Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Diam


__ADS_3

Diam, saling diam saat ini yang terjadi antara belly dan raja. Saat raja berangkat ke kantor pagi hari, belly belum keluar dari kamarnya. Begitupun saat raja sudah pulang dari kantor, belly sudah terlelap dalam tidurnya.


Raja di kantor hanya banyak diam, alex dan bastian tak bisa berbuat apa-apa mereka berdua hanya bisa membiarkan raja dalam kondisinya saat ini.


Meskipun saat ini pekerjaan di kantor sudah lengang karena dia mengerjakannya terus menerus tanpa henti, raja selalu pulang larut malam. Ia memilih menghindari belly.


Malam ini, di kursi kebesarannya raja terus memikirkan belly.


"Apakah aku salah? Bell, kamu benar-benar menyiksaku..." Dengan berkata lirih, raja menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya.


Tanpa berfikir panjang, raja segera membereskan meja kerjanya kemudian melangkah untuk pulang ke rumah.


Sampai di rumah, raja membuka pintu pelan. Ia melihat belly sedang tidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.


Raja yang melihat hal itu pun segera mengambil selimut kemudian menutupi sebagian tubuh belly. Tak lupa ia pun mematikan televisi.


Tepat tengah malam, belly terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa sangatlah pegal karena tidur di sofa.


"Ya tuhan, sudah dua malam ini aku tidur disini?" Belly melihat jam di ponselnya, ternyata sudah pukul satu dini hari.


"Astaga!" Belly menepuk jidatnya. "Kenapa sudah larut malam?"


Saat hendak masuk ke dalam kamarnya, belly menunda langkahnya. Tiba-tiba suatu hal mengganggu fikirannya.


"Dua malam ini, mengapa ada selimut disini? Siapa yang menyelimutiku? Apakah raja...."


Banyak pertanyaan yang terbesit di benak belly, tubuhnya kini berbalik arah sembari menatap ke arah anak tangga. Langkah kakinya terarah menaiki beberapa anak tangga secara perlahan.


Setibanya di lantai dua, ia melihat kiri dan kanan seluruh penjuru ruangan memberanikan diri untuk mencari keberadaan raja. Entah darimana keberanian itu, belly merasa beberapa hari ini sangat merindukan sosok raja. Terlebih lagi ia belum melihat raja selama dua hari setelah kejadian tak mengenakan yang terjadi padanya.


Gagang pintu telah diraihnya, sejenak ia diam mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tak ditemukannya sosok yang sedang ia cari, kamar tidur yang begitu rapih dan wangi itu pun kemudian ia tutup kembali.

__ADS_1


Langkah kakinya kemudian menuju satu ruangan di sebelah kamar, Ruangan kerja raja. Belly membuka pintu ruangan kerja dengan pelan, setelah itu ia dapat melihat seluruh isi ruangan yang ternyata tak ada seseorang pun disana.


"Apakah sebenci ini dia padaku? Hingga larut malam ia tak pulang?" Lirih belly dengan wajah murung dan suara serak ia pun melajukan langkahnya untuk kembali kekamarnya.


Sementara di rooftop, raja merasa mendengar suara langkah kaki seseorang. Raja pun memutuskan masuk untuk mengetahui kebenaran pendengarannya. Namun, setelah masuk ia tak menemukan siapapun disana.


"Apakah pendengaranku sudah bermasalah? Tidak mungkin." Raja memasuki kamarnya sembari terus meracau.


***


"Raja, ada apa sebenarnya denganmu?" Alex menghampiri raja yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Aku? Tak apa-apa lex." Raja melirik sebentar kearah alex, kemudian kembali menatap berkas di meja kerjanya setelah melemparkan senyum pahit pada alex.


"Jangan menyembunyikannya, aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja." Alex menyerahkan sebuah flashdisk kepada raja. "Ini, alan tadi menitipkannya padaku. Kau bisa memeriksanya."


"Oh, ok." Ucap raja malas dengan wajah datarnya. Jujur saja, raja merasa kesal saat mendengar nama alan. Mendengar namanya saja ia merasa malas, apalagi bertemu dengan orangnya. Raja merasa sedikit menyesal telah bekerja sama dengan alan, tapi jika ia membatalkan kontrak dengan perusahaan alan ia merasa tak enak pada sahabatnya alex. Pasalnya alex lah yang memperkenalkan keduanya.


"Kau baik-baik saja dengan alan kan?" Tanya alex merasa ada yang tak beres antara alan dan raja.


"Ja, jangan menyimpan masalahmu sendiri. Jangan pula menghindarinya. Karena sejatinya menghindari masalah takkan menyelesaikan apapun. Hadapi dan tuntaskan segera!." Alex memberi satu kajian pada raja, kemudian ia keluar dari ruangan raja.


