Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Rasa rindu dan sakit yang menjadi satu


__ADS_3

Belly pergi menuju alamat yang telah dikirimkan stephani atau yang biasa dipanggil steva oleh belly. Mereka berdua sama-sama pernah menimba ilmu di singapura, jurusan yang diambil pun sama. Meski tak begitu akrab, tapi belly dan steva berteman baik.


Lantai 11 no 28, itulah alamat yang di tuju belly untuk menemui steva di apartementnya. Letak apartement steva pun tak begitu jauh dari rumah , hanya memakan waktu tiga puluh menit jika tidak ada kemacetan di jalan.


Namun, jakarta adalah biang dari kemacetan. Apalagi saat jam pergi dan pulang kerja, jam yang sangat padat di jalanan. Beruntungnya hari ini adalah hari minggu, jalanan tak sebegitu padat karena belly pergi masih terlalu pagi.


Tidak susah mencari keberadaan steva, karena ia telah mengirimkan lokasinya via pesan hijau pada belly. Belly sudah tiba di depan pintu apartement steva, ia pun segera menekan bell.


Tak butuh waktu lama, steva pun segera membukakan pintu untuk belly.


"Bell bell......" Steva segera berhambur memeluk belly yang telah lama tak ia jumpai.


"Stevaaaaa....." Dengan wajah bahagianya, ia pun menyambut erat pelukan steva.


"Ayo masuk, kau terlihat semakin cantik...." Ucap steva memuji belly.


"Kau semakin keren, lihatlah rambutmu? Ya tuhan steva...." Belly menggeleng-gelengkan kepalanya melihat warna rambut steva yang tak karuan.


"Ini style bell, kamu tahu aku kan??" Mata bulat steva menatap belly.


"Yaaa...ya, stephani alexandra. Seorang wanita pengejar style nomor satu yang......"


"Ssst... Tak perlu panjang lebar bell, aku jadi malu..." Gerutu steva membungkam mulut bell.


"Apakah kau masih punya Urat malu? Aku tak yakin..." Dengan gaya khasnya, belly menggoda steva yang terlihat sudah memanyunkan bibirnya.


"Ah, belly. Apakah kau tak lelah terus saja mengejekku?" Steva melangkah menuju lemari pendingin, ia memberikan minuman kaleng dingin pada belly.


"Terimakasih..." Ucap belly menerima sebuah kaleng minuman dari tangan steva dan meneguknya.


"Aku heran, papamu adalah orang yang memiliki perusahaan sendiri. Tapi, mengapa kau malah pergi ke jakarta mencari pekerjaan? Apakah ibu tirimu itu berulah lagi?" Dengan penuh selidik, steva menatap nanar belly dengan penuh tanya.


"Hmmm, ceritanya sangat panjang stev. Yang pasti aku lebih ingin mandiri tanpa campur tangan papa." Wajah murung belly kini dapat dilihat oleh steva.


"Hmmm, apakah kau menyindirku? Secara usahaku kali ini di modali oleh orang tuaku." Steva mengerenyitkan dahinya.

__ADS_1


"Bukan begitu stev, aku tak bermaksud...."


"Ya, aku tahu. Aku hanya bercanda bell, jangan di ambil hati apalagi empedu! Yang ada kau akan terus merasakan kepahitan." Steva memang sangat suka menjahili belly dengan candaanya.


"Hidupku memang pahit stev." Ucap belly dengan menundukkan kepalanya.


"Weyyy, aku hanya bercanda! Kau terlalu melankolis." Steva berhambur mendekap belly ia mengusap pelan pundak belly. Meski pun steva tak tahu banyak tentang kehidupan belly, namun belly sempat bercerita sedikit mengenai kehidupan dan orang tuanya.


"Ya, terimakasih stev. Lalu bagaimana dengan tawaran pekerjaan untukku?" Tanya belly dengan mengubah posisi duduknya menghadap steva.


"Kau tinggal pilih, mau cuci baju setrika cuci piring menyapu....." Tanpa jeda, steva menyebutkan beberapa pekerjaan untuk belly.


"Stev, huh! Kau selalu begitu. Aku serius...." Potong belly pada perkataan steva yang menjahilinya.


"Okey, aku hanya bercanda bell. Kau sangat kaku!" Steva mendengus kesal, sejak tadi belly tak bisa diajak bercanda.


