmu, aku hanya ingin menghabisinya!"
Belum sempat Raja melakukan aksinya lagi, Rangga segera mencegahnya.
"Pak Raja, jangan lakukan itu. Anda bisa dipenjara karena melakukan kekerasan!"
Ada benarnya ucapan Rangga, Raja pun menghentikan aksinya. Ia mencoba meredam emosinya saat ini. Dilihatnya Alan yang sudah terkapar lemah diatas lantai dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.
Matanya kemudian beralih kearah Belly, entah mengapa Belly tak juga bangun meski suara keras hasil dari keributannya dengan Alan sudah memenuhi isi ruangan kamar yang mereka tempati saat ini.
Raja terus memandang Belly dari kejauhan, wajah pucat pasi Belly dapat terlihat jelas olehnya. Bibir kering, rambut kusam, serta tubuhnya yang kian mengurus. 1Ingin sekali rasanya ia berhambur memeluk Belly saat ini juga, tapi entah mengapa kakinya enggan melangkah.
Melihat Raja menatap Belly dengan iba, Maura pun melancarkan aksinya kembali. Ia tak mau jika Raja kembali berbelas kasih pada Belly.
"Dasar wanita murahan tidak tahu diri!!!" Dengan melangkahkan kaki cepat, Maura menuju ranjang tempat dimana Belly berbaring.
"Bangun kau!!! Jangan berpura-pura!!!" Maura mencengkram kuat rambut Belly, ditariknya rambut itu hingga membuat Belly merasakan sakit dan membuka matanya perlahan.
"Maura, hentikan!!!" Meski hatinya masih sangat sakit, tapi melihat Belly diperlakukan seperti itu oleh Maura Raja merasa kasihan. Bagaimana pun rasa sayangnya saat ini, melebihi rasa bencinya.
"Raja, kau masih saja membelanya? Jelas-jelas dia sudah menghianatimu!!!"
Maura tak mau kalah, kali ini ia harus berhasil membuat Raja benci pada Belly. Usahanya akan sia-sia jika Raja tetap mencintai Belly. Dengan menampilkan dramanya didepan beberapa orang disekitarnya.
"Raja, awalnya aku sudah merelakanmu untuknya. Aku berharap dia akan mencintaimu melebihi rasa cintaku padamu, aku harap dia bisa menjaga perasaanmu lebih dariku! Aku sudah mengikhlaskanmu untuknya, tapi apa?? Apa yang baru saja kita lihat?? Aku bahkan tidak rela jika kau terus bersama wanita penghianat seperti dia! Aku tak ingin kau terus disakiti olehnya."
Raja membenarkan perkataan Maura, dirinya sudah dihianati kali ini. Ia merasa lemah sebagai lelaki, entah mengapa ia tak bisa membenci Belly, meski semua penghianatan Belly sudah terlihat jelas didepan matanya.
"Aku bukan pria bodo*h! Aku akan membuat kalian berdua hancur!"
Demi melawan perasaan didalam hatinya, Raja pun mengeluarkan suaranya. Mungkin kata-kata yang terucap saat ini hanya untuk menutupi perasaan yang sebenarnya didalam hatinya.
Maura tersenyum Smirk, sementara Raja dengan sesak didada terus berusaha menahan sakit hatinya.
"Aku, Raja Arfatama Darmawan dengan ini menalak kamu Belly Zeana Anggraika!"
"Raja!!! Apa yang kau lakukan? Belly sedang hamil, kau tak bisa seenaknya menalaknya!" Umpat Alex dengan kesal, karena ternyata Raja lebih meninggikan egonya daripada mendengarkan penjelasan dari Belly terlebih dahulu. Apalagi saat ini kondisi Belly belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Pak Raja, tenangkanlah dirimu lebih dulu!" Rangga pun ikut angkat bicara.
"Raaj...a, aku mohon bicaralah pada Belly terlebih dahulu! Kau salah paham..." Alan yang kini baru sedikit tersadar pun ikut berbicara. Ia tahu saat ini dirinya dan Belly tengah dijebak oleh Maura.
Meski ingin Alan mengungkap kebenarannya, tapi ia merasa percuma karena saat ini ia dan Belly benar-benar sudah berada dalam jebakan Raja. Dan saat ini Alan belum ada bukti kuat untuk mengungkap kejahatan Maura.
"Diam! Aku tak butuh petuahmu! Bukankah ini yang kau inginkan?" Raja tersenyum pahit, sakit yang kini ia rasa. Meski sebenarnya ia sadar tengah menalak Belly yang sedang mengandung.
"Raja, Belly sedang mengandung..."
"Aku tahu, tapi aku tidak tahu apakah itu benar-benar anakku??" Lagi-lagi perasaan Raja semakin sakit, perkataannya itu menyayat hatinya sendiri.
Bagaimana bisa sekarang ia menjadi ragu pada janin yang tengah dikandung oleh Belly. Padahal awalnya, ia sangat yakin dan percaya jika anak itu adalah hasil buah cintanya dengan Belly.
Sementara Maura, ia merasa tengah berada dalam pintu kemenangan. Yes!!! Sedikit lagi, ia akan memenangkan hati Raja kembali.
Belly dapat mendengar dengan samar-samar suara keributan yang tengah terjadi. Kepalanya yang berat, perutnya yang sakit membuatnya sedikit membukakan matanya yang tadi sempat terpejam kembali.
Mungkin ini adalah efek panjang dari obat bius yang diberikan Maura.