Raja hanya diam mendengar ucapan alex, ia memegang flash disk dari alan. Kemudian menancapkan pada lubang USB laptopnya. Dengan teliti ia memeriksa hasil laporan dari alan yang ia minta. Benar saja, dalam pekerjaan alan bisa diandalkan. Tak salah jika ia bekerja sama dengan alan. Tapi, mengingat alan dan belly tempo hari, ia masih sangat kesal.


Apa sebenarnya yang terjadi antara mereka berdua? Apakah mereka selalu bertemu tanpa sepengetahuanku?? Aku harus mencari tahu...


Seperti biasa, raja hari ini pulang larut. Seperti beberapa hari yang lalu pula raja melakukan hal yang sama. Membuka pintu perlahan, melangkahkan kakinya pun perlahan.


Sampai di ruang tengah, kali ini ia tak menemukan sosok belly yang biasanya tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Raja berfikir mungkin belly sudah tidur di kamarnya.


Raja memutar knop pintu kamar belly perlahan. Saat itu, belly belum tidur ia langsung memejamkan matanya rapat dengan posisi tidur miring membelakangi arah pintu.

__ADS_1


Raja terdiam sejenak, lampu kamar belly belum dimatikan. Dari jauh ia melihat belly sudah tidur, dengan langkah pelan raja mendekati ranjang tidur belly. Ia menekan saklar lampu kamar, kemudian meraih selimut menyelimuti setengah dari tubuh belly.


Raja menatap lekat tubuh belly, ingin sekali raja memeluk tubuh mungil itu untuk melepas kerinduannya beberapa hari ini. Namun, ia tahu jika belly sedang marah padanya. Apalagi perlakuannya pada belly tempo hari sangat keterlaluan.


Raja mendekatkan dirinya, ia mengusap pelan kepala belly lalu mengecupnya. Dengan perasaan bersalahnya, ia pun kemudian keluar dari kamar belly menuju ke kamarnya.


Setelah kepergian raja, sontak belly membuka matanya.


Jadi, selama ini raja yang menyelimutiku...


Diam diantara raja dan belly membuat keduanya sadar, jika mereka sama-sama saling merindukan..


***


"Beib? Jadi kau pun membuangku?" Wajah kekesalan maura telah nampak disertai tangisan air mata bawangnya.


"Maura, aku bukan membuangmu. Tapi aku rasa kita berdua tidak memiliki kecocokan." Ungkap hendrick.


"Apa kurangnya aku hen? Apa yang kau mau sudah aku turuti, bahkan aku sudah merelakan semuanya untukmu..." Maura masih berusaha merayu hendrick agar tak memutuskannya.


"Maaf maura, aku harus pergi." Hendrick masuk kedalam mobil sport mewahnya, ia menyalakan mesin kemudian melaju dengan cepat meninggalkan maura.


"Hendrick, please jangan tinggalkan aku..." Maura menangis tersedu di pelataran bar, ia berusaha mengejar hendrick namun mobil itu melaju sangat cepat. "Kau tak bisa membuangku begitu saja hen, aku sudah merelakan semuanya untukmu! Dasar laki-laki ba*****n!!!!!"


Maura melempar tas yang ada di tangannya, berusaha agar mengenai hendrick. Tapi usahanya itu hanya sia-sia. Yang difikiran maura saat ini adalah nasib karirnya. Sumber uang dan kemewahan yang diberikan hendrick padanya kini telah diambil kembali oleh pemiliknya. Yang tersisa hanyalah apartement semata wayangnya saja.


Mobil, kartu kredit, serta fasilitas lain yang di berikan oleh hendrick kini tak dapat ia nikmati lagi. Maura kembali menuju apartementnya dengan menaiki taksi online. Yang ada dalam dirinya saat ini hanyalah rasa dendam.


*Apakah kalian fikir aku akan menjadi gembel?? Tidak, itu tidak akan terjadi! Aku harus mencari cara lain agar hidupku tetap terjamin dan tak kekurangan sedikitpun. Awas kalian semua, akan aku buat perhitungan yang setimpal!!!


To be continue*....

__ADS_1


**🍒Hallo readers, salam hangat untuk kalian semua pembaca setia karya othor. Mohon maaf othor baru bisa up lagi, dikarenakan baby othor lagi sakit... Othor sibuk urus baby, bunda² semua pasti tahu jika anak sedang sakit bagaimana kondisinya.


Terimakasih sudah setia menunggu othor, jaga kesehatan semuanya. Sekarang lagi musim penyakit, buat semua orang tua jagalah anak² kita agar tetap sehat... Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah swt. Aminnnnn**........


__ADS_2