"Stev, aku serius. Aku sangat ingin bekerja." Lirih belly, dan itu sudah mengundang rasa iba dari diri steva.


"Kau mau jadi asistenku?? Mau kan?" Steva langsung menawarkan pekerjaan pada belly.


"Why?? Kau ingin pekerjaan tapi pilah pilih?" Steva menatap heran kearah belly.


"Apakah tidak ada yang lain?" Tanya belly lagi.


"Bell, aku memintamu untuk menjadi asistenku bukan karena ingin menyuruhmu ini dan itu. Tapi aku percaya padamu, aku membutuhkan orang yang bisa ku andalkan dan pastinya tidak akan menghianatiku! Semua itu ada pada dirimu bell, please....." Rayu steva dengan memegang kedua tangan belly.


"Jadi kapan aku akan kerja?" Mata belly langsung membulat menatap steva.


"Jadi kau menerimanya?" Tanya steva mencari keseriusan pada netra belly.


"Ya tentu saja." Ucap belly dengan pasti dan yakin.


"Sebenarnya siapa yang melamar pekerjaan disini? Mengapa malah aku yang terlihat melamar pekerjaan?" Gerutu steva.


"He..he..." Belly hanya memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi dihadapan steva.

__ADS_1


Setelah beberapa jam menjelaskan sistem kerja pada belly, dan belly pun mulai mengerti dengan mempelajari bahan yang diberikan oleh steva. Dengan diiringi selingan candaan dan beberapa jenis camilan, tanpa terasa waktu bersama steva dan belly sudah berjalan tiga jam. Belly menatap arloji dipergelangan tangannya sudah menunjukkan jam sebelas siang. Ia pun khawatir jika raja mencarinya, hingga belly memutuskan untuk pulang ke rumah.


Saat lift terbuka, belly langsung masuk begitu saja dengan fokus memainkan ponselnya. Tanpa melihat kanan dan kiri disekelilingnya.


"Bell?" Tanya seseorang disebelahnya.


"Ya?" Belly mengarah pada sang pemilik suara.


"Bell kau disini?" Alan yang hendak turun dari apartementnya di lantai 12 pun bertemu belly secara tak sengaja.


"Al...alan.." Belly tersenyum kaku.


"Kau kemari? Bertemu siapa?" Tanya alan menahan gejolak hatinya. Rasa rindu dan sakit yang menjadi satu tak terbendung lagi, ia ingin sekali memeluk tubuh belly namun disisi lain ia tak ingin belly semakin menjauhinya.


"Iya, bertemu temanku disini." Ucap belly singkat. Jelas belly tak ingin banyak obrolan diantara mereka.


"Teman? Siapa? Maaf, aku tak bermaksud bertanya lebih. Kau ingin pulang atau pergi ke tempat lain?"


"Aku ingin pulang." Jawab belly cepat.


"Aku antar, maksudku kau bisa ikut denganku. Karena rumah alex searah dengan rumah raja bukan??"


"Tidak perlu al, aku bisa pulang sendiri." Tolak belly dengan ucapan ketusnya.


Pintu lift pun terbuka. Kini mereka sudah sampai di kantai dasar. Belly berjalan cepat menghindari alan, ia tak ingin lebih lama bersama alan. Namun sebelum itu terjadi alan ddngan sigap mencekal tangan belly.


"Bell, tolong jangan bersikap seperti ini. Kau semakin menyakiti perasaanku..." Lirih alan dengan cekalan kuatnya pada tangan belly.


"Alan, lepaskan... Banyak orang disini." Ucap belly menggibaskan tangannya. Berharap jika cekalan tangan alan akan lepas.


"Bell, setidaknya bersikaplah biasa saja. Pulanglah bersamaku, aku berjanji takkan berbuat macam-macam." Tatapan alan pada belly menunjukkan kejujuran. Belly sempat ragu, apalagi jika raja melihatnya bersama alan. Namun, belly mengingat lagi jika raja tak pernah mempedulikannya. Mereka pun saling berjanji jika takkan mencampuri urusan masing-masing.


"Alan tapi...."


Dengan cepat, alan menuntun belly menuju mobilnya. Ia membukakan pintu untuk belly, tanpa berontak belly pun percaya pada alan. Ia tak ingin terus menghindar dari alan karena menghindar takkan menyelesaikan masalah.

__ADS_1


To be continue........


__ADS_2