Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Apakah ini mimpi??


__ADS_3

Saat raja ingin memasuki lift, pintu lift terbuka dan ternyata di situ ada alan yang hendak keluar lift untuk menemui belly.


"Belll....ly?" Ucapan alan terhenti, wajahnya yang tadi sumringah kini berubah menjadi datar dan kecewa.


Tatapan alan pun bertemu dengan mata tajam raja yang kini sudah mengepalkan kedua telapak tangannya.


Sementara belly hanya bisa menelan salivanya, sembari terus bergumam dalam hati merasa bingung untuk mengahadapi situasi saat ini.


Ini bukan waktu yang tepat!


Perlahan, raja memajukan langkah kakinya hendak masuk ke dalam lift. Namun, ia tak ingin meninggalkan belly bersama dengan alan begitu saja.


Alan tersenyum lembut, dari depan lift, ia melangkah mendekat kearah belly. Namun sebelum ia dekat dengan belly raja sudah menatapnya dengan mata yang menunjukkan sebuah ketidaksukaannya pada alan.


"Ternyata ada tamu, hai bell, hai raja??" Sapa alan pada belly dan juga raja.


Melihat ketegangan diantara alan dan raja, belly mencoba mencairkan suasana dingin saat ini.


"Emmm, alan???" Tanya belly padanya. "Ada keperluan apa kemari?"


"Aku hanya singgah sebentar, aku ingin memberikan ini kepadamu..." Alan memberikan sebuah kotak kertas yang dimasukkan kedalam kantung plastik kepada belly.


"A..apa ini??" Belly menerima pemberian alan, namun matanya melirik kearah raja yang kini tengah memasang wajah datarnya.


"Sepulang dari kantor aku melihat penjual martabak manis, aku jadi ingat padamu. Terimalah...." Alan tersenyum ramah kearah belly.


"Oh, emmm.... tak perlu repot-repot all, dan terimakasih banyak." Belly menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku belikan rasa keju kesukaanmu." Tambah alan lagi.


"I...ya." Belly hanya menjawab gugup, sekali lagi diliriknya raja yang sudah memasang wajah marahnya.


"Kalau begitu, aku pulang dulu..." Alan mengacak pelan rambut belly, kemudian ia berlangsung pergi menuju ke apartementnya.


Belly hanya diam mematung, tak ada lagi yang bisa ia katakan. Bukan karena alan memberikan makanan kesukaannya, namun karena ia dapat melihat betapa marah dan kecewanya raja saat ini.


"Raja, aa..aku bisa jelaskan...."


"Tak ada yang perlu di jelaskan bell, aku percaya padamu. Kalau begitu aku pulang dulu..." Raja memasang senyum palsunya didepan belly, ia kemudian melangkah pergi untuk kembali ke rumah.


Kenapa semuanya menjadi rumit begini?? Hati, kumohon padamu agar tak goyah lagi.


Belly bergumam, fikirannya terasa semakin rumit akibat kejadian yang dialaminya hari ini.


Di dalam kamarnya, belly terus memikirkan kejadian-kejadian hari ini. Ingatannya tertuju saat pertama kali bertemu dengan Raja di restauran. Perasaan rindu dan benci menjadi satu, rindunya kini telah terobati. Benci?? Bagaimana dengan perasaan bencinya terhadap raja?? Entahlah, hingga saat ini perasaan itu belum terpecahkan olehnya.


"Apa yang kau fikirkan??" Steva datang menemui belly di kamarnya. Namun belly tengah memandangi langit-langit kamar.


"Stev?? Kau mengagetkanku saja!" Belly mendengus kesal.


"Kau melamun?? Ada apa? Sepertinya kau sedang banyak beban?" Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan steva.

__ADS_1


"Ck! Kau darimana saja?" Belly malah balik bertanya.


"Aku?? aku membeli martabak, ini......" Steva menyerahkan martabak yang ia lihat di atas meja ruangan tamu dan membawanya ke kamar belly.


"Tidak salah? Itu pemberian....." Belly menghentikan ucapannya.


"Apakah ini pemberian raja?? Kalian berdua habis berkencan?" Tanya steva lagi.


"Bukan.. Itu bukan dari raja. Raja mana tahu makanan kesukaanku ataupun hal lainnya yang kusukai." Lirih belly.


"Lalu?? Dari siapa? Jangan bilang dari pangeran yang tempo hari?" Tebak steva asal.


"Pangeran??" Belly merasa bingung, ucapan steva terasa ambigu baginya.


"Pangeran yang tinggal di lantai 12." Ucap steva meluruskan.


"Ck, stev namanya alan. Bukan pangeran...." Jelas belly.


"Jadi benar ini dari alan? Bukannya kau bersama raja? Lalu alan..."


"Iya, saat raja hendak pulang alan datang kemari." Belly mencoba menjelaskan pada steva.


"Lalu kau menerima pemberiannya didepan raja?"


"Ya, kau tahu itu. Tak enak jika menolak pemberian orang." Jawab belly.


"Bell, raja dan dirimu itu adalah suami istri. Apakah kau tidak memikirkan perasaannya?" Steva merasa heran dengan sikap belly. Sepertinya belly saat ini sedang bingung. "Bell, apakah kau bimbang untuk memilih raja atau alan?"


"Stev aku..."


"Pilihan apa? Aku dan alan hanya berteman stev. Dan untuk hubunganku dengan raja itu memang sulit diartikan." Ungkap belly sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangan.