Ditatapnya perlahan wajah seseorang yang berdiri tegak dengan mata yang memerah disana.
Bahagia ketika ia melihat seorang raja disana, ia merasa saat ini mungkin Raja telah menemukannya dan ia telah kembali dari tempat yang menyeramkan baginya selama beberapa hari ini.
Tapi sepertinya ia salah, setelah mendengar beberapa suara yang memenuhi isi ruangan ini.
"Ra...ja..." Lirih Belly dengan suara parau bahkan nyaris tak terdengar.
Raja dapat melihat mata Belly yang kian terbuka, kesakitannya bertambah dua kali lipat ketika Belly menatapnya dengan dalam. Seperti tatapan rindu, tatapan haus akan kasih sayang, tatapan butuh pelukan dan entahlah Raja tak tahu arti tatapan Belly yang benar menurutnya saat ini.
Raja tak sanggup lagi jika terus berada ditempat ini, ia pun kemudian memilih mundur dan pergi. Jika berlama-lama disini, mungkin ia akan semakin bertindak kasar terhadap Belly, itulah yang ia takuti.
"Pak Raja.." Rangga yang melihat Bossnya pergi begitu saja, langsung bergerak menyusulnya.
Sementara Alan, masih tersungkur lemas duduk dilantai dengan memegangi dadanya yang semakin sesak akibat beberapa pukulan yang menghantam tubuhnya hari ini.
Alex bingung, haruskah ia menyusul Raja atau tetap disini membantu Alan? Ia merasa serba salah. Tetapi jika ia terus berada disini, bisa-bisa Raja akan semakin salah paham padanya. Maka dari itu ia memilih untuk meninggalkan tempat ini juga.
"Lex, kau tak percaya padaku??" Alan mencoba meyakinkan sepupunya itu.
"Semua sudah terlihat jelas, semua orang tahu kau salah Al, percuma bagimu menjelaskan meski kau benar!" Alex pun pergi dari tempat itu.
"Alex, aku akan membuktikan jika diriku tidak bersalah!"
"Kumpulkan buktinya, dan persiapkan dirimu dipengadilan nanti!" Alex pun melanjutkan langkahnya kakinya untuk keluar.
Sementara, Maura tersenyum senang dan puas.
"Jika kau menurut padaku, maka semua takkan seperti ini. Ya setidaknya sedikit lebih halus..."
"Kau akan mendapatkan balasannya nanti! Lihatlah Maura, aku akan buktikan diriku dan Belly tidak bersalah!" Bela Alan.
"Kau bisa apa? Bahkan saat ini kau berdiri pun tak mampu tuan!" Maura langsung saja bergegas meninggalkan mereka berdua dikamar hotel itu. Ia merasa tugasnya sudah selesai. Tinggal melakukan pendekatan lebih kepada Raja. Karena tujuannya memisahkan Raja dan Belly sudah selesai.
Sebelum Maura benar-benar pergi, ia menatap kearah Belly yang terkulai lemas tak bertenaga disana. Hanya senyuman lebar yang ia tampaknya didepan saudara tirinya itu.
Merasa tak tahu apa-apa, ia pun berusaha mengingat semua yang terjadi. Ia melihat disekitar tempatnya berada saat ini. Keadaan ini membuatnya semakin pusing dan merintih kesakitan pada bagian perutnya.
Dilihatnya disana Alan yang duduk dengan bercak darah dimulut dan juga hidungnya. Kemudian matanya beralih lagi dengan keadaannya sendiri. Ia baru tersadar jika tubuhnya hanya tertutup selimut tebal dengan mengenakan lingerie.
"A..apa yang terjadi? Mengapa aku...."
Mendengar Belly bersuara, Alan pun segera mencari bajunya dan bangkit dari lantai perlahan, meski saat ini kakinya tak kuat lagi menopang tubuhnya. Namun, ia berusaha lebih kuat lagi saat melihat Belly yang terlihat lemah dan pucat.
Alan meraih telepon di nakas, ia pun mencoba menghubungi orang yang ia percaya untuk membantunya saat ini. Kemudian mendial nomor telpon kantornya, karena hanya nomor itu yang ia ingat.
Ia menelpon kantornya, dan sambungan itu pun langsung diterima oleh Faizal orang kepercayaannya. Teman yang beberapa bulan lalu baru dikenalnya, tapi ia amat mempercayai Faizal.
Alan meminta Faizal untuk segera menjemputnya dengan mobil lalu membawa dirinya ke Rumah sakit. Dengan segera Faizal pun bergegas melakukan perintah bossnya.
"A..lan? Mengapa kita ada disini?" Tanya Belly dengan suara nyaris hampir habis.
Alan melihat tak ada air minum disekelilingnya, ia pun mengumpat kesal karena saat ini tak mampu memberikan Belly minum agar bisa sedikit memulihkan tenggorokannya.
"Bell, aku juga tidak tahu..." Hanya itu yang bisa Alan katakan. Karena menjelaskan pun malah akan memperburuk keadaan.
Pilihannya saat ini adalah membawa Belly pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.
"Alan...." Panggil Belly lagi, namun belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, ia kembali tak sadarkan diri.
"Belly!!!!!"
To be continue.....
🍒Hai reader, maaf ya kalo othor jarang Up akhir² ini. Terimakasih untuk kalian yang masih terus setia membaca karya ini. Bahagia bisa kembali memberikan bacaan untuk kalian....
Semangat!!!!!
__ADS_1