
"Raja tahu itu ma,"
"Jadi, kamu sudah tahu?? Dan kamu diam saja?" Rianti tak habis fikir akan sikap Raja, ia masih bingung dengan apa yang dilakukan Raja terhadap Belly.
"Hufft!" Raja menghembuskan nafasnya. Ia tak tahu harus darimana menjelaskan masalahnya kepada kedua orang tuanya.
"Ma, pa. Raja sudah menceraikan Belly."
"Apaaa?!!" Secara bersamaan Darmawan dan istrinya itu pun terkejut.
"Iya ma, pa. Raja harap mama dan papa menyerahkan semua urusan ini pada Raja. Raja bisa mengatasinya sendiri."
"Bagaimana ini....."
"Ma, biarkan Raja istirahat. Ayo kita ke kamar." Ajak Darmawan pada istrinya yang masih ingin menyerang Raja dengan beberapa pertanyaan.
"Ta..tapi pa...."
"Ayo ma..."
Darmawan membiarkan Raja istirahat dan menenangkan fikirannya terlebih dulu. Ia segera membawa Rianti menjauh.
Saat ini, ia dapat melihat kekacauan putra semata wayangnya itu dari raut wajahnya.
Raja mendatangi kedua orang tuanya yang ada di Bandung. Ia merasa butuh mengistirahatkan tubuh dan fikirannya. Apalagi hatinya, amat butuh sekali. Namun baru saja tiba di rumah, ia mendapat banyak pertanyaan dari mamanya. Hal itu membuat Raja semakin pusing darimana dia harus menceritakan semua kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini.
Raja berniat tinggal beberapa hari di Bandung, ia ingin mengunjungi beberapa tempat yang mampu membuatnya bernostalgia dengan masa kecilnya.
Masa kecil yang begitu bahagia, masa dimana ia bebas dari segala urusan orang dewasa.
Untuk urusan kantor, Raja sudah menyerahkannya pada Rangga namun ia tetap memantau pekerjaan itu dari jauh melalui E-mail yang dikirimkan Rangga orang kepercayaannya.
Raja merebahkan tubuhnya di ranjang. Kamar yang pernah ia tempati ternyata masih sama seperti dulu. Ditatapnya beberapa foto masa kecilnya yang menempel pada tembok, masa sekolahnya bersama sahabatnya, dan beberapa piagam penghargaan yang pernah diraihnya di sekolah. Hingga akhirnya ia merasa kantuk mulai menyerang dan ia pun tertidur pulas.
Mungkin Raja sudah tertidur selama satu jam lamanya. Kali ini ia merasa ada yang menyentuh wajahnya hingga membuat matanya perlahan terbuka.
Matanya membulat sempurna ketika melihat seorang wanita tersenyum sipu duduk dipinggiran ranjang mengusap-usap wajahnya dengan lembut. Dibelainya rambut Raja dengan pelan sembari terus menyunggingkan senyuman manisnya.
"Aku merindukanmu....." Wanita itu mengecup lembut bibir Raja.
__ADS_1
"Hah!!!!" Raja bangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Ia duduk dengan terus membayangkan mimpinya barusan. Ia mencari sosok yang barusan saja ia temui di setiap penjuru kamarnya.
"Belly...." Mata Raja menelisik setiap sudut ruangan kamar, berharap apa yang dialaminya tadi adalah kenyataan. Namun, ia sadar jika itu hanyalah mimpi belaka.
Raja bangun dari tidurnya dengan mendudukkan bokongnya di pinggiran ranjang. Dipeganginya kepalanya yang terasa semakin pusing hingga ia harus meremas kuat rambutnya.
"Apa yang baru saja aku alami?? Tidak mungkin!" Raja beranjak keluar dari kamar menuju ke dapur untuk mencari air sebagai penghilang dahaganya.
Raja membuka lemari es dan meneguk sebotol air mineral dingin hingga tandas tak tersisa.
"Ahh!" Ada sisa-sisa air di bibirnya, kemudian ia mengusapnya dengan tangan. Akhirnya tenggorokannya yang sempat kering, kini sudah basah dan rasa harusnya pun hilang dengan sekejap.
Ketika hendak menutup lemari es, pundaknya dipegang oleh seseorang dari belakang.
"Apa ini, apakah aku masih berada dalam alam mimpi?" Batin Raja. Dengan sigap ia segera menangkap tangan yang menyentuh pundaknya itu dan menangkap seseorang disana.
"Kamu???" Mata Raja membola, ia tidak menyangka jika seorang wanita yang ia kungkung kali ini adalah Maura.
"My king..." Maura mengulum senyumannya. Ia tak menduga jika Raja akan bersikap seromantis ini menyambut kedatangannya.
Buru-buru Raja melepas kungkungannya hingga membuat Maura terjatuh ke lantai.
Mendengar jeritan itu, Rianti dan Darmawan langsung menuju ke dapur menemui Raja dan Maura.
"Maura, ya ampun..." Rianti segera membantu Maura untuk bangun dari lantai.
"Raja, ada apa ini?" Tanya Darmawan heran.
Raja hanya menggelengkan kepalanya. Ia malas berkata apapun apalagi mengenai Maura. Ia berlalu begitu saja meninggalkan dapur menuju keluar Rumah.
"Raja..." Maura dengan segera mengikuti langkah kaki Raja dengan berlari kecil.
Saat Raja tadi tertidur, Maura ternyata datang untuk menemuinya. Ia pun bercerita kepada Darmawan dan Rianti tentang apa yang sudah terjadi pada Raja dan Belly.
Maura juga mengarang cerita tentang Belly dan menjelek-jelekkan Belly. Apalagi Maura menambahkan bumbu-bumbu dalam ceritanya. Tentu saja hal itu membuat Rianti semakin geram terhadap Belly. Rianti terlihat begitu mempercayai ucapan Maura.
Berbeda dengan Darmawan yang masih sulit mempercayai ucapan Maura. Karena ia akan menyelidiki lebih dulu kabar yang baru saja didengarnya. Ia tak mudah percaya begitu saja pada Maura, karena ia juga tahu jika Maura pernah meninggalkan Raja pada saat hari pernikahan mereka.
Setelah mendengar Raja bangun, Maura pun segera menyusul Raja menuju dapur. Ia sungguh rindu pada mantan kekasihnya itu. Karena beberapa hari saat di Jakarta ia mendapat perlakuan cuek dari Raja, hal itu amat membuatnya kesal.
__ADS_1
Padahal ia sudah susah payah memisahkan Raja dan Belly. Ia tak mau menyerah begitu saja, ia harus mendapatkan Raja kembali ke dalam pelukannya.
"Raja, berhenti!!!" Setelah merasa lelah tak juga bisa mengimbangi langkah Raja, Maura kesal dan berteriak agar Raja menghentikan langkahnya.
"Raja, berhentiiiiiii!!!!" Teriakan Maura kali ini membuat beberapa orang di jalan menatapnya dan Raja yang terlihat sedang main kejar-kejaran.
Raja yang mengetahui hal itu menutup wajahnya merasa malu. Mau tak mau, ia segera menghentikan langkahnya.
"Raja, i miss you..."
Raja kesal mendengar penuturan wanita yang ada dibelakangnya. Ia pun membalikkan badannya dan mencekal tangan Maura. Ia menyeret Maura menuju ke sebuah tempat duduk yang ada di pinggir jalan.
"Apa yang kamu inginkan?!!!" Tanya Raja dengan tatapan kesal.
"Kamu!" Maura tersenyum menerima perlakuan Raja.
"Ck!! Kamu gila?" Raja sungguh tak percaya akan bualan Maura. Ia merasa Maura sudah hilang akal.
"Aku gila karena kamu!" Maura tak ingin menyerah begitu saja. Dengan memasang senyuman bahagia, ia terus saja menanggapi ucapan Raja dengan serius.
"Bisakah kamu pergi?" Tak ingin berdebat lagi, ia meminta Maura pergi meninggalkannya.
"Pergi dari hati kamu adalah hal tersulit!!"
"Ck!" Raja merasa ucapan yang ia keluarkan hanya menghabiskan tenaganya saja. percuma!
"Serius!" Ucap Maura meyakinkan Raja agar percaya padanya.
"Heuh!" Raja menyunggingkan senyum smirknya merasa Enek dengan ucapan Maura.
"Jika aku bisa pergi, aku tidak mungkin mengejarmu sejauh ini." Bualan Maura tak berhenti begitu saja, ia sangat berpengalaman dalam merayu lelaki. Namun untuk merayu Raja, ia harus lebih bersabar dan mengeluarkan tenaga ekstra.
"Pergi sekarang!" Perintah Raja.
"No!" Tolak Maura.
"Crazy!" Raja melangkah pergi meninggalkan Maura. Ia mengumpat dengan kesal.
Maura terkikik geli, ia pun mengejar Raja kembali dan berjalan beriringan dengannya.
__ADS_1
To be continue....