"Bell? apakah kau masih menyukai alan?" Tanya steva ingin tahu.


"Menyukai? Aku rasa tidak. Perasaanku pada alan kini sudah luruh entah kemana." Jelas belly, ia berfikir panjang. Ia merasa selama ini perasaannya terhadap alan sudah biasa-biasa saja. Tak ada lagi rasa yang spesial, namun yang ada hanya rasa bersalah karena ia telah mencampakkan alan begitu saja.


"Lalu raja bagaimana??" Tanya steva lagi bak wartawan.


"Raja? Entahlah... Perasaanku padanya sulit diartikan.." Belly menarik nafasnya panjang. "Hmmmmm...." Lalu membuangnya dengan cepat.


"Fix! Tebakanku benar!" Tebak steva ddngan membunyikan jarinya.


"Tebakan apa??" belly semakin tak mengerti.


"Kau sudah jatuh cinta pada raja!" Steva berkata dengan lantang.


"Steva, kau ini asal menebak." Belly menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku bisa melihat dari tatapan matamu, apalagi saat tadi di restauran kau begitu antusiasnya memeluk raja dengan erat." Steva mulai menggoda belly, kini steva menahan tawanya ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Stev, hentikan...."

__ADS_1


"Dan, aku juga bisa melihat jika kau terus ingin bersamanya. Apakah raja mengajakmu pulang?" Tanya steva ingin tahu lebih.


"Steva, aku ingin tidur. Lebih baik kau kembali ke kamarmu karena besok kita akan kembali bekerja." Belly bangun dari pembaringannya, ia mendorong tubuh steva hingga keluar dari kamar.


"Belly, aku yakin kau telah jatuh hati pada raja!! Selamat bermimpi indah...." Suara steva dapat terdengar meskipun belly sudah menutup pintu.


"Dasar anak itu, ia pasti sudah menghabiskan tenaganya hanya untuk berteriak!" Belly kembali ke tempat tidur kemudian menarik selimut.


***


Steva membuka pintu, ia tak tahu siapa orang yang bertamu ke apartementnya sepagi ini.


Setelah steva membuka pintu, ia terkejut dengan kedatangan raja.


"Pagi stev, belly ada?" Sapa raja.


"Pak rajaa??? Belly.... Belly ada di dalam..." Ucap steva terbata merasa heran bercampur kaget dengan kedatangan Raja.


"Boleh aku masuk?" Tanya raja.


"Oh.. oh sangat boleh. Silahkan....." Steva tersenyum meringis, ia mempersilahkan raja masuk.


Raja pun masuk, ia menaruh beberapa kantung di atas meja. "Ini aku belikan sarapan untuk kalian.."


"Pak raja, tak perlu repot.... Tapi tak apa jika sesekali.." Steva bicara lirih, namun dapat terdengar oleh raja.


"Aku sangat berhutang budi padamu, terimakasih sudah menjaga belly selama ini steva." Ucap raja.


"Oh, tak perlu berlebihan. Belly temanku, dan jika aku susah mungkin aku juga akan merepotkannya." Jelas steva, ia meraih semua kantung di atas meja untuk di bawa ke meja makan. "Belly ada di kamarnya, masuk saja.." Ucap steva memberikan lampu hijau pada raja. Steva menunjukkan letak kamar belly pada raja dengan menunjukkan jarinya.


"Em, aku??? Apakah boleh aku...?" Tanya raja meyakinkan lagi.


"Tentu boleh, dan sangat sangat sangat boleh." Steva tertawa kecil. "Masuklah pak raja, bangunkan istrimu itu. Sepertinya dia tidur begitu nyenyak, sampai-sampai sekarang belum juga bangun." Steva menuju ke ruangan dapur meninggalkan raja.


Raja tersenyum, sudah sangat lama ia tak melihat belly tidur. Ia pun melangkah menuju kamar belly dan memutar knop pintu. Benar seperti dugaannya, pintu itu tak terkunci.


"Ck, dasar ceroboh! Mengapa dia tidur tak mengunci pintu? Bagaimana jika ada yang masuk??" Raja berbicara sendiri pada dirinya, kemudian ia masuk kedalam kamar belly dan menutup pintu kamar kembali.


Langkah kaki raja mengarah ke ranjang tempat dimana belly tidur, di lihatnya belly masih tidur dengan posisi memeluk guling.


Rambutnya terurai dengan beberapa helaian yang menutupi bagian wajahnya.


Perlahan raja mendudukkan bokongnya di pinggiran ranjang tidur, ia ingin memuaskan matanya untuk memandangi belly.


Kecantikannya tak pernah luntur, apakah ini salah satu caramu memikat hatiku??


Raja terus tersenyum memandangi wajah belly, wajah mulus tanpa polesan itu sangat membuatnya tak ingin berpaling. Perlahan raja mendekatkan wajahnya, ia sibakkan beberapa helaian rambut yang menutupi wajah belly.


Merasa ada yang menyentuh wajahnya, mata belly mulai bergerak-gerak perlahan ia membuka matanya. Dengan kedua tangannya, belly mengucek-ngucek matanya.


"Apakah ini mimpi??" Dengan suara serak khas bangun tidurnya belly membuka mata.

__ADS_1


To be continue......


🍒Terimakasih banyak untuk semua readers yang sudah memberi dukungan atas karya aku. Salam hangat untuk kalian semua, karena kalian othor jadi semakin semangat untuk menulis dan terus menulis...!!!


__ADS_2