Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Saling merindukan...


__ADS_3

Raja seperti sedang mencari jarum dalam jerami, ia berlalu lalang kesana kemari mengitari seluruh penjuru daerah bintaro mencari keberadaan belly.


Ia teringat ucapan bastian kemarin, jika melihat belly didaerah ini. Raja tak tahu harus memulai dari mana, yang jelas di beberapa tempat keramaian raja terus mencari sosok belly.


"Bell, aku pasti menemukanmu..." Lirih raja sembari memutar setir mobilnya. "Sungguh, aku sangat merindukanmu bell..."


Sekitar satu setengah jam raja memutari roda kendaraannya mencari keberadaan belly. Namun belum juga membuahkan hasil.


Keputusasaan raja kini semakin menjadi. Tubuh kumal dan wajah pucat kini semakin terlihat pada diri raja.


Raja menghentikan laju mobil, memarkirkannya di sebuah pelataran minimarket. Tenggorokannya sudah terasa kering, hingga ia membeli sebotol minuman segar dengan rasa jeruk nipis.


Setelah selesai meneguk minumannya, raja memutuskan untuk memasuki mobil. Mata raja mengarah pada seseorang yang sangat ia kenal. Di seberang jalan sana terdapat toko bunga, seorang pria tengah membawa bucket bunga mawar besar.


Raja pun memutuskan untuk mengikuti pria tersebut seperti seorang penguntit.


Mobil raja kini mengikuti mobil di depannya hingga masuk ke sebuah area apartement. Segera ia memarkirkan kendaraannya dan mengikuti langkah seseorang yang ia ikuti. Namun sayangnya raja kehilangan jejak akibat ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang nenek-nenek yang berjalan memakai tongkat ditangannya.


"Ck! S**l!!!" Raja memukul tembok di sebelahnya dengan kepalan tangannya.


Kesana kemari ia terus mencari keberadaan alan, namun tak ditemuaknnya juga.


***


"Bell, ada yang mencarimu." Steva masuk ke dalam kamar belly.


"Siapa?" Tanya belly yang sejak tadi sibuk dengan laptop dipangkuannya.


"Mr. X!" Celetuk steva, kemudian ia berlalu keluar.


"Mr. X???" Belly mengerenyitkan dahinya. Sembari keluar kamar ia terus berfikir hingga ia tiba di ruangan tamu.


"Hai bell..." Sapa alan pada belly yang sudah muncul dihadapannya.


"Alan??" Mata belly pun kini membulat sempurna.


"Bell, happy birthday..." Alan menyerahkan bucket bunga yang ada ditangannya pada belly.


"Oh, thanks.." Belly menerima bucket bunga itu. Kemudian ia duduk tepat berseberangan dengan alan. Belly terus tersenyum kecut, alan ternyata masih mengingat hari ulang tahunnya.


"Hanya bunga yang bisa aku berikan, kamu sudah menjadi milik orang lain jika berlebihan mungkin pemilikmu akan marah." Kata-kata alan kini membuyarkan fikiran belly.


"Ini sudah lebih dari cukup, dan terimakasih banyak." ucap belly tak enak hati.


"Bell, apa aku boleh bertanya suatu hal?"


"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan al?"


"Apakah kau memiliki masalah dengan raja?"


Belly hanya diam, matanya mengarah kesana kemari. Belly ingin menutupi masalahnya, tapi sepertinya alan tahu kebenarannya.


"Bell, aku tidak bermaksud apapun. Jika kau keberatan dengan pertanyaanku maka tak usah di jawab. Tapi satu hal, aku akan siap membantumu kapanpun kau butuh." Alan yang tahu bagaimana belly menutupi masalahnya pun tak memaksanya untuk menjawab.


"Aku tak apa al, aku bisa mengatasinya. Terimakasih untuk tawaran baikmu." sahut belly, ia pun merasa bingung harus menolak bantuan alan bagaimana.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Alan mengerti kali ini belly tak ingin banyak bicara hingga ia memutuskan untuk pulang.


"Oh, ya hati-hati." Ucap belly sembari tersenyum kearah alan.


"Hanya ke lantai atas, apakah kau khawatir padaku?" Kini alan mulai bergurau pada belly.


"Oh, ya aku lupa jika kau tinggal di lantai 12." Belly tersenyum kaku.


"Baiklah, aku pulang dulu." Alan pun memutuskan untuk pulang ke apartementnya.


Sejujurnya alan masih ingin bersama belly dan menatapnya. Namun, alan tahu perasaan belly padanya sudah berubah. Ia sadar diri, jika belly sudah menjadi milik orang lain. Ia tak ingin berharap lebih pada belly.


Andai saja aku ini orang jahat, aku pasti sudah merebutmu dari raja bell...


Gumam alan dalam hati sembari ia terus tersenyum sendiri. Sesampainya di apartementnya, ternyata alex sudah berada tepat didepan pintu menunggu alan.


"Darimana saja? Mengapa kau tak mengangkat ponselmu?" Tanya alex dengan wajah kesalnya.


"Ck! Ada apa? Kau mau menginap lagi? Apakah ibumu masih ingin menjodohkanmu?" Jawab alan dengan membuka pintu apartementnya.


"Kau sangat hafal, tapi yang lebih penting aku ingin ke kamar mandi al." Sahut alex yang sejak tadi menahan hajatnya.


"Kau fikir apartementku ini toilet umum? Dasar!" Dengus alan merasa kesal terhadap sepupunya.

__ADS_1


***


"Ehem! Ada yang ulang tahun ternyata!" Setelah kepergian alan, steva memergoki belly yang tengah duduk sembari terus melamun dengan mawar di pangkuannya. "Selamat ulang tahun bell..." Steva duduk di sebelah belly kemudian memeluknya.


"Terimakasih stev..." Balas belly, ia pun tersenyum senang.


"Bunganya bagus, besar dan masih sangat segar, hadiah dariku akan menyusul bell. Kau ulang tahun tapi tidak memberitahuku, tak ada surprise untukmu!" Steva bersungut, bibirnya seperti moncong babi yang terus di maju-majukan kedepan.


"Ih. Kau jelek sekali!" Belly pun menepuk bibir steva pelan dengan telapak tangannya. "Tak perlu hadiah darimu, aku sudah berhutang banyak padamu stev.. Jangan membuatku merasa semakin menambah hutang lagi..." Rengek belly.


"Kau ini! Lalu kau hanya mau menerima hadiah dari alan?? Sepertinya kau begitu spesial baginya?" Lirikan steva kini membuat belly menjadi salah tingkah.


"Ck, jangan seudzon. Sudahlah, aku masih banyak pekerjaan." Belly memberikan bucket bunga kepada steva. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya. Tak ingin terus berkepanjangan berbincang dengan steva, karena ia tahu steva pasti akan mengulik masa lalunya dengan alan.


"Hey, kenapa bunganya diberikan padaku? Kau mau kemana bell? Aku belum selesai bicara!" Ucap steva sedikit berteriak karena belly pergi meninggalkannya ke dalam kamar sembari terus menggerutu. "Bahkan di hari libur pun kau masih saja bekerja!"


Di dalam kamarnya, belly bukannya melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi, namun ia malah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Mata belly menatap langit-langit kamar, kemudian mengarah ke jendela.


Ia membuka sosial media melalui ponsel yang sejak tadi ditangannya. Belly mengunggah foto bucket bunga mawar yang sempat di foto olehnya tadi ke akun instagramnya dengan Caption yang mengatakan jika ia lupa akan hari ulang tahunnya sendiri.



Ulang tahun? Aku bahkan lupa hari itu.....


Selesai megunggah fotonya, belly merasa fikirannya penuh dengan bayang-bayang raja.


Sosok yang kini tengah ia rindukan.


Aku merindukannya.... Masih merindukannya....


Lelah akan fikiran dan hatinya, membuat belly tidur dengan pulas.


***


Raja merasa tubuhnya lemas tak bertulang, kepulangannya kali ini sama seperti kemarin tak membuahkan hasil apapun.


Sesampai di rumah, raja menerima satu notifikasi di ponselnya. Notif pesan whatsapp masuk, kemudian ia segera membuka pesan itu yang ternyata dari bastian temannya.


"Selamat ulang tahun buat istrinya boss..."


Kemudian bastian menyertakan foto hasil screenshots pada akun instagram belly.


Bunga ini.......


Jadi dia di luar sana mereka terus bertemu? Heh, beginikah caramu membalasku bell?


Raja ingat bucket bunga itu, jelas ia melihat jika alan membawanya tadi. Dengan langkah cepat, raja keluar rumah lagi kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Raja menuju apartement yang tadi sempat ia datangi untuk mengikuti alan. Ia menyesal telah kehilangan jejak alan, jika ia tadi tak kehilangan jejak pasti kini ia telah menemukan belly.


Raja menelpon temannya alex, ia meminta alex mengirimkan alamat apartement alan. Dengan cepat dan tanpa tanya alex pun mengirimkannya.


Karena alex pun saat ini sedang berada di apartement alan sepupunya itu.


Kini sampai di tempat yang ia tuju, raja segera menaiki lift menuju lantai 12.


Sesampainya di depan pintu apartement alan, raja segera menekan bell dan tak lama alan pun keluar membukakan pintu untuknya.


"Dimana belly?"


Bugh!! Raja memberikan satu pukulan keras kewajah alan. Alan pun jatuh tersungkur di lantai.


Raja dengan kondisi emosi, segera masuk kedalam apartement alan mencari keberadaan belly.


"Bell? Belly......"


"Raja! Tidak ada belly disini!" Sergas alan dari belakang mengikuti langkah raja.


"Jangan bohong!!! Dimana belly??" Ucap raja mengeratkan rahang-rahangnya.


"Kau bertanya padaku?? Bukankah kau suaminya? Seharusnya yang lebih tahu keberadaan belly adalah kau!!" Alan pun mulai tersulut emosi.


"Kau!! Tak usah banyak bicara, dimana belly? Kau yang membawanya pergi bukan?" Raja pun kini mendekat kearah alan, kemudian ia menghujani alan dengan pukulannya lagi.


Bugh! Bughhh!...


Alan pun tak mau kalah, ia balik membalas raja dengan beberapa pukulan pula.


BUGH! Bugh!!!!..

__ADS_1


Alex yang sejak tadi di kamar mandi segera menuntaskan hajatnya, ia dapat mendengar dengan jelas keributan raja dan alan di luar.


"Raja, alan! Hentikan!" Alex keluar dari kamar mandi kemudian melerai perkelahian raja dan alan.


Mengetahui ada alex disini, raja pun menghentikan aksinya memukuli alan.


Alan yang sudah lemah di lantai akibat pukulan raja pun dibantu bangun oleh alex.


"Ja? Apa yang kau lakukan? Mengapa kau memukuli alan?" Tatapan alex mengarah ke raja, sebenarnya ia sudah tahu karena telah mendengar percakapan raja dan alan tadi dari dalam kamar mandi. Namun, alex lebih ingin tahu secara langsung.


"Tanyakan saja pada alex, disini tidak ada belly jika kau tak percaya!" Sambung alan sembari memegangi wajahnya yang terluka akibat pukulan raja.


"Ja, bukankah belly pulang ke surabaya? Mengapa kau mencarinya ke apartement alan??" Alex pun masih ingin mendengar jawaban raja yang sebenarnya namun raja maaih terus terdiam.


"Kau tidak bisa menjaga belly raja, jika kau tak sanggup maka serahkan saja padaku! Aku yang akan menjaganya!" Alan pun mulai memancing emosi raja kembali.


"Ber*****k!!!" Raja berjalan ke arah alan kemudian memukulnya lagi.


"Raja, hentikan....." Alex dengan sigap melerai perkelahian diantara mereka.


"Heh, kau sendiri yang menyebabkan belly pergi! Kau bukan pria yang baik, kau tak pantas mendapatkan belly!!" Alan terus meracau, hingga raja semakin emosi dengan perkataan-perkatannya.


"Jika tak tahu apapun, tak perlu menceramahiku! Sekarang katakan dimana belly??" Raja yang kini tubuhnya sudah di tahan oleh alex tak bisa bergerak lagi ke arah alan. Padahal raja sangat ingin memukul alan kembali.


"Aku tak tahu, meskipun aku tahu keberadaan belly aku takkan memberitahumu!" Ucap alan dengan tatapan sinisnya.


"Kurang Ajar!" Tubuh raja pun akhirnya lepas dari cekalan alex, ia kemudian menghajar alan kembali.


Bugh!!!


Alan pun tak mau kalah, kemudian ia memukul raja dengan sekuat tenaga.


Bugh!!!!!


"Kalian berdua, hentikan!!!!" Suara bariton alex terngiang ditelinga raja juga alan. Kemudian mereka berdua menghentikan aksi pukul memukul itu.


"Apakah kalian akan beralih profesi menjadi pegulat?? Atau petinju? Seperti anak kecil saja? Apakah ini hanya karena seorang wanita??" Alex pun kini sudah mulai emosi, ia kemudian memarahi alan dan raja.


"Dia yang memulai lex, kau lihat sendiri betapa egoisnya temanmu itu! Pantas saja belly pergi meninggalkannya..." Ucap alan yang kembali memancing emosi raja.


"Tutup mulutmu!!" Raja sangat ingin menghajar alan namun ia masih merasa tak enak pada alex.


"Kalian masih ingin berkelahi??" Tanya alex heran, karena mereka berdua masih saja terus berdebat.


Raja kemudian pergi meninggalkan apartement alan, ia tak ingin terus berlama-lama disini karena itu akan semakin membuatnya emosi.


Jika belly tak bersama alan? Lalu dimana dia??


Tanya raja dalam hatinya. Raja memasuki lift sembari memegangi wajahnya yang kini terdaoat beberapa luka dan lebam .


Setelah raja keluar dari lift, ia berpapasan dengan seorang wanita yang terus memperhatikannya, namun raja tak menyadari itu karena ia terus berjalan dengan cepat menahan sakit dan segera pulang ke rumah.


"Sepertinya pria itu tidak asing? Apakah aku pernah melihatnya? Tapi dimana?" Steva yang melihat raja terus menjauh dari pandangannya pun segera masuk ke dalam lift.


Setelah steva masuk ke dalam apartementnya, ia segera menuju ke kamar belly.


"Bell?? Steva membuka pintu kamar belly begitu saja, namun ia melihat belly tengah tertidur di atas ranjang.


"Ya tuhan, dia akhirnya tidur juga!! Berhentilah bekerja di hari libur. Dasar penggila kerja!" Steva meromet melihat tingkah belly, kemudian ia membereskan laptop yang masih menyala dan menarik selimut untuk menyelimuti tubuh belly.


"Wanita cantik yang di sia-siakan, ya itulah nasibnya. Anak malang...." Gumam steva dalam hatinya. Kemudian ia pergi keluar dari kamar belly.


Ditengah keheningan, sembari mengobati luka pada wajah alan. Alex pun membuka percakapan diantara mereka.


"All, sebenarnya apa hubunganmu dengan belly?" Tanya alex yang masih ingin tahu permasalahnnya dengan raja.


"Tidak ada hubungan yang spesial, kami hanya teman." Jawab alan datar.


"Kau yakin? Apakah kau akan terus berbohong untuk menutupi kebenarannya?" Alex tak berhenti begitu saja, ia terus mencecar alan dengan pertanyaan yang memojokkan.


"Lex, aku tak ingin membahas ini. Sebaiknya kau pulang aku ingin istirahat." Jawaban alan malah yang kini memojokkan alex. Alan mengusir alex secara halus, padahal jelas tadi alex ingin menginap di apartement sepupunya itu.


"Hmmm.... Baiklah, tapi aku punya satu permintaan padamu al. Jika kau tahu keberadaan belly, segera beri tahu raja. Dia suaminya, dia yang lebih berhak atas belly. Biarkan raja dan belly menyelesaikan urusan mereka sendiri, jangan pernah melibatkan dirimu dalam rumah tangga mereka al, itu tidak baik." Alex banyak berpesan pada alan, kemudian ia menaruh kotak obat di meja dan keluar pergi meninggalkan alan sendiri.


Pesan yang di katakan alex dicerna dengan baik oleh alan, hatinya yang tadi sempat ingin merebut belly kembali kini luruh lagi.


Aku masih sangat mencintainya, apakah aku salah jika ingin merebutnya kembali??


Dalam hatinya, alan masih begitu mencintai belly. Meski sudah bersusah payah melupakannya, namun hal itu malah semakin membuat alan terus mengingat belly.